
Entah harus ditaruh di mana muka Kayra saat ini, dia seolah tak sanggup harus mengangkat kepala dan menatap Krisna. Dia bisa membayangkan jika orang tua dari Erlangga itu akan memberikan cap buruk terhadapnya. Dan saat ini dia berharap Erlangga bisa memberi penjelasan yang sebenarnya hingga Krisna tidak akan menyudutkan apalagi sampai memecatnya.
" Jelaskan pada Papa apa yang sudah kalian lakukan tadi, Erlangga!" Kalimat tegas bernada perintah kembali terdengar dari mulut Krisna.
" Apa yang kami lakukan?" Erlangga menatap ke arah Kayra. " Kami tidak melakukan apa-apa, Pa." sambungnya kemudian.
" Tidak melakukan apa-apa?" Seakan tidak percaya dengan penjelasan putranya kini Krisna mengarahkan pandangan kepada Kayra yang sama sekali tak berani menatapnya.
" Kayra, saya sangat kecewa terhadap kamu. Saya sangat mengandalkan kamu selama ini, karena saya sangat yakin jika kamu adalah wanita yang bisa membantu pekerjaan Erlangga dengan baik. Saya mengenal kamu sebagai karyawan yang sangat disiplin dan juga sebagai wanita baik-baik. Apa kamu sedang mencoba menggoda putra saya? Apa kamu lupa status Erlangga adalah pria beristri?" Tuduhan-tuduhan yang bernada menyudutkan. kini terlontar untuk Kayra.
" S-saya ..." Kayra tak kuasa meneruskan kalimatnya karena rasa takut, malu dan rasa bersalah begitu kuat menggelayuti hatinya. Sehingga bukan kalimat penjelasan yang merupakan klarifikasi yang keluar dari mulut Kayra, tapi air matalah yang justru menetes di pipi wanita cantik itu.
.
Apa yang dilakukan Kayra justru membuat Krisna merasa curiga. Tak ayal pikiran buruk langsung hinggap di benaknya.
" Saya butuh penjelasan dari kamu, Kayra. Kenapa kamu tidur bersama Erlangga di kamar? Apa kamu lupa jika Erlangga itu atasan kamu dan dia sudah menikah. Apa kamu sengaja ingin merusak rumah tangga putra saya?" tuduhan yang sangat menyayat hati terus saja diarahkan Krisna terhadap Kayra.
" Pa, kenapa Papa bicara seperti itu? Kami tidak melakukan apa-apa, Pa. Tadi itu ..." Erlangga memijat pelipisnya karena rasa pusing itu belum seutuhnya hilang dia rasakan.
" Tadi itu aku sakit, Pa. Dan ... dan Kayra yang membantu mengobatiku." Walaupun sakit di kepalanya belum hilang tapi Erlangga masih mengingat rentetan peristiwa yang terjadi tadi, Dia mengalami demam dan sakit kepala, lalu Kayra datang membantunya hingga membawa dirinya ke kamar dan dia tertidur. Sayangnya Erlangga tidak mengingat jika dia yang meminta Kayra menemaninya dan dia mengunci tubuh Kayra dengan belitan tangannya.
" Membantu mengobati? Dengan tidur seranjang dan berpelukan? Ya Tuhan, pengobatan macam apa itu?" Sudah pasti Krisna tidak mempercayai begitu saja penjelasan dari Erlangga.
__ADS_1
" Berpelukan?" Erlangga justru merasa kaget dengan apa yang telah dia lakukannya dengan Kayra. Kini dia menatap Kayra seolah menanyakan apakah yang dikatakan Papanya itu benar.
" Apa selama ini kalian sering melakukan hal seperti itu? Apa kalian menjalin affair antara bos dan sekretarisnya?" tuding Krisna kembali.
" Tidak, Pak Krisna! Itu tidak benar!" Kali ini Kayra berani menjawab dan menepis tudingan yang diarahkan kepada dirinya.
" Tidak benar? Lalu apa yang benar? Kalian bukan pasangan sah dan Erlangga adalah pria beristri, apa yang kalian lakukan tadi itu adalah hal yang pantas??" Jawaban Kayra justru membuat Krisna semakin penasaran karena penjelasan kedua orang dihadapannya terlalu berbelit-belit dan tidak jelas.
" Pa, Papa jangan menyalahkan Kayra. Dia itu tadi hanya menolong Erlangga, Pa." Melihat Papanya menyudutkan Kayra, Erlangga kembali memberikan pembelaan kepada Kayra walaupun dia sendiri masih bingung dengan apa yang terjadi.
" Pertolongan dengan menemani tidur seranjang?" sindir Krisna.tajam. " Apa kalian tidak pikirkan bagaimana jika tadi bukan Papa yang memergoki kalian? Bagaimana jika orang lain yang mengetahui? Lantas menjadi pergunjingan adanya scandal di antara kalian. Apa kalian tidak berpikir sejauh itu?" Krisna nampak semakin geram karena penjelasan yang dia terima tidak bisa masuk ke dalam akal sehatnya.
Hati Kayra terasa teriris mendengar setiap kalimat yang keluar dari mulut Krisna. Dia ingin memberikan penjelasan yang sejujurnya, namun apa Krisna bisa menerima? Dia justru takut Krisna akan terus menyalahkannya karena dia tidak kuasa menolak apa yang diinginkan Erlangga kepadanya tadi. Kayra tidak menyangka niat baik menolong Erlangga yang sakit akan berakibat fatal seperti ini.
Ucapan Erlangga sama sekali tidak membantu posisi Kayra yang tersudut saat ini. Kayra sudah membayangkan Krisna benar-benar marah besar kepadanya dan menganggap dirinya lah yang mencari perkara, apalagi Krisna tadi sudah mengatakan jika dirinya berniat merusak rumah tangga Erlangga dan istrinya.
" Kayra, kenapa kamu malah menangis?" Erlangga seakan menyalahkan Kayra yang terus meneteskan air mata. Baginya tangisan Kayra justru akan membuat dugaan Krisna jika terjadi sesuatu di antara mereka semakin kuat.
" Kayra, saya minta penjelasan dari kamu yang sebenarnya. Kenapa kamu bisa bersama Erlangga di dalam kamar itu dan kenapa kalian melakukan hal yang tidak pantas tadi?" Pertanyaan Krisna kembali membuat air mata Kayra berderai. Sungguh malu rasanya mendengar kalimat tersebut, satu ranjang dengan berpelukan. Satu hal yang memang tidak pantas dilakukan oleh orang yang bukan pasangan suami istri apalagi hubungan mereka adalah bos dan sekretaris.
" S-saya tadi hanya membantu Pak Erlangga, Pak. Saya melihat Pak Erlangga demam dan mencoba membantu mengobati dengan mengompres dan memberikan obat. S-saya lalu membantu Pak Erlangga untuk berirahat di kamar, tapi ...." Kayra seakan malu melanjutkan ucapannya karena dia takut Krisna maupun Erlangga tidak mempercayai ceritanya dan menganggap dia hanya mengada-ada.
" Tapi apa, Kayra?" Krisna menuntut Kayra berkata yang sesungguhnya.
__ADS_1
" Tapi ..." Kayra menoleh ke arah Erlangga yang saat itu sedang mendengar ceritanya. Namun tak lama dia memutuskan pandangannya dan kembali menundukkan kepalanya.
" Pak Erlangga melarang saya meninggalkan beliau, Pak." Kayra hanya mampu mengatakan itu, dia benar-benar tidak berani mengatakan jika Erlangga lah yang memeluknya.
" Maksud kamu, Erlangga lah yang meminta kamu menemani dia di tempat tidur?" Krisna mengambil kesimpulan dari jawaban Kayra yang ditanggapi anggukan pelan kepala Kayra.
Erlangga mengeryitkan keningnya mendengar pengakuan Kayra, dia benar-benar tidak menyadari perbuatannya itu namun dia tidak menyangkal apa yang diucapkan Kayra tentang hal yang dilakukan dirinya terhadap sekretarisnya itu.
" Sebaiknya Papa harus mengambil tindakan. Papa harus memindahkan Kayra dari perusahaan ini."
Kayra dan Erlangga sama-sama terkesiap mendengar keputusan Krisna.
" Kenapa Kayra harus dipindahakan, Pa?" Tentu saja Erlangga menentang keputusan Papanya.
" Papa tidak ingin hal seperti ini terulang kembali, Erlangga. Dan Papa rasa tidak baik jika kalian selalu bersama dengan posisi kalian sekarang." Krisna menjelaskan alasannya kenapa dia ingin memindahkan tugaskan Kayra ke perusahaan lain miliknya.
*
*
*
Bersambung ...
__ADS_1
Happy Reading❤️