
Kayra terlihat gelisah di kamarnya. Pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan Caroline seputar kegiatan Erlangga selama di kantor maupun di luar kantor selama Kayra mendampingi bos nya itu semua ditanyakan oleh Caroline kepadanya termasuk jam kepulangan Erlangga setiap harinya. Belum lagi tugas yang dibebankan terhadap Kayra untuk memberikan informasi tentang kedekatan Erlangga dengan wanita lain.
" Ibu Caroline sudah mencurigai jika Pak Erlangga mempunyai wanita lain. Aku harus memberitahu Pak Erlangga agar beliau tidak selalu kemari. Bagaimana jika Ibu Caroline menyuruh orang mengikuti Pak Erlangga dan orang itu tahu jika Pak Erlangga ternyata sering ke sini dan ternyata Pak Erlangga sudah menikah denganku?" Kayra berjalan mondar-mandir di kamar seraya memijat pelipisnya. Saat ini rasa takut dan cemas yang dia rasakan sangat kuat menyelimuti hatinya.
Bayangan jika Caroline akan melabraknya dan menyebutnya sebagai wanita yang tidak tahu diri karena berani merebut suaminya, belum lagi caci maki para karyawan di kantor jika mengetahui statusnya saat ini sebagai istri simpanan Erlangga terus menari-nari di benaknya.
Ceklek
Kayra menoleh ke arah pintu saat pintu kamarnya dibuka dari luar dan menampakkan sosok pria yang saat ini sedang menjadi permasalahan.
" Ada apa? Kenapa kamu terlihat tegang seperti itu?" tanya Erlangga karena mendapati wajah Kayra yang terlihat tegang saat melihat kehadiran dirinya. Namun Kayra tidak menjawab pertanyaan Erlangga. Wanita itu masih berdiri bahkan terpaku tak bergerak dari tempatnya.
" Ada apa, Kayra?" Erlangga menghampiri Kayra dan menatap wajah wanita itu yang menampakkan aura kecemasan.
" Istri Bapak tadi datang ke kantor." Kayra terpaksa harus mengatakan kepada Erlangga apa yang membuat dirinya cemas. Agar dia bisa meminta Erlangga untuk tidak terlalu sering menemuinya di rumah itu.
" Caroline? Ada apa dia ke kantor? Apa dia bicara sesuatu terhadapmu?" Erlangga menduga jika ada hal serius yang dikatakan Caroline kepada Kayra hingga membuat wanita itu terlihat cemas.
" Ibu Caroline mencurigai Bapak dekat dengan wanita lain. Dan Ibu menyuruh saya untuk menyelidiki siapa wanita yang dekat dengan Bapak lalu melaporkannya kepada beliau." Dengan jujur Kayra menceritakan apa yang diminta Caroline kepadanya.
Erlangga menautkan kedua alisnya hingga kerutan terlihat di kening pria tampan itu.
" Caroline bicara seperti itu?" Erlangga terkejut mengetahui jika istrinya ternyata mulai mengendus dirinya yang mulai membagi perhatian kepada wanita lain.
" Saya mohon agar Bapak tidak sering datang kemari. Saya takut Ibu Caroline memata-matai dan mengetahui jika Bapak sering datang menemui saya di sini." Kayra menyampaikan kecemasannya.
" Kamu tidak usah cemas soal Caroline, biar nanti saya yang mengatasinya. Dan saya pastikan jika Caroline tidak akan tahu soal tempat ini." Erlangga menepuk kedua pundak Kayra dengan lembut.
" Tapi, Pak ...."
" Percaya saja sama saya, Caroline tidak akan pernah tahu soal pernikahan kita." Erlangga memotong ucapan Kayra dan mencoba meyakinkan Kayra untuk tidak khawatir.
" Lalu apa yang harus saya katakan kepada istri Bapak?" Kayra bingung apa yang harus dia laporkan kepada Caroline tentang tugasnya itu.
Erlangga kini menangkup wajah Kayra. " Tidak ada yang perlu dijelaskan kepada Caroline. Katakan saja jika kamu tidak tahu apa-apa dan tidak ada yang mencurigakan dengan saya." Erlangga lalu mengecup kening Kayra perlahan. " Saya mau mandi dulu ..." Erlangga kemudian melangkah memasuki kamar mandi yang ada di kamar yang ditempati oleh Kayra.
Kayra memperhatikan Erlangga yang memasuki kamar mandi lalu menghela nafas panjang, kemudian dia berjalan menuju lemari untuk mengambilkan pakaian ganti untuk Erlangga.
***
Hingga lepas Isya, Erlangga masih betah berada di rumah tinggal Kayra. Kayra benar-benar melayani layaknya seperti seorang istri terhadap suami. Menyiapkan pakaian dan menyiapkan makan malam untuk Erlangga.. Hal kecil yang hampir tidak pernah dilakukan oleh Caroline sejak mereka menikah.
Kayra masuk ke kamar dan melihat Erlangga masih duduk bersandar di headbord tempat tidur dengan mata menatap layar televisi yang menampilkan acara olah raga.
" Kemarilah ...!" Erlangga meminta Kayra mendekat ke arahnya.
" Apa Bapak tidak pulang?" tanya Kayra, karena saat ini waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam.
" Apa kamu mengusir saya?" tanya Erlangga menggeser tubuhnya memberi tempat untuk Kayra.
" Ibu Caroline nanti akan curiga jika Bapak telat pulang." Kayra menyebutkan alasannya kenapa dia bertanya seperti itu.
Erlangga lalu mengambil ponselnya dan dia menghubungi seseorang di ponselnya itu.
" Halo, Bu Daus. Apa Caroline ada di rumah?" tanya Erlangga bertanya kepada ART nya dengan mengaktifkan pengeras suara di ponselnya agar Kayra mendengar jawaban dari Ibu Daus.
" Nyonya belum datang, Tuan." Terdengar suara Ibu Daus menyahuti.
" Sejak kapan Caroline pergi, Bu?" Erlangga sudah bisa menduga jika istrinya itu tidak akan betah seharian di rumah.
" Dari sebelum Dzuhur, Tuan." sahut Ibu Daus.
" Dia pergi dengan siapa?" Erlangga seolah mengintrogasi ART nya itu.
" Nyonya pergi sendiri, Tuan." jawab Ibu Daus kembali
" Baik, Bu Daus. Jangan katakan pada Caroline jika saya menanyakannya." Erlangga tidak ingin Caroline tahu jika dia mengecek keberadaannya saat ini.
__ADS_1
" Baik, Tuan."
Setelah mendapat jawaban dari Ibu Daus, Erlangga segera mematikan sambungan teleponnya tersebut.
" Kamu dengar sendiri, kan? Untuk apa saya cepat pulang? Sementara di sana tidak ada istri yang melayani dan menanti kedatangan saya." Erlangga meletakkan ponselnya kembali. Ada nada kekecewaan dalam kalimat yang diucapkan oleh Erlangga.
Kayra menghela nafas sejenak lalu menghempaskan perlahan. Dia menduga karena alasan inilah Erlangga memperistri dirinya. Mungkin bagi sebagian wanita yang berstatus seperti dirinya, menjadi istri simpanan bosnya adalah hal yang menyenangkan, setidaknya banyak fasilitas dan kemewahan yang bisa didapat oleh mereka, namun tidak dengan dirinya. Menjadi istri simpanan apalagi bosnya sendiri yang masih berstatus suami sah wanita lain adalah hal paling memalukan bagi dirinya.
" Kemarilah, saya ingin memelukmu." Erlangga meminta Kayra untuk duduk di sampingnya.
Kayra menuruti apa yang diminta oleh suaminya itu. Duduk di samping Erlangga dan membiarkan pria itu merangkulkan lengan berototnya pada tubuhnya.
" Seandainya saya lebih awal berjumpa denganmu, mungkin kondisinya tidak akan seperti ini." Erlangga mendekatkan kepala Kayra ke bahunya. Erlangga seperti menyesali pernikahannya dengan Caroline. Erlangga berpikir jika saja dia belum mempunyai Caroline, mungkin dia akan lebih memilih Kayra untuk menjadikan istrinya.
Kayra hanya diam, dia tidak tahu akan merespon apa dengan perkataan Erlangga tadi. Dia tidak mensyukuri apa yang terjadi dengan rumah tangga Erlangga dan Caroline, walaupun dia saat ini berposisi sebagai istri simpanan Erlangga.
Ddrrtt ddrrtt
Ponsel Erlangga tiba-tiba berbunyi. Kayra sempat melirik layar ponsel suaminya, dan matanya terbelalak saat wajah Caroline terlihat di layar ponsel Erlangga menandakan jika Caroline lah yang menghubungi Erlangga.
Kayra sontak menjauhkan tubuhnya dari Erlangga. Walaupun saat ini Caroline tidak melakukan video call, namun Kayra merasa ketakutan sendiri, dia seperti seorang pencuri yang ketahuan oleh si pemilik barang yang dia curi.
" Halo ..." Erlangga mengangkat panggilan telepon dari Caroline dengan menekan pengeras suara seperti saat dia menghubungi Ibu Daus.
" Sayang, kamu di mana? Kenapa belum pulang sampai jam segini? Aku bosan menunggumu tidak juga pulang." Suara Caroline terdengar mengeluh.
Erlangga mendengus mendengar kebohongan yang diucapkan oleh Caroline. Jelas-jelas jika ART di rumahnya mengatakan jika Caroline belum pulang, sekarang wanita itu mengatakan jika dia bosan menunggunya di rumah.
" Tidak usah menungguku. mungkin aku akan pulang malam!" ketus Erlangga menanggapi ucapan Caroline.
Kayra bahkan bisa melihat aura kemarahan di wajah Erlangga. Dia mengerti mengapa Erlangga marah. Caroline sudah pergi seharian dan sekarang berbohong dengan mengatakan bosan menunggu Erlangga pulang.
" Memangnya kamu ada di mana, Sayang? Sayang, apa kamu selingkuh dariku? Apa kamu mempunyai wanita lain?" Caroline terang-terangan mengatakan kecurigaannya terhadap Erlangga.
Kayra menelan salivanya mendengar suara Caroline yang mencurigai Erlangga menduakan hatinya kepada wanita lain.
" Sayang, maafkan aku ... aku tidak bermaksud menuduhmu seperti itu." Mendengar Erlangga berbicara dengan nada ketus, Caroline langsung menyampaikan permohonan maafnya kepada suaminya itu. " Aku hanya takut jika kamu bertemu dengan wanita lain dan wanita itu akan menggodamu, Sayang." Caroline cemas akan kehilangan Erlangga jika Erlangga bertemu wanita lain yang bisa menjerat suaminya ke pelukan wanita lain itu.
Sebenarnya Erlangga ingin terus beradu argumen dengan Caroline, namun dia melihat wajah Kayra yang merasa bersalah, Erlangga pun memilih mematikan sambungan telepon dari istrinya itu secara sepihak.
" Sebaiknya Bapak pulang saja. Jika memang ada masalah dengan Ibu Caroline, Bapak bicarakan dengan Ibu agar ada penyelesaiannya yang terbaik. Jika Bapak bersikap seperti ini, itu tidak akan memecahkan masalah yang terjadi antara Bapak dan Ibu Caroline. Dan kemelut rumah tangga Bapak dan Ibu akan terus berlarut-larut." Kayra berusaha menasehati Erlangga agar Erlangga tidak keras kepala dan mau membicarakan permasalahnnya dengan kepala dingin.
Erlangga menatap Kayra dengan lekat. Dia memang sangat mengagumi wanita yang berprofesi sebagai sekretarisnya itu. Sejak awal Kayra bekerja sebagai karyawannya. Erlangga memang selalu memperhatikan Kayra secara diam-diam. Namun dia berusaha untuk menutupi kekagumannya dengan bersikap acuh dan sewajarnya kepada Kayra, apalagi dia sendiri sudah mempunyai istri dan dia juga sangat mencintai Caroline.
Kesibukan Caroline yang semakin lama semakin membuat istrinya itu tidak punya banyak waktu untuknya lambat laun membuat rasa kagum terhadap Kayra semakin bertambah, apalagi perhatian Kayra terhadap dirinya terutama saat dia sakit beberapa hari lalu membuatnya tidak bisa menahan keinginan untuk memiliki Kayra, walaupun dia masih berstatus sebagai suami Caroline.
Erlangga tidak memikirkan bagaimana nasib pernikahannya dengan Caroline ataupun Kayra. Yang dia pikirkan saat itu adalah bisa memiliki Kayra sebelum pria lain memiliki Kayra, apalagi saat itu banyak pria yang menginginkan Kayra.
" Saya tidak pernah menyesal menikahimu, Kayra." Erlangga membelai wajah lembut Kayra. Dia lalu memberikan kecupan di bibir manis Kayra.
" Sebaiknya Bapak pulang saja." Kayra berucap saat Erlangga menjeda ciumannya.
" Saya lebih nyaman tinggal di sini bersamamu, Kayra." Erlangga mendekatkan keningnya dengan kening Kayra. Tangan kanannya kini menangkup rahang berwajah cantik milik Kayra.
" Ini tidak baik untuk hubungan rumah tangga Bapak dan Ibu Caroline ke depannya, Pak. Jika Bapak tidak ingin Ibu Caroline tahu tentang pernikahan Bapak dengan saya, sebaiknya Bapak kembali ke rumah." Kayra memberanikan diri bersitatap dengan mata bak elang milik Erlangga.
Erlangga menghempas nafas panjang, dia merasakan berat harus meninggalkan Kayra, namun wanita itu memintanya kembali ke rumahnya.
" Baiklah, saya akan pulang." Erlangga lalu bangkit dari tempat tidur.
Kayra lalu mengambilkan pakaian yang siang tadi dipakai Erlangga ke kantor dan menyerahkannya kepada suaminya. Karena jika Erlangga pulang ke rumah dengan pakaian yang berbeda pasti akan menimbulkan kecurigaan, walaupun belum tentu Caroline ingat pakaian apa yang dikenakan suaminya saat berangkat ke kantor hari ini.
Dalam perjalanan pulang ke rumahnya, Erlangga sempat menghubungi Bondan terlebih dahulu.
" Selamat malam, Tuan Erlangga. Apa ada tugas yang harus saya kerjakan, Tuan?" Suara berat Bondan terdengar dari ponsel Erlangga.
" Tolong atur anak buah Pak Bondan untuk mengawasi Caroline. Dia sudah curiga jika saya mempunyai wanita lain. Jangan beri dia peluang mendapatkan informasi itu. Awasi selalu rumah tempat tinggal Kayra, jangan sampai ada orang asing masuk ke dalam rumah itu. Perhatikan juga orang yang lalu lalang dan mencurigakan di depan rumah tinggal Kayra." Erlangga langsung memberikan perintahnya kepada Bondan sebelum dia meneruskan perjalanan ke rumah dengan mobilnya.
__ADS_1
***
Erlangga terbangun saat alarm di ponselnya berbunyi. Dia sengaja menyetel alarm jam setengah enam pagi, karena dia ingin ke tempat Kayra agar dia bisa segera bertemu dengan Kayra kembali.
Erlangga menoleh ke sampingnya, dia melihat Caroline masih terlelap dalam tidurnya. Walaupun saat itu matanya masih terasa berat untuk dibuka, namun Erlangga segera menyibak selimutnya dan melangkahkan kakinya ke arah tempat tidur.
Butuh setengah jam untuk Erlangga selesai mandi dan berpakaian rapih dengan kemeja, dasi dan setelan blazernya. Erlangga masih mendapati Caroline yang belum juga terbangun dari tidurnya. Erlangga mendengus sambil menggelengkan kepalanya. Dia benar-benar merasa jika Caroline tidak menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri dengan baik seperti yang diinginkannya.
Erlangga mengambil tas kerjanya dan berlalu dari kamarnya untuk turun ke bawah.
" Selamat pagi, Tuan. Tuan ingin berangkat sekarang?" tanya Ibu Daus saat melihat Erlangga telah rapih padahal jam masih menunjukkan pukul enam pagi.
" Saya ada perlu, Bu Daus." ucap Erlangga berlari kecil menuruni anak tangga.
" Apa Tuan ingin sarapan dulu?" tanya Ibu Daus
" Tidak, Bu Daus. Saya akan sarapan di luar." sahut Erlangga. " Kalau istriku terbangun dan menanyakan saya, bilang saja saya sudah berangkat ke kantor." lanjutnya.
" Baik, Tuan." sahut Ibu Daus seraya memperhatikan Tuannya yang sudah berjalan ke luar rumah.
" Kaya raya, banyak uang tapi tidak bisa menikmati hidup dengan baik. Suami istri sibuk masing-masing, bagaimana di rumah ini akan ada tawa dan tangis anak-anak jika rumah tangga mereka terus seperti ini?" gumam Ibu Daus merasa prihatin dengan kondisi rumah tangga majikannya itu.
***
Kayra sedang memasak tumis tuna dan buncis juga membuat rolade ayam. Setelah Erlangga memintanya untuk membawakan bekal makanan, Kayra segera menghubungi Diah agar menyiapkan bahan-bahan yang akan dia masak hari ini.
Sementara di halaman rumah tempat tinggal Kayra terlihat mobil Erlangga baru saja terparkir. Pria itu lalu keluar dari mobil yang langsung disambut oleh Koko.
" Selamat pagi, Tuan." Koko menyapa Erlangga.
" Pagi ..." sahut Erlangga. " Saya ada tugas untuk, Pak Koko," lanjutnya kemudian.
" Siap, Tuan! Apa yang harus saya kerjakan, Tuan?" Koko dengan cepat merespon perkataan Erlangga.
" Awasi selalu Kayra, terutama saat di luar kantor. Saya tidak ingin ada satu orang pun yang berusaha mendekati atau menyakitinya. Saya tidak ingin ada satu orang pun yang tahu tentang status Kayra sebagai istri saya selain kalian semua yang hadir di acara pernikahan saya dengan Kayra." Erlangga kini memberikan amanat kepada Koko agar menjalankan perintahnya.
" Baik, Tuan. Saya akan menjaga Nyonya Kayra." ujar Koko.
" Bagus ..." Erlangga lalu melangkah meninggalkan mobilnya.
" Emmm, Tuan ...."
Erlangga menghentikan langkahnya saat Koko memanggil namanya.
" Ada apa?" Erlangga memutar kembali tubuhnya.
" Apa Tuan mengenal seseorang yang bernama Aldi?" tanya Koko.
Erlangga menautkan kedua alisnya dan menatap ke arah Koko. " Dia karyawan saya, ada apa dengan orang itu?" tanya kemudian.
" Saya rasa sepertinya pria itu sedang berusaha mendekati Nyonya Kayra, Tuan." Koko menyampaikan kecurigaannya terhadap Rivaldi kepada Erlangga.
" Si al! Masih berani saja dia mendekati Kayra." Erlangga mengeratkan giginya karena merasa geram melihat sikap Rivaldi yang tidak takut dengan ancamannya.
" Jika berada di dalam kantor, saya tidak bisa mengawasi Nyonya dari pria itu, Tuan." ucap Koko kemudian.
" Saya rasa Anda tahu apa yang harus Anda lakukan terhadap orang itu, Pak Koko." Seringai tipis langsung terlihat di sudut bibir Erlangga menandakan ada rencana licik yang diperintahkannya kepada Koko.
" Siap, Tuan!" Dan Koko pun sepertinya paham dengan apa yang diucapkan Erlangga kepadanya.
*
*
*
Bersambung ...
__ADS_1
Happy Reading❤️