MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO

MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO
Kamu Wanita Hebat


__ADS_3

Kayra mengerjapkan matanya. Setelah hampir dua jam dia terlelap dalam pelukan sang suami, akhirnya dia terjaga dari tidurnya. Namun, dia merasakan sulit membuka lebar matanya.


" Mas, kok mataku susah dibuka?" Merasakan aroma maskulin dalam penciumannya membuat Kayra yakin jika saat ini suaminya itu sedang menemaninya.


" Kamu sudah bangun, Sayang?" tanya Erlangga yang selama Kayra tidur terus menemani. Dia tidak terlelap, hanya memandangi wajah cantik istrinya. Sesekali waktu dia mencium pipi Kayra, membelai kepalanya dan mengusap baby bump istrinya.


" Iya, tapi mataku kok sulit terbuka, Mas?" Kayra merasa khawatir karena dia kesulitan dalam membuka kelopak matanya.


" Itu karena kamu banyak menangis, Sayang. Besok kita ada acara tujuh bulanan. Kalau kamu menangis terus, bagaimana acara besok?" Erlangga membelai wajah lembut sang istri.


" Kamu jangan terlalu memikirkan masalah ini, Kayra. Aku tahu akan sulit menerima kenyataan ini. Tapi bagaimanapun juga, ini adalah kenyataan yang harus kamu hadapi," ujar Erlangga mencoba menasehati Kayra agar Kayra bisa tenang dan tidak menjadikan kenyataan ini sebagai beban pikiran bagi istrinya itu.


" Kamu juga harus kasihan dengan bayi kita ini Dia pasti ikutan sedih jika melihat Mamanya bersedih seperti ini," lanjut Erlangga seraya mengusap perlahan perut Kayra.


" Mataku ini bisa sembuh tidak, Mas?" Kayra mengalihkan pembicaraan, sepertinya Kayra enggan membahas soal itu.


" Nanti aku suruh Atik atau Diah mengambil es batu untuk mengompres bagian yang sembab," ujar Erlangga.


" Sekarang jam berapa, Mas? Aku belum sholat Ashar." tanya Kayra kemudian.


" Setengah empat. Kamu mau mandi dulu?" tanya Erlangga, bangkit dari posisi tidurnya.


" Iya, Mas." Kayra menganggukkan kepala.


" Aku siapkan dulu airnya." Erlangga lalu melangkah ke arah kamar mandi, untuk mengisi air dalam bathtube untuk mandi sang istri.


" Kamu bisa berjalan sendiri atau mau aku gendong?" tanya Erlangga membantu Kayra turun dari tempat tidur.


" Aku jalan saja, Mas." balas Kayra. Namun, tetap saja Erlangga menuntun Kayra sampai kamar mandi.


" Mas mau apa?" tanya Kayra saat Erlangga duduk di tepi bathtube.


" Aku ingin membantu kamu mandi, Sayang." jawab Erlangga. Kali ini Erlangga benar-benar ingin membantu istrinya mandi, sama sekali tidak terlintas keinginan me sum di otaknya melihat kondisi istrinya saat ini.


" Tidak usah, Mas. Aku bisa sendiri. Mas keluar saja." Kayra menyuruh suaminya untuk keluar dari kamar mandi.


" Aku takut kamu lemas tidak bertenaga, Sayang." Erlangga menyampaikan alasannya.


" Aku tidak apa-apa kok, Mas. Mas keluar saja, deh." usir Kayra secara halus.


Erlangga akhirnya menjauh dari Kayra, akan tetapi dia tidak keluar dari kamar mandi itu, tapi duduk di kloset duduk menemani Kayra di kamar mandi itu.


" Kenapa malah duduk disitu, Mas?" tanya Kayra lagi.


" Sayang, aku tidak mau kamu melamun di dalam kamar mandi. Tidak baik termenung apalagi di kamar mandi." Erlangga menyebutkan alasan lainnya. Dia takut Kayra terus melamun dan kembali menangis memikirkan soal kenyataan yang sebenarnya.


" Sebaiknya kamu cepat mandi, jangan berlama-lama di dalam air, nanti masuk angin." Tidak ingin mendapat sanggahan dari sang istri, Erlangga menyuruh sang istri cepat menyelasaikan mandinya. Dan Kayra pun menurut apa yang diperintahkan oleh suaminya itu.


***

__ADS_1


Malam harinya Krisna dan Helen pun sudah berkumpul di rumah Erlangga, terlebih Helen. Setelah dia mendapatkan kabar soal Kayra, saat itu juga dia langsung meluncur ke rumah Erlangga.


Namun, selepas mandi dan sholat ashar tadi, Erlangga memang tidak membiarkan satu orang pun bertemu dengan Kayra dulu terkecuali Atik dan Diah yang membantu mengompres mata sembab Kayra.


Kayra sendiri sebenarnya belum siap bertatap muka kembali dengan Arina maupun Ibu Sari, karena itulah Erlangga membiarkan Kayra terus di dalam kamar ditemani olehnya.


Kini waktu sudah hampir memasuki jam makan malam. Erlangga sebenarnya ingin tetap membuat Kayra tenang di dalam kamar. Tapi, besok mereka punya rencana besar, dan Kayra tidak bisa terus menerus diisolasi seperti saat ini.


" Sayang, aku ingin bicara dengan Papa sebentar. Tidak apa-apa kalau aku tinggal?" Erlangga meminta ijin karena sedari tadi Kayra tidak ingin ditinggalkan olehnya.


" Aku tidak mau, Mas. Mas kalau ingin bicara dengan Papa, bicara di sini saja." Kayra justru menyuruh suaminya itu berbincang dengan Papanya di dalam kamar.


Erlangga termenung sejenak. Dia pikir, mungkin ada baiknya juga mengajak Krisna mengobrol di dalam kamar, jadi Krisna bisa sekalian menasehati Kayra, agar Kayra tidak berkecil hati.


" Ya sudah, aku panggil Papa dulu." Erlangga bangkit ingin memanggil Papanya.


" Mas di sini saja! Mas telepon Papa saja suruh kemari." Kayra benar-benar tidak ingin ditinggalkan oleh Erlangga walau sekejap.


" Baiklah, aku akan telepon Papa." Erlangga lalu meraih ponselnya untuk menghubungi Papanya itu.


" Pa, kita bicara di kamar saja. Kayra tidak ingin aku tinggal." Ketika panggilannya tersambung, Erlangga langsung meminta Papanya itu untuk masuk ke dalam kamarnya.


Tak berapa lama pintu kamar Erlangga dan Kayra pun diketuk dari luar. Erlangga melangkah untuk membukakan pintu kamarnya. Terlihat Krisna dan Helen yang sudah menunggu di luar kamarnya.


Erlangga menatap Mamanya, sebenarnya dia hanya menginginkan bicara dengan Papanya terlebih dahulu. Karena dia butuh bertukar pikiran dengan Papanya.


" Mama ingin bertemu Kayra, Lang." Sejak tiba siang tadi tidak diperbolehkan bertemu dengan Kayra, membuat Helen memaksa ingin ikut suaminya masuk ke dalam kamar anak dan menantunya.


" Silahkan masuk, Pa, Ma." Erlangga akhirnya membuka lebar daun pintu dan mempersilahkan kedua orang tuanya itu untuk masuk.


" Kayra ..." Helen bergegas menghampiri Kayra dan memeluk Kayra yang duduk di tepi tempat tidur.


" Ma ...."


" Kayra, Mama minta maaf ya?! Tapi kamu jangan bersedih, Sayang. Kami semua menyanyangimu." Helen mengusap punggung Kayra membuat Kayra kembali menitikkan air mata.


" Sayang, jangan menangis ..." Helen menyeka air mata yang jatuh di pipi menantunya itu. " Mama sedih kalau melihat kamu seperti ini." Helen pun ikut menangis.


" Kayra, Papa bisa bicara denganmu, Nak?" tanya Krisna yang berdiri di depan Kayra.


" Kita bicara di sofa saja, Pa." Erlangga mengajak Papanya berbicara sambil duduk di sofa. Sementara Kayra, Helen lah yang menuntunnya berjalan hingga sofa.


Saat ini Krisna duduk berdampingan dengan Erlangga, sementara Kayra masih dalam dekapan tangan Helen di sampingnya.


" Kayra, Papa minta maaf jika selama ini kami menyembunyikan hal ini dari kamu, Nak. Tapi, percayalah, semua ini kami lakukan karena kami semua, Suamimu, Papa dan Mama, Ibu Sari dan Arina juga suaminya. Kami semua sangat menyanyangi kamu, Kayra." Krisna memulai pembicaraan.


" Kami sangat memperdulikan kesehatanmu dan kesehatan bayi dalam kandungmu. Kami tidak ingin kamu jadi seperti ini, syok dan terpukul karena kamu mengetahuinya di waktu yang tidak tepat." Krisna memberikan alasan yang sama seperti alasan yang disampaikan oleh Erlangga.


" Papa harap, kamu tidak marah apalagi membenci Ibu Sari, karena bagaimanapun, beliau dan suaminya lah yang membentuk karakter kamu menjadi seperti sekarang ini. Beliau dan suaminya yang memberikan segenap waktunya untuk membesarkan, mengurus dan melimpahkan kasih sayangnya terhadapmu seperti anak kandung sendiri, sehingga kamu bisa mendapatkan kasih sayang sebuah keluarga yang utuh."

__ADS_1


" Kamu juga jangan membenci Arina, sejak tahu dia hamil, tidak pernah sedikitpun terpikirkan di benaknya untuk menggugurkan kandungannya hanya karena dia hamil dari hasil pemer kosaan. Arina sangat menyayangimu. Dia menitipkanmu saat bayi karena dia punya rencana ingin membawa kamu saat dia sudah bekerja dan mempunyai uang."


" Dan dia memenuhi janjinya, sayangnya dia tidak bisa bertemu denganmu karena dia kehilangan jejakmu, Kayra. Namun, Mamamu itu terus berusaha mencarimu, sampai akhirnya dia benar-benar menemukanmu."


Semua kata-kata Krisna didengar dan masuk telinga Kayra, kemudian diserap baik-baik oleh Kayra.


" Jangan pernah beranggapan kamu tidak berguna hanya karena salah satu orang tuamu tidak menginginkan kehadiranmu. Tapi, lihatlah hari ini. Kamu sangat berguna bagi banyak orang Kayra. Kamu bisa menjadikan Erlangga, anak Papa yang dulunya keras kepala, kini bisa semakin berpikiran dewasa dan bersikap bijaksana. Kamu juga bisa memperbaiki hubungan Erlangga dan Mamanya yang sebelumnya selalu bersitegang menjadi akur dan harmonis."


" Kamu menyebarkan aura positif bagi orang-orang di sekitarmu, Kayra. Jadi jangan berkecil hati, karena semua orang sangat memperdulikanmu, sangat menyayangimu." Krisna panjang lebar memberi pengertian kepada Kayra.


" Nanti selepas makan malam, Papa akan ajak Ibu Sari dan Arina berserta suaminya berbincang bersama. Papa harap kamu sudah siap bertemu mereka."


Kayra menoleh ke arah Erlangga yang menganggukkan kepala seolah menyetujui apa yang diucapkan oleh Krisna.


" Kamu jangan takut, Kayra. Kami semua di sini menyanyangi kamu." Helen mencoba meyakinkan Kayra.


" Apa kamu siap, Nak?" tanya Krisna menanti kepastian dari Kayra.


Kayra menarik nafas dalam-dalam, walaupun sebenarnya dia masih belum siap, tapi dia harus berbicara dengan kedua ibunya itu.


" Iya, Pa." sahut Kayra.


Erlangga dan kedua orang tuanya menarik nafas lega mendengar kesanggupan Kayra untuk berbicara dengan Arina dan juga Ibu Sari.


" Alhamdulillah jika kamu sudah siap. Kamu wanita hebat, Kayra. Papa yakin kamu bisa mengatasi hal ini." Krisna meyakinkan Kayra jika Kayra bukanlah wanita lemah.


" Ya sudah, sekarang waktunya makan malam, kita makan bersama, yuk!" Helen mengajak anak, suami dan menantunya untuk bergabung makan malam bersama.


" Aku ingin makan di sini saja, Ma." Kayra sepertinya masih merasa canggung berkumpul di meja makan dengan kedua ibunya dalam situasi saat ini.


" Kenapa, Kayra? Kamu bilang tadi kamu sudah siap." Helen bertanya heran.


" Biarkan Kayra makan di sini, Ma. Mungkin dia belum siap berada satu meja dengan Arina dan Ibu Sari." Krisna lebih memahami menantunya.


" Tapi kamu akan turun untuk berbicara di ruang keluarga setelah makan malam 'kan, Nak?" tanya Krisna memastikan.


" Iya, Pa." jawab Kayra pelan.


" Ya sudah, ayo kita keluar, Ma. Nanti Papa akan suruh Bi Jumi bawa makanan untuk kalian." Krisna berpamitan meninggalkan kamar Kayra untuk bergabung dengan yang lainnya di ruang makan. Sementara Erlangga tetap menemani Kayra di kamarnya.


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading ❤️

__ADS_1


__ADS_2