MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO

MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO
Kejujuran Ibu Sari


__ADS_3

Pagi ini Helen menemani menantunya itu periksa kandungan. Setelah hasil DNA keluar yang menyatakan jika Kayra adalah benar anak dari Arina dan adik sepupunya, sikap Helen terhadap menantu sekaligus keponakannya itu semakin menunjukkan kepeduliannya yang begitu besar.


Seperti hari ini, dia meminta kepada Erlangga agar dirinya diijinkan menemani Kayra untuk memeriksakan kandungan Kayra yang sebentar lagi akan genap empat bulan. Walaupun dia harus menjalani syarat yang diberikan Erlangga.


" Tapi, Mama tidak boleh menyinggung soal status Kayra. Apa Mama bisa berjanji?"


Itulah yang diminta Erlangga untuk dia lakukan. Suatu hal kecil, walau kadang suka tidak tahan untuk tidak disampaikan. Namun, mengingat resiko yang terjadi berhubungan dengan janin di perut Kayra, Helen pun harus bisa menjaga mulutnya.


" Ma, terima kasih sudah menemani Aku periksa kandungan ..." ucap Kayra, saat dia mengantri menunggu giliran untuk dipanggil.


" Itu sudah kewajiban Mama, karena suami kamu 'kan mesti bekerja." Helen menyahuti.


" Iya, Ma." jawab Kayra.


" Nyonya Isabella Soedrajat ..." Pintu ruangan periksa dokter spesialis kandungan terbuka dan perawat memanggil pasien selanjutnya setelah pasien yang diperiksa di dalam keluar ruangan dokter. Setelah ini baru giliran Kayra yang akan dipanggil.


" Giliran kamu kapan, Kayra?" tanya Helen.


" Setelah ini, Ma." ujar Kayra.


" Oh, sebentar lagi ..." sahut Helen.


" Jeng Helen? Jeng Helen ada di sini?" Suara seorang wanita tiba-tiba menyapa Helen, membuat Helen dan juga Kayra menolehkan pandangan ke arah wanita itu.


" Eh, Jeng Sarah? Iya, saya menemani menantu saya periksa." Helen membalas sapaan Sarah dan menunjuk ke arah Kayra. " Jeng Sarah ada di sini juga?" Helen kini melirik kepada seorang wanita yang sedang hamil yang berada di sebelah Sarah.


" Iya, Jeng. Saya menemani anak saya periksa kandungan juga." Kini Sarah menjawab pertanyaan Helen. " Eh, ini menantu Jeng Helen? Putra Jeng Helen itu cuma satu, kan? Bukannya menantu Jeng Helen itu yang model terkenal itu, ya?" Sarah memperhatikan Kayra dengan tatapan heran, membuat Kayra tidak enak hati diperhatikan seperti itu.


" Itu dulu,, Jeng Sarah. Anak saya sudah bercerai dengan model itu. Ya, tahu sendiri 'kan, Jeng? Pekerjaan sebagai model itu pasti akan mengganggu waktu dia mengurus suaminya. Karena itu ...."


" Ma ..." Kayra menepuk halus lengan Helen, meminta agar mertuanya itu tidak membuka semua masalah yang terjadi dengan rumah tangga Erlangga dan Caroline dulu.


" Oh, maaf, Jeng Sarah. Menantu saya ini tidak ingin saya membahas apa yang sudah menjadi masa lalu ..." Helen terkekeh, menertawakan dirinya sendiri.


" Oh begitu, menantu Jeng Helen sedang hamil? Berapa bulan?" tanya Sarah kemudian.


" Sebentar lagi mau empat bulan, Jeng Sarah." jawab Helen.


" Jeng Helen sayang sekali sama menantu, sampai mau menemani menantunya cek kandungan. Mertua anak saya ini mana mau menyempatkan waktu menemani menantunya. Padahal 'kan anak saya ini mengandung cucunya sendiri," keluh Sarah.


" Tentu saja saya harus meluangkan waktu, Jeng. Ini 'kan calon cucu pertama keluarga Mahadika Gautama, tentu saja saya harus ikut perduli dengan menantu saya ini ..." ucap Helen dengan bangga, karena dia dipuji oleh kenalannya. Helen pun langsung melingkarkan tangannya di pundak Kayra seolah ingin menunjukkan kepada Sarah jika dia memang menyayangi menantunya itu.


Kayra tersenyum mendengar penuturan Mama mertuanya. Bukan tersenyum karena mencemooh Mama mertuanya, karena sebelumnya pun Mama mertuanya itu sempat menentang dan tidak perduli padanya. Namun, dia tersenyum karena bahagia, karena sekarang ini Mama mertuanya sudah membuka hati untuknya.


" Nyonya Kayra Erlangga Mahadika ..." Kini nama Kayra sudah dipanggil oleh perawat, menandakan kini giliran Kayra yang masuk untuk dicek dokter kandungan.


" Ma, sekarang giliran aku ..." Kayra bangkit dari duduknya. " Mama mau ikut masuk?" tanyanya kemudian.


" Jeng, saya menemani menantu saya dulu, ya!?" Helen berpamitan kepada Sarah karena dia ingin menemani Kayra ke ruangan dokter.


" Oh, silahkan, Jeng Helen."


Sarah mempersilahkan Helen yang berpamitan kepadanya.


***


" Bu ...."


Ibu Sari tersentak saat mendengar Erlangga tiba-tiba menyapa ketika dia baru keluar dari kamarnya. Dia berpikir jika menantunya itu sudah pergi ke kantor setelah Kayra dan Helen pergi ke dokter kandungan.


" Nak Erlangga? Nak Erlangga belum pergi ke kantor?" Ibu Sari berusaha untuk tetap tenang padahal hatinya berdebar kencang.


" Ada sesuatu yang ingin saya bicarakan dengan Ibu."

__ADS_1


Perkataan Erlangga kali ini membuat hati Ibu Sari semakin kacau.


" B-bicara apa, Nak?" Kali ini ucapan Ibu Sari terdengar bergetar.


" Kita bicara di ruang kerja saya, Bu. Mari ..." Erlangga mempersilahkan Ibu mertuanya untuk berjalan ke ruangan kerjanya.


" Silahkan, Bu." Erlangga mempersilahkan Ibu Sari yang terlihat ragu masuk melangkah ke ruangan kerjanya untuk duduk di sofa.


" I-iya, Nak." Ibu Sari duduk dengan tangan meremas gamis yang dia pakai untuk menyingkirkan kegugupannya. " Nak Erlangga ingin bicara apa?" Jantung Ibu Sari berdetak lebih kencang karena rasa penasaran dan rasa takut yang menjadi satu


" Bu, sebelumnya saya tidak ingin Ibu salah paham dengan hal yang ingin saya sampaikan ini. Percayalah, apapun yang telah terjadi, saya tetap menghormati dan menyayangi Ibu."


Hati dan pikiran Ibu Sari semakin tidak karuan mendengar setiap kalimat demi kalimat yang keluar dari mulut menantunya itu. Dia berpikiran apa yang akan dikatakan Erlangga berhubungan dengan Kayra dan masa lalu putri angkatnya itu.


" Ibu sudah mendengar dari Mama soal pengasuh aku dulu yang hamil anak dari Om ku 'kan, Bu?"


Wajah Ibu Sari kini terlihat menegang. Dugaannya ternyata benar, apa yang ingin dikatakan oleh Erlangga ada hubungannya dengan masa lalunya dulu.


" Pengasuh saya dulu ternyata kehilangan anaknya yang dia titipkan ke bidan yang membantunya melahirkan. Secara kebetulan, saya merasakan ada keanehan yang dirasakan oleh Kayra beberapa waktu terakhir ini. Dari rumah ini, terlebih saat Kayra bertemu dengan Sus Rina saat menghadiri acara pernikahan Pak Ronald beberapa Minggu lalu.


Mata Ibu Sari sudah memanas, bahkan cairan bening sudah menumpuk di bola matanya siap untuk tumpah membasahi pipinya.


Erlangga bangkit dari kursinya berpindah ke sofa di mana Ibu Sari terduduk. Erlangga menggenggam tangan Ibu Sari. Dia tahu, tidak mudah untuk Ibu Sari mengakui rahasia yang selama ini dia simpan rapat-rapat dari orang-orang, termasuk Kayra sendiri.


" Bu, maafkan jika saya bersikap lancang. Ibu tidak bercerita kepada saya, siapa Kayra yang sebenarnya. Namun, hati saya mengatakan jika Kayra berkaitan erat dengan rumah ini dan Sus Arina, sehingga membuat saya melakukan test DNA atas sampel rambut Kayra dan Sus Arina."


Air mata tak sanggup terus dibendung Ibu Sari hingga akhirnya tumpah membasahi pipinya mendengar menantunya itu melakukan test DNA. Dan sudah pasti dia tidak akan bisa terus mengelak lagi.


" Seminggu lalu hasil test DNA keluar, dan hasilnya menunjukkan jika Kayra benar anak Sus Rina, sepupu saya sendiri."


Seketika tangis Ibu Sari pecah mendengar soal hasil test DNA milik Kayra. Ketakutannya kini menjadi kenyataan. Rahasia yang bertahun-tahun dia simpan akhirnya terkuak sudah oleh menantunya sendiri. Dia membayangkan, jika sampai Erlangga mengatakan kepada Kayra, dan Kayra akan membenci lalu meninggalkannya. Saat itu juga dia merasakan seisi dunia akan runtuh menimpanya. Dia akan merasa hidupnya akan hancur saat itu juga.


Melihat Ibu mertuanya terisak, Erlangga lalu merengkuh tubuh Ibu Sari dan membiarkan Ibu mertuanya terisak di dadanya. Dia mengusap punggung Ibu Sari untuk menenangkan mertuanya itu.


" Maafkan Ibu, Nak. Tolong jangan penjarakan Ibu. Hiks ..." Ketakutan Ibu Sari bukan hanya akan dijauhi oleh anaknya, tapi juga takut akan diperkarakan karena menyembunyikan identitas Kayra dan juga bisa dikatakan menculik anak dari Arina.


" Kenapa Ibu bicara seperti itu, Bu? Tidak mungkin saya tega melakukan hal itu terhadap Ibu." Erlangga terus mengusap punggung Ibu Sari. " Ibu tetap Ibu mertua saya. Apapun alasan Ibu menyembunyikan jati diri Kayra, Ibu dan Ayah sudah memberikan kasih sayang yang melimpah kepada Kayra. Ibu dan Ayah sudah membentuk Kayra menjadi sosok seorang wanita yang sangat luar biasa." Erlangga tidak ingin menekan Ibu Sari, karena hal itu akan membuat Ibu Sari akan merasa sangat bersalah.


" Ibu dan suami Ibu menginginkan anak, karena selama bertahun-tahun menikah, kami tidak juga dikarunia anak Karena itulah kami mengasuh Kayra." Akhirnya Ibu Sari mau sedikit terbuka kepada Erlangga walaupun dengan kalimat terbata-bata. Ibu Sari jujur menceritakan bagaimana akhirnya mereka tidak menyerahkan Kayra kepada Arina, padahal mereka tahu jika Arina adalah istri dari majikan Ariyanto.


" Saya memahami perasaan Ibu dan Ayah. Selain istri saya, Kayra juga adalah adik sepupu saya. Saya bersyukur dan berterima kasih kepada Ibu dan Ayah, karena selama ini Kayra diasuh oleh orang yang tepat, hingga Kayra tidak kekurangan kasih sayang." Erlangga memang sangat bersyukur Kayra diasuh oleh pasangan suami istri yang begitu menyayangi istrinya itu.


" Apa Nak Erlangga akan mengatakan hal ini kepada Kayra?" tanya Ibu Sari dengan wajah sedih. Dia bisa membayangkan, jika Kayra akan kecewa terhadap dirinya.


" Kayra harus tahu siapa dia yang sebenarnya dan juga orang tua kandungnya. Tapi, tidak dalam waktu dekat ini, Bu. Saya tidak akan mengambil resiko, jika hal ini akan mempengaruhi kehamilan Kayra." Erlangga mengatakan tidak akan mengatakan kepada Kayra saat ini.


" Kayra pasti akan membenci Ibu ..." Ibu Sari kembali terisak, membayangkan putri asuhnya itu akan menjauhinya karena perbuatannya itu.


" Saya pastikan hal itu tidak akan terjadi, Bu. Ibu sangat kenal bagaimana anak ibu itu, kan? Kayra wanita yang baik, hatinya sangat tulus, dia pasti bisa menerima alasan Ibu, seperti saya juga bisa memaklumi alasan Ibu merawat Kayra. Apalagi Kayra sangat menyayangi Ibu, tidak mungkin Kayra akan membenci Ibu." Erlangga mencoba meyakinkan Ibu mertuanya jika hal buruk yang dibayangkan oleh mertuanya itu tidak akan terjadi.


" Lalu, apa orang tua kandung Kayra akan diberitahu, Nak? Apa dia akan mengambil Kayra?"


" Iya, Bu. Sus Rina selama ini bersedih dan merasa bersalah karena meninggalkan anaknya dulu. Dia berhak tahu jika putrinya itu masih hidup dan tumbuh menjadi wanita baik karena diasuh oleh Ibu dan Ayah. Tapi, saya juga akan mengatakan kepada Sus Arina agar tidak mengundang kecurigaan Kayra jika nanti Sus Rina bertemu dengan Kayra." Erlangga menjelaskan rencananya kepada Ibu Sari.


" Dan apakah Sus Arina akan mengambil Kayra? Tentu saja tidak, Bu. Saat ini sayalah yang paling berhak atas Kayra, karena dia adalah istri saya. Kayra akan tetap di sini, bersama Ibu juga." Sudah pasti perkataan Erlangga membuat Ibu Sari bisa bernafas lega.


" Sekarang ini, Ibu harus tenang. Jangan berpikiran macam-macam soal ini. Saya harap dengan Ibu bercerita kepada saya, beban di hati Ibu sedikit terlepaskan." Erlangga mengusap lengan Ibu Sari.


" Iya, Nak."


" Ibu juga harus bersikap biasa saja, seolah tidak terjadi apa-apa agar Kayra tidak curiga. Karena beberapa waktu lalu Kayra sangat mengkhawatirkan Ibu setelah Ibu pergi dengan Mama berbelanja." Erlangga menjelaskan bagaimana khawatirnya Kayra terhadap Ibunya.


" Iya, Nak. Maafkan Ibu." ucap Ibu Sari kepada Erlangga. " Saat itu Ibu memang syok sekali," lanjutnya.

__ADS_1


" Ya sudah, saya harus segera berangkat ke kantor. Saya takut Kayra dan Mama cepat kembali dari dokter. Dia pasti akan curiga jika saya dan Ibu berbincang di sini." Erlangga memutuskan mengakhiri perbincangannya dengan Ibu mertuanya dan segera berangkat ke kantornya.


***


Jelang sore menunggu suaminya pulang dari kantor, Kayra duduk di sofa kamarnya sambil melihat acara di televisi. Sementara tangannya menekan tombol remote mencari acara yang menarik untuk ditonton.


" Pemirsa, ada kabar gembira dari model terkenal kita, Caroline Wijayanti, yang kabarnya didapuk sebagai model iklan mobil sport asal Jerman," ucap seorang host acara infotainment.


Perkataan presenter wanita itu membuat Kayra menghentikan tangannya, yang hendak mengganti Chanel televisi yang menayangkan acara infotainment seputar gosip-gosip selebritis, ketika host infotaiment itu menyebut nama Caroline, mantan istri pertama Erlangga.


" Benar sekali. Kabarnya Caroline berhasil mengalahkan beberapa model top dunia untuk mendapatkan iklan tersebut. Membanggakan sekali dong, pastinya. Terpilih menjadi model iklan mobil sport terkenal dan akan ditayangkan di beberapa negara Eropa," sambung presenter lainnya menyahuti.


" Wah, suatu prestasi luar biasa yang didapat oleh Caroline, ya?" sahut presenter pertama.


" Pasti, dong. Bayarannya juga pasti besar sekali, kan? Kita penasaran seperti apa ceritanya? Simak wawancara rekan kami di Munich yang berhasil bertemu dengan Caroline," ujar presenter kedua.


" Pemirsa, bersama saya kali ini sudah ada model top asal Indonesia yang beruntung mendapatkan kontrak sebagai model untuk iklan mobil sport asal Jerman. Hai, Caroline. Selamat atas keberhasilan kamu terpilih sebagai model iklan mobil sport. Bisa diceritakan sedikit bagaimana perasaan kamu saat ini?" Reporter infotaiment itu menyapa Caroline yang berdiri di sebelahnya.


" Thank you ... yang pasti saya happy sekali dengan pencapain ini. Ini salah satu impian saya juga dan semoga ini semakin membuka jalan saya untuk bisa bersaing dan disejajarkan dengan top model dunia lainnya. Walaupun ... harus ada pengorbanan untuk mendapatkan hal ini. Setidaknya apa yang telah saya korbankan terbayarkan dengan keberhasilan ini," tutur Caroline. Tentu saja pengorbanan yang dimaksud Caroline adalah kegagalan dalam rumah tangganya.


Kayra menatap wajah cantik Caroline di layar televisi. Sejujurnya masih ada rasa bersalah di hati Kayra, karena dia telah merebut hati Erlangga dari Caroline. Namun, dia ikut merasa senang dengan keberhasilan Caroline. Setidaknya, Caroline terlihat sudah bisa move on dan menata kehidupannya kembali setelah perceraian. Hal itu bisa dilihat dari keberhasilan Caroline meraih cita-citanya itu dan dari aura wajah bahagia Caroline.


" Prestasi kamu ini sangat luar biasa, lho! Bukan hanya membanggakan untuk kamu pribadi, tapi juga mengharumkan nama negara. Pasti banyak dukungan dari orang-orang terdekat kamu, kan?" tanya reporter tadi.


" Tentu saja, mereka orang-orang terdekat saya yang selama ini tidak pernah berhenti mendukung karir saya. Keluarga saya dan juga manager saya, Wisnu. Dia selama ini yang selalu menyemangati saya untuk terus bertahan di dunia modelling yang saya geluti," ungkap Caroline, tidak ragu menyebutkan nama Wisnu sebagai orang yang paling berjasa dalam karirnya sebagai model. Bahkan, Wisnu yang berada di samping Caroline yang akhirnya tersorot kamera, kini terlihat merangkulkan tangannya di pundak Caroline. Hal itu membuat wanita itu tersenyum, apalagi Wisnu lalu menghadiahi kecupan di pipi kanan Caroline.


Tanpa sadar, sebuah senyuman terkulum di bibir Kayra melihat pemandangan romantis di layar televisi yang sedang dilihatnya. Dia bisa merasakan jika saat ini Caroline sedang benar-benar merasa bahagia dengan hal yang sedang dijalani wanita itu


" Sedang lihat apa, sih? Kok menghayati sekali, senyum-senyum sendiri gitu, sampai tidak menyadari suaminya datang." Suara Erlangga yang tiba-tiba terdengar membuat Kayra terkesiap.


" Mas, sudah datang?"


" Nah, kan? Sampai tidak tahu aku sudah ada di kamar ini." Erlangga berpura-pura merajuk sambil mencebikkan bibirnya.


" Aku tadi lihat berita soal Ibu Caroline, Mas." Kayra menunjuk ke arah televisi yang sudah berganti memberitakan selebriti lainnya.


" Caroline?" Erlangga mengerutkan keningnya seraya menoleh ke layar televisi.


" Tadi ada berita soal Ibu Caroline, Mas. Ternyata Ibu Caroline mendapatkan iklan yang diinginkannya itu lho, Mas." Kayra bercerita penuh semangat.


" Oh ya?" Datar tanggapan dari Erlangga.


" Iya, Mas. Aku juga melihat, jika Ibu Caroline sekarang sudah move on dan sepertinya dia menjalin hubungan spesial dengan Pak Wisnu. Tadi saja aku dengar Ibu Caroline menyebut jika Pak Wisnu adalah orang yang paling berjasa dalam karirnya. Terus, Pak Wisnu mencium pipi Ibu Caroline, Ibu Caroline tidak menolak dan tersenyum bahagia." Kembali Kayra menceritakan apa yang dilihatnya tadi.


" Syukurlah jika Caroline sudah bisa menata hatinya kembali, Mungkin Wisnu lah pria yang paling tepat untuk Caroline, bukan aku," sahut Erlangga.


" Mas, apa Mas tidak merasa cemburu dengan mereka?" tanya Kayra tiba-tiba.


" Kenapa kamu bertanya seperti itu?" tanya Erlangga heran.


" Bagaimanapun juga Mas pernah mencintai Ibu Caroline, kan?"


" Dengan ya, Kayra. Kisah aku dan Caroline sudah usai. Aku sudah menutup itu rapat-rapat. Saat ini hanya kamu istri aku yang aku cintai! Tidak ada wanita lain yang mendapatkan cintaku sebagai seorang suami selain kamu! Jadi, jangan pernah bertanya lagi soal hal itu!Asal jamu tahu, Sayang. Sekarang ini, rasa cinta aku semakin hari semakin bertambah terhadapmu dan tidak akan ada wanita lain yang bisa menggantikanmu di hatiku saat ini, nanti, hingga seterusnya." Erlangga memeluk istrinya. Tentu saja setelah dia tahu kenyataan jika Kayra adalah adik sepupunya, rasa sayang dan cinta CEO Mahadika Gautama itu semakin berlipat-lipat kepada Kayra.


*


*


*


Bersambung ....


Happy Reading ❤️

__ADS_1


__ADS_2