MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO

MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO
Krisis Percaya Diri


__ADS_3

Erlangga sedang melampiaskan kekesalannya kepada Henry karena sahabatnya itu secara sengaja membawa dan menyembunyikan Kayra tanpa sepengetahuannya, hingga sebuah bogem mentah melayang ke wajah Henry. Kepanikan akan kehilangan istrinya membuat pria berprofesi sebagai CEO itu gelap mata hingga dia tidak memandang jika orang yang dia tinju adalah sahabatnya sendiri.


" Kayra, hati-hati!!"


Namun suara pekikkan Emma yang meneriakkan Kayra membuatnya terkesiap dengan mata terbelalak lebar saat melihat Kayra berlari menuruni anak tangga.


" Kayra, Sayang ... jangan lari!!" Secepat kilat Erlangga bergerak ke arah Kayra untuk menghentikan aksi nekat sang istri yang bisa membahayakan kehamilannya.


" Aaakkhh ..." pekik Kayra saat Erlangga dengan sekejap mata sudah membawa tubuhnya terangkat dengan kedua lengan kokoh suaminya itu.


" Kayra, jangan lakukan lagi hal seperti itu! Berlari di tangga itu bisa membahayakan anak kita di perutmu .ini." Erlangga memperingatkan Kayra agar tidak melakukan tindakan seperti itu lagi.


" Mas, turunkan aku, malu ada Pak Henry dan Mbak Emma." Kayra meminta suaminya itu menurunkannya, saat Erlangga sudah sampai menuruni anak tangga.


" Kenapa kamu pergi dari kantor, Kayra? Kamu tahu? Aku sangat ketakutan saat kamu pergi dari kantor tanpa sepengetahuanku, apalagi saat aku mendapat informasi jika kamu dibawa oleh orang yang aku kenal, aku takut jika orang itu adalah Rivaldi, aku tidak bisa membayangkan jika orang yang membawamu itu adalah dia." Erlangga mengungkapkan bagaimana rasa khawatirnya saat mengetahui Kayra kabur dari kantor Mahadika.


" Maaf, Mas." Nada penyesalan terdengar dalam kalimat yang terucap dari mulut Kayra.


" Jangan pernah lagi melakukan hal itu, Sayang. Aku benar-benar panik saat kamu menghilang tadi." Erlangga langsung menciumi pipi Kayra tanpa memperdulikan di sana ada Henry dan Emma yang sedang memperhatikan dirinya.


" Wah, rumah kita ini dijadikan lokasi syuting adegan film romantis, Emma." sindir Henry, yang tidak merasa marah sedikit pun walau telah ditinju wajahnya oleh Erlangga. Sementara Emma segera menuruni anak tangga dan berjalan ke arah dapur untuk mengambil es batu untuk mengompres wajah suaminya yang terkena tinju Erlangga.


" Mas, turunkan aku!" Erlangga yang masih belum menurunkan Kayra, membuat istrinya itu kembali meminta Erlangga untuk menurunkannya.


" Sia lan kau, Henry! Kenapa kau 'menculik' istriku?!" Sambil menurunkan Kayra, Erlangga menegur Henry yang sudah berhasil membawa kabur Kayra.


" Hei, seharusnya kau bersyukur istrimu ini aku bawa pulang kemari daripada ada oknum yang tidak bertanggung jawab yang akan menculik dia di tengah jalan." Henry merasa apa yang dilakukannya masih dalam batasan yang wajar.


" Dan kau sengaja tidak memberitahuku soal ini, kan? Dan kau mengabaikan penggilan telepon dariku!" Erlangga masih saja kesal karena menganggap tindakan Henry yang tidak mengabarinya bahkan sengaja tidak mengangkat panggilan teleponnya adalah unsur kesengajaan.


" Kalau soal itu, tidak apa-apa, kan? Sekali-kali kami mengerjaimu!?" Henry mengakhiri kalimatnya dengan tertawa lebar.


" Kau tahu? Aku hampir saja melaporkan menghilangnya Kayra ke kantor polisi! Dan kau malah tertawa senang melihat penderitaanku!" gerutu Erlangga menceritakan tindakan yang hampir dia ambil yaitu melaporkan ke pihak berwajib.


" Mengapa kau bisa sepanik itu Kayra menghilang dari kantormu?" Henry penasaran melihat sebegitu marahnya Erlangga karena ulahnya yang menyembunyikan Kayra.


" Tentu saja aku panik, kau ingat karyawanku yang aku ceritakan ternyata penyusup itu? Dia itu menyukai Kayra dan sampai detik ini dia masih mengharapkan Kayra, bahkan sampai menyuruh orang membuntuti Kayra. Sekarang bagaimana aku tidak menjadi panik saat aku tahu ada seorang pria menggunakan mobil mewah membawa istriku ini pergi tanpa sepengetahuanku? Aku bahkan menduga dia lah yang membawa Kayra pergi." Erlangga menjelaskan alasannya kenapa dia begitu panik saat menyadari Kayra menghilang dari kantornya terlebih saat dia tahu ada seseorang yang membawa:istrinya pergi, bahkan ciri-ciri dari orang yang membawa Kayra mengarah ke sosok musuhnya itu.


" Orang itu nekat sekali berurusan denganmu." Kalimat datar terucap dari mulut Henry tanpa merasa terkejut dengan informasi yang disampaikan oleh Erlangga.


" Sama sepertimu, Sayang. Sudah tahu bagaimana watak sahabatmu ini, masih nekat mengerjai dia." Emma yang sudah kembali ke ruang tamu dengan membawa kantung berisi es untuk mengompres wajah suaminya langsung berpendapat menyalahkan tindakan suaminya.


" Aku ini hanya ingin membalas dia saja, Sayang. Karena dia sudah melibatkan kita dalam pernikahan diam-diam mereka. Bersyukur Om Krisna tidak menyalahkan kita dalam hal ini." Henry tetap pada alasan yang sama.


" Bukankah yang memberikan ide menikahi Kayra itu kamu sendiri?" Emma mengingatkan suaminya jika Henry lah yang awalnya memberikan saran kepada Erlangga untuk menikahi Kayra, saat tahu Erlangga sering membawa Kayra pergi di luar jam kantor.


" Tapi aku tidak menduga jika dia benar-benar akan senekat ini, Emma. Kau sendiri tahu jika Erlangga itu tipe pria setia, ya ... sebelum mengenal Kayra." Henry menyeringai meledek.


" Sebaiknya kita segera pergi dari sini, Kayra." Erlangga berniat mengajak Kayra segera keluar dari rumah Henry.


" Hei, kenapa kalian tergesa-gesa? Memarku belum sembuh ini ..." Henry menunjuk pipinya yang sedang dikompres oleh Emma.


" Aku rasa lebih baik aku segera meninggalkan rumahmu daripada mukamu akan kena tonjok tanganku lagi!" ketus Erlangga, sepertinya kekesalan pria itu belum hilang dari hatinya.

__ADS_1


" Mas ..." Kayra mengusap lengan sang suami, dia tidak enak hati melihat suaminya memukuli Henry padahal Henry sudah menolongnya.


" Suamimu ini benar-benar be ringas, Kayra. Seumur-umur aku berteman dengan dia, belum pernah aku kena tonjok seperti ini." keluh Henry yang sejujurnya tidak menduga Erlangga akan menghajarnya.


" Saya minta maaf, Pak Henry." Kayra menyampaikan permohonan maafnya karena ulah Erlangga yang sudah bersikap kasar kepada Henry.


" Bukan kamu yang seharusnya minta maaf, Kayra. Tapi suamimu itu!" sindir Henry kembali.


" Sebaiknya kau berhenti bicara, Sayang! Jika kau tidak ingin Erlangga memukulmu lagi!" Emma pun memperingatkan suaminya yang masih saja menyindir Erlangga.


" Ayo, kita pulang." Erlangga merangkulkan tangannya ke pundak Kayra. " Aku pulang dulu, Emma." Bahkan Erlangga hanya berpamitan kepada Emma karena masih kesal terhadap Henry.


" Oke, Lang. Hati-hati." sahut Emma.


" Kami permisi dulu, Pak Henry, Mbak Emma. Terima kasih Pak Henry sudah menolong saya sudah menerima saya di sini dengan baik." Merasa tak enak dengan sikap suaminya, Kayra mengucapkan terima kasihnya kepada Henry dan juga Emma sambil berpamitan.


" Kau lihatlah, Lang! Istrimu saja lebih tahu apa yang aku lakukan terhadapnya itu sebuah pertolongan bukan penculikan." Henry kembali menyindir.


" Aakkkhh ..." Namun, tak lama suara pekikkan dari mulut Henry terdengar saat merasakan lengannya terkena kuku tajam istrinya yang mencubit lengannya.


" Diamlah, Henry!" Bahkan Emma kini sudah mendelik menghentikan Henry yang terus saja meledek Erlangga.


" Kalian pulanglah, daripada suamiku ini terus berkicau." Emma menyuruh Erlangga dan Kayra untuk segera meninggalkan rumahnya agar Henry tidak terus-terusan meledek Erlangga yang saat ini sedang sensi tingkat tinggi. Dan akhirnya Erlangga dan Kayra pun segera meninggalkan rumah Henry dan Emma untuk kembali ke rumah mereka.


***


" Kenapa kamu kabur dari kantor, Kayra? Kamu tahu? Betapa cemasnya aku saat aku tidak menemukan keberadaanmu di kantor apalagi waktu aku dengar dari driver Ojol kalau kamu dibawa pria lain yang aku pikir adalah Rivaldi." Dengan tangan kiri menggenggam erat tangan kanan Karya, Erlangga mempertanyakan alasan Kayra pergi dari kantor. Entah sudah berapa kali kalimat itu Kayra dengar dari suaminya sejak di rumah Henry tadi, hingga kini mereka sedang dalam perjalanan ke rumah mereka.


" Malu? Kenapa harus malu?" tanya Erlangga.


" Mas kenapa malah mengumumkan pernikahan kita kepada karyawan kantor? Aku malu jadinya, Mas." Kayra menyampaikan keluhannya karena dia belum siap pernikahannya dengan Erlangga di ketahui orang-orang kantor.


Erlangga menepikan mobilnya ke tepi jalan, dia lalu memutar tubuhnya menghadap ke arah istrinya.


" Sayang, apa yang perlu kamu takutkan? Mulai saat ini tutup telingamu dari komentar buruk orang lain! Sekarang ini kamu sudah menjadi istriku, istri sah aku, dan akan menjadi istri Erlangga satu-satunya. Kamu juga sedang mengandung anakku, cucu dari keluarga Mahadika Gautama yang sudah lama ditunggu-tunggu, kamu dan bayi di perut kamu ini lebih sangat untukku." Tangan Erlangga mengusap wajah berkulit putih mulus istrinya yang cantik itu.


" Kau banyaklah berkonsultasi dengan Emma, aku rasa dia bisa menjadi teman baikmu." Bahkan Erlangga menyuruh Kayra berteman dengan istri dari Henry. Erlangga sangat mengenal dekat dan mempercayai Emma, dia yakin Emma bisa membantu Kayra menaikkan rasa percaya diri Kayra.


Kayra mengerutkan keningnya mendengar saran yang diberikan oleh suaminya agar dia berteman lebih dekat dengan Emma, walaupun dia tahu jika Emma memang baik, namun dia merasa gaya hidup Emma tidak sebanding dengan kehidupannya yang sederhana.


" Mas ingin aku seperti Mbak Emma?" tanyanya


" Aku tidak menyuruhmu seperti Emma, tapi kamu boleh bergaul dengan Emma, apa yang kamu rasa tidak cocok dari Emma, tidak perlu kamu jalani, dan hal-hal yang kamu rasa baik, bisa kamu terapkan dalam diri kamu. Aku merasa kamu masih krisis percaya diri menjadi istri seorang CEO sepertiku ini." Erlangga mengulum senyuman menggoda istrinya, sepertinya dia sudah melupakan kekalutannya beberapa waktu lalu saat dia merasakan gundah dengan menghilangnya Kayra.


***


Agnes melempar tas dan heels nya saat sampai di apartemennya malam ini. Dia mengumpat dengan kalimat kasar karena merasa tertikung oleh Kayra seorang wanita berasal dari kalangan ekonomi menengah ke bawah, dan dia anggap tidak selevel dengannya.


" Wanita si alan! Berani sekali merebut apa yang seharusnya menjadi milikku!" geram Agnes kesal.


" Aku tidak terima, ini suatu penghinaan untukku. Aku tidak bisa terus mengandalkan Tante Helen, dia sama sekali tidak bisa membantuku untuk mendapatkan Erlangga." Agnes berpikir keras mencari cara agar dia bisa merebut Erlangga dari Kayra.


Agnes lalu mengambil ponsel di dalam tasnya yang tadi dia lempar ke atas tempat tidur. Sepertinya dia ingin menghubungi seseorang yang bisa diajaknya bekerja sama.

__ADS_1


" Halo, apa kamu membutuhkan teman tidur lagi?" Suara dari ponsel Agnes terdengar saat panggilan telepon Agnes tersambung dengan orang yang dia hubungi itu.


" Aku butuh bantuanmu, Reno. Aku akan bayar kamu lima kali lipat dari tarif yang kamu terima jika kamu bisa membantu aku." Agnes menawarkan uang yang sangat menggiurkan senilai lima belas juta rupiah kepada Reno, pria yang pernah dia ajak berkencan beberapa hari lalu.


" Bantuan apa yang kamu butuhkan?" tanya Reno.


" Apa kamu punya kenalan orang yang bisa menyingkirkan seseorang? Aku ingin membalas dendam pada seseorang, dan aku butuh orang yang bisa mengeksekusinya."


" Apa kau ingin membunuh orang itu?" Nada kaget terdengar dari suara Reno. " Aku tidak ingin terlibat dalam hal yang berbau kriminal apalagi sampai menghilangkan nyawa orang lain!" tegas Reno menolak permintaan Agnes.


" Tidak, aku tidak ingin menyuruh membunuh orang, aku hanya ingin membuat orang itu dibenci dan diceraikan oleh suaminya," sanggah Agnes menampik jika dia ingin memberi perintah menghabisi nyawa orang.


" Apa yang harus aku lakukan?" tanya Reno kemudian.


" Aku minta bantumu untuk mencarikan orang yang ahli dalam hal ini, agar dia bisa memikirkan caranya selain mengeksekusi. Kalau aku yang harus mencari caranya untuk apa aku menyuruh kamu mencari orang?!" Agnes yang sedang emosi bertambah kesal dengan jawaban Reno.


"' Oke, oke, nanti aku cari dulu siapa yang bisa bantu kamu." akhirnya Reno menyanggupi mencari orang yang akan membantu menjalankan perintah Agnes.


" Oke, aku tunggu secepatnya." Agnes lalu mematikan panggilan ponselnya, setelah mendengar Reno bersedia membantu dirinya.


" Aku sudah menunggu lama untuk mendapatkan kesempatan menjadi istri Erlangga, aku tidak ingin kehadiran wanita kampung ini menggagalkan rencanaku ini. Lagipula dia itu tidak pantas menjadi istri Erlangga, Erlangga itu hanya pantas didampingi oleh wanita cantik sepertiku ini." Seringai tipis terlihat di suatu bibir sensual wanita cantik yang memang berambisi menjadi istri Erlangga itu.


***


" Kenapa kamu belum bersiap?" Erlangga manatap Kayra yang masih memakai baju rumahan setelah dia dan istrinya bersama dengan Ibu Sari menyantap sarapan pagi bersama.


" Memangnya kenapa, Mas? Bukannya aku sudah tidak boleh bekerja sekarang?" Kayra balik bertanya, karena seingatnya, Erlangga dan juga Krisna sudah memintanya untuk berhenti bekerja.


" Kau ikutlah denganku ke kantor, bukan sebagai sekretarisku tapi sebagai istriku," ujar Erlangga.


Kayra membulatkan bola matanya saat Erlangga ingin membawanya kembali ke kantor dengan status sebagai istri pria itu, sudah bisa dibayangkan pandangan orang-orang kantor saat melihat kehadirannya nanti.


" Aku tidak mau, Mas. Aku malu ...."


" Aku ingin kamu mulai menaikkan pandanganmu, jangan hanya tertunduk malu, kamu ini istri bos, Kayra. Bukan sekretarisku lagi!" Erlangga berusaha menyemangati Kayra agar bisa menghilangkan rasa rendah dirinya.


" Tapi, Mas ...."


" Tidak ada tapi, sekarang cepat ganti pakaianmu!" Erlangga menyuruh Kayra bergegas mengganti pakaiannya.


" Tapi Papa juga bilang aku harus beristirahat di rumah 'kan Mas?" Kayra masih menggunakan alasan Papa mertuanya itu untuk menolak ajakan Erlangga pergi ke kantor.


" Tidak apa-apa, semua akan aman-aman saja." Erlangga bersikukuh ingin membawa Kayra ke kantornya, kejadian kaburnya Kayra dari kantor kemarin, membuatnya tidak ingin berada jauh dengan istrinya itu.


*


*


*


Bersambung ....


Happy Reading ❤️

__ADS_1


__ADS_2