MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO

MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO
Tanpa Harus Membayar


__ADS_3

" Ada apa Mama kemari?" Erlangga terkejut saat melihat Mamanya dan Agnes tiba-tiba masuk ke dalam ruangannya.


" Erlangga? Kamu ada di kantor?" Sama seperti Erlangga, Helen pun sama terkejutnya saat melihat anaknya ada di ruangannya. " Tapi sekretarismu tadi bilang kamu sedang keluar. Apa kamu menyuruh sekretarismu itu berbohong kepada Mama? Kau tahu, Lang? Sekretarismu itu, dia makan di meja kerja, bukan di dapur atau di kantin, bikin ruangan bau tidak sedap karena makanan yang dia bawa itu." Helen mengadukan apa yang dilakukan Kayra tadi di meja kerjanya.


" Ada apa Mama membawa Agnes kemari?" Erlangga tak memperdulikan apa yang dikatakan Helen, dia justru memfokuskan pada pertanyaannya tadi tentang maksud kedatangan Helen bersama Agnes.


" Mama 'kan sudah bilang kalau Mama ingin Agnes bekerja di sini." Helen mengatakan tujuannya membawa Helen.


" Dan aku juga sudah tegaskan jika perusahaan ini tidak membutuhkan seorang pegawai baru, apalagi yang tidak berpengalaman!" tegas Erlangga dengan tangan berkacak pinggang.


" Erlangga, kamu ini bos di sini, kamu pasti bisa menerima Agnes dan Mama yakin Agnes juga akan mampu bekerja dengan baik di sini." Helen bersikukuh dengan keinginannya.


" Kalau Mama masih tetap dengan keinginan Mama itu, silahkan saja tapi aku akan meletakkan jabatanku sebagai CEO di perusahaan ini sekarang juga!" ancam Erlangga. Belum reda kekecewaan hatinya terhadap Caroline, kini Mamanya datang membuat emosinya yang belum meredup kembali tersulut.


" Silahkan Mama saja yang memimpin perusahaan ini. Aku akan keluar dari sini!"


Tentu saja ancaman Erlangga itu membuat Helen merinding, apalagi diucapkan dengan kata-kata penuh amarah.


" Hatiku sedang tidak enak, Ma. Sebaiknya Mama segera meninggalkan kantorku ini!" Erlangga meminta Helen untuk segera meninggalkan ruangannya sebelum menjadi pelampiasan kemarahannya.


Helen melihat aura gelap di wajah Erlangga, dia menyadari jika anaknya itu benar-benar diselimuti oleh kemarahan. Helen segera mengajak Agnes pergi dari ruangan putranya itu daripada dia akan menjadi sasaran kemarahan putranya itu.


" Kemari kamu, Kayra!" Setelah Mamanya keluar dari ruangannya, Erlangga mendekat ke arah intercom wireless dan memanggil sekretarisnya itu untuk masuk.


" Permisi, ada apa, Pak?" tanya Kayra saat masuk ke dalam ruang kerja Erlangga.


" Apa yang kamu kerjakan hingga membiarkan Mamaku dan wanita itu masuk ke ruanganku begitu saja?" tanya Erlangga geram.


" Maaf, Pak. Saya kira tadi Bapak keluar kantor." Kayra segera meminta maaf karena kesalahannya mengecek posisi Erlangga ada di mana tadi.


" Mamaku bilang kamu makan di meja kerja dan menimbulkan bau tak sedap. Apa benar?" Kini Erlangga mempermasalahkan cara makan Kayra yang menurutnya tidak pada tempatnya.


" Maaf, Pak." Kayra menunduk, dia pasrah jika saat itu dia akan menjadi sasaran pelampiasan kemarahan Erlangga.

__ADS_1


Erlangga menatap Kayra yang menundukkan kepala. Sebenarnya hatinya sedang emosi, namun entah mengapa dia tidak bisa melampiaskan kemarahannya itu kepada Kayra yang saat itu berdiri di hadapannya. Dan bukannya marah, Erlangga justru bertanya tanpa diselipkan kemarahan.


" Memangnya apa yang kamu makan? Kenapa tidak makan di kantin?" Erlangga lalu berjalan ke luar ruangan kerjanya membuat Kayra segera mengikuti langkah Kayra.


" Saya tadi sambil mengerjakan pekerjaan saya, Pak. Agar tidak membuang waktu." Kayra beralasan.


" Apa yang kamu makan tadi? Apa benar menimbulkan bau tak sedap?" tanya Erlangga berhenti di depan meja kerja Kayra.


" Hmmm, maaf, Pak. Saya tadi makan acar ikan." Kayra menggigit bibirnya. Dia menduga jika Erlangga ingin memastikan apakah udara di ruangan kerja Kayra bau tak sedap sampai pria itu mengecek langsung ke tempat Kayra.


" Tapi saya makan hanya tiga suap saja kok, Pak. Karena tadi Ibu Helen datang." Kayra melakukan sedikit pembelaan.


" Tiga suap? Jadi kamu belum selesai makan?" tanya Erlangga kemudian.


" B-belum, Pak."


" Mana makananmu? Saya mau lihat!"


Kayra terbengong mendengar Erlangga yang menanyakan soal makanannya.


" Oh, i-iya, Pak. Maaf ..." Kayra segera mengeluarkan wadah tepak makannya dan menunjukkannya kepada Erlangga.


Erlangga memperhatikan lauk yang dibawa oleh Kayra. Dia lalu mengambil sendok bekas makan Kayra dan mengambil daging dari ikan acar itu lalu mendekatkan ke hidungnya, tak lama Erlangga memasukkan daging ikan itu ke mulutnya.


Kayra membulatkan bola matanya melihat Erlangga yang mencicipi makanannya. Bukan saja karena bosnya itu mencicipi lauk yang dia bawa, namun karena Erlangga memakan menggunakan sendok bekas makannya.


" Hmmm, enak juga ..." Erlangga kembali mengambil acar ikan itu namun kini dia menambahkan dengan nasi lalu menyuapkan kembali ke mulutnya.


" Rasanya cocok di lidah saya. Kamu beli di mana makanan ini?" Untuk ketiga kalinya Erlangga mengambil nasi dan daging ikan untuk dia makan.


" Saya masak sendiri, Pak." sahut Kayra.


" Kamu bisa masak?" tanya Erlangga menyuapkan makanan ke empat kalinya ke dalam mulut.

__ADS_1


" Sedikit, Pak." sahut Kayra tertegun memandang nasi dan lauknya yang hampir habis karena di makan Erlangga.


" Habiskan makananmu, setelah ini kita akan keluar!" ujar Erlangga dengan entengnya lalu menaruh sendok di tepak makan kemudian masuk ke dalam ruangannya kembali


Kayra mengerutkan keningnya menatap sisa makanannya yang mungkin hanya tersisa dua sendok saja.


" Kenapa Pak Erlangga memakan makananku? Kalau Pak Erlangga tahu sendok ini bekas mulutku, dia akan marah atau tidak, ya?" Kayra menahan tawanya mengingat Erlangga menggunakan sendok bekas makannya.


***


Kayra merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Dia masih membayangkan saat tadi bosnya itu begitu lahap menyantap makan siang miliknya. Kayra bahkan tersenyum saat teringat sendok bekasnya yang dipakai oleh Erlangga.


" Aku pikir tadi Pak Erlangga akan marah, ternyata dia malah makan makananku. Mungkin karena marah dia menjadi lapar." Kayra terkekeh sendiri mengingat sikap bosnya yang dia anggap konyol.


Ddrrtt ddrrtt


Kayra menoleh ponselnya yang bergetar di atas nakas. Dia kemudian bangkit dari tempat tidurnya untuk mengambil ponselnya dan melihat siapa yang menghubunginya saat ini.


" Pilih mana yang menurut kamu nyaman?" Sebuah pesan dari Erlangga masuk ke dalam ponselnya ditambah beberapa pesan gambar beruntun menyusul di belakangnya.


Kayra membuka satu persatu pesan gambar yang dikirimkan oleh Erlangga. Semuanya berbentuk gambar rumah. Walaupun minimalis, namun perumahan itu tetap terlihat mewah menurutnya. Kayra mengeryitkan keningnya tidak mengerti maksud dari pesan yang dikirim oleh Erlangga.


" Maaf, Pak Saya kurang paham maksudnya, Pak." Kayra segera mengirimkan balasan kepada Erlangga tentang maksud dari pesan yang dikirim bosnya itu.


" Sebaiknya kamu pindah dari rumah gubukmu itu. Kamu pilih saja mana yang membuat kamu dan Ibu kamu merasa nyaman. Kamu tidak usah memikirkan biayanya. Selama kamu berkerja di kantor saya. Kamu bisa pakai rumah itu tanpa harus membayar ongkos sewanya."


Mata Kayra terbelalak dengan mulut ternganga mengetahui jika Erlangga memfasilitasi tempat tinggal gratis untuk dia tempati selama dia menjabat sekretaris dari Erlangga Mahadika Gautama.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung ...


Happy Reading❤️


__ADS_2