
" Kayra ...!"
Kayra yang sedang memilihkan pakaian untuk suaminya tiba-tiba menghentikan aktivitasnya saat mendengar seseorang memanggil namanya. Dan bola matanya terbelalak sempurna saat mendapati sosok orang yang menyapanya tadi.
" Pak Aldi?" responnya terkesiap.
" Kamu kok ada di sini, Kayra? Dengan siapa kamu kemari?" Rivaldi mengedar pandangan mencari orang yang dia kenal di outlet itu yang mungkin saja mengantar Kayra, namun tidak ada seorang pun yang dikenalnya di ruangan itu.
'
" Hmmm, i-iya, Pak. Saya habis ke tempat pernikahan teman saya." Kayra yang sudah mengetahui siapa sebenarnya Rivaldi dan apa maksud Rivaldi bekerja di kantor Erlangga berusaha bersikap hati-hati.
" Kenapa, Kayra? Kamu terlihat takut seperti itu?" Rivaldi pun menyadari perubahan sikap Kayra terhadapnya.
" Oh, tidak apa-apa, Pak. Saya permisi ke kasir dulu, Pak." Kayra berpamitan kepada Rivaldi dan berjalan menuju kasir untuk membayar pakaian yang sudah dia pilih.
" Kamu ke sini sendirian, Kayra?" Rivaldi mengikuti langkah Kayra hingga ke kasir.
" Hmmm, saya ... saya bersama teman, Pak." Kayra bingung harus menjawab apa, hingga dia mengatakan jika saat ini dia datang bersama teman.
" Teman kamu yang mana?" tanya Rivaldi.
" Teman saya menunggu di mobil," sahut Kayra mengeluarkan kartu debit untuk membayar barang yang dia beli.
" Semuanya empat items ya, Teh? Totalnya satu juta enam ratus sembilan puluh tujuh ribu lima ratus rupiah." Kasir outlet menyebutkan nominal yang mesti dibayar oleh Kayra.
" Ini, Teh." Kayra menyodorkan kartu ATM nya kepada kasir.
" Kamu membeli pakaian pria untuk siapa, Kayra?" tanya Rivaldi memperhatikan pakaian-pakaian yang dibeli Kayra adalah pakainan pria.
" Untuk teman saya, Pak."
" Silahkan dilihat, Teh. Nominalnya satu juta enam ratus sembilan puluh tujuh ribu lima ratus rupiah." Kasir Outlet menyebutkan kembali nominal yang ada di layar monitor kasir dengan angka yang tertera di mesin EDC untuk Kayra cocokkan. " Silahkan PIN nya, Teh." Kasir outlet mengeser EDC mendekatkan ke arah Kayra.
Kayra segera menekan PIN ATM nya lalu menunggu kasir menyerahkan paper bag berisi barang yang dia beli, kartu ATM dan juga struk pembelian. Kayra ingin segera pergi dari sana, karena dia merasa tidak nyaman berdekatan dengan Rivaldi. Kenyataan yang dikatakan oleh Erlangga menyebutkan jika Rivaldi bukan orang yang baik seperti dugaannya selama ini membuatnya takut harus berbicara dengan pria itu apalagi jika Erlangga sampai tahu jika dirinya sedang berbicara dengan Wira.
" Apa besok kamu tidak bekerja, Kayra?" tanya Rivaldi kemudian.
" Bekerja, Pak." sahut Kayra.
" Oh ya, Kayra. Kamu ini orang Bandung, kan? Apa kamu tidak berniat bekerja di kota ini? Jika kamu mau, nanti saya bantu kamu bekerja di perusahaan milik kenalan saya di sini." Rivaldi menawarkan Kayra bekerja di Bandung agar Kayra keluar dari perusahaan milik Erlangga.
" Ini kartu dan struknya, Teh. Terima kasih, Selamat berkunjung kembali." Kasir Outlet menyerahkan Kartu ATM, struk lalu paper bag kepada Kayra.
" Terima kasih, Teh." Kayra menerima semua yang diberikan kasir Outlet kepada dirinya.
" Permisi, Pak. Saya duluan ..." Tak menghiraukan pertanyaan Rivaldi, Kayra langsung bergegas meninggalkan outlet itu.
" Kayra, tunggu! Rivaldi masih ingin berbincang dengan Kayra hingga dia menyusul langkah Kayra. Dia menarik tangan Kayra untuk menahan langkah wanita itu. Dan tatapan mata Rivaldi kini terpusat pada sebuah cincin yang melingkar di jari manis Kayra. Dia tahu jika bentuk cincin yang dipakai Kayra adalah bentuk cincin pernikahan.
" Pak, tolong lepaskan tangan saya!" Kayra mencoba menepis belitan tangan Rivaldi di pergelangan tangannya.
" Kayra, sebenarnya dengan siapa kamu menikah? Kenapa kamu seperti melihat hantu saat melihat saya?" tanya Rivaldi menyelidik.
Menyadari Rivaldi memperhatikan cincin yang dia kenakan, Kayra menjadi terkesiap.
" Tolong Anda bersikap yang sopan terhadap Nyonya Kayra!" Suara Koko tiba-tiba terdengar, bahkan Koko sedikit mendorong bahu Rivaldi agar melepas tangannya dari tangan Kayra.
" Kau?" Melihat kehadiran Koko, Rivaldi menjadi ingat akan orang yang pernah dia jumpainya beberapa waktu lalu saat berbicara dengan Kayra di tepi jalan. " Siapa Anda sebenarnya?" Rivaldi bertanya dengan nada curiga. Dia terlihat tidak suka dengan kemunculan Koko yang dia anggap mengganggunya.
" Siapa saya bukanlah urusan Anda, tapi saya tidak suka Anda bersikap tidak sopan terhadap Nyonya Kayra!" tegas Koko.
Sekali lagi Rivaldi merasa penasaran dengan sebutan Nyonya yang disematkan Koko pada Kayra. Rivaldi lalu melihat kembali ke arah Kayra.
" Kayra, siapa sebenarnya suami kamu? Selama ini saya tidak pernah mendengar jika kamu sudah menikah." Rivaldi semakin penasaran dengan status Kayra dan siapa suami Kayra.
" Nyonya, sebaiknya kita kembali ke mobil!" Koko mengajak Kayra untuk segera pergi dari hadapan Rivaldi.
" Kayra, tunggu!" Rivaldi masih berusaha menahan Kayra.
" Sebaiknya Anda jangan mencari masalah, Tuan Rivaldi!" Koko menahan bahu Rivaldi sehingga pria itu tidak bisa mengikuti langkah Kayra, setelah itu dia pun segera menyusul Kayra.
__ADS_1
" Apa kita diikuti oleh Pak Aldi, Pak?" tanya Kayra kepada Koko, karena dia sangat takut jika dia diikuti oleh pria itu.
" Nyonya bersikap biasa saja agar tidak mencurigakan." Koko meminta agar Kayra tidak senewen dan bersikap tenang. Dia lalu memberi kabar kepada Erlangga untuk tidak keluar dari mobil melalui ponselnya karena keberadaan Rivaldi yang kemungkinan akan membuntutinya.
Dengan langkah cepat Kayra bergegas menuju parkiran. Untung saja tadi pagi dia berhasil membujuk Erlangga agar tidak memakai mobil yang biasa dipakai suaminya, jika tidak Rivaldi pasti akan tahu jika dia bersama Erlangga saat ini.
" Di mana orang itu!?" Saat Kayra dan Koko sudah sampai di mobil, Erlangga menanyakan keberadaan Rivaldi.
" Bapak mau apa? Jangan buat keributan di sini, Pak. Saya juga tidak ingin Pak Aldi tahu Bapak bersama saya di sini." Kayra menahan lengan Erlangga agar pria itu tidak keluar dari mobil.
" Kita pergi dari sini, Pak Koko!" Akhirnya Erlangga memberi perintah kepada Koko agar cepat meninggalkan halaman parkir mall itu.
" Baik, Tuan." sahut Koko.
" Perhatikan sekitar, siapa tahu dia mengikuti mobil ini." Erlangga memperingatkan Koko agar bersikap waspada.
" Baik, Tuan." Koko segera menjalankan mobil meninggalkan parkiran mall tersebut, namun matanya terus mengawasi lewat kaca spion ke arah belakang mobil yang dikemudikannya.
" Apa saja yang dilakukan Rivaldi kepadamu?" tanya Erlangga setelah mobil yang dikendarai Koko berjalan.
" Tidak ada apa-apa, Pak. Pak Aldi hanya kaget melihat keberadaan saya di sini." Kayra tidak ingin melaporkan apa yang tadi Rivaldi lakukan kepadanya.
" Maaf, Tuan. Tadi orang itu memegang pergelangan tangan Nyonya untuk menahan Nyonya agar tidak pergi."
Kayra membelalakkan matanya saat Koko melaporkan apa yang sudah dilakukan Rivaldi kepadanya, padahal dia sendiri ingin menutupi hal itu agar suaminya itu tidak marah.
" Apa??" Erlangga langsung menatap tajam ke arah Kayra lalu pergelangan tangan istrinya itu.
" Kenapa Anda membiarkan orang itu sampai menyentuh istri saya, Pak Koko?" Erlangga menarik beberapa lembar tissue lalu mengambil tangan Kayra dan membersihkan bagian sekitar pergelangan tangan istrinya dengan tissue. Sepertinya dia tidak ingin ada jejak sentuhan tangan Rivaldi di tangan Kayra.
" Saya memperkerjakan Anda untuk mengawasi Kayra, kenapa orang itu sampai bisa mendekati Kayra? Apa saja yang Anda lakukan di dalam tadi!?" Nada bicara Erlangga terdengar penuh amarah karena menganggap Koko lalai menjaga istrinya itu.
" Maaf, Pak." Menyadari kelalaiannya, Koko segera menyampaikan permintaan maafnya.
" Ini bukan salah Pak Koko, saya yang meminta Pak Koko untuk tidak mengikuti saya sampai masuk ke dalam outlet tadi, Pak." Kayra berusaha membela Koko, walaupun dia tidak melakukannya.
" Saya tidak ingin ada laki-laki lain yang menyentuh kamu selain saya!" tegas Erlangga memandang tajam ke bola mata indah Kayra.
" Lain kali Anda harus hati-hati jika menjaga, Kayra, Pak Koko! Bagaimana jika tadi Rivaldi membawa Kayra pergi!?" Erlangga kembali memperingatkan Koko agar tidak lengah dalam mengawasi Kayra. Sepertinya emosi pria itu masih belum mereda.
" Baik, saya minta maaf." jawab Koko tidak berani membantah apa yang diucapkan Erlangga.
Kayra melirik ke arah Erlangga, dia bisa mendengar dengusan kasar nafas suaminya. Dia lalu mengusap lengan Erlangga meminta suaminya untuk meredakan emosinya.
Apa yang dilakukan Kayra sontak membuat Erlangga menatap tangan Kayra yang mengusap lengan berototnya. Kemudian dia meraih tangan Kayra lalu menciumi punggung tangan berkulit halus istrinya itu.
Tanpa disadari lengkungan terukir disudut bibir wanita cantik itu walau terlihat samar. Sejujurnya Kayra memang merasakan jika Erlangga memperlakukannya begitu romantis layaknya seorang ratu untuk pria itu.
***
" Assalamualaikum, Bu." Kayra menjawab panggilan masuk dari Ibunya ketika baru sampai ke villa setelah berputar-putar menghilangkan jejak dari kemungkinan Rivaldi yang membuntuti mobil yang dikendarai Koko.
" Waalaikumsalam, Kayra kamu kok belum pulang, Nak?" tanya Ibu Sari dengan nada cemas.
" Astaghfirullahal adzim, Kayra minta maaf, Bu. Kayra lupa memberitahu Ibu kalau kami menginap di Bandung." Kayra merasa bersalah karena lupa memberi kabar Ibunya jika dia dan Erlangga tidak akan pulang hari ini ke Jakarta.
" Apa kamu besok tidak akan bekerja, Nak?"
Erlangga langsung merebut ponsel dari tangan Kayra karena suara Ibu Sari terdengar jelas olehnya.
" Ibu, anak Ibu itu istri bos dari perusahaan Kayra bekerja, jadi tidak masalah jika Kayra tidak ke kantor besok." Erlangga justru yang menjawab pertanyaan Ibu mertuanya itu.
" Nak Erlangga?" Ibu Sari terkejut karena Erlangga yang kini berbicara dengannya.
" Pak ...!" Kayra sendiri meminta Erlangga mengembalikan ponselnya.
" Anggap saja saat ini kami sedang berbulan madu, walaupun hanya di tempat kecil." Erlangga masih menjelaskan kenapa dirinya tidak langsung mengajak Kayra pulang.
" Oh ya sudah tidak apa-apa kalau begitu, Nak." Ibu Sari memaklumi alasan yang diberikan oleh menantunya itu. " Ya sudah kalau begitu Ibu tutup dulu teleponnya, barangkali Ibu menganggu kalian, Assalamualaikum ..." Ibu Sari pun memilih mengakhiri panggilan. teleponnya, dia takut mengganggu acara yang dikatakan bulan madu menurut menantunya itu.
" Waalaikumsalam ..." Erlangga lalu menyerahkan ponsel itu kembali kepada Kayra.
__ADS_1
" Ibu bicara apa, Pak?" tanya Kayra penasaran karena percakapannya dengan Ibunya terputus.
" Ibu menyuruh kita menikmati bulan madu kita." Tangan Erlangga melingkar di pinggang Kayra dan menarik berputar seperti orang berdansa membuat Kayra melingkarkan tangannya dengan kuat ke leher Erlangga karena takut terjatuh.
" Apa kita bisa mengulang lagi yang tadi siang?" tanya Erlangga mengedipkan matanya menggoda Kayra.
" Apa Bapak belum puas setelah melakukannya siang tadi?"
" Saya sangat puas, karena itu saya ingin merasakannya lagi." Sekejap kemudian Erlangga sudah mengangkat tubuh istrinya dan meletakkannya di atas tempat tidur.
" Tapi saya belum sholat Isya, Pak."
" Ya sudah, sholat saja dulu. Nanti kita lakukan setelah sholat."
" Tapi saya lelah, Pak."
" Apanya yang terasa lelah? Biar saya pijatkan agar lelahnya hilang." Erlangga menyeringai, dia pasti mempunyai cara untuk memenangkan argumentasi dengan istrinya.
" Cepatlah sholat dulu!" Erlangga menjauh dari tubuh Kayra dan turun dari tempat tidur lalu mengulurkan tangannya kepada sang istri.
" Setelah sholat kita akan melakukannya lagi," bisik Erlangga saat Kayra bangkit hendak berjalan menuju kamar mandi, membuat Kayra menoleh kepadanya. Seulas seringai tipis langsung diukir Erlangga melihat wajah istrinya itu seperti orang yang tidak percaya karena has ratnya untuk bercintanya sangat tinggi.
***
Erlangga berjalan memasuki kantor pengadilan agama karena hari ini adalah jadwal sidang pertama perceraiannya dengan Caroline didampingi oleh Pak Nico sebagai kuasa hukumnya.
" Saya harap proses perceraian saya berjalan lancar, Pak Nico. Usahakan agar bisa berjalan lebih cepat." Erlangga memberi perintah kepada kuasa hukumnya itu.
" Baik, Tuan. Akan kami usahakan semaksimal mungkin," jawab Pak Nico.
" Tuan Erlangga ..." Langkah Erlangga dan Pak Nico terhadang oleh Robin, kuasa hukum dari Caroline.
" Ada apa, Pak Robin?" tanya Erlangga.
" Apa Tuan sudah memikirkan dengan matang masalah perceraian ini? Saat ini Nyonya Caroline masih dalam perawatan, saya takut sidang ini akan membuat beliau semakin down, Tuan." Sebagai kuasa hukum Caroline, tentu saja Robin berusaha mendamaikan pasangan suami istri itu agar tidak sampai bercerai.
" Keputusan saya sudah bulat, Pak Robin. Saya bukannya tidak berempati atas apa yang terjadi dengan Caroline, tapi kami memang sudah tidak bisa untuk tinggal bersama lagi!" tegas Erlangga merasa jika sikapnya sudah mantap ingin berpisah dengan Caroline.
" Apa masalah yang terjadi antara Tuan Erlangga dan Nyonya Caroline tidak bisa diperbaiki lagi, Tuan? Sayang sekali jika Tuan dan Nyonya harus sampai berpisah." Robin memang menyayangkan jika Erlangga dan Caroline sampai bercerai.
" Semua sudah terlambat, Pak Robin. Dan Caroline sangat tahu alasannya kenapa?!"
" Pak Robin, sebaiknya kita ke ruang sidang sekarang. Tuan Erlangga sudah mengambil putusan, saya rasa keputusan yang diambil Tuan Erlangga adalah yang terbaik untuk beliau dan Nyonya Caroline." Pak Nico menegur Robin yang berusaha mempengaruhi keputusan Erlangga untuk berpisah.
" Mari, Tuan." Pak Nico mempersilahkan Erlangga untuk kembali berjalan.
" Permisi, Pak Robin." Lalu Pak Nico berpamitan kepada Robin kemudian mengikuti langkah Erlangga di depannya menuju ruang sidang.
Sementara di kantor Mahadika Gautama, Kayra nampak gelisah karena mengetahui Erlangga menghadiri sidang pertama perceraiannya dengan Caroline. Sejujurnya dia pun tidak berharap perceraian itu terjadi.
" Apa Pak Erlangga sudah kembali dari pengadilan, Kayra?" tanya Wira yang mendapati Kayra termenung di meja kerjanya.
" Belum, Pak." sahut Kayra bangkit dari duduknya.
" Sebentar lagi kamu akan resmi menjadi Nyonya Erlangga, Kayra." Wira berkelakar menggoda Kayra yang memang akan didapuk Erlangga sebagai istri sah Erlangga pengganti Caroline.
Perkataan Wira yang bermaksud candaan ditanggapi beda oleh Kayra.
" Maaf, Pak. Saya tidak pernah mengharapkan hal itu!" Nada bicara Kayra terdengar ketus, karena dia beranggapan jika Wira menduga dirinya berbahagia atas kesedihan yang menimpa Caroline.
" Oh, maaf, saya tidak bermaksud menyindir kamu, Kayra. Saya hanya bercanda saja, jangan dimasukan ke dalam hati candaan saya tadi." Menyadari candaannya menyinggung perasaan Kayra, Wira langsung meminta maaf atas kesalahannya tadi.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading❤️
__ADS_1