MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO

MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO
Temani Saya, Jangan Ke Mana-Mana


__ADS_3

Kayra terkesiap saat Erlangga mencengram pergelangan tangannya saat dia hendak menghubungi dokter perusahaan karena bosnya itu mengalami demam.


" S-saya mau panggil Dokter Jody, Pak." Kayra menyebutkan alasannya ingin meninggalkan Erlangga.


" Tidak perlu ..." Erlangga tetap melarang Kayra pergi walaupun dia tahu alasan sekretarisnya itu adalah untuk menghubungi dokter perusahaan.


" Kau tetaplah di sini!" Erlangga meminta Kayra untuk tetap bersamanya.


" Tapi Bapak deman, Bapak harus segera ditangani oleh dokter, Pak." Tentu saja Kayra tidak mungkin tinggal diam melihat atasannya itu sakit.


" Ini tidak apa-apa, Kayra." Erlangga melepas cengkramannya di tangan Kayra. Pria itu lalu melipat kembali tangan di atas dadanya.


" Dingin sekali rasanya." Erlangga merasa menggigil di dalam tubuhnya padahal suhu tubuhnya saat ini demam tinggi.


" Bapak kedinginan? Tapi suhu tubuh Bapak panas sekali." Kayra sampai mengecek sekali lagi dengan menempelkan kembali punggung tangannya di kening Erlangga. Kayra masih merasakan panas yang sama dari tubuh bosnya itu.


" Saya ambilkan kompres dulu ya, Pak." Kayra bergegas keluar ruangan Erlangga menuju ke arah dapur untuk mengambil wadah air dan mengisinya dengan air hangat. Kayra juga mengambil sapu tangan handuk di tasnya lalu kembali ke ruang kerja Erlangga.


" Maaf, Pak." Sebelum meletakan sapu tangan handuk yang dia lembabkan dengan air hangat ke kening Erlangga dia meminta ijin dulu dengan mengucap kata maaf terlebih dahulu.


Kayra menduga jika demam yang dialami oleh Erlangga akibat semalam bosnya itu tidak mengganti pakaiannya hingga pagi padahal Erlangga tidak melepas pakaiannya saat menceburkan diri ke kolam renang.


" Saya panggilkan Dokter Jody saja ya, Pak!?" Kayra berusaha membujuk Erlangga agar mau ditangani oleh Dokter Jody.


" Tidak perlu! Saya tidak apa-apa." Erlangga masih menolak ditangani oleh petugas kesehatan di perusahan Mahadika Gautama itu


" Tapi Bapak harus minum obat, Pak." Kayra berpikir, apa sebaiknya Erlangga diberi obat miliknya yang biasa dia konsumsi ketika dirinya demam.


Kayra kembali berlari ke luar ruangan Erlangga. Dia terlihat sibuk sekali mengahadapi bosnya yang sedang sakit saat ini. Kayra mengambil kotak obat di laci mejanya. Dia memang menyimpan obat-obatan di sana sebagai persediaan untuk dirinya sendiri jika kurang fit.

__ADS_1


" Tapi Pak Erlangga 'kan belum makan? Apa aku pesankan dulu di kantin, ya?" Kayra masuk ke ruangan kerja Erlangga lagi dengan membawa obat di tangannya.


" Pak, Bapak harus minum obat tapi Bapak belum makan siang, kan? Apa Bapak ingin saya pesankan makanan di kantin?" Kayra meminta persetujuan dari Erlangga sebelum dia memesankan makanan untuk bosnya itu.


" Tidak, saya tidak mau!" Apapun yang ditawarkan Kayra untuk kesembuhan bosnya itu selalu ditolak oleh Erlangga.


" Tapi Bapak harus minum obat, Pak. Kalau tidak minum obat, bagaimana Bapak akan cepat sembuh? Sedangkan Bapak sendiri tidak mau saya panggilan dokter." Kayra seperti menghadapi anak kecil sakit yang menolak disuruh minum obat ataupun diperiksa dokter.


" Mana obatnya? Sini ...!" Erlangga minta Kayra menyerahkan obat yang harus diminumnya.


" Tapi Bapak harus makan dulu walupun hanya sedikit sebelum minum obatnya." Kayra teringat jika nasi dan lauk miliknya masih ada. Dia pun berniat memberikan Erlangga makanannya sebelum minum obat.


" Sebentar, Pak." Untuk ketiga kalinya Kayra menuju ke ruangannya untuk mengambil bekal nasi miliknya.


" Pak, sebaiknya Bapak makan ini saja dulu." Kayra membuka bekal makanannya yang akan dia berikan kepada Erlangga.


" Apa itu?" Erlangga memperhatikan benda di tangan Kayra.


Kali ini Erlangga tak menolak apa yang diberikan Kayra kepadanya. Satu suap, dua suap, tiga suap ... tak ada satupun suapan Kayra yang ditolak Erlangga.


Erlangga menatap wajah cantik wanita di hadapannya yang sedang meladeninya dengan sangat telaten. Erlangga seketika teringat akan Carolineuy, karena dia merasa istrinya saja tidak pernah bersikap sangat perhatian seperti ini terhadap dirinya.


" Sekarang Bapak minum obatnya." Kayra mengoyak kemasan obat yang akan dia berikan kepada Erlangga lalu dia mengambilkan air mineral untuk bosnya itu.


" Kalau Bapak sakit, sebaiknya Bapak pulang saja dan istirahat di rumah agar besok Bapak bisa beraktivitas kembali." Sebenarnya saran yang diberikan Kayra adalah saran yang paling tepat. Tentu saja beristirat di rumah lebih efektif agar Erlamgga bisa fit kembali esok hari.


" Tidak, saya ingin istirahat di sini saja!" Erlangga menolak tegas apa yang disarankan Kayra.


" Ya sudah jika Bapak bersikeras tetap ingin di sini, tapi sebaiknya Bapak beristirahat di kamar saja, Pak. Jangan tidur di sofa begini." Kayra tahu jika bosnya itu mempunyai ruangan khusus untuk beristirahat. Dia lalu menyarankan Erlangga untuk beristirahat di sana karena bosnya itu menolak beristirahat di rumah.

__ADS_1


Erlangga berusaha mengangkat kepalanya karena dia ingin bangkit dari posisi dia berbaring. Kedua tangannya memegangi kepalanya seraya memijat pelipisnya. Dia ragu untuk berdiri karena sepertinya dia akan berjalan sempoyongan.


" Tolong bantu Saya!" Tanpa rasa segan Erlangga meminta bantuan kepada Kayra untuk membantunya berdiri.


Kayra segera memegangi lengan Erlangga untuk membantu pria itu bangkit dari duduknya.


" Hati-hati, Pak. Pelan-pelan saja." Kayra menuntun langkah Erlangga, namun Erlangga melepaskan tangannya yang dipegang oleh Kayra. Kini dia justru melingkarkan tangannya di pundak Kayra membuat Kayra sontak terkejut. Namun karena dia tidak berpikiran buruk apalagi saat ini bosnya itu sedang sakit, Kayra membiarkan Erlangga yang merangkulnya. Kayra beranggapan apa yang dilakukan Erlangga karena pria itu butuh seseorang untuk membantunya berjalan.


Sesampainya di ruang istirahat, Kayra membantu Erlangga berbaring. Namun saat pria itu menjatuhkan tubuhnya, Kayra pun ikut terjatuh dan menimpa tubuh Erlangga karena Erlangga tak melepaskan tangannya di pundak Kayra.


Kayra tercengang karena posisinya yang saat ini sangat in tim dengan Erlangga, apalagi wajah mereka yang berdekatan tak sampai sejengkal jaraknya.


Erlangga pun sama terkejutnya dengan Kayra, dia tertegun beberapa saat ketika melihat wajah cantik Kayra saat ini memenuhi pandangan matanya, apalagi bibir ranum Kayra yang terbuka karena saat ini wanita itu nampak syok dengan apa yang terjadi saat ini.


" Astaghfirullahal adzim ...!" Kayra yang tersadar berusaha menjauhkan tubuhnya dari Erlangga, namun Erlangga tak membiarkan Kayra menjauh.


" Temani saya, jangan ke mana-mana!" Erlangga meminta agar Kayra tidak meninggalkannya.


" T-tapi, Pak ...."


Erlangga tidak memperdulikan tolakan Kayra, pria itu justru menjatuhkan tubuh Kayra di sampingnya. Dia memeluk erat tubuh Kayra dan menenggelamkan wajahnya di ceruk leher sekretarisnya itu. Apa yang terjadi membuat jantung Kayra berdetak lebih kencang karena perlakuan Erlangga saat ini kepadanya. Dia berusaha menolak, namun semakin dia bergeliat untuk melepaskan diri semakin kencang belitan tangan kokoh Erlangga di tubuhnya.


" Ya Allah, ampuni hambaMu ini." Kayra memejamkan mata dengan menggigit bibirnya, apalagi saat hembusan hangat Erlangga menyentuh kulit lehernya hingga akhirnya suara dengkuran pelan terdengar di telinganya.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung ...


Happy Reading❤️


__ADS_2