
Erlangga mengerjapkan matanya dan meraba sisi bagian kanan tempat tidurnya. Terasa kosong, tak ada tubuh yang semalam menghangatkannya di sana saat ini. Erlangga akhirnya menyadari jika semalam dia hampir berhalusinasi dengan kehadiran bayangan Kayra yang tidur di sampingnya. Untung saja Caroline tidak menyadari jika semalam dia membayangkan wanita lain yang bersamanya.
Erlangga menolehkan pandangan ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi. Erlangga menyibak selimutnya lalu bangkit dari tempat tidur untuk mencari keberadaan istrinya karena hari ini adalah weekend. Dia ingin menghabiskan waktu liburnya bersama Caroline karena beberapa hari ini dia jarang bersama dengan istrinya itu.
" Sayang, kau sudah bangun?" Pintu kamar terbuka dan Caroline muncul dari luar kamar.
Erlangga menatap Caroline yang sudah berhias cantik dengan setelan blazer berwarna gold.
" Mau ke mana kamu, Caroline?" Erlangga tahu, dengan berdandan dan berpakaian rapih seperti yang dia lihat saat ini, istrinya itu pasti berniat akan pergi.
Caroline melangkah mendekati Erlangga lalu melingkarkan tangannya di leher kokoh sang suami.
" Sayang, siang ini aku harus ke Bali. Kamu tahu? CEO Advertising Agency dari Jerman yang ditunjuk untuk membuat iklan mobil sport terkenal saat ini ada di Bali. Aku dan Wisnu akan ke sana menemui beliau, agar aku bisa mendapatkan posisi untuk model wanita iklan tersebut." Caroline menjelaskan alasannya kepada Erlangga mengapa dia sudah berpakaian rapih seperti saat ini.
" Kau baru sampai dan kau akan pergi lagi?" Sudah pasti Erlangga menentang kepergian Caroline ke Bali.
" Sayang, tapi kepergianku saat ini penting sekali agar aku bisa mendapatkan iklan bergengsi itu." Caroline meminta agar Erlangga mengerti akan pentingnya mendapatkan iklan yang akan semakin menguatkan namanya di bidang modeling di luar negeri.
" Semua kamu bilang penting! Kepergianmu ke Inggris kamu bilang penting, ke Brussel juga dibilang penting. Lalu kapan kamu menganggap rumah tangga kita, pernikahan kita ini lebih penting dari karirmu itu, Caroline!?" Erlangga mengurai dengan kasar tangan Caroline yang melingkar di lehernya.
" Erlangga, pernikahan kita juga penting untukku, Sayang." Caroline menepis anggapan suaminya yang menuduhnya tidak menganggap penting pernikahan mereka.
" Jika memang penting kenapa kau selama ini lebih mementingkan karirmu itu?" tanya Erlangga ketus.
" Sayang, kita sudah sering berkali-kali berdebat masalah ini. Aku ini bukannya tidak memprioritaskan pernikahan kita, aku hanya ingin cita-citaku sebagai model internasional tercapai. Kamu sudah berjanji akan mendukungku, jadi aku mohon mengertilah. Sabarlah beberapa tahun lagi. Saat usiaku mencapai tiga puluh tahun aku janji aku akan bersedia untuk memiliki anak." Caroline terus berusaha membujuk agar Erlangga mau mengerti dengan keputusannya. Dia lalu mengambil tasnya yang dia sampirkan di pundaknya.
" Aku berangkat sekarang ya, Sayang." Caroline ingin mengecup bibir Erlangga namun pria itu memalingkan wajahnya.
" Sekali kau melangkahkan kaki meninggalkan rumah ini, aku pastikan kau akan sulit kembali lagi ke rumah ini, Caroline!" Ancaman langsung ditebarkan oleh Erlangga karena Caroline bersikeras ingin pergi ke Bali.
" Sayang, apa maksud perkataanmu itu?" Caroline tidak mengerti dengan ucapan Erlangga.
" Aku melarangmu pergi, Caroline!" Erlangga tetap melarang Caroline pergi.
" Tapi aku sudah berjanji dengan pihak advertising itu, Sayang. Tolonglah mengerti ..." Dengan nada penuh permohonan Caroline berharap suaminya itu akan luluh.
" Sebaiknya kamu memilih apa yang lebih penting untukmu, Caroline! Karirmu atau pernikahan kita!? Jika masih berkeras dengan ambisi mengejar karirmu, sebaiknya kita akhiri saja pernikahan kita ini!" Sepertinya Erlangga sudah putus asa dengan pernikahannya.
Caroline tersentak kaget mendengar Erlangga menjelaskan makna dari ucapan suaminya tadi, bahkan bola matanya kini membulat sempurna.
" Sayang ..." Caroline menggelengkan kepalanya, dia hampir tidak percaya akan pendengarannya. " Sayang, kenapa kamu bicara seperti itu?" tanyanya kemudian masih dengan keterkejutannya dengan ancaman Erlangga.
Ddrrtt ddrrtt
Tiba-tiba suara ponsel di tas Caroline berbunyi membuat wanita itu mengambil ponselnya.
" Halo ..." Caroline mengangkat telepon namun pandangan matanya masih mengarah kepada suaminya yang menatapnya tajam.
" Caroline, kita sudah ditunggu di Bandara. Apa kau tidak bisa cepat sedikit?" Suara Wisnu dari ponsel Caroline terdengar kesal karena Caroline tidak juga keluar dari kamarnya.
" Iya, sebentar lagi aku turun." Pungkasnya mengakhiri sambungan telepon dengan Wisnu yang sudah menjemput dia sejak sejam lalu.
" Sayang, aku harus berangkat sekarang. Kita bicarakan ini baik-baik setelah aku pulang dari Bali. Aku mohon kamu jangan terbawa emosi, Erlangga. Aku mencintaimu, Sayang." Caroline menangkup wajah Erlangga dan memberikan kecupan singkat di bibir Erlangga yang bergeming tak merespon apa yang dilakukannya
Setelah berpamitan, Caroline pun bergegas ke luar dari kamarnya dan turun ke bawah menemui Wisnu yang sudah menunggunya sejak tadi dan meninggalkan suaminya yang semakin terlihat emosi karena Caroline tidak mengikuti perintahnya untuk tetap di rumah.
" Aaarrgghh ...!!
__ADS_1
Prraaaanggg
Erlangga yang dipenuhi emosi langsung membanting vas bunga di atas nakas hingga pecah. Erlangga pun lalu melangkah ke arah kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dari aktivitas semalam dengan istrinya yang kini pergi meninggalkannya demi mendapatkan iklan yang diinginkan Caroline.
Selepas mandi dan berpakaian, Erlangga memilih keluar dari rumahnya. Dia tidak tahu hendak ke mana? Memikirkan rumah tangganya membuat pikirannya kacau hingga akhirnya mobil yang dia kendarai mengarah ke arah rumah Kayra, wanita yang menjadi sekretarisnya itu.
Erlangga melihat mobil bak berisikan perabotan rumah tangga berhenti di depan gang rumah Kayra. Dia sendiri baru ingat jika Kayra akan pindah ke rumah yang dia pilihkan untuk Kayra. Erlangga lalu memarkirkan mobilnya di depan mobil bak itu.
Erlangga turun dari mobilnya dan melihat Diah, perawat yang menjaga Ibu Sari hendak ikut masuk ke dalam mobil bak tersebut
" Tuan Erlangga?" sapa Diah saat melihat kehadirannya.
Erlangga kembali memperhatikan perabot-perabot milik Kayra yang menurutnya tidaklah istimewa jika dibandingkan perabotan di rumah miliknya.
" Kalian akan pindah sekarang?" tanyanya kemudian.
" Sementara ini baru perabotannya dulu yang dibawa, besok kami baru pindahnya, Tuan." Diah menjelaskan kepada Erlangga.
" Lantas mana Kayra?" tanya Erlangga menoleh ke arah gang namun tak melihat kehadiran wanita itu.
" Mbak Kayra ada di rumah, Tuan. Sedang ada teman dari kantornya yang datang ke rumah." Diah menjelaskan jika saat ini ada teman kantor Kayra yang berkunjung di rumah kontrakan Kayra yang sebentar lagi akan ditinggalkan oleh wanita yang bekerja sebagai sekretaris Erlangga itu.
" Teman kantor? Siapa?" tanya Erlangga menyelidik.
" Siapa ya tadi namanya?" Diah mencoba mengingat tamu Kayra, karena dia tidak terlalu memperhatikan tamu itu
" Pak Al ... Aldi kalau tidak salah, Tuan." Akhirnya Diah mengingat nama tamu rekan kerja Kayra.
Aura wajah Erlangga berubah saat mendengar nama Aldi yang disebutkan oleh Diah.
" Dia itu siapa, Mbak Diah?" tanya Tino penasaran.
" Dia itu bosnya Mbak Kayra, Bang." sahut Diah.
" Bos? Lalu yang tadi di rumah itu siapa? Wah, Mbak Kayra ternyata dikelilingi pria tampan dan kaya raya, ya? Pantas saja sekarang pindah dari tempat ini." Tino langsung berkomentar.
" Sudah jangan bergosip, Bang Tino! Kita berangkat sekarang!" Diah tidak ingin meladeni ucapan Tino karena dia tidak ingin menggosipkan hal buruk tentang Kayra.
Sementara Erlangga sudah tiba di depan rumah Kayra. Dia melihat Kayra dan Rivaldi sedang berbincang di teras dengan berdiri. Ada rasa kesal di hatinya melihat pemandangan itu di depan matanya.
" Sedang apa Anda di sini, Pak Rivaldi?"
Suara bernada dingin karena menahan emosi Erlangga terdengar membuat Kayra dan Rivaldi yang sedang berbincang terperanjat hingga menolehkan pandangan ke arah suara itu.
" Pak Erlangga?" Kayra dan Rivaldi sama-sama terkejut dengan kehadiran Erlangga di depan mereka.
Erlangga berjalan memasuki pekarangan rumah Kayra yang sempit. " Apa yang Anda lakukan di sini, Pak Rivaldi?" Pertanyaan menyelidik dibarengi tatapan mata tajam Erlangga mengarah kepada Rivaldi.
" Saya sedang berkunjung ke rumah Kayra, Pak Erlangga." Jawaban sejujurnya terlontar dari mulut Rivaldi, karena dia memang sengaja berkunjung ke rumah Kayra untuk mendekati wanita yang dia tahu masih berstatus single. Rivaldi menyadari dia akan kesulitan mendekati Kayra di kantor terutama saat Kayra bersama bos mereka yang saat ini ada di hadapannya.
" Bukankah saya sudah katakan kepada Anda untuk tidak mengganggu Kayra, Pak Rivaldi!?" Terdengar nada kesal dari kalimat yang diucapkan Erlangga karena dia menganggap Rivaldi telah membangkang tak menuruti perintahnya.
" Saya mengerti, Pak. Tapi bukankah itu hanya berlaku di kantor?" Rivaldi merasa tidak ada yang salah dengan apa yang dia lakukan saat ini, karena dia merasa tidak ada yang dilanggar olehnya.
Sedangkan wajah Kayra sudah terlihat memucat karena kehadiran bosnya itu. Dia menyadari jika Rivaldi sedang mendekatinya sementara Erlangga saat ini menjelma menjadi bos yang sangat aneh karena terlalu mengatur kehidupan pribadinya.
" Bukankah sudah saya katakan jika saya tidak ingin sampai terjadi adanya hubungan asmara sesama karyawan saya!? Apa Anda kurang memahami kata-kata saya?" Merasa disanggah dengan argumentasi Rivaldi membuat Erlangga semakin meradang karena Rivaldi telah berani menentang keputusannya.
__ADS_1
" Saya tidak ingin kinerja karyawan di perusahaan saya terganggu jika terjadi hubungan asmara sesama karyawan. Karena hal itu bisa menimbulkan sikap kurang profesional dan memicu timbulnya konflik pribadi. Jadi mau itu di lingkungan kantor atau bukan, saya tetap tidak setuju Anda mendekati Kayra!" tegas Erlangga seakan menunjukkan jika dirinya lah yang merasa paling benar.
" Saya tidak mungkin akan seperti itu, Pak Erlangga. Saya jamin tidak akan ada konflik pribadi antara saya dan Kayra jika kami memang menjalin hubungan asmara." Rivaldi seakan menantang Erlangga dengan mengatakan ketakutan Erlangga terhadap dirinya tidaklah beralasan.
" Saya tetap tidak ingin mengambil resiko itu, Pak Rivaldi! Kayra adalah karyawan terbaik saya dan saya tidak ingin kinerja dia terganggu hanya karena dia dekat dengan Anda!" tegas Erlangga tak ingin dilawan.
Larangan Erlangga membuat rahang Rivaldi mengeras bahkan tangannya seketika mengepal karena dia merasa bosnya itu terlalu ikut campur terhadap urusan asmara Kayra. Dia juga merasa jika apa yang dilakukan Erlangga sangat tidak masuk akal.
" Maaf jika saya lancang bertanya, Pak Erlangga sendiri sedang apa di sini?" Kini Rivaldi mempertanyakan maksud kedatangan Erlangga di rumah Kayra. Dia menduga tidak mungkin Erlangga kebetulan ada di sana jika tidak ada sesuatu pada diri Erlangga.
" Apa yang saya lakukan itu bukan urusan Anda, Pak Rivaldi! Sebaiknya Anda segera pergi dari sini, karena Anda hanya mengganggu Kayra yang sedang sibuk mempersiapkan pindah rumah." Erlangga bahkan mengusir Rivaldi layaknya seorang tuan rumah yang mengusir tamunya yang mengusik kenyamanannya.
" Pak Aldi, sebaiknya Pak Aldi pulang saja, terima kasih Pak Aldi sudah datang kemari." Merasa suasana memanas dengan perdebatan antara Erlangga dan Rivaldi, Kayra meminta Rivaldi untuk meninggalkan rumahnya saat ini juga karena Kayra tidak ingin terjadi keributan.
" Tapi, Kayra ...."
" Anda dengar sendiri jika kedatangan Anda di sini hanya membuat repot Kayra, jadi sebaiknya Anda meninggalkan tempat ini, Pak Rivaldi!" Mendengar Kayra mengusir Rivaldi, sebuah seringai tipis langsung mengembang di sudut bibir Erlangga.
" Oke kalau begitu aku pamit dulu, Kayra. Assalmaualaikum ..." Rivaldi dengan sangat terpaksa harus meninggalkan rumah Kayra karena kehadiran Erlangga di sana.
" Tahu dari mana dia rumah kamu ini? Apa kamu memberitahu dia alamat kamu?" pertanyaan bernada menyelidik langsung ditujukan Erlangga kepada Kayra setelah Rivaldi berlalu dari hadapan mereka berdua.
" Saya tidak pernah memberitahu tentang tempat tinggal saya kepada siapapun termasuk Pak Aldi, Pak." Kayra menepis anggapan bosnya itu.
" Lalu darimana dia tahu alamat kamu?" Tatapan mata Erlangga kali ini terlihat mengintimidasi Kayra.
" Maaf, kenapa tadi Bapak tidak tanyakan ke Pak Aldi darimana Pak Aldi tahu alamat rumah kontrakan saya ini?" Kayra merasa kesal karena sikap Erlangga ini sudah seperti seorang suami yang sedang memergoki istrinya selingkuh dengan rekan kerjanya.
" Bapak sendiri ada apa kemari?" Dengan tatapan mata kesal, Kayra bertanya karena sejujurnya dia merasa jengah dengan sikap bosnya belakangan ini.
" Saya? Memangnya ada masalah apa jika saya di sini?" Seakan tidak merasa bersalah, Erlangga dengan santainya menanggapi pertanyaan Kayra.
" Bukankah tadi Bapak menyuruh Pak Aldi pergi karena menganggap beliau mengganggu saya yang sedang repot mempersiapkan pindahan rumah?" Kayra menyindir halus bosnya itu.
" Lalu, apa kamu ingin menyuruh saya juga pergi dari sini?" Erlangga berjalan mendekat ke arah Kayra, membuat Kayra melangkah mundur ke belakang hingga dia membentur kusen pintu rumah kontrakannya.
" Aawww ...!" Kayra memekik seraya memegang kepalanya yang terbentur kusen pintu.
Melihat Kayra kesakitan, Erlangga sontak mendekat hingga dia mengusap kepala Aura karena rasa khawatir.
" Apa ada yang terluka?" Erlangga memperhatikan kepala bagian belakang Kayra karena dia khawatir jika ada darah yang keluar dari kepala Kayra karena benturan tadi.
Kayra tercengang dengan sikap Erlangga yang langsung mendekat dan mengusap kepalanya penuh rasa khawatir. Bahkan tubuh mereka saat berdekatan jarak hingga aroma maskulin yang menguar dari tubuh atletis Erlangga tercium menyeruak ke dalam penciuman Kayra.
" Kamu seharusnya jangan ceroboh seperti tadi," lanjut Erlangga kini menatap Kayra masih dengan tangan mengusap kepala Kayra.
" Kayra, Tuan Erlangga, kalian sedang apa?" Suara Ibu Sari yang terdengar tiba-tiba dari dalam ruangan tamu membuat Kayra dan Erlangga terperanjat.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading❤️
__ADS_1