
Sabtu siang ini Kayra dan Erlangga berencana hendak berkunjung ke rumah Nugraha untuk memenuhi undangan Arina dan suaminya. Karena desakan dari sang istri, Erlangga akhirnya menuruti keinginan Kayra yang ingin datang berkunjung dan menginap satu malam di rumah Nugraha.
" Bu, Kayra dan Mas Erlangga pamit dulu ya?! Ibu tidak apa-apa kami tinggal? Atau Ibu mau ikut kami saja ke rumah Mama?" tanya Kayra yang tidak tega meninggalkan Ibunya.
Sebenarnya sejak awal Kayra sudah meminta Ibu Sari ikut berkunjung ke rumah Arina, namun Ibu Sari yang merasa sadar diri akan posisinya menolak permintaan Kayra. Ibu Sari juga ingin memberi ruang untuk Arina agar bisa semakin dekat dengan Kayra.
" Ibu tidak apa-apa kok, Nak. Di sini Ibu tidak sendiri, kan? Ada Atik, ada Diah, ada Siti, Bi Jumi dan Bi Onah. Mana mungkin Ibu merasa kesepian?" Ibu Sari tersenyum seraya mengusap punggung Kayra yang sedang berangkulan dengannya.
" Kamu senang-senanglah di sana. Salam untuk Ibu Arina dan keluarga ..." sambung Ibu Sari.
" Iya, Bu. Nanti Kayra sampaikan ..." sahut Kayra
" Kita berangkat sekarang, Sayang?" Erlangga mendekati istri dan Ibu mertuanya yang masih berangkulan.
" Iya, Mas." Kayra melepas pelukannya dari Ibu Sari lalu mencium tangan Ibu Sari. " Kayra berangkat dulu ya, Bu. Assalamualaikum ..." pamit Kayra.
" Waalaikumsalam, hati-hati bawa mobilnya, Pak Koko." Ibu Sari menjawab seraya berpesan kepada Koko yang baru selesai memasukan koper ke dalam bagasi.
" Siap, Bu!" tegas Koko.
" Kami berangkat dulu, Bu. Assalamualaikum ..." Kini giliran Erlangga yang berpamitan lalu mencium tangan Ibu mertuanya.
" Waalaikumsalam, hati-hati ya, Nak. Titip Kayra." Ibu Sari pun berpesan kepada menantunya itu.
" Siap, Bu. Saya akan selalu melindungi anak Ibu yang cantik ini." Erlangga melingkarkan tangannya di pundak Kayra seraya terkekeh. Kemudian mereka berdua pun berjalan ke arah mobil yang sudah terparkir di depan teras rumah.
***
Saat ini Kayra dan Erlangga sudah dalam perjalanan ke Bandung dengan Koko yang mengendarai mobilnya.
" Mas, Mas ingat tidak waktu pertama kali kita pergi ke Bandung?" tanya Kayra yang sejak masuk ke dalam mobil saling bergenggaman tangan dengan suaminya.
" Hmmm, kapan ya? Memang kita pernah ke Bandung sebelumnya?" Erlangga justru tidak ingat jika mereka pernah pergi berdua ke Bandung.
" Iiiih, kok Mas tidak ingat, sih!?" Kayra mencebikkan bibirnya. Karena baginya setiap momen bersama Erlangga itu selalu terekam dalam ingatannya.
" Aku lupa jika kita pernah ke Bandung bersama? Apa setelah menikah? Atau dalam kunjungan pekerjaan, Sayang?" Erlangga yang selalu disibukkan dengan aktivitas kantor memang terlupa akan momen itu.
" Pak Koko, Pak Koko ingat tidak kalau kami pernah ke Bandung bersama?" tanya Kayra mencoba mengetes ingatan supir pribadinya itu, karena saat pergi kala itu, Koko juga yang mengantar mereka.
" Saya ingat, Nyonya. Ketika Nyonya menghadiri undangan pernikahan teman Nyonya itu, kan?" Koko lebih ingat, karena Koko memang lebih fokus mengawasi Kayra kala itu.
" Tuh, Pak Koko saja masih ingat, masa Mas sendiri lupa, sih? Memang suami aku itu Mas atau bukan?" Kayra tiba-tiba merajuk.
" Tentu saja suami kamu itu aku, masa Pak Koko!?" Erlangga langsung memprotes, namun melihat istrinya mencebikkan bibirnya, dia langsung memeluk istrinya itu.
" Maafkan aku, Sayang. Aku melupakan hal itu. Iya, aku ingat sekarang. Sudah kamu jangan marah ya!?" Erlangga menciumi pipi Kayra membujuk agar istrinya tidak terus merajuk.
" Kamu harus memaklumi suamimu ini terlalu banyak hal yang harus dipikirkan terutama dalam hal pekerjaan. Jadi kamu harap maklum ya? Tapi kamu jangan khawatir, aku ingat tanggal pernikahan kita, aku ingat tanggal ulang tahun kamu, aku ingat kapan kita waktu itu pergi berbulan madu, aku juga ingat jadwal HPL kamu, kok" Erlangga menyebutkan apa yang dia ingat agar istrinya itu tidak marah lagi kepadanya.
Sedangkan Koko yang melirik dari kaca spion menahan senyumnya melihat sikap bosnya itu yang seolah takluk dan kehilangan tajinya jika sudah berhadapan dengan istrinya itu.
" Tanggal ulang tahun Ibu, memang Mas tahu?" Kini Kayra bertanya yang dia yakin tidak Erlangga ketahui.
" Aku lupa, selama ini kamu tidak menyebutkan dan merayakan ulang tahun Ibu, jadi aku tidak tahu." Erlangga menyeringai.
__ADS_1
" Tuh, kan! Tidak semuanya Mas ingat."
" Iya, iya, maaf, Sayang. Memangnya kapan Ibu ulang tahun, nanti aku catat di ponselku biar tidak lupa. Pak Koko, nanti Pak Koko catat juga tanggal lahir Ibu mertua saya itu. Sama tanggal ulang tahun Ibu Arina juga!" Erlangga bahkan menyuruh Koko untuk mencatat tanggal-tanggal penting bagi Kayra.
" Baik, Tuan." Koko menjawab masih menahan senyumnya melihat Erlangga yang serba salah menghadapi istrinya.
" Tanggal lahir Ibu itu tiga minggu setelah tanggal lahirku, Mas. Kalau Mama ..." Kayra mengeryitkan keningnya, karena dia sendiri tidak sempat menanyakan tanggal lahir Arina.
" Aku lupa belum pernah tanya Mama tanggal lahirnya lho, Mas. Nanti Mas ingatkan aku tanya tanggal lahir Mama dan Papa Nugraha ya, Mas!?" Sepertinya marah Kayra sudah menyurut saat ini hanya karena Kayra lupa menanyakan tanggal ulang tahun ibu kandungnya.
" Pak Koko, catat! Jangan lupa ingatkan saya untuk menanyakan tanggal lahir Ibu Arina dan Pak Nugraha!" Erlangga kembali menyuruh Koko untuk mengingatkannya.
" Baik, Tuan." sahut Koko kembali.
" Oh ya, Mas. Sebelum kita ke rumah Mama, mampir sebentar ke rumah Ibu dulu ya, Mas!? Aku ingin lihat kondisinya sekarang. Hmmm, aku boleh pakai uang bulanan yang Mas beri untuk renovasi rumah Ibu tidak, Mas?" Kayra meminta ijin suaminya untuk memakai uang bulanan yang selama ini Erlangga berikan untuknya untuk memperbaiki rumah orang tuanya yang pernah kebakaran.
" Kenapa kamu menggunakan uang itu, Sayang? Untuk renovasi rumah Ibu, biar nanti aku yang urus. Uang bulanan yang aku kasih, biar kamu simpan saja untuk keperluan kamu, Kayra." Erlangga tentu tidak setuju Kayra memakai uang yang dia beri untuk Kayra sebagai 'uang jajan' Kayra selama menjadi istrinya yang setiap bulan dijatah seratus juta rupiah.
" Mas, aku tidak ingin merepotkan Mas." Kayra tidak enak suaminya yang harus menanggung biaya renovasi rumah keluarga ibu dan ayah angkat dirinya itu
" Sayang, aku ini suami kamu. Masalah kamu, masalah aku juga. Kamu bilang saja ingin direnovasi seperti apa? Nanti aku suruh Pak Bondan atur suruh cari orang untuk merenovasi rumah itu.
" Aku ingin rumah itu jadi rumah singgah kita jika kita liburan ke Bandung bersama anak-anak kita nanti, Mas." Kayra menyebutkan harapannya terhadap rumah orang tua yang mengasuhnya sejak bayi.
" Kenapa tidak menginap di rumah Mamamu, Sayang?" Erlangga merapihkan anak rambut istrinya. Dia agak terkejut dengan keinginan istrinya itu.
" Tidak enak, Mas. Mama memang Mama kandungku, tapi Papa Nugraha itu 'kan Papa tiri, Mas. Dan ada anak-anak Mama dan Papa lainnya di rumah itu. Tidak enak jika harus menginap di sana jika main ke Bandung. Lebih baik kita punya rumah sendiri, kan?" Kayra menjelaskan alasannya memilih ingin mempunyai tempat sendiri untuknya dan keluarganya di Bandung. Mungkin situasinya akan beda jika Nugraha adalah ayah kandungnya juga. Kayra tidak berpikiran negatif, hanya saja merasa tidak enak dengan keluarga Nugraha dan juga anak-anak Nugraha lainnya.
" Aku juga sepemikiran denganmu, Sayang. Apalagi jika ada Rivaldi di sana." Tentu saja Erlangga setuju dengan cara pandang istrinya itu.
***
Sekitar jam sebelas siang Kayra sudah sampai di Bandung. Dan sesuai dengan permintaannya kepada sang suami, mereka tiba lebih dahulu ke rumah lama Ibu Sari, hingga mobil yang dikendarai Koko sampai di depan bangunan rumah yang bagian belakangnya hangus terbakar.
Erlangga membantu istrinya keluar dari mobil, dan merangkul Kayra yang kini berdiri menatap rumah milik orang tua yang selama ini dia kira adalah orang tua kandungnya.
Walaupun luas tanah rumah itu tidak terlalu luas, namun di rumah itu sejak kecil Kayra mendapatkan kehangatan sebagai seorang anak dari Ayah Ariyanto dan Ibu Sari.
Kayra merasa apa yang dikatakan Papa mertuanya benar. Meskipun Ayah Ariyanto dan Ibu Sari adalah orang tua asuh, namun mereka menyayanginya seperti anak mereka sendiri.
" Kayra?"
Kayra menoleh saat mendengar seseorang memanggil namanya.
" Ini Karya bukan ya?" Wanita itu nampak ragu menyapa Kayra seraya memandangi Kayra dari ujung rambut sampai ujung kaki, terlebih di bagian perut Kayra yang membuncit.
" Mbak Wati?" Kayra mengenali wanita yang menyapanya itu.
" Kamu benar Kayra ini? Ya ampun, kamu sedang hamil, Kayra? Kamu sudah menikah? Kenapa tidak mengundang kami di sini?" Wati mendekati Kayra lalu memegang lengan Kayra.
" Iya, Mbak. Kami memang tidak mengadakan pesta, hanya ijab qobul biasa saja," sahut Kayra menoleh ke arah suaminya.
Wati mengikuti arah pandang Kayra hingga dia mendapati pria tampan yang dia duga adalah suami dari Kayra. Wati mengerutkan keningnya seakan pernah melihat wajah tampan Erlangga.
" Kayra, ini suami kamu?" tanyanya penasaran menatap Erlangga. Jika dilihat dari penampilan Erlangga juga mobil yang dipakainya, sudah dapat disimpulkan jika Erlangga pasti orang kaya.
__ADS_1
" Iya, Mbak. Kenalkan ini suami saya. Mas Erlangga ..." Kayra memperkenalkan Erlangga kepada kepada Wati.
" Erlangga." Erlangga mengulurkan tangannya ke arah Wati membuat Wati tertegun. Karena orang seperti Erlangga mau berjabat tangan dengannya.
" Wati." Dengan ragu Wati menjabat tangan Erlangga hingga dia merasakan tangan Erlangga lebih halus dari tangannya.
" Mbak Wati ini yang memberitahu aku waktu rumah ini kebakaran, Mas. Mbak Wati dan sebagian warga di sini yang membantu membawa Ibu ke rumah sakit." Kayra menjelaskan bagaimana peran Wati dan beberapa warga di kampung itu yang berperan besar membatu Ibunya saat tertimpa musibah.
" Terima kasih atas bantuannya terhadap orang tua istri saya." Erlangga lalu menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Wati.
" Sama-sama, Pak. Sesama warga di sini, kami memang wajib saling membantu," sahut Wati.
" Oh ya, bagaimana kabar Ibumu, Kayra? Ibu Sari sehat?" Wati lalu menanyakan soal Ibu Sari.
" Alhamdulillah sehat, Mbak." jawab Kayra.
" Apa kamu mau merenovasi rumah ini, Kayra?" tanya Wati karena kedatangan Kayra saat ini.
" Rencananya memang begitu, Mbak. Biar kalau kami pulang ke Bandung bisa menginap di sini." Kayra menjelaskan.
" Hmmm ..." Wati mendekat ke arah Kayra lalu berbisik, " Kayra, suami kamu ini bukannya bos kamu yang pernah kamu tunjukkan fotonya ke Mbak ya?" tanya Wati penasaran karena sudah mulai ingat dengan wajah Erlangga.
" Iya, Mbak." Kayra tersipu malu.
" Jadi kamu menikah sama Bos kamu itu? Berarti benar dugaan Mbak dulu kalau bos kamu itu perhatian sama kamu pasti ada sesuatu terhadap kamu, Kayra." Wati merasa jika apa yang ucapanannya dulu benar menjadi kenyataan.
" Iya, Mbak." sahut Kayra kembali.
" Tapi, bukannya kamu bilang kalau bos kamu itu sudah menikah, Kayra?" Wati bertanya dengan berbisik karena tidak enak jika terdengar oleh Erlangga.
" Mereka sudah berpisah kok, Mbak." Kayra tidak ingin panjang lebar bercerita tentang hubungan awal dirinya dengan Erlangga.
" Lalu keluarga suami kamu itu bagaimana, Kayra? Apa mereka bisa menerima kamu dengan baik?" Wati merasa penasaran, karena menurutnya tidak mudah orang-orang biasa seperti Kayra untuk bisa menjadi istri seorang bos, walaupun mempunyai paras yang cantik.
" Alhamdulillah mereka baik kok, Mbak. Apalagi sekarang ini saya sedang hamil cucu pertama mereka." Kayra tersenyum menandakan jika dia bahagia dengan pernikahannya dengan Erlangga.
" Syukurlah jika begitu, Mbak ikut senang mendengarnya, Kayra." Wati mengusap lengan Kayra.
" Sayang, apa kita ke rumah Mama Arina sekarang?" Melihat istrinya terus mengobrol, Erlangga mengajak istrinya untuk segera ke rumah Nugraha.
" Sebentar, Mas. Aku mau bertemu Pak RT dan Bu RT dulu." Kayra meminta ijin suaminya untuk bertemu dengan ketua RT di sana.
Sementara di sekeliling mereka sudah mulai banyak warga sekitar yang berkumpul karena melihat mobil mewah masuk ke jalan di perumahan mereka tinggal sambil bertanya-tanya mobil siapa yang terparkir di depan rumah Ibu Sari, apalagi saat mereka melihat Wati pun terlihat berbincang dengan seorang wanita hamil yang berdiri dekat mobil itu di samping pria tampan bak pangeran yang turun dari khayangan.
*
*
*
Bersambung ...
Mampir di karya terbaru TAWANAN BERUJUNG CINTA ya readers, kasih dukungan di karya terbaruku itu. Ramaikan dengan like juga komen, agar novel itu bisa menjejaki novelnya Kayra dan Erlangga yang bisa mencapai level tertinggi selama 3 bulan terakhir ini. Makasih banyak🙏🙏
Happy Reading ❤️
__ADS_1