MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO

MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO
Menginap Di Villa


__ADS_3

Minggu pagi ini Kayra berangkat ke Bandung bersama Erlangga dengan Koko yang mengendarai mobil yang biasa dipakai mengantar Kayra berangkat ke kantor.


Kayra memang menolak menggunakan mobil mewah Erlangga karena dia tidak ingin orang memperhatikannya jika turun dari mobil milik suaminya yang berharga milyaran rupiah itu.


Selama perjalanan menuju Bandung, tangan Erlangga tak pernah berpindah dari pundak Kayra. Erlangga memang sengaja melakukan hal itu agar mereka saling berdekatan dengan posisi tubuh merapat.


" Pak, saya tidak enak dilihat Pak Koko," bisik Kayra karena melihat beberapa kali Koko melirik dari kaca spion dan tersenyum melihat dirinya yang salah tingkah karena sikap Erlangga yang berkali-kali mencium pipinya.


" Pak Koko, sebaiknya mata Anda fokus dengan jalan di depan, jangan melihat aktivitas kami!" Erlangga seketika menegur Koko.


" Oh, maaf, Tuan." Koko segera minta maaf.


Kayra langsung memutar bola matanya menanggapi sikap suaminya yang bukannya menghentikan tindakannya justru menegur Koko agar tidak memperhatikan mereka.


" Berapa lama kamu akan berada di acara temanmu itu?" tanya Erlangga kemudian.


Tentu saja Kayra ingin bisa berada di tempat pernikahan Laila lebih lama karena Laila berkata jika banyak teman sekolah mereka yang diundang di pernikahannya. Pastinya Kayra akan bisa bertemu dengan teman-teman sekolah di pernikahan Laila nanti. Tapi dia tidak yakin Erlangga akan mengijinkan dirinya berlama-lama di sana.


" Saya tidak tahu, Pak." Hanya itu jawaban yang bisa diucapkan Kayra menanggapi pertanyaan suaminya.


" Sebaiknya kamu jangan terlalu lama, jadi kita bisa cari tempat istirahat nanti sebelum pulang ke Jakarta," ujar Erlangga. " Pak Koko, tolong cari informasi keberadaan villa dekat tempat pernikahan teman Kayra? Kita akan istirahat di sana sebelum kembali ke Jakarta," lanjutnya.


" Baik, Tuan." sahut Koko.


" Kita akan ke villa, Pak? Untuk apa?" tanya Kayra, karena dia rasa waktu untuk kembali ke Jakarta tidak membutuhkan waktu lama jadi untuk apa mencari Villa untuk beristirahat segala.


" Untuk beristirahat, apa kamu tidak kasihan pada Pak Koko harus pulang-pergi ke Jakarta?" Erlangga memakai alasan Koko akan kelelahan.


Kayra melirik ke arah Pak Koko, dia melihat pria itu menahan senyumnya. Dia tahu jika itu hanya alasan Erlangga saja.


" Bukankah Pak Koko bisa bergantian dengan Bapak jika Pak Koko capek mengendarai mobil?" tanya Kayra. Dia sengaja bertanya seperti itu karena menganggap suaminya itu terlalu berlebihan.


" Hei, kamu pikir saya ini supir serep disuruh bergantian dengan Pak Koko?" Erlangga melotot mendengar ucapan Kayra.


" Maaf, saya tidak bermaksud seperti itu, Pak." sahut Kayra menahan tawa melihat protes yang dilontarkan oleh Erlangga.


Sekitar dua jam lebih mobil yang dikendarai Koko sampai di tempat acara resepsi pernikahan Laila. Dan saat ini waktu baru menunjukkan pukul sebelas siang.


" Apa Bapak akan ikut masuk ke sana?" tanya Kayra kepada Erlangga seraya menunjuk ke arah rumah Laila yang sudah tertutup tenda.


Erlangga memperhatikan tempat hajat Laila yang belum terlalu ramai dengan tamu undangan.


" Iya, saya akan ikut masuk ke sana," sahut Erlangga.


" Sebaiknya Bapak tidak usah ke sana! Saya takut ada orang yang mengenali Bapak!" Kayra justru melarang Erlangga yang akan ikut turun dari mobil.


" Saya rasa tidak akan ada yang mengenali saya di sana." Erlangga bersikukuh untuk ikut masuk.


" Saya mungkin tidak akan lama di sana, Pak. Hanya mengucapkan ucapan selamat dan memberikan amplop ini," ucap Kayra menunjuk amplop putih yang bertuliskan ucapan selamat menempuh hidup baru.


" Berapa isi amplop kamu itu?" tanya Erlangga.


" Dua ratus ribu, Pak." Kayra merasa nominal itu adalah nominal wajar bahkan besar yang cukup besar untuk diberikan kepada mempelai. Dia bahkan hanya mengisi amplop dengan nominal seratus ribu saja jika yang mengundangnya tidak terlalu dekat dengannya.


" Hanya dua ratus ribu?" Erlangga mengambil amplop dari tangan Kayra dan menyobek amplop tersebut. " Memalukan sekali!" Dia lalu merogoh dompet dari saku celananya dan menarik lembaran uang bergambar Sukarno-Hatta itu sebanyak sepuluh lembar lalu berkata, " Segini saja sudah termasuk kecil menurut saya." Erlangga lalu menyodorkan uang itu kepada Kayra. " Beri ini untuk temanmu itu!"


Kayra memandang uang yang disodorkan Erlangga kepadanya seraya mende sah, dia pun tidak menerima uang itu.


" Teman saya itu tidak tahu status saya sekarang ini istri Bapak. Dia justru akan curiga jika saya memberi uang sebanyak itu, Pak." Kayra menyampaikan alasan menolak uang itu.


" Lagipula untuk orang seperti kami, memberi uang dua ratus ribu sudah cukup besar kok, Pak." Kayra melanjutkan ucapannya.


" Kamu ini cerewet sekali! Apa salahnya memberi dalam jumlah lebih besar kepada teman kamu itu?" Erlangga memprotes sikap Kayra yang selalu menentang ucapannya, membuat Kayra memberengut. Dia pun dengan terpaksa menerima uang dari suaminya itu.


" Ayo, turun!" Erlangga segera keluar karena Koko sudah membukakan pintu untuknya.


Kayra akhirnya ikut turun dari mobil. Dia merapihkan pakaiannya terlebih dahulu sebelum menghampiri tempat resepsi pernikahan Laila berdampingan dengan Erlangga.


Sebagian besar orang yang ada di tempat resepsi itu memperhatikan Kayra dan Erlangga yang datang ke tempat itu, sejak Kayra mengisi buku tamu dan mengambil amplop kosong untuk wadah uang yang diberikan Erlangga kepadanya untuk kondangan.

__ADS_1


Wajah cantik Kayra yang terlihat seperti artis dan juga Erlangga yang tampan dan gagah perkaya layaknya seorang peragawan tentu saja mencuri perhatian hampir semua orang di tempat itu.


Bagi Kayra sendiri menjadi perhatian publik seperti saat ini membuat dirinya malu dan salah tingkah, berbeda dengan Erlangga yang sudah terbiasa menjadi pusat perhatian banyak orang.


" La, Happy Wedding, ya! Semoga Samawa, awet sampai kakek nenek ..." Kayra memberikan selamat kepada Laila saat sampai di stage pelaminan.


" Hai, Kayra. Terima kasih kamu mau datang kemari." Laila dan Kayra pun saling berpelukan karena mereka memang lebih dari lima tahun tidak bertemu. " Kamu datang sama siapa, Kay?" tanya Laila kemudian menoleh ke arah Erlangga yang berjalan di belakang Kayra.


" Hmmm, aku datang sama Bo ... emmm." Kayra hampir keceplosan mengatakan datang bersama bosnya. Dia lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Laila dan berbisik, " Sama calonku." Kayra tak ingin Laila tahu jika dia saat ini sudah menikah.


" Oh ... hai, Mas. Terima kasih sudah menemani Kayra datang kemari." Laila berucap terima kasih kepada Erlangga.


Erlangga hanya menganggukkan kepala menerima ucapan terima kasih dari Laila. " Selamat atas pernikahan, Anda." Erlangga lalu memberikan ucapan dengan kalimat yang sangat formal, tegas dan sangat lugas.


Laila langsung melirik ke arah Kayra. Dia merasa aneh dengan pria yang dikenalkan Kayra sebagai calonnya, karena bahasa yang digunakan Erlangga sangat resmi apalagi pakaian yang dikenakan oleh Erlangga mungkin lebih bagus dan terlihat lebih elegan dari pakaian yang dikenakan sang mempelai pria.


Kayra hanya tersenyum seraya mengedikkan bahunya melihat ekspresi bengong Laila. Dia lalu mengajak Erlangga untuk turun setelah memberi ucapan selamat kepada kedua mempelai.


Kayra berjalan ke arah meja prasmanan, dia tidak tahu apakah Erlangga mau menyantap makanan yang terhidang di meja panjang itu. Dia lalu menoleh ke arah suaminya lalu bertanya, " Bapak mau makan ini?"


" Bukankah makanan ini dihidangkan untuk dimakan?" Erlangga balik melempar pertanyaan kepada Kayra.


" Iya, Pak. Tapi mungkin nasinya bukan nasi yang biasa Bapak makan." Dengan memelankan suaranya Kayra menjelaskan jika beras yang dipakai untuk acara hajatan bukan beras organik yang biasa dimakan oleh Erlangga.


" Jika itu aman untuk dimakan, tidak masalah." Erlangga tidak mempermasalahkan soal nasi yang bukan berasal dari beras organik.


" Bapak mau makan apa?" Kayra mengambil piring untuk menyiapkan makanan di meja prasmanan untuk Erlangga terlebih dahulu.


" Ambilkan yang tidak pedas saja," ucap Erlangga.


Kayra mengambilkan nasi putih, sayur, daging dan juga kerupuk dan air mineral lalu menyerahkan kepada Erlangga. Kemudian dia mengambil makanan untuk dirinya sendiri.


" Ini pertama kali saya hadir ke acara pernikahan yang seperti ini," ujar Erlangga karena selama ini dia selalu hadir ke acara wedding party di gedung, entah itu convention hall, hotel ataupun restoran, karena orang yang mengundangnya pun bukanlah orang-orang sembarangan.


" Ini pasti tidak semewah acara resepsi pernikahan yang Bapak hadiri sebelumnya. Seperti inilah pesta pernikahan orang-orang biasa seperti kami. Mungkin jika saya menikah dengan pria lain yang setara dengan saya akan seperti ini acara pernikahan saya." Sebagai seorang wanita, Kayra juga pernah membayangkan menggelar acara pernikahan seperti Laila dengan pria yang akan menjadi suaminya kelak.


Ucapan Kayra sontak membuat Erlangga menolehkan wajahnya ke arah Kayra.


Kayra pun menoleh menatap suaminya itu seraya mende sah. Dia bukan orang yang gi la harta dan status, lagipula dia harus menjaga perasaan Caroline, mana mungkin dia mau menerima acara resepsi pernikahan yang ditawarkan Erlangga sementara Caroline masih bersedih.


" Saya tidak ingin mengadakan acara resepsi itu, Pak." Tentu saja Kayra tidak ingin pesta mewah, rasanya memalukan sekali jika orang mengetahui dirinya menggelar resepsi pernikahan sementara Erlangga baru bercerai dengan Caroline.


" Tapi orang harus tahu jika kamu adalah istri saya."


" Tapi tidak dalam waktu dekat setelah perceraian Bapak dan Ibu. Saya tidak mau orang beranggapan buruk kepada saya, Pak." Kayra beralasan menolak.


" Cepat habiskan makanmu dan kita pergi dari sini!" Erlangga tidak ingin terus berdebat dengan Kayra lalu menyuruh istrinya itu segera menghabiskan makanannya.


Sekitar dua puluh menit mereka di sana, Erlangga lalu mengajak Kayra pergi dari acara resepsi pernikahan teman istrinya itu. Namun saat berjalan ke arah mobil, pandangannya terfokus pada bunga papan yang ada di depan tempat hajat. Bunga papan itu berisikan ucapan selamat menempuh hidup baru dengan nama kedua mempelai. Dan yang membuat dirinya tertarik adalah nama pengirim bunga papan itu. Divisi Produksi PT. Jaya Raya Garment.


Erlangga langsung memperlambat langkahnya karena dia teringat akan nama yang disebutkan Bondan soal nama perusahaan milik orang tua Rivaldi. Erlangga menolehkan wajahnya kembali ke arah tempat resepsi pernikahan Laila. Dia menduga jika salah satu mempelai bekerja di perusahaan garment tersebut.


" Ada apa, Pak?" Kayra merasa heran karena suaminya itu berhenti di depan bunga papan.


" Ayo!" Erlangga menarik tangan Kayra dan bergegas menuju mobil.


" Apa teman kamu bekerja di perusahaan garmen?" tanya Erlangga setelah dia sampai di dalam mobil.


" Saya tidak tahu, memangnya kenapa, Pak?" tanya Kayra heran.


" Sepertinya salah satu dari mereka ada yang bekerja di perusahaan garmen milik orang tua Rivaldi. Bunga papan itu berasal dari salah satu divisi di perusahaan garmen itu." Erlangga menjelaskan kepada Kayra.


Kayra terperanjat mendengar penuturan Erlangga soal Laila dan suami dari Laila yang kemungkinan bekerja di perusahaan orang tua milik Rivaldi.


" Apa tadi di sana ada Pak Aldi, Pak?" Kayra khawatir jika di tempat resepsi itu ada Rivaldi.


" Tidak mungkin dia ada di sana. Yang menikah adalah karyawan perusahaan milik orang tua Rivaldi, tidak mungkin dia ada di sana," sanggah Erlangga.


" Pak Koko kita pergi sekarang. Apa Anda sudah mendapatkan info villa terdekat sekitar sini?" tanya Erlangga kemudian.

__ADS_1


" Ada, Tuan. Sekitar setengah jam dari sini." Koko melaporkan informasi yang dia cari di internet.


" Sudah reservasi?"


" Sudah, Tuan."


" Ya sudah, kita ke sana sekarang!"


" Baik, Tuan."


Koko segera mengendarai mobil dan membawa Erlangga dan Kayra ke villa yang sudah dia pesankan untuk majikannya itu.


***


" Pak Koko, jika ingin mencari makan atau ingin istirahat silahkan saja. Tinggalkan kami berdua, nanti selepas Maghrib, jemput kami kembali di sini." Erlangga mengeluarkan uang lima ratus ribu dan menyerahkannya kepada Koko.


" Baik, Tuan. Kalau begitu saya permisi." Koko akhirnya pamit meninggalkan Erlangga dan Kayra di villa itu berdua.


" Memang kita mau apa di sini, Pak?" tanya Kayra masih mempertanyakan alasan Erlangga membawanya ke villa.


" Kita beristirahat di sini, menikmati waktu berdua." Lengan kokoh Erlangga sudah mengangkat tubuh ramping Kayra dan membawanya ke kamar.


" Tapi, Pak. Saya tidak bawa pakaian ganti." Kayra tahu apa maksud dari sikap suaminya saat ini.


" Kalau begitu kamu lepas bajumu ini agar tidak kusut saat pulang nanti." Erlangga menyeringai lalu membaringkan tubuh Kayra di atas tempat tidur.


Bola mata Kayra seketika mendengar ucapan nakal suaminya itu. " Lalu saya harus pakai apa?" tanya Kayra.


" Kamu tidak perlu pakai apa-apa, saya justru suka jika kamu tidak memakai apa-apa." Seringai tipis kembali terlukis di sudut bibir pria tampan itu.


" Bapak gi la, ya!?" Kayra sudah tidak memperdulikan Erlangga akan marah atau tidak pada ucapannya tadi. Karena dia merasa jika suaminya itu selalu berpikiran me sum setiap kali dekat dengannya.


" Saya memang gi la, dan kamu yang sudah membuat saya menjadi gi la, Kayra." Erlangga langsung melu mat bibir kenyal Kayra dengan rakusnya hingga Kayra sulit untuk mengambil nafas.


" Pak, saya belum sholat Dzuhur." Kayra segera beringsut dan turun dari tempat tidur saat Erlangga menjeda pagutannya. Kayra pun langsung berlari ke arah toilet untuk mengambil air wudhu dan tentu saja Kayra terbebas dari serangan Erlangga untuk sementara waktu.


" Kamu bisa lepas sekarang, Kayra! Tapi kami lihat saja nanti! Kamu tidak akan bisa lepas dari saya!" Erlangga berteriak agar ucapannya terdengar oleh Kayra dari kamar mandi.


***


Erlangga mengusap peluh di wajah Kayra, wanita itu benar-benar dibuat tidak berdaya oleh suaminya. Seperti ancamannya tadi, selepas melaksanakan sholat Dzuhur, Erlangga benar-benar tidak memberikan kesempatan Kayra untuk kabur darinya lagi.


" Kamu pasti lelah ... sebaiknya kamu tidur saja ..." Erlangga menyuruh Kayra beristirahat.


" Sebentar lagi masuk waktu Ashar ..." ucap Kayra dengan nafas tersengal.


" Kita bermalam di sini saja, ya!? Besok setelah Shubuh kita kembali ke Jakarta." Erlangga berencana untuk menginap satu malam di villa itu.


Kayra ingin menolak namun dia tahu jika suaminya itu pasti akan memaksakan apa yang diinginkan oleh pria itu.


Malam harinya mereka sengaja pergi keluar untuk membeli makan. Mereka menyantap nasi goreng di tepi jalan namun menyantapnya di dalam mobil. Mereka terutama Kayra sangat takut jika ada yang mengenali Erlangga.


Setelah makan, Mereka berhenti sejenak di sebuah mall untuk membeli pakaian untuk dirinya dan juga Erlangga untuk dipakai tidur dan pulang esok pagi. Karena pakaian yang melekat di badan mereka sudah mulai tidak nyaman dipakai karena sudah sejak pagi mereka menggunakannya.


Kayra meminta Erlangga untuk menunggu di dalam mobil sementara dia yang akan masuk ke dalam mall diawasi oleh Koko.


Di sebuah outlet pakaian bermerk yang sangat terkenal yang ada di mall yang Kayra kunjungi, Kayra memilih-milih kaos dan juga celana pendek untuk Erlangga.


" Sepertinya kaos sama celana ini cocok untuk ukuran Pak Erlangga." Kayra berbicara pada dirinya sendiri saat dia memilih pakaian untuk suaminya.


" Kayra?"


Kayra mendengar seseorang memanggil namanya hingga dia menolehkan pandangannya ke arah orang yang memanggilnya tadi.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung ...


Happy Reading❤️


__ADS_2