
" Nes, Tante ingin mengadakan pertunangan kamu dengan Erlangga bulan depan, bagaimana menurut kamu? Kita harus bertindak cepat, sebelum Erlangga keburu mencari wanita lain yang ingin dia jadikan istri." Saat sama-sama sedang melakukan perawatan di salon langganan Helen, Mama dari Erlangga itu mengatakan rencananya kepada Agnes, wanita yang dia harapkan akan mendampingi Erlangga.
" Benarkah, Tante? Aku senang sekali jika itu benar terjadi, tapi ... apa Erlangga sudah setuju bertunangan denganku, Tante?" Inilah yang memang Agnes harapkan, bisa menjadi anggota keluarga Mahadika Gautama. Dengan pertunangan ini, dia harapkan rencananya untuk menjadi Nyoya Erlangga Mahadika Gautama akan segera terwujud.
" Setuju atau tidak, dia harus menuruti permintaan Tante, jika dia masih ingin Tante anggap anak!" Nada ancaman terdengar dari kalimat yang diucapkan Helen. Wanita itu sepertinya terlalu terobsesi dengan Agnes, hanya karena dia anak sahabat lamanya dulu, hingga dia tidak merasa perlu menyelidiki bagaimana perilaku Agnes yang sebenarnya.
Agnes tercengang sampai membulatkan bola matanya saat mendengar Helen berani mengancam akan memutuskan hubungan dengan anaknya jika Erlangga tidak mau menuruti keinginannya. Tentu saja hal itu membuat dirinya senang, karena dia menganggap Erlangga pasti akan menuruti kemauan Helen.
" Apa Tante yakin kalau Erlangga akan menuruti?" tanyanya kemudian.
" Tentu saja, kecuali jika dia ingin menjadi anak durhaka yang menentang orang tua!" tegas Helen merasa yakin jika Erlangga pasti akan menuruti perintahnya. " Dia itu selama ini selalu membangkang keinginan Tante, kamu lihat sendiri 'kan rumah tangga dia dengan istrinya itu seperti apa!?" Helen beranggapan jika kehancuran rumah tangga Erlangga karena putranya itu tidak mau tunduk kepada perintahnya.
" Syukurlah kalau memang begitu, Tante. Nanti aku akan bicarakan hal ini ke Mama sama Papa aku biar mereka siap-siap untuk acara pertunangan itu." Dengan wajah sumringah Agnes menyambut rencana Helen.
" Nanti Tante juga akan bilang sama Mama kamu via telepon, Nes." Helen pun berencana mendiskusikan rencana pertunangan Erlangga dengan Agnes.
" Oke, Tan." sahut Agnes. " Setelah dari sini kita akan ke mana, Tante? Makan dulu saja ya, Tan?" Agnes mengajak Helen untuk makan siang bersama setelah selesai melakukan perawatan di salon.
" Boleh, kita makan dulu saja, setelah itu Tante juga mau mencari perhiasan terbaru buat acara pertunangan nanti." Merasa yakin jika acara pertunangan yang dia persiapkan untuk Erlangga dan Agnes akan berjalan lancar, Helen sampai berencana memesan perhiasan yang akan dia pakai di acara nanti.
" Wah, aku juga perlu pesan juga dong, Tan!?"
" Iya sudah, nanti kamu pesan sekalian saja, biar nanti Tante yang bayar."
" Wah, makasih banget lho, Tan." Agnes mengulurkan tangan dan menggenggam tangan Helen. " Semoga rencana kita berjalan lancar, Tan." harapnya kemudian. Dia sudah membayangkan jika dia akan menjadi istri dari Erlangga, dia pasti akan semakin akrab dengan Helen, otomatis pergaulannya dengan kaum sosialita akan semakin bertambah.
" Semoga saja, Nes." sahut Helen tersenyum menatap wanita yang sangat dia harapkan menjadi menantunya.
***
Erlangga dan Wira baru saja selesai melakukan pertemuan dengan Satria, salah satu rekanan bisnis mereka dari Medan di sebuah restoran western. Saat ini mereka melanjutkan santap siang di sana, sementara rekanan bisnis mereka pamit lebih dulu karena ada yang keperluan lainnya selama di Jakarta ini.
" Kami akan pindah ke rumah Papa yang dulu, Pak Wira." Erlangga memberitahu asistennya soal rencana kepindahan dia dan istrinya.
" Rumah Pak Krisna yang dulu?" Wira nampak mengeryitkan keningnya mendengar ucapan bosnya.
" Benar, Papa yang merekomendasikan rumah itu untuk kami tempati, dan saya rasa itu ide bagus, karena lokasinya yang tidak terlalu mencolok, jadi kami akan aman di sana walau lokasinya sedikit agak jauh dari kantor." Erlangga menjelaskan kepada Wira.
" Bagaimana dengan Mama Anda, Pak?" Sama seperti Kayra, Wira pun sangat mengkhawatirkan jika Helen sewaktu-waktu akan datang ke rumah itu.
" Sejak kami sekeluarga pindah dari sana, Mama tidak pernah mengunjungi rumah itu, Pak Wira. Jadi saya rasa Mama pun nanti tidak akan mengunjungi tempat itu." Erlangga meyakinkan jika Mamanya tidak akan datang ke rumah lama mereka yang akan dia huni bersama istrinya nanti.
Kayra hanya mendengarkan saja obrolan suaminya dan juga Pak Wira, namun penjelasan soal Helen yang tidak pernah datang mengunjungi rumah lamanya membuatnya sedikit heran, namun dia tidak ingin terlalu memikirkan hal tersebut.
" Makanlah yang banyak, Kayra. Ingat, saat ini ada bayi kita di dalam perutmu." Melihat Kayra yang sedang termenung, Erlangga menegur Kayra yang terlihat berhenti mengunyah makanannya.
" Aku sudah kenyang, Mas." ucap Kayra meletakan sendok dan garpunya.
" Kamu baru makan sedikit, itu tidak akan cukup untuk kamu dan janin di perut kamu. Makanlah sayurannya itu!" Erlangga memaksa Kayra untuk tetap menghabiskan makanannya.
" Mas bantu menghabiskan, ya?" Kayra justru meminta suaminya itu memakan makanannya.
" Kenapa aku yang harus menghabiskan? Yang hamil itu kamu, Kayra. Kamu dan janin di perut kamu yang butuh asupan makanan bergizi." Erlangga kembali memprotes keinginan Kayra.
" Tapi perut aku sudah tidak kuat menampung makanan, Mas. Ini sudah terasa kenyang sekali." Tetap menolak menghabiskan makanan Kayra beralasan jika dia sudah merasa kekenyangan.
" Kamu baru makan sedikit, bagaimana mungkin kamu sudah merasa kenyang!?" Erlangga lalu menarik piring makanan Kayra, lalu dia mengambil sesendok nasi dan lauk lalu mengarahkan ke mulut Kayra. " Makanlah!" perintahnya kemudian.
Kayra spontan melirik ke arah Wira, yang saat itu hanya menahan senyuman melihat perlakuan Erlangga terhadap dirinya. Tentu saja hal itu membuat dirinya malu.
" Cepat buka mulutmu!" Erlangga kembali memberi perintah kepada Kayra agar istrinya itu segera menuruti perintahnya.
Kayra mau tidak mau harus menuruti apa yang diminta oleh sang suami, karena perintah Erlangga adalah kewajiban yang harus patuhi olehnya. Walaupun dirinya tidak enak hati dengan Wira yang sesekali waktu melirik ke arah mereka berdua.
__ADS_1
" Ehemmm, apa saya harus pergi dari sini, Pak?" Wira sengaja meledek Erlangga dan Kayra membuat wanita itu semakin memerah wajahnya menahan malu.
" Jika Anda ingin pulang lebih dahulu silahkan saja, Pak Wira." Erlangga justru merespon serius ucapan Erlangga.
" Jangan, Pak!" Justru Kayra berseru melarang Wira yang diperbolehkan Erlangga untuk pergi.
" Kenapa kamu melarang Pak Wira pergi?" tanya Erlangga heran.
" Aku tidak mau terlihat hanya berdua saja dengan Mas, aku takut ada orang mengenali kita." Alasan yang diucapkan Kayra memang masuk akal. Dia tidak ingin kehadiran dia berdua di restoran itu terlalu mencolok di mata tamu yang ada di restoran itu karena restoran yang mereka datangi banyak didatangi oleh eksekutif muda dan juga orang-orang elit.
" Sayang, ini private room, tidak ada yang melihat kita," jawab Erlangga.
" Ya sudah, kita sekalian pulang saja, kita juga sudah selesai makannya, kan?" Kayra justru mengajak Erlangga untuk kembali ke kantor, setidaknya jika dia berjalan bersama Erlangga dan Wira, tidak akan ada orang yang terlalu mencurigai kedekatannya bersama Erlangga.
" Ya sudah, kalau begitu kita kembali ke kantor saja." Erlangga menyetujui permintaan Kayra dan mereka bertiga pun keluar dari private room restoran itu.
" Saya duluan, Pak." Wira berpamitan lebih dahulu kepada Erlangga saat mereka sampai di halaman parkir, lalu berjalan ke arah mobilnya setelah mendapatkan persetujuan dari Erlangga. Sedangkan Erlangga sendiri bersama Kayra melangkah bersama menuju mobil CEO Mahadika Gautama yang terparkir di sebelah Utara halaman restoran.
Erlangga membukakan pintu untuk Kayra dan mempersilahkan istrinya masuk ke dalam mobil, setelah itu dia pun masuk dari pintu sebelah kanan mobilnya untuk duduk di kursi kemudi dan segera meninggalkan halaman parkir restotan itu.
Sementara itu tanpa Erlangga sadari saat Erlangga membukakan pintu dan merengkuh pinggang Kayra untuk membantu istrinya masuk ke dalam mobil, dari dalam restoran, sepasang mata memandang apa yang dilakukan Erlangga dari dinding kaca restoran yang tadi didatangi Erlangga.
Agnes si pemilik sepasang mata itu memperhatikan dengan lekat ke arah Erlangga dan seorang wanita yang tidak terlihat wajahnya karena membelakanginya.
" Tante, itu 'kan Erlangga." Agnes lalu memberitahu Helen, mereka berdua baru tiba sekitar lima menit lalu di restoran yang sama dengan Erlangga dan sedang menunggu pesanan mereka.
" Mana Erlangga?" Helen melempar pandangan ke luar bangunan restoran yang terbuat dari kaca untuk mencari keberadaan putranya. Matanya menatap sosok Erlangga sedang menutup pintu mobil lalu berjalan ke arah ke kursi kemudi.
" Dengan siapa Erlangga tadi, Nes?" tanya Helen kemudian, dia tidak melihat orang lain bersama Erlangga namun dia melihat Erlangga menutup pintu sebelah kiri, bisa dipastikan jika Erlangga baru saja menutupkan pintu untuk seseorang.
" Aku tidak tahu, Tante. Tapi aku lihat orang yang bersama tadi Erlangga seorang wanita," ujar Agnes yang merasa tidak nyaman melihat keberadaan wanita yang bersama dengan Erlangga tadi.
" Apa itu istrinya?" tanya Helen penasaran.
" Aku rasa bukan, Tante. Postur tubuhnya tidak seperti Caroline." Postur Caroline yang berprofesi sebagai model membuatnya bisa memperkirakan jika wanita yang tadi pinggangnya direngkuh Erlangga bukanlah Caroline.
" Tante mau ke mana?" Walau kaget dengan reaksi Helen yang tiba-tiba berlari, Agnes pun akhirnya ikut wanita itu paruh baya itu keluar dari restoran.
" Erlangga ...!!" Saat Helen sampai di parkiran, mobil Erlangga baru saja keluar dari parkiran restoran itu.
" Erlangga ...!! Berhenti ...!!" Teriakan tetap dilakukan Helen walaupun dia tahu itu tidak akan membuat mobil yang dikendarai putranya itu berhenti berjalan.
" Agnes, ayo, kita kejar Erlangga!" Kini Helen menarik tangan Agnes dan membawa Agnes kembali ke mobil milik Agnes.
" Tapi pesanan kita bagaimana, Tante?" Teringat jika mereka sedang menunggu makanan dan belum membayar makanan tersebut. Agnes bingung ingin mengikuti Helen atau kembali ke dalam restoran lebih dulu.
" Nanti saja, nanti Tante akan ganti rugi makanan yang kita pesan ini. Ayo, cepat, Nes! Nanti Erlangga keburu menghilang!" Helen menyuruh Agnes untuk segera mengikuti perintahnya.
" I-iya, Tante." Agnes pun segera mengikuti apa yang diminta oleh Helen, dia pun lalu membuka pintu mobilnya dan mengendarai mobilnya itu ke luar dari halaman parkir restoran.
***
" Mas, aku kok seperti melihat Ibu Helen tadi berlari-lari mengejar kita?" Saat meninggalkan parkiran restoran, Kayra sempat melihat sosok Helen keluar dari restoran dengan berlari.
" Mamaku? Mana?" Erlangga terkesiap dan langsung melihat ke arah belakang melalui spionnya, namun dia tidak menemukan sosok Mamanya yang disebutkan Kayra tadi.
" Tadi di belakang, Mas. Mama Mas mengejar mobil kita." Kayra kembali menengok ke arah spion bagian kiri mobil Erlangga, namun sudah tidak dia dapati sosok Mama mertuanya di sana.
Erlangga tersenyum lalu mengusap kepala Kayra, dia menduga jika istrinya itu sedang berhalusianasi karena terlalu takut akan ketahuan Helen soal hubungan mereka.
" Itu hanya perasaanmu saja, Sayang. Karena takut kepergok Mana makanya kamu seperti ini," ucapnya kemudian.
" Mas menuduh aku sedang berhayal?" Dari kalimat yang diucapkan Erlangga, Kayra bisa meraba jika suaminya itu pasti menuduhnya berhalusinasi.
__ADS_1
" Tidak, bukan begitu." sanggah Erlangga, kini pria itu menggenggam erat tangan kanan Kayra dengan tangan kirinya lalu mengecup punggung tangan sang istri. " Hilangkan ketakutanmu akan ketahuan oleh Mama, lagipula kita akan memberitahu Mama nanti soal hubungan kita ini. Mama harus tahu kalau kamu adalah istriku. jadi kamu jangan cemas lagi akan kepergok oleh Mama." Erlangga memang awalnya berniat memberitahu Mamanya sepulang berbulan madu namun belum sempat dia lakukan sampai saat ini.
" Mas mau kasih tahu Mama Mas? Kapan?" Kecemasan kembali melanda Kayra, saat ini dia masih belum siap harus berhadapan dengan Helen sebagai menantu dan mertua. Dia masih tidak mempunyai keberanian karena status ekonomi dia yang hanya seorang wanita biasa, berbeda jauh dengan Erlangga yang seorang anak pengusaha kaya raya.
" Setelah kita pindah rumah, kita akan memberitahu Mama," sahut Erlangga berusaha menenangkan Kayra.
" Tapi aku masih takut, Mas. Aku takut Mama tidak bisa menerima aku sebagai istri Mas," lirih Kayra menggigit bibirnya, dia menyadari posisi dia yang hanya istri siri Erlangga, belum lagi status ekonominya. Bayangan kemaharan Helen saat di rumah sakit dulu masih menari-nari di benaknya, dia dan Ibunya mungkin tidak akan sekuat Mama Ivone dalam menghadapi kemarahan Helen nanti.
" Percaya padaku, Kayra. Mama tidak akan macam-macam denganmu, karena saat ini kamu mengandung cucunya. Mama dan Papa sama sepertiku, sudah lama menginginkan wanita yang menjadi istriku mempunyai keturunan, agar anakku nanti bisa menjadi penerus nama besar Mahadika Gautama." Erlangga masih meyakinkan Kayra agar Kayra tidak berkecil hati.
***
Helen dan Agnes terlihat memasuki kantor Mahadika, karena mereka tidak dapat mengejar mobil yang dikendarai Erlangga, Helen akhirnya memutuskan untuk datang ke kantor putranya itu untuk mengetahui siapa wanita yang bersama Erlangga yang tadi mereka lihat di parkiran restoran
Ting
Helen dan Agnes keluar dari lift lalu berjalan ke arah ruangan Erlangga, namun matanya menoleh ke arah Gita yang langsung berdiri saat melihat kedatangan Helen. Helen merasa tidak pernah melihat orang yang saat ini duduk di sebelah meja Kayra, wanita yang dia kenal sekretaris putranya.
" Selamat siang, Bu. Maaf, Ibu cari siapa, ya?" Gita yang tidak hapal siapa Helen langsung menyapa Helen dengan sopan.
Helen memicingkan matanya mendengar Gita bertanya seolah tidak mengenali dirinya.
" Kamu tidak tahu siapa saya? Kamu ini siapa? Kenapa ada di sini?" tanya Helen ketus. Kenapa bisa ada di sini kalau kamu tidak kenal siapa saya!?" Nada bicara Helen benar-benar tidak bersahabat.
" Maaf, Bu. Saya Gita. Saya di sini ditugaskan menjadi sekretaris kedua Pak Erlangga." Gita menyadari jika orang yang dihadapinya saat ini bukanlah wanita sembarangan langsung menyampaikan permohonan maafnya jika dia dirasa telah melakukan kesalahan.
" Kamu ini karyawan kantor ini apa bukan, sih? Masa sama orang tua bos kamu sendiri kamu tidak kenal! Tante Helen ini Mama dari bos kamu, tahu!!" Agnes yang sok berkuasa merasa akan menjadi istri Erlangga ikut memarahi Gita.
" Oh, maaf, Bu. Saya tidak tahu, maafkan saya." Gita sampai membungkukkan badannya karena tidak mengenali.
" Erlangga mana?" tanya Helen masih dengan nada galak.
" Pak Erlangga sedang ada pertemuan dengan relasi dari Medan, Bu." sahut Gita menjelaskan keberadaan Erlangga saat ini.
" Dengan siapa Erlangga pergi?" selidik Helen kemudian.
" Dengan Pak Wira, Bu." jawab Gita.
" Ibu Helen? Ibu ada di sini?" Pintu ruangan Wira terbuka dan Wira keluar dari ruangannya secara bersamaan dengan Gita menyebut namanya.
Helen dan Agnes menoleh ke arah pintu ruang kerja Wira saat Wira menyapa Helen, lalu Helen kembali menatap tajam Gita yang dia anggap berbohong karena tadi mengatakan Erlangga pergi bersama Wira.
" Kamu bilang kalau Erlangga pergi menemui relasi bisnis dengan Wira. Apa kamu mau mencoba membohongi saya, hah!?" Dengan nada menyentak Helen memarahi Gita.
" Hmmm ...."
" Saya memang baru saja tiba, Bu. Saya dan Pak Erlangga tadi baru saja bertemu dengan Pak Satria dari Medan." Belum sempat Gita menjawab, Wira langsung memberi penjelasan atas pertanyaan bernada tuduhan dari Helen kepada Gita.
" Lalu, di mana Erlangga sekarang?" tanya Helen masih belum puas dengan jawaban Erlangga.
Ting
Semua orang langsung mengalihkan pandangan ke arah lift saat suara pintu lift berbunyi dan semua yang ada di ruangan itu langsung membelalakkan matanya ketika pintu lift terbuka memperlihatkan pemandangan Erlangga yang sedang merangkulkan tangan di pundak Kayra dengan mencium pipi kanan istri cantiknya itu.
*
*
*
Bersambung ....
Alhamdulillah karya MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO, awal bulan ini naik level ke level 10, dan sebagai ucapan terima kasih, aku mau kasih give away seperti biasa. Ada pulsa senilai @50K untuk 10 pemenang. Syaratnya seperti biasa, kasih dukungan untuk novel ini. jangan lupa kasih jempol dan ramaikan terus di kolom komentar. Nanti akan dipilih 10 pendukung tertinggi. Give away akan berlaku sampai akhir November, ya. Jadi kawal terus Kayra dan Erlangga agar tetap berada di level tertinggi,dan othornya pun semakin semangat. Hatur nuhun🙏🙏🥰🥰
__ADS_1
Happy Reading❤️