MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO

MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO
Istri Simpanan CEO


__ADS_3

Kayra baru selesai di toilet dan ingin segera ke luar dari kamar kecil, namun langkahnya terhenti saat mendengar suara Helen dari ruangan dia dan Mama Ivone berbincang tadi.


Kayra mengurungkan niatnya untuk keluar dari toilet. Dia membuka sedikit pintu toilet untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di luar sana.


" Kalau anak Nyonya Ivone berpikir dengan tindakannya ini dia bisa membuat anak saya membatalkan gugatan cerainya, anak Anda salah besar Nyonya Ivone! Erlangga sudah bulat untuk berpisah dengan istrinya yang tidak berguna itu!"


Suara dengan nada tinggi Helen yang berbicara kepada Mama Ivone membuat Kayra terbelalak seraya menutup mulutnya. Dia tidak menyangka jika Helen begitu tega berbicara dengan kata-kata yang sangat menyakitkan seperti itu kepada besannya sendiri.


Kayra berpikir ternyata bukan hanya hubungan Helen dan Caroline saja yang berjalan kurang harmonis tetapi dengan besannya pun Helen terlihat tidak akur.


Kayra menggigit bibirnya, bagaimana nasib dirinya jika Helen tahu saat ini dia adalah menantu Helen juga. Apakah dia sama seperti Caroline akan dihina seperti ini? Hati Kayra terasa linu mengingat akan hal tersebut.


Suasana di luar semakin panas saat Kayra mendengar suara Erlangga, apalagi saat pria itu terdengar marah akan kedatangan Helen dan juga Agnes.


" Erlangga, Mama hanya tidak suka dengan tindakan Caroline. Dia sudah membuat malu keluarga kita dengan tindakannya ini." Helen berusaha membela diri jika yang dilakukannya demi membela nama baik keluarga.


" Apa Mama pikir dengan berkata kasar seperti ini nama baik Mahadika Gautama tidak akan tercoreng? Dan bukankah selama ini Mama memang tidak pernah suka dengan semua yang dilakukan Caroline? Termasuk saat Caroline menikah denganku?" Erlangga berusaha membatah apa yang diucapkan oleh Mamanya dengan kalimat menyindir.


" Sekarang Mama pergi dari sini dan jangan membuat keributan di tempat umum!" Erlangga mengusir Helen.


" Tapi, Erlangga! Mama tidak ingin kamu terpengaruh wanita itu lagi lalu kamu membatalkan rencana perceraianmu!" Helen memang merasa khawatir jika apa yang terjadi pada Caroline akan mempengaruhi keputusan cerai Erlangga.


" Sebaiknya Mama jangan ikut campur urusan rumah tanggaku, Ma. Aku tahu apa yang terbaik untukku!" Erlangga tidak suka Mamanya selalu mengusik kehidupan pribadinya.


" Yang terbaik untukmu adalah berpisah dari Caroline dan menikah dengan Agnes!" ucap Helen dengan percaya diri mengatakan jika Agnes adalah wanita yang terbaik untuk Erlangga.


Kayra yang masih mendengar dari balik pintu toilet sampai membelalakkan matanya kembali mendengar keberanian Helen mengatakan hal itu di depan Mama Ivone. Benar-benar tidak punya perasaan, itu yang ada di benak Kayra mengomentari sikap Helen.


" Ya Allah, jahat sekali mulut Ibu Helen sampai tega bicara seperti itu." Kayra membayangkan jika Ibunya lah yang diperlakukan seperti itu, bukan hanya dirinya saja yang sedih pasti Ibunya pun akan merasakan hal yang sama.


Dari balik pintu Kayra mencoba melihat ekspresi wajah Mama Ivone yang menahan emosi, sudah pasti wanita paruh baya itu menahan amarahnya. Wanita itu berusaha mengontrol emosinya agar tidak meledak.


" Sudah cukup, Ma! Asal Mama tahu dan harap Mama ingat! Seandainya aku bercerai dengan Caroline pun, aku tidak akan menikahi dia!" Dengan menggunakan jarinya Erlangga menunjuk ke arah muka Agnes yang langsung seketika tercengang mendengar kalimat penolakan dari Erlangga di depan Mama Ivone.


" Dan kau, Agnes! Jangan sekalipun mempengaruhi Mamaku untuk mendukungmu untuk mendekatiku! Aku sama sekali tidak tertarik dengan wanita seperti dirimu!" cibir Elangga dengan sinis.


Warna muka Agnes langsung memerah mendengar kalimat yang diucapkan Erlangga kepadanya.


" Erlangga kenapa kamu bicara seperti itu? Agnes itu wanita baik-baik tidak seperti is ...."


" Wanita baik-baik tidak mungkin berani mendekati pria yang sudah mempunyai istri! Wanita baik-baik tidak mungkin mengharapkan seseorang bercerai hanya untuk memuluskan keinginannya!" sindir Erlangga yang selalu merasa jika Agnes selalu berusaha mendekatinya.


" Sebaiknya kalian berdua segera meninggalkan tempat ini!!" usir Erlangga kembali.


" Kamu ... kamu benar-benar keterlaluan, Erlangga!!" Helen yang kesal langsung meninggalkan ruangan depan kamar rawat Caroline disusul oleh Agnes di belakanganya.


" Maaf atas kata-kata Mamaku tadi, Ma." Erlangga mengusap lengan Mama Ivone yang langsung menangis sepeninggal Helen dan Ivone.


" Iya." Mama Ivone mengangguk seraya menyeka air matanya.


" Di mana Kayra?" Erlangga yang baru menyadari di ruangan itu tidak terlihat Kayra langsung mencari keberadaan istrinya itu.


" Sekretarismu ada di toilet."


Selesai Mama Ivone bicara, Kayra pun keluar dari persembunyiannya. Erlangga menyadari jika Kayra pasti mendengar perdebatan antara dirinya dan juga Mamanya dan dia berniat membawa istri sirinya itu pergi secepatnya dari sana.


" Kita pergi sekarang." Erlangga mengajak Kayra pergi dari ruangan rawat Caroline.


" Kamu mau pulang sekarang, Erlangga?" tanya Mama Ivone.


" Iya, Ma. Kami ada pertemuan penting dengan klien." Erlangga menyampaikan alasan agar bisa secepatnya meninggalkan tempat itu.


" Bagaimana dengan Caroline? Apa kamu sudah bicara dengannya Erlangga?" tanya Mama Ivone.

__ADS_1


" Aku tidak bisa berbuat banyak, Ma. Mau atau tidak, Caroline harus menerima perceraian ini." Saat berbicara dengan Caroline, Erlangga memang sudah tegas dengan keputusan yang dia pilih apapun yang terjadi dengan Caroline.


Mama Ivone menghela nafas panjang, dia memang tidak bisa memaksa Erlangga untuk tetap bersama putrinya. Jika saja tidak terjadi pemer kosaan terhadap Caroline, mungkin dia akan berusaha memperjuangkan agar rumah tangga putrinya dan Erlangga bisa tetap bertahan. Mengingat pemer kosaan yang dialami Caroline seketika itu juga kebencian Mama Ivone terhadap Wisnu semakin merayap di hatinya.


***


" Apa yang kamu dengar dari Mamaku tadi jangan kamu pikirkan." Melihat Kayra yang melamun saat mereka kembali ke kantor, Erlangga mencoba menenangkan hati Kayra yang memang sedang memikirkan sikap Helen yang terlihat begitu membenci Caroline.


Kayra mende sah dan berucap, " Saya tidak bisa membayangkan jika Ibu yang diperlakukan seperti itu oleh Ibu Helen," lirihnya.


" Saya tidak akan tinggal diam jika Mama berani seperti itu kepada Ibumu." Tangan Erlangga menggengam tangan Kayra membuat Kayra terkesiap hingga menoleh ke arah Erlangga yang juga sedang menatapnya.


Kayra percaya jika Erlangga akan melindungi dirinya dan Ibunya. Dia bisa melihat bagaimana Erlangga mencoba menentang Mamanya saat Helen menyerang Mama Ivone tadi dengan kata-katanya. Namun hati Kayra belum bisa tenang meskipun Erlangga berusaha meyakinkannya.


Sementara itu sekitar satu jam dari kepergian Erlangga dari kamar rawat inap Caroline, seorang pria berlari cepat menuju ruangan Caroline setelah dia mendapat kabar jika Caroline saat ini dirawat di rumah sakit.


" Caroline ...!" Suara Wisnu terdengar berbarengan suara pintu ruang rawat inap Caroline terbuka.


" Tante, bagaimana kondisi Caroline? Parahkah lukanya?" Wisnu menghampiri Mama Ivone yang terlihat berjalan ke arahnya.


Plaakkk


Sebuah tamparan langsung mendarat di wajah tampan Wisnu begitu Wisnu sudah mendekat ke arah Mama Ivone, membuat pria itu terperanjat menerima tamparan dari orang tua Caroline.


" Tante?" Wisnu mengusap pipinya yang terkena tamparan Mama Ivone.


" Kenapa kamu tega melakukan itu kepada Caroline, Wisnu?!" Dengan nada geram Mama Ivone melontarkan pertanyaan kepada Wisnu.


" Apa salah Caroline sampai kamu memper kosa dia?!" Kembali Mama Ivone menyerang Wisnu dengan pertanyaan yang menuntut jawaban penjelasan dari Wisnu.


" Maaf, Tante." Hanya itu jawaban dari mulut Wisnu.


" Maaf katamu? Caroline hampir kehilangan nyawanya dan kamu hanya mengucapkan kata maaf saja?!" Emosi Mama Ivone semakin meledak.


" Apa maksud kamu, Wisnu? Caroline itu masih istri sah Erlangga! Kamu tahu itu, dan kamu menginginkan Caroline?" Mama Ivone benar-benar tidak percaya jika pria yang selama ini dia kenal baik ternyata mempunyai niat buruk terhadap rumah tangga Caroline dan Erlangga.


" Iya, saya memang menginginkan Caroline, Tante. Saya ingin memiliki Caroline seutuhnya." tegas Wisnu tanpa perasaan bersalah atas apa yang telah dilakukan kepada Caroline.


" Kamu sadar apa yang kamu katakan tadi,. Wisnu? Kamu sudah menghancurkan rumah tangga Caroline!" Dengan dada yang terasa sesak Mama Ivone mengeluhkan perbuatan Wisnu yang sudah membuat pernikahan Caroline hancur.


" Caroline tidak akan pernah bisa bahagia bersama Erlangga, Tante! Saya lah yang bisa membuat Caroline bahagia karena saya lah yang selalu mendukung Caroline untuk mendapatkan impiannya menjadi model terkenal." Wisnu tetap beranggapan jika dirinya lah yang paling cocok untuk Caroline.


" Ma, suruh dia pergi dari sini! Aku tidak ingin melihat dia, Ma." Suara lirih Caroline yang terbangun dari tidur terdengar saat wanita itu mendengar suara-suara yang mengganggu tidurnya.


" Caroline ..." Wisnu langsung mendekat ke arah brankar di mana Caroline terbaring. " Kenapa kamu sampai nekat melakukan hal ini?"


" Pergi kamu, Wisnu!! Aku tidak ingin melihatmu!!" Caroline memalingkan wajahnya merasa muak melihat wajah pria yang selama ini begitu dipercayainya namun telah tega menyakitinya.


" Kamu dengar apa yang dikatakan oleh Caroline, Wisnu? Sebaiknya kamu segera pergi dari sini!" Mama Ivone menarik tangan berotot Wisnu. Walaupun tenaganya tidak cukup kuat untuk menarik tubuh Wisnu namun wanita paruh baya itu tetap berusaha menjauhkan Wisnu dari anaknya.


" Keluar dari sini, Wisnu! Dan jangan pernah temui Caroline lagi!" ancam Mama kemudian saat akhirnya dia berhasil membawa Wisnu keluar dari kamar rawat inap Caroline.


" Saya tidak akan meninggalkan Caroline, Tante!" tegas Wisnu sebelum Mama Ivone menutup pintu kamar di mana Caroline dirawat.


***


Kayra memperhatikan beberapa gaun yang tergeletak di tempat tidur kamarnya. Ada tiga buah gaun dengan tiga model berbeda tergeletak di sana. Kayra melihat satu persatu gaun yang sepertinya berharga mahal jika dilihat dari kualitas bahan dari ketiga gaun itu.


Kayra langsung berlari ke luar untuk memanggil para ART di rumah itu.


" Mbak Diah! Mbak Atik! Mbak Siti!"


" Ada apa, Nyonya?" Atik yang menyahuti Kayra dan bergegas menaiki anak tangga menghampiri Kayra.

__ADS_1


" Mbak, gaun-gaun di kamar saya itu punya siapa?" tanya Kayra karena dia tahu jika para ART pasti tahu siapa yang membawa gaun-gaun itu ke dalam kamarnya.


" Tadi ada orang dari butik antar itu kemari, Nyonya. Orang itu bilang ini pesanan Tuan untuk Nyonya," jawab Atik mengikuti Kayra yang kembali masuk ke dalam kamarnya.


" Untuk saya?" Kayra merasa bingung dengan ucapan Atik.


" Benar, Nyonya." sahut Atik kembali.


" Tapi untuk apa gaun-gaun itu, Mbak? Semuanya harganya mahal-mahal lho, Mbak." Kayra merasa tidak memerlukan gaun-gaun mahal itu. Apalagi jika dilihat dari harganya yang membuat dia menelan salivanya. Untuk harga satu gaun setara dengan satu kali gaji yang diterimanya perbulan.


" Saya kurang tahu, Nyonya. Tuan itu sangat kaya raya, mungkin harga baju itu tidak berarti apa-apa untuk Tuan, Nyonya. Nyonya beruntung sekali mempunyai suami seperti Tuan Erlangga." Atik menilai jika Kayra memang beruntung bisa mendapatkan suami setampan dan kaya raya seperti Erlangga.


" Saya tidak merasa jika saya ini beruntung, Mbak! Saya dinikahi oleh pria yang sudah mempunyai istri dan sembunyi-sembunyi. Jika saya diberi pilihan, saya justru memilih ingin kembali seperti dahulu saat belum menjadi istri Pak Erlangga!" Kayra menepis anggapan Atik yang menilainya sebagai wanita yang beruntung.


" Pantas Tuan Erlangga menikahi Nyonya, karena Nyonya berbeda seperti wanita kebanyakan. Jika wanita lain, mereka pasti akan senang-senang saja menikmati status dan fasilitas yang didapat jika menjadi istri simpanan bosnya."


Kalimat istri simpanan yang diucapkan Atik seketika membuat dada Kayra sesak. Betapa memalukannya mendapat julukan istri simpanan, julukan yang sama sekali tidak membuat dirinya merasa bangga.


" Maaf, Nyonya. Bukan maksud saya menyinggung, Nyonya." Atik yang menyadari kesalahannya dalam berkata-kata langsung mengucapkan permohonan maafnya.


" Tidak apa-apa. Ya sudah, Mbak boleh keluar ..." Kayra mempersilahkan Atik untuk meninggalkan kamarnya.


" Baik, Nyonya. Permisi ..." Atik segera keluar dari kamar Kayra.


***


" Apa kamu sudah memilih gaun untuk acara pernikahan teman kamu di Bandung nanti?" tanya Erlangga saat mereka sedang menyantap makan malam bersama.


Kayra melirik ke arah Erlangga dan juga Ibunya sebelum menjawab pertanyaan Erlangga.


" Bapak membelikan saya gaun itu untuk dipakai ke acara pernikahan teman saya di Bandung?" tanya Kayra terkejut, karena gaun yang dipilihkan untuknya tadi semua adalah gaun pesta. Hanya pergi ke hajatan orang biasa saja seperti dirinya dan juga Laila temannya rasanya terlalu aneh jika dia harus mengenakan gaun mahal itu.


" Bukankah temanmu itu mengundangmu ke resepsi pernikahannya?" Erlangga balik bertanya.


" Iya, tapi acara pernikahannya di rumah, Pak. Rasanya aneh jika saya harus memakai gaun seperti itu," sanggah Kayra karena semua gaun yang dibawakan oleh orang butik berkerah off shoulder yang akan memperlihatkan bahu putih mulusnya. Dan hal itu tentu membuat Kayra tidak merasa nyaman.


" Memangnya gaun seperti apa yang pantas untuk dipakai ke acara resepsi pernikahan teman kamu itu? Bukankah semua yang dipilihkan adalah model yang paling bagus?" tanya Erlangga heran karena semua gaun yang ditunjukkan pihak butik kepadanya sebelum di antar ke rumah tinggal Kayra adalah model terbaru dan elegan.


" Kami ini hanya orang biasa, Nak Erlangga. Jika menghadiri acara hajatan pernikahan atau khitanan, kami tidak memakai pakaian seperti orang kaya yang Nak Erlangga pilihkan untuk Kayra itu." Ibu Sari yang sudah diberitahu Kayra soal gaun-gaun yang dipilihkan untuknya dari butik langsung menyampaikan pendapatnya.


" Ya sudah, besok kamu cari saja di butik pakaian yang kamu inginkan untuk ke Bandung lusa nanti," ujar Erlangga menyantap potongan daging ke dalam mulutnya.


" Tidak usah, Pak. Saya masih ada pakaian yang layak untuk ke acara pernikahan teman saya itu." Kayra menolak tawaran Erlangga yang menyuruhnya membeli pakaian baru.


" Kamu mau pergi ke acara pernikahan menggunakan pakaian bekas?" tanya Erlangga menatap Kayra dengan mata menyipit.


" Pakaian bekas?" Kayra justru mengeryitkan keningnya.


" Bukankah tadi kamu bilang masih mempunyai pakaian yang layak pakai, artinya kamu pernah memakai pakaian itu sebelumnya, kan?" Erlangga memperjelas pertanyaannya.


" Iya, saya pernah ke acara resmi memakai baju itu."aku Kayra sejujurnya.


" Dan kamu akan menggunakan baju itu lagi berulang-ulang? Kamu ini istri saya, Kayra. Masa istri seorang CEO harus menggunakan pakaian bekas yang sudah beberapa kali dipakai?" Erlangga memprotes sikap Kayra yang tidak ingin membeli pakaian baru namun lebih memilih memakai pakaian lama.


" Memangnya kenapa jika saya memakai pakaian yang sama, Pak? Lagipula di sana tidak akan ada orang yang tahu jika status saya ini adalah istri simpanan seorang CEO!" ketus Kayra kesal karena Erlangga terlalu berlebihan hanya karena masalah gaun yang akan dia pakai untuk pergi ke acara pernikahan temannya itu.


*


*


*


Bersambung ...

__ADS_1


Happy Reading❤️


__ADS_2