
Hari tanpa terasa terus berganti, hingga kini kehamilan Kayra hampir memasuki usia tujuh bulan. Perut wanita cantik itu pun semakin membuncit karena ada calon bayi laki-laki di rahimnya.
Setelah masuk usia empat bulan, Erlangga yang tidak sabar mengetahui jenis kelamin calon anaknya meminta Kayra melakukan USG hingga akhirnya diketahui calon anak mereka berjenis kelamin laki-laki.
Betapa bahagianya Erlangga mengetahui jika calon anak pertama mereka laki-laki, karena itulah yang dia harapkan, agar anaknya kelak dapat menjadi penerus kejayaan usaha-usaha milik keluarga Mahadika Gautama.
Sementara Arina pun sering berkunjung datang ke Jakarta. Bahkan demi dapat berjumpa dengan putrinya, dia harus mengalahkan rasa traumanya dan mau menemui Kayra sampai menginap di rumah lama Krisna tersebut.
Arina sudah mulai bisa mengendalikan perasaannya. Dia mulai menyadari, kesehatan anak dan calon cucu pertamanya lebih penting dari egonya untuk meminta pengakuan dari Kayra.
" Mas, ini kopinya ..." Kayra menaruh secangkir kopi di meja, sementara Erlangga sedang duduk di sofa dengan memangku laptop, karena ada sedikit pekerjaan yang harus diselesaikannya di rumah.
Kayra lalu duduk dengan menghempas nafas dan mengelus perutnya.
Melihat istrinya Erlangga menaruh laptop tanpa mematikannya ke atas meja lalu merangkulkan tangannya di pundak Kayra.
" Kenapa, Sayang? Apa kehamilanmu ini membuat kamu kelelahan?" Erlangga ikut mengelus perut sang istri.
" Tidak kok, Mas. Capek sedikit dialami Ibu hamil itu hal yang biasa," sahut Kayra dengan senyum mengembang di bibirnya.
Erlangga kini merapihkan helaian rambut Kayra yang menutupi sebagian pipinya, lalu dia memberikan sebuah kecupan di pipi istrinya.
" Terima kasih, Sayang. Terima kasih kamu bersedia untuk mengandung anakku," bisik Erlangga di telinga Kayra.
" Ini anak aku juga lho, Mas." Kayra memprotes karena Erlangga hanya mengakui bayi di perutnya hanya anak suaminya saja.
" Iya, iya, ini anak kita, dan aku yang membuatnya," sahut Erlangga kemudian.
" Memangnya hanya Mas yang membuat? Memangnya Mas bisa membuat sendiri? Kehamilan itu bisa terjadi adanya usaha dari sepasang manusia dan atas ijin Allah SWT." Kembali Kayra memprotes.
" Hahaha ..." Erlangga tertawa menanggapi istrinya yang sekarang ini banyak memprotes kata-katanya.
" Kenapa ketawa, Mas?" Kayra mengerutkan keningnya mendengar tawa sang suami.
__ADS_1
" Kamu ini semakin hari semakin menggemaskan, Sayang." Erlangga mencubit pipi Kayra yang mulai membulat karena kehamilannya.
" Ya sudah kopinya diminum dulu, Mas. Nanti keburu dingin. Jangan sampai larut mengerjakan pekerjaannya. Ini rumah bukan kantor, Mas." Kayra memperingatkan suaminya, karena suaminya itu minta dibuatkan kopi. Dia menduga jika suaminya hendak lembur menyelesaikan pekerjaan yang dibawa Erlangga dari kantor.
" Iya, Sayang. Ini sebentar lagi selesai. Aku hanya butuh doping agar mataku tidak mengantuk, karena aku harus berkunjung ke suatu tempat," ujar Elangga dengan senyum terkulum.
" Mas mau ke mana? Ini 'kan sudah malam, Mas." Karena saat ini waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam, Kayra pun menanyakan ke mana suaminya itu akan pergi.
" Aku mau berkunjung ke suatu tempat. Aku harus pergi ke sana."
" Iya, berkunjung ke mana?" Kayra dibuat penasara, karena suaminya itu tidak juga menyebutkan tujuannya.
" Berkunjung ke rahimmu. Aku ingin menemui calon baby boy kita ini." Erlangga langsung menciumi perut Kayra dengan terkekeh.
" Ya ampun, Mas. Aku kira Mas mau pergi ke mana!?" Kayra memutar bola matanya mendengar penjelasan sang suami soal kata berkunjung ke suatu tempat
" Memangnya kamu pikir aku tega meninggalkanmu malam-malam begini? Nanti yang ada kamu akan cemburu, dan menuduh aku ingin bertemu dengan wanita lain. Waktu kamu mencium aroma parfum Bu Arina saja kamu langsung menjadi galak." Erlangga teringat pertama kali Kayra menunjukkan rasa cemburunya, saat menghirup aroma parfum lain di baju yang dipakainya beberapa bulan silam, ketika dia baru pulang mengunjungi Arina di Bandung.
Tentu saja Erlangga terlihat senang karena berhasil menggoda sang istri hingga membuat istrinya salah tingkah. Erlangga tersenyum bahagia, akhirnya dia benar-benar merasakan kebahagiaan dalam berumah tangga yang sebenarnya. Walau diawali tidak dengan suatu hal yang manis, namun rumah tangganya bersama Kayra semakin lama semakin harmonis dan romantis.
***
Esok hari acara tujuh bulan Kayra akan dilaksanakan di rumah kediaman Erlangga dan Kayra. Tidak seperti acara empat bulanan sebelumnya, acara tujuh bulanan kehamilan Kayra dilaksanakan lebih tertutup dan sederhana atas permintaan Kayra. Hanya kerabat yang benar-benar dekat saja yang diundang oleh Erlangga dan Kayra, termasuk Arina dan Nugraha, Wira dan istrinya, juga Henry dan Emma. Tak ketinggalan Gita sebagai teman dekat Kayra pun turut diundang.
" Kayra, ada Bu Arina di luar." Ibu Sari masuk ke dalam kamar Kayra memberitahukan kedatangan ibu kandung Kayra.
" Bu Arina sudah datang, Bu?" Kayra yang sedang duduk berselonjor di atas tempat tidur sambil menonton drama Turki yang dibintangi artis cantik Ozge Yagiz langsung beranjak dari tempat tidurnya tanpa mematikan acara drama tersebut.
" Iya, Nak." sahut Bu Sari.
Kayra bersama Ibu Sari pun segera turun ke lantai bawah menggunakan lift karena kehamilan Kayra yang sudah membesar membuat Erlangga melarang istrinya itu naik turun menggunakan tangga.
" Ibu sudah datang?" Kayra menyapa Arina yang sedang memandang foto Kayra dan Erlangga saat berbulan madu ke Italia.
__ADS_1
Arina menoleh saat terdengar suara Kayra memanggilnya. Dia melihat Kayra yang berjalan menghampirinya didampingi Ibu Sari, wanita yang sejak bayi mengasuh dan merawat Kayra seperti anaknya sendiri.
" Kayra, apa kabar, Sayang?" Arina langsung memeluk tubuh Kayra setelah Kayra menyalaminya.
" Alhamdulillah baik-baik saja, Bu. Pak Nugraha tidak ikut, Bu?" tanya Kayra karena dia tidak melihat suami Arina bersama Arina saat ini.
" Suami Ibu masih ada pekerjaan, Nak. Mungkin besok pagi baru bisa datang kemari," jawab Arina.
" Kalau Pak Nugraha memang sedang repot, tidak usah dipaksakan datang kemari, Bu. Kehadiran Ibu di sini saja, saya sudah senang sekali." Tidak enak hati karena merasa merepotkan Nugraha, Kayra dapat memaklumi jika suami dari Arina itu berhalangan hadir di acara tujuh bulanannya.
" Tidak apa-apa kok, Nak. Suami Ibu ingin datang menemani Ibu di sini," ucap Arina.
" Hmmm, saya permisi dulu, Bu." Melihat keakraban Kayra dan Ibu kandungnya, Ibu Sari memilih berpamitan meninggalkan mereka berdua.
" Oh, iya, Bu Sari. Terima kasih ..." sahut Arina.
" Ibu mau ke mana? Di sini saja kita berbincang dengan Ibu Arina." Berbeda dengan Arina, Kayra justru lebih senang jika Ibu Sari bergabung dengannya dan Arina berbincang-bincang.
" Ibu ingin mengawasi anak-anak di dapur." Ibu Sari memberikan alasan karena para ART nya sedang menyiapkan untuk acara tujuh bulan besok pagi.
" Ibu jangan bekerja terlalu capek. Biar Mbak-mbak saja yang mengurusi untuk persiapan besok." Kayra sangat memperhatikan kesehatan Ibu Sari dan tidak memperbolehkan Ibunya ikut membantu kesibukan di dapur.
Perhatian yang diberikan Kayra terhadap Ibu Sari, tentu saja membuat hati Arina seolah tercubit. Sebagai ibu kandung yang melahirkan Kayra, sudah pasti dia pun ingin mendapatkan perhatian seperti itu dari putrinya. Walaupun dia mendapatkan perhatian dari kedua anak kandung bersama Nugraha dan juga perhatian dari Rivaldi, akan tetapi perhatian dari anak perempuan dirasakan akan sangat berbeda.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading❤️
__ADS_1