MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO

MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO
Bertemu Dengan Siapa Tadi?


__ADS_3

Ketika keluar dari ruangan Nugraha, Rivaldi tidak langsung meninggalkan kantor Papanya itu. Tentulah kedatangan Erlangga di kantor Jaya Raya Garment diluar perkiraannya, sehingga dia perlu merasa tahu apa yang dibicarakan Erlangga dengan Papanya.


Rivaldi sengaja menunggu di ruangan wakil direktur yang kebetulan saat ini sedang tidak berada di tempatnya, hingga Erlangga pergi dari ruangan Papanya. Dan setelah dia melihat Erlangga berpamitan lalu menghilang dari pintu lift, Rivaldi bergegas menemui Papanya kembali.


" Mau apa dia kemari, Pa? Apa yang Papa bicarakan dengannya?" Mengingat waktu bicara yang digunakan Papanya dan Erlangga cukup lama, membuat Rivaldi benar-benar merasa penasaran.


" Kamu belum pergi, Nak?" Berpikir putranya sudah pergi dari kantornya, Nugraha justru terkejut melihat Rivaldi teryata masih ada di sana.


" Mana mungkin aku bisa pergi melihat Erlangga datang menemui Papa. Apa yang dia ucapkan, Pa?" Rasanya tak sabar Rivaldi mendengar penjelasan dari Nugraha.


" Erlangga meminta ijin Papa untuk bertemu dengan Mamamu," ujar Nugraha menjelaskan.


Bola mata Rivaldi membulat sempurna mendengar soal maksud dan tujuannya Erlangga menemui Nugraha.


" Dia ingin bertemu Mama? Untuk apa, Pa? Apa dia tahu soal Mama?" Kecemasan seketika dirasakan Rivaldi.


" Erlangga ingin bicara dengan Mamamu, karena dia ingin memberitahu soal putri Mamamu yang hilang dulu," lanjut Nugraha menjelaskan.


" Erlangga tahu di mana adik aku itu, Pa? Di mana dia sekarang?" Kali ini Rivaldi lebih antusias karena menyangkut adik tirinya. Dia dapat membayangkan Mamanya itu pasti akan bahagia jika tahu keberadaan putrinya saat ini sudah diketahui.


" Dia bersama dengan Erlangga dan kamu juga pernah bertemu dengan adik tirimu, Aldi."


Guratan di kening Rivaldi terlihat, karena dia tidak mengerti siapa orang yang dimaksud oleh Papanya.


" Maksud Papa?" tanyanya bingung.


" Wanita yang merupakan putri Mamamu, Kania Pratiwi itu adalah wanita yang saat ini menjadi istri dari Erlangga, dan kamu juga kenal siapa dia."


Rivaldi tercengang dengan mulut terbuka saat Nugraha itu menjelaskan siapa wanita yang dimaksud oleh Papanya.


" Kayra? M-maksud Papa adalah Kayra??" Sulit dipercaya rasanya kenyataan yang diungkapkan Erlangga melalui Papanya itu. Bahkan Rivaldi sampai terduduk di sofa saat tahu adik tirinya itu adalah Kayra, wanita yang dia kejar bahkan dia perebutkan bersama Erlangga.


" Benar sekali, Nak." Nugraha lalu menepuk pundak putra sulungnya. " Mulai saat ini, lupakan ambisimu untuk memiliki Kayra! Dia adalah adik tirimu. Dia sudah menjadi milik pria lain dan saat ini sedang mengandung anak dari pria itu." Nugraha memberikan nasehat kepada Rivaldi untuk mengiklaskan Kayra untuk Erlangga.


Rivaldi mendengus, dia menduga jika Erlangga sudah menceritakan semua kepada Papanya soal persaingan mereka selama ini.


" Erlangga ingin bertemu dan bicara soal Kayra pada Mama kamu. Namun, dia ingin Mamamu tidak mengatakan siapa sebenarnya Mamamu itu saat nanti bertemu dengan Kayra." Nugraha melanjutkan ceritanya.


" Dia melarang Mama mengakui sebagai orang tua Kayra? Itu tidak adil, Pa! Mama selama ini sudah menderita karena merindukan putrinya. Kenapa malah dilarang mengakui hal tersebut di hadapan anaknya?" protes Rivaldi tidak sependapat dengan Erlangga.


" Kayra tidak tahu jika selama ini dia dirawat oleh orang tua asuh. Karena dia menganggap orang tua yang selama ini membesarkannya adalah orang tua kandungnya. Tidak akan mudah menerima kenyataan itu, Nak. Apalagi saat ini Kayra sedang hamil muda, itu bisa berpengaruh kepada janin, jika dia syok saat dia tahu kenyataan yang sebenarnya." Nugraha menyebutkan alasan Erlangga tidak ingin Kayra tahu hal tersebut saat ini.


" Erlangga sudah menunjukkan itikad baik, ingin memberitahu Mamamu di mana putri Mamamu berada. Kita harus menghargai hal itu. Jika Papa berada di posisi dia, Papa juga pasti akan melakukan hal yang sama dengan Erlangga," pungkas Nugraha mengakhiri kalimatnya.


***


Kayra melepas mukenahnya setelah melaksanakan sholat Maghrib. Matanya mengarah ke jam dinding di kamar yang menunjukkan pukul 18.10 menit.


Kaki Kayra melangkah ke arah nakas untuk mengambil ponselnya yang dia letakan di sana. Dia ingin menghubungi suaminya yang belum juga sampai di rumah.


" Nomer yang ada hubungi sedang tidak aktif atau berada di luar service area. Cobalah beberapa saat lain." Hanya mesin operator yang menjawab panggilan teleponnya itu.


" Kok, tumben?" pikirnya kemudian.


Kayra lalu mencoba menelepon ponsel Gita, berharap Gita bisa memberitahu Erlangga agar menghubungi balik dirinya.


" Assalamualaikum. Mbak Gita. Mbak, apa suami saya masih di kantor?" Ketika panggilan teleponnya terhubung, Kayra langsung menanyakan keberadaan suaminya kepada Gita.


" Waalaikumsalam, Bu. Maaf, bukankah hari ini Bapak tidak ke kantor, Bu?" Gita menjawab bingung pertanyaan Kayra.


" Suami saya tidak ke kantor hari ini?" Kayra terkesiap mendengar jawaban Gita. Karena pagi tadi, suaminya itu berpamitan kepadanya untuk berangkat ke kantor. Namun, ternyata hari ini suaminya itu tidak datang ke kantornya. Lalu, ke mana suaminya itu pergi? Itu pertanyaan di benak Kayra.


" Benar, Bu. Tadi saja ada jadwal ketemu klien, Pak Wira yang mewakilkan, karena Pak bos tidak hadir." Gita menerangkan.


" Oh, ya sudah. Terima kasih ya, Mbak. Assalamualaikum ..." Kayra mengakhiri sambungan teleponnya dengan Gita.


" Waalaikumsalam, Bu." Gita masih sempat membalas salam yang diucapkan Kayra sebelum panggilan telepon terputus.


" Mas Erlangga ke mana, ya? Pamit ke kantor tapi tidak datang ke sana. Sekarang HP nya tidak bisa dihubungi. Kenapa Mas Erlangga tidak cerita sama aku, ya?" Hati Kayra mendadak cemas karena suaminya itu tiba-tiba menghilang tanpa jejak.

__ADS_1


Kayra meletakkan kembali ponselnya di atas nakas lalu berjalan ke luar kamarnya dengan bergegas.


" Kayra, jangan kencang-kencang! Hati-hati, nanti jatuh!" Helen yang ada di bawah langsung menegur Kayra yang berjalan dengan cepat menuruni anak tangga.


" Erlangga sudah menyediakan lift untuk kamu turun naik, kenapa masih menggunakan tangga? Kalau cucu Mama di sini kenapa-napa, bagaimana?" Helen mencemaskan janin di perut Kayra.


" Ma, Mas Erlangga ke mana, ya? Kok, sampai jam segini belum pulang? Tadi aku hubungi kantor, katanya Mas Erlangga tidak datang ke sana hari ini." Kayra mencemaskan suaminya sampai mengabaikan kekhawatiran Helen tadi.


" Erlangga tidak ke kantor?" Helen memang tidak tahu jika hari ini Erlangga tidak datang ke kantor Mahadika.


" Iya, Ma. HP nya juga aku hubungi tidak aktif," ucapan Kayra diselimuti kecemasan.


" Coba nanti Mama tanya sama Papa, siapa tahu Papa tahu ke mana Erlangga pergi. Biasanya Erlangga itu selalu memberitahu Papa jika ada sesuatu yang penting." Helen memang tidak diberitahu Erlangga akan ke Bandung, sehingga dia pun tidak tahu ke mana Erlangga pergi.


" Ada apa, Ma?" Secara kebetulan, Krisna baru saja keluar dari kamar, karena sebentar lagi waktu makan malam.


" Pa, apa Papa tahu ke mana Erlangga pergi? Kayra bilang di kantornya tidak ada. Hari ini Erlangga tidak datang ke kantor. HP nya juga tidak aktif. Biasanya Erlangga selalu bilang sama Papa jika ada sesuatu yang penting, kan?" Helen menanyakan keberadaan Erlangga kepada suaminya.


" Oh iya, Erlangga ... ada sesuatu yang harus dia urus di luar kota. Tadi siang Erlangga sempat kasih kabar ke Papa," sahut Krisna. Erlangga memang memberi tahu Nugraha soal kepergiannya ke Bandung.


" Kok, Mas Erlangga tidak kasih kabar ke aku ya, Pa?" tanya Kayra kecewa, karena suaminya itu tidak terbuka kepadanya.


" Kamu tidak usah khawatir, Kayra. Erlangga sedang ada tugas di luar kota." Krisna kembali menenangkan menantunya. Dia pun melirik istrinya dan memberi kode agar istrinya mengerti apa yang dia maksud.


" Papa sudah bilang kamu tidak usah khawatir, artinya Erlangga tidak sedang ada masalah. Jadi kamu tidak usah terlalu memikirkan Erlangga, Kayra." Mengerti apa yang diisyaratkan suaminya, Helen membantu menenangkan menantunya seraya melingkarkan lengan di pundak Kayra. " Kita makan sekarang, yuk!" Helen mengajak Kayra menyantap makan malam.


" Aku mau menunggu Mas Erlangga pulang, Ma." Kayra menolak, karena dia ingin menunggu suaminya terlebih dahulu sebelum menyantap makanan.


" Erlangga mungkin akan pulang larut malam, Kayra. Saat ini dia masih ada di Bandung." Tidak ingin menantunya menunggu Erlangga, Krisna akhirnya menyebutkan di mana Erlangga saat ini berada.


" Mas Erlangga di Bandung, Pa?" tanyanya.


" Iya, dia bilang akan bertemu dengan klien kembali saat jam makan malam ini, pasti dia akan kembali ke rumah cukup larut." Krisna menjelaskan.


" Mas Erlangga pergi dengan siapa, Pa? Apa bawa supir?" Mendengar Krisna menyebut Erlangga akan pulang larut, justru Kayra semakin takut, karena saat berangkat tadi pagi, Erlangga mengendarai mobilnya sendiri.


" Sepertinya Erlangga berangkat sendiri ke Bandung," ujar Krisna.


" Kalau Erlangga lelah, mungkin dia akan menginap satu malam di sana," sahut Krisna.


" Menginap, Pa?" Berat rasa hati Kayra harus berjauhan dengan suaminya untuk sekarang ini.


" Iya semoga saja Erlangga bisa cepat menyelesaikan urusannya di sana. Kamu tidak perlu khawatir." Krisna menanggapi santai, karena dia tahu Erlangga dapat mengatasi permasalahannya dengan baik.


" Pa, apa sebaiknya kita suruh Pak Koko untuk menjemput Mas Erlangga ke sana?" usul Kayra yang ditanggapi kekehan Krisna.


" Erlangga itu sudah dewasa, Kayra. Bukan anak kecil yang harus dijemput pulang." Masih dengan tertawa kecil, Krisna mengomentari usulan menantunya tadi.


" Ya sudah, sebaiknya kita makan malam dulu, Kayra." Kembali Helen mengajak Kayra untuk makan malam. " Jum, tolong panggilan Ibu Sari, suruh ikut bergabung makan malam." Helen sempat memerintahkan ART di rumah itu untuk memanggil besannya.


" Baik, Nyonya." sahut Bi Jumi segera melaksanakan perintah atasannya itu.


***


Sebelum masuk waktu Isya, Erlangga sudah sampai di rumah Nugraha. Sebelumnya Nugraha sudah memberitahukan Arina terlebih dahulu akan ada tamu yang datang berkunjung ke rumahnya, walaupun Nugraha tidak menyebutkan siapa tamu tersebut.


Arina terperangah saat mendapati sosok Erlangga yang kini berdiri di pintu masuk rumahnya. Dia tidak menyangka jika tamu yang disebut suaminya akan berkunjung ke rumah mereka adalah Erlangga, anak yang dulu pernah dia asuh saat kecil dulu.


" Elang?"


" Assalamualaikum, Bu." Erlangga menyapa Arina, berjalan mendekat, mencium punggung lalu memeluk tubuh wanita yang ternyata adalah Mama mertuanya itu.


" Waalaikumsalam, Elang. K-kamu ada di sini?" Rasa kaget bercampur bingung kini Arina rasakan, hingga dia menoleh ke arah suaminya seakan menuntut penjelasan atas apa yang terjadi saat ini.


" Erlangga tadi siang datang ke kantor Papa. Erlangga minta ijin bertemu dan ingin bicara dengan Mama." Nugraha lalu menjelaskan apa maksud Erlangga datang ke rumah mereka.


" Sebaiknya kita makan lebih dulu sebelum kita berbincang nanti." Nugraha mengajak Erlangga untuk menyantap makan malam bersama sebelum mereka membicarakan tujuan sebenarnya Erlangga datang ke tempat mereka.


Selepas mereka menyantap menu makan malam yang dimasak sendiri oleh Arina, kini mereka bertiga sudah berada di ruangan kerja di rumah Nugraha.

__ADS_1


Arina duduk berdampingan dengan Nugraha, sementara Erlangga duduk di kursi terpisah dari mereka berdua.


" Ma, Erlangga ini siang tadi datang ke kantor Papa dan menceritakan jika dia sudah menemukan anak Mama yang selama ini Mama cari." Nugraha membuka pembicaraan terlebih dahulu.


Arina terbelalak mendengar ucapan suaminya, lalu pandangan matanya kini mengarah kepada Erlangga, mengharapkan jawaban pria yang saat kecil sangat dekat dengannya. Sementara hatinya seperti diterangi cahaya setelah sekian lama terasa hampa tanpa ada kabar berita putrinya tersebut.


" Benar begitu, Elang? Kamu tahu di mana Kania berada sekarang?" Tak sabar Arina ingin segera mengetahui keberadaan putrinya itu.


" Benar, Bu. Aku sudah menemukan putri Ibu. Dan saat ini dia ada di rumahku. Nama putri Ibu saat ini adalah Kayra Ainun Zahra. Orang tua angkatnya yang memberi nama itu. Namun, Kayra tidak tahu jika dia bukan anak kandung orang tua yang selama ini merawatnya sejak kecil." Erlangga menceritakan siapa putri Arina yang sebenarnya.


" Ya Allah ..." Cairan bening mengalir di pipi Arina. Rasa bahagia dan haru dia rasakan saat ini, mengetahui jika putrinya itu masih hidup. " Bagaimana Kania sekarang? Siapa orang yang telah merawat Kania selama ini, Lang?" Arina tidak dapat membendung kerinduan kepada putrinya itu.


" Kayra baik-baik saja, Bu. Dan orang yang merawat Kayra sejak bayi adalah asisten bidan yang membantu Ibu melahirkan Kayra. Ibu Sari dan suaminya menginginkan anak hingga mereka memilih merawat Kayra menjadi anak mereka." Erlangga menceritakan tentang kedua orang tua yang selama ini dianggap orang tua kandung oleh Kayra.


" Assisten bidan?" Arina teringat, memang ada asisten bidan saat dia melahirkan bayinya. Namun, dia tidak sempat memikirkan jika asisten bidan itulah yang selama ini bersama putrinya.


" Benar, Bu. Aku berharap Ibu tidak membenci Ibu Sari karena menyembunyikan Kayra dari Ibu. Selama ini Ibu Sari dan suaminya memberikan kasih sayang dan perhatian selayaknya orang tua kepada anak kandung. Mereka mengajarkan kebaikan kepada Kayra, hingga sekarang ini Kayra tumbuh menjadi wanita yang berhati baik, tulus dan bersikap lembut." Berharap agar Arina tidak menyalahkan Ibu Sari, Erlangga menyebutkan hasil didikan Ibu Sari dan suaminya yang membentuk karakter Kayra menjadi wanita berkepribadian baik.


" Tidak, Ibu tidak akan marah. Ibu seharusnya berterima kasih karena mereka sudah merawat dan memberikan kasih sayang sejak Kania dilahirkan." Tak bisa ditampik, ada rasa penyesalan di hati Arina karena telah menelantarkan bayinya. " Lang, apa Ibu bisa bertemu dengan Kania? Ibu ingin bertemu, Ibu ingin memeluk dan meminta maaf atas perbuatan Ibu dulu yang meninggalkan dia saat baru dilahirkan." Dengan tersedu Arina memohon agar dipertemukan dengan putrinya.


" Tentu saja Ibu boleh bertemu dengan Kayra, Bu. Tapi, aku mohon agar Ibu bisa menahan diri dan tidak mengatakan siapa Ibu sebenarnya kepada Kayra." Erlangga mengijinkan Arina bertemu dengan istrinya, tetapi dengan syarat yang harus Arina penuhi.


" Kenapa, Lang?" Arina bingung dengan syarat tang diajukan oleh Erlangga.


" Kayra itu ... dia adalah istriku, Bu."


" Istrimu, Elang?" Arina tercengang mendengar pengakuan soal status Kayra,


" Benar, Bu. Saat ini, Kayra sedang hamil anak pertama kami. Karena itu aku meminta Ibu untuk tidak menyinggung soal masa lalu Kayra. Karena Kayra tidak tahu jika dia itu bukan anak kandung Ibu Sari dan Ayah Ariyanto. Selama ini kedua orang tua angkat Kayra menutup rahasia itu rapat-rapat, karena mereka tidak ingin kehilangan Kayra. Aku takut Kayra belum siap menerima kenyataan ini dalam waktu dekat, Aku takut hal itu akan berpengaruh pada kondisi janin di perutnya." Elangga menjelaskan secara gamblang alasan mengapa meminta Arina agar menahan diri walaupun dia tahu Arina pasti akan sangat emosional jika bertemu Kayra.


" Kayra saat ini sedang mengandung cucu kita, Ma. Mama tidak ingin cucu kita kenapa-napa, kan?" Nugraha turut memberi pengertian kepada istrinya agar bisa memaklumi kondisi Kayra saat ini.


" Iya, Pa." Tentu Arina sendiri ingin cucunya itu terlahir sehat. " Elang, apa Ibu bisa melihat foto Kania? Pasti dia cantik sekali ..." Erlangga adalah pria tampan dan seorang CEO perusahaan besar, sudah pasti akan memilih wanita cantik yang akan mendampingi hidupnya. Itulah yang ada di pikiran Arina.


" Ibu pernah bertemu dengan Kayra sebelumnya kok, Bu. " ujar Erlangga, dia lalu mengambil ponselnya untuk menunjukkan foto Kayra.


" Pernak bertemu? Kapan, Elang?" Arina penasaran ketika Erlangga menyebutkan dirinya pernah bertemu dengan Kayra, tapi dia tidak menyadari jika itu adalah anaknya.


" Di toilet saat acara resepsi pernikahan Pak Ronald beberapa waktu lalu di Jakarta. Bukankah saat di toilet Ibu bertemu dengan seorang wanita yang sempat membuat Ibu tertegun?" Erlangga memcoba membuka ingatan Arina akan pertemuan tak disengaja antara Kayra dan Arina.


" Di toilet?" Arina membulatkan bola matanya. Tentu saja dia masih ingat dengan pertemuan dengan wanita muda cantik yang sangat ramah kepadanya. Dan, ya dia ingat, jika wanita cantik itu adalah istri Erlangga karena ketika itu Helen datang dan memanggil nama Erlangga.


" Ya Allah ..." Arina menangkup wajahnya sendiri dengan kedua telapak tangannya, seakan tidak mempercayai peristiwa itu adalah pertemuan pertama dia dengan putrinya. Pantas saja saat itu dia seperti merasakan sesuatu saat melihat Kayra, yang dia juga tidak mengerti mengapa perasaan itu bisa muncul.


" Pa, Mama ingat." Arina kini mencengkram erat lengan suaminya. " Masya Allah, dia sangat cantik dan santun sekali, Pa. Mama tidak menyangka jika itu adalah anak Mama sendiri, Pa." Arina terisak di bahu suaminya. Sudah tidak dapat ditahan lagi perasaan bahagia Arina melihat bayi kecilnya yang hilang dulu kini tumbuh menjadi wanita cantik berhati lembut dengan aura positif tang terpancar dari wajah cantik Kayra.


***


Kayra nampak gelisah, waktu sudah hampir mendekati jam dua belas malam, tetapi suaminya masih belum juga pulang. Kabar dari Erlangga pun tidak dia dapatkan.


Rasanya Kayra ingin sekali menangis karena suaminya itu seperti menghilang tanpa kabar. Perasaan khawatir dan rindu membuat hatinya tidak tenang dan tidak dapat terlelap tidur.


Ceklek


Kayra menolehkan pandangan ke arah pintu saat mendengar suara pintu terbuka. Hingga nampak sosok Erlangga yang masuk menyalakan lampu karena saat ini hanya lampu tidur yang menyala di kamar itu.


" Mas ..." Kayra langsung menyambut dengan memeluk tubuh sang suami lalu menangis di dada suaminya.


" Kayra? Kamu belum tidur?" Erlangga tidak menyangka jika istrinya saat ini masih terjaga.


" Bagaimana aku bisa tidur? Mas tidak memberi kabar kalau Mas akan keluar kota dan pulang malam." Kayra menarik tubuhnya dari tubuh Erlangga karena penciumannya merasakan aroma berbeda dari pakaian yang dikenakan Erlangga. Bukan aroma maskulin yang tercium di hidungnya, tetapi aroma soft dan feminim yang dia rasakan. Tatapan curiga langsung diarahkan Kayra kepada sang suami dengan kening berkerut.


" Habis bertemu dengan siapa tadi?" tanya Kayra penuh selidik dengan tangan berkacak pinggang.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung ....


Happy Reading❤️


__ADS_2