
Erlangga langsung memicingkan mata membuat kedua alisnya hampir bertautan saat mendengar syarat yang disebutkan oleh Kayra. Ekspresi wajahnya langsung menegang sebagai tanda dia tidak setuju dengan keputusan Kayra soal kewajiban yang tidak akan dijalankan Kayra sebagai istrinya.
" Apa-apaan ini? Aturan dari mana itu?" tanya Erlangga dengan nada sedikit meninggi. Sebagai seorang pria apalagi berstatus suami, tentu saja permintaan Kayra sangat menyinggung harga dirinya.
" Tidak ada aturan seorang istri yang boleh menolak melakukan kewajiban melayani suaminya!" geram Erlangga.
" Bukankah Bapak bilang jika Bapak menikahi saya karena Bapak mendapatkan apa yang tidak Bapak dapatkan dari Ibu Caroline? Jadi untuk apa saya harus melayani kebutuhan biologis Bapak? Bapak sendiri yang bilang jika Ibu Caroline sangat hebat dalam melakukan hal itu. Lagipula saya tidak berpengalaman, saya pasti tidak akan bisa memberikan kepuasan seperti yang Ibu Caroline lakukan kepada Bapak." Walaupun sebenarnya Kayra merasa malu harus membahas masalah hubungan suami istri, namun karena dia terlanjur merasa kesal terhadap Erlangga, akhirnya dia ungkapkan semua kekesalannya kepada Erlangga.
" Saya tetap tidak setuju dengan pendapat kamu seperti itu! Saya suami kamu dan saya berhak mendapatkan apa yang sepatutnya saya dapatkan dari kamu, termasuk pelayanan kebutuhan biologis dari kamu sebagai istri saya. Kalau kamu bilang kamu tidak berpengalaman, nanti saya akan mengajarimu bagaimana cara melayani suami dengan baik." Seringai tipis terlihat di sudut bibir Erlangga mengakhiri kalimatnya itu.
Kayra menghempas nafasnya dengan sangat kasar. Dia benar-benar dibuat emosi oleh suaminya tersebut. Sikap Erlangga yang arogan dan egois membuatnya merasa tertekan, dan dia tak tahu harus berbuat apa untuk melepaskan diri dari ikatan sakral yang sudah dia lakukan dengan Erlangga sebagai pria dan wanita dewasa.
" Sekarang kamu makanlah dulu, agar kita cepat selesai dan langsung pulang." Erlangga mulai menyantap makanan yang ada di hadapannya.
" Saya tidak lapar!" ketus Kayra memalingkan wajahnya dengan dada bergolak menahan emosi.
" Makanlah! Atau kamu ingin saya suapi agar makanannya cepat habis?" Erlangga mengancam akan menyuapi Kayra jika wanita itu tidak segera mengambil makanannya.
Akhirnya dengan terpaksa Kayra mengambil nasi dan lauk walaupun hanya sedikit karena saat ini dia tidak bisa menikmati makanan karena hatinya yang sudah terlanjur kesal terhadap Erlangga.
Beberapa jam sebelumnya di kantor Krisna Mahadika Gautama.
" Ada apa Pak Krisna meminta saya untuk datang kemari?" tanya Wira saat dia baru saja mendudukkan tubuhnya di sofa tamu ruangan kerja Papa dari Erlangga itu.
" Saya ingin membicarakan soal rencana kerjasama dengan calon rekanan bisnis dari Korea. Sebaiknya saya bicarakan hal ini dengan kamu saja Wira, nanti kamu sampaikan ke bosmu itu." Sejak kejadian di ruangan Erlangga beberapa hari lalu, Erlangga tidak juga menghadap kepadanya membuat Wira merasa enggan untuk datang ke kantor yang kini sudah menjadi milik putranya itu.
" Baik, Pak. Apa yang harus saya lakukan?" tanya Wira kemudian.
" Mereka minta kita untuk datang ke Seoul, kamu temani saya pergi ke sana. Itu peluang besar untuk Mahadika Gautama untuk bisa mendapatkan kerjasama dari perusahaan mereka, Wira." Krisna menjelaskan kepada Wira alasan dia memanggil asisten putranya tersebut.
" Baik, Pak. Saya akan mempersiapkan segala sesuatunya untuk pembahasan kerjasama perusahaan dengan mereka, Pak." Wira menyanggupi tugas yang diberikan Krisna kepada dirinya.
" Oh ya, bagaimana pertemuan dengan Pak Joko kemarin?" Walaupun dirinya sudah tidak memegang perusahaan yang dipimpin Erlangga, namun Krisna tetap memantau kerjasama perusahaan itu dengan relasi-relasi Mahadika Gautama.
" Mereka setuju memperpanjang kerjasama dengan perusahaan, Pak. Rencananya dalam Minggu ini kontrak kerjasamanya akan segera ditanda tangani oleh Pak Erlangga dan juga Pak Joko." Wira menerangkan pencapaian yang sudah dikerjakan perusahaan Erlangga itu.
" Baguslah kalau seperti itu." Krisna bersyukur Erlangga memang mewarisi bakatnya dalam bisnis. " Hmmm, Wira ... kamu sudah lama bekerja di sana, sedikitnya kamu pasti tahu apa yang terjadi di lingkungan perusahaan Erlangga, kan?"
Wira menaikkan kedua alisnya mencoba menerka-nerka apa maksud dari ucapan Krisna.
" Maksud Bapak?" tanya Wira kemudian.
" Kamu pasti tahu bagaimana aktivitas Erlangga dan sekretarisnya sehari-hari di kantor, kan? Apa ada yang aneh dengan hubungan antara Erlangga dan Kayra di luar hubungan antara bos dan sekretaris?" Pertanyaan Krisna membuat Wira terbelalak. Dia tidak tahu, apakah Krisna saat ini sudah mengetahui atau tidak tentang pernikahan Erlangga dan Kayra. Namun jika dilihat dari pertanyaan yang diucapkan oleh Krisna, sepertinya pria paruh baya itu baru sekedar merasakan curiga dengan hubungan bos dan sekretarisnya itu.
" Hmmm, kenapa Pak Krisna bertanya seperti itu?" Rasa penasaran tiba-tiba menyerang Wira, dia juga ingin tahu bagaimana Krisna tiba-tiba mencurigai kedekatan Erlangga dan Kayra.
Krisna menarik nafas dalam-dalam, sebenarnya setelah mendapati Erlangga dan Kayra berada di atas satu ranjang beberapa hari lalu, perasaannya tidaklah tenang. Belum mendapat jawaban yang jelas dari Erlangga, putranya itu tidak juga datang menemuinya untuk memberikan penjelasan yang masuk akal.
" Saya merasakan ada yang aneh dengan sikap Erlangga terhadap sekretarisnya itu, Wira." Krisna mengungkapkan kecurigaannya terhadap putranya itu.
" Memang putra Anda benar-benar aneh, Pak Krisna." Seandainya bisa, ingin rasanya Wira mengatakan hal yang sebenarnya kepada Krisna.
" Akhir Minggu lalu saya menjumpai Erlangga tidur bersama Kayra di ruangan istirahatnya di kantor."
__ADS_1
Wira terbelalak mendengar peristiwa yang terjadi di kantor Erlangga yang tidak dia ketahui. Tentu saja apa yang diceritakan Krisna membuat Wira sedikit syok. Dia memang pernah memergoki Erlangga sedang bersikap in tim kemarin, tapi kalau Krisna memergoki Erlangga dan Kayra tidur seranjang? Wow, ini merupakan berita yang bisa menjadi skandal besar di perusahaan tempatnya bekerja, pikir Wira.
" Apa Bapak serius?" Wira masih sulit mempercayai apa yang diucapkan Krisna.
" Saya harap ini hanya lelucon dan tidak benar-benar terjadi, Wira. Tapi sayangnya hal ini memang nyata. Kamu ingat saat saya datang ke sana akhir Minggu lalu? Saya memergoki mereka di kamar yang sama, bukan hanya sekamar tapi juga berada di ranjang yang sama dengan Erlangga memeluk erat Kayra." Nada kekecewaan terdengar jelas dari ucapan Krisna.
" Maaf, Pak. Saya mengenal Kayra, dia bukan tipe wanita yang suka menggoda pria yang beristri, apalagi pria itu bosnya sendiri." Wira mencoba membela posisi Kayra karena dia merasa hal itu terjadi bukan karena kesalahan. Kayra.
" Jadi menurutmu anak sayalah yang salah?" Sudah pasti Krisna berpendapat jika Wira menyalahkan Erlangga dalam hal ini.
" Maaf, Pak. Saya tidak menuduh seperti itu. Saya sangat percaya jika Pak Erlangga adalah sosok pria yang setia." Wira langsung melakukan klarifikasi agar Krisna tidak menganggapnya menyalahkan Erlangga.
" Apa Erlangga sering cerita tentang rumah tangganya kepadamu, Wira?" hanya Krisna.
" Tidak banyak, Pak. Hanya seputar Ibu Caroline yang terlalu sibuk dengan dunia modelingnya," sahut Wira.
" Inilah yang saya takutkan, Wira. Karena kondisi rumah tangganya yang kurang harmonis membuat Erlangga mencari pelampiasan kepada wanita lain." Krisna mengungkapkan rasa khawatirnya.
" Dan kecemasan Anda benar-benar terjadi, Pak Krisna. Ya Tuhan, bagaimana jika Pak Krisna tahu jika Erlangga dan Kayra saat ini sudah menikah?" Wira berkata dalam hati.
" Saya minta bantuan kamu, Wira. Tolong awasi Erlangga, jangan sampai dia salah melangkah. Apalagi jika dia menjadikan Kayra sebagai korban pelampiasan karena rasa kecewa akan kondisi rumah tangganya dengan Caroline. Kasihan jika Kayra sampai mendapat predikat wanita penggoda suami orang." Krisna mengharapkan bantuan dari Wira agar bisa mencegah hal yang tidak dia inginkan. Dia menyadari jika sekretarisnya memang tidak bersalah dalam hal ini.
Wira menghela nafas panjang, dia merasa tugas yang diberikan oleh Krisna jauh lebih berat daripada dia harus menghadapi klien atau mengatasi masalah perusahaan. Bagaimana mungkin dia harus mencegah agar tidak terjadi skandal antara Erlangga dan Kayra, padahal kenyataannya kedua orang itu kini sudah terikat dalam satu pernikahan.
***
Kayra berlari masuk ke dalam rumah saat dia turun dari mobil tanpa menunggu suaminya itu keluar dari mobilnya. Kayra langsung menghampiri kamar Ibu Sari, karena saat ini sudah mendekati jam setengah tujuh.
" Assalamualaikum, Bu." Kayra tergesa-gesa masuk ke kamar Ibu Sari.
" Tadi makan dulu di luar, Bu." Kayra menyebut alasannya. " Bu, Kayra belum minum pil KB. Bagaimana ini?" tanya Kayra cemas saat mengingat dia belum meminum pil KB hari ini.
" Ya sudah, cepat kamu minum sekarang." Ibu Sari mengambilkan pil yang dititipkan Kayra di kamarnya.
" Tidak apa-apa memangnya, Bu?" tanya Kayra.
" Tidak apa-apa, cepatlah diminum." Ibu Sari menyuruh agar Kayra segera meminum pil penunda kehamilan itu. Dia lalu mengambil air minumnya dan diserahkan kepada Kayra.
" Iya, Bu." Kayra mengoyak kemasan pil KB dan meminum pil itu.
" Apa Tuan Erlangga ikut pulang kemari, Nak?" tanya Ibu Sari.
Kayra menganggukkan kepalanya dan berkata lirih, " Iya, Bu. Semoga malam ini ada halangan yang membuat Pak Erlangga menunda keinginannya untuk melakukan hubungan suami istri," harap Kayra.
" Kayra ikut sholat Maghrib di sini saja ya, Bu!? Tadi belum sempat sholat." Kayra melangkah ke kamar mandi di kamar Ibu Sari, karena dia ingin mengambil wudhu karena dia ingin menunaikan ibadah sholat Maghrib.
Setelah selesai sholat Maghrib, Kayra kembali ke kamar karena dia menduga Erlangga pasti sudah menunggunya. Dan benar saja ketika dia membuka pintu kamar di saat yang bersamaan Erlangga menarik handle pintu dari dalam kamar hingga Kayra ikut tertarik ke dalam dan tubuhnya menabrak Erlangga yang langsung menangkap tubuhnya.
" Akkhhh ..." Kayra memekik kaget saat tubuhnya hampir terpental jatuh namun tangan Erlangga dengan cepat menangkap tubuh rampingnya. Bahkan dia tidak sadar jika tangannya sendiri spontan mencengkram erat lengan Erlangga karena dia menjaga agar tubuhnya tidak terjatuh. Kayra mendongakkan kepalanya hingga saat ini wajah tampan Erlangga memenuhi pandangan matanya.
" Apa kamu yakin tidak ingin bersentuhan dengan saya?" Suara Erlangga menyadarkan Kayra yang tertegun.
Kayra langsung melepas cengkramannya di lengan Erlangga dan menepis tangan Erlangga yang menahan tubuhnya.
__ADS_1
" Apa kita mulai sekarang?" Erlangga menundukkan kepala karena dia ingin menciumi leher Kayra.
" Saya belum mandi, Pak." Kayra mencoba melepaskan diri dari Erlangga. Karena dia sendiri merasakan badannya sudah tidak nyaman karena belum mandi.
" Saya bisa membantu membersihkan tubuhmu." Erlangga berputar dan kini berposisi di belakang Kayra dan memeluk tubuh wanita itu dari belakang namun tetap tak menghentikan aktivitasnya mencium ceruk leher Kayra.
" Tidak usah! Saya bisa sendiri." Kayra masih terus berontak namun Erlangga tetap tak melepaskannya.
" Sebentar lagi sholat Isya, saya harus sholat, Pak." Kayra beralasan agar Erlangga tidak terus menahannya. Dan saat Erlangga merenggangkan pelukannya, Kayra segera menepis dengan kasar tangan Erlangga dan melempar tas ke atas sofa lalu bergegas masuk ke dalam kamar mandi.
***
Kayra keluar dari kamar mandi dengan mengenakan bathrobe warna mocha dengan langkah ragu. Dia tadi terburu-buru masuk ke dalam kamar mandi sampai lupa membawa pakaian ganti, sehingga dia hanya mengenakan bathrobe sebatas lutut.
Selama menguyur tubuhnya di bawah shower, Kayra masih mencari cara agar bisa terlepas dari jeratan Erlangga. Walaupun dia sendiri tidak yakin apakah caranya itu berhasil untuk menyelamatkan dirinya dari suaminya.
Kayra melihat Erlangga duduk bersandar di headbord spring bed dengan tangan memegang remote TV terus mencari Chanel televisi yang ingin dia tonton. Mata pria itu kini mengarah ke arahnya saat melihat dirinya keluar dari kamar mandi.
Senyuman terkulum di sudut bibir Erlangga yang melihat penampilan Kayra dengan rambut terurai dan masih lembab karena terkena air. Dia lalu bangkit dan menyambut Kayra lalu mengangkat tubuh Kayra dengan kedua lengannya.
" Pak, saya mau sholat Isya. Tolong turunkan saya!" Kayra meminta Erlangga untuk dilepaskan. Dan seperti biasa, jika Kayra memberi alasan ingin melakukan ibadah sholat, Erlangga mau tidak mau harus melepaskan wanita itu dari kuasanya.
" Cepatlah sembahyang! Dan jangan terlalu banyak memberi alasan lagi!" Erlangga menurunkan tubuh Kayra. Membuat Kayra segera mengambil pakaiannya lalu masuk kembali ke arah kamar mandi untuk berganti pakaian dan mengambil air wudhu.
" Aku tahu kamu sedang mengulur waktu, Kayra. Tapi jangan harap kamu bisa lepas dariku." Seringai kembali terbit disudut bibir pria tampan itu.
Dan selama Kayra melaksanakan sholat Isya, Erlangga terlihat memperhatikan wanita itu dengan lekat. Dia tidak pernah menemui Caroline melakukan apa yang Kayra lakukan selama mereka menikah terkecuali jika mereka merayakan hari raya. Dia dan istrinya terlihat bangga datang ke masjid mengenakan pakaian bagus dan sangat mahal.
" Sudah selesai 'kan sembahyangnya?" tanya Erlangga saat Kayra melepas mukenanya.
" Saya tidak ingin melayani Bapak!" Dengan kalimat yang ketus Kayra berkata kepada Erlangga karena dia tahu Erlangga sedang menantinya.
" Kamu tidak bisa menghindar dari kewajibanmu sebagai istriku, Kayra." Erlangga yang memang sudah menunggu sejak tadi berjalan mendekati Kayra.
" Saya tidak mau, Pak! Bapak tidak bisa memaksakan kehendak Bapak!" Kayra berjalan mundur karena Erlangga makin mendekat ke arahnya.
" Saya hanya menuntut hak saya sebagai suami kamu." Erlangga bertameng dengan posisi dia sebagai seorang suami yang merasa berkuasa terhadap istrinya.
" Bapak harusnya ingat jika pernikahan ini terjadi karena paksaan. Jika Bapak ingin melakukan hubungan suami istri dengan paksaan sama saja Bapak melakukan pemer kosaan terhadap saya!" tuding Kayra.
Erlangga tertawa kencang mendengar tudingan istri mudanya itu. Tentu saja tawa lebar itu baru pertama kalinya Kayra dengar dari Erlangga, karena selama ini dia tidak pernah melihat Erlangga tertawa kencang seperti tadi.
" Mana ada seorang suami memper kosa istrinya. Kau terlalu banyak alasan, Kayra!" Erlangga langsung menyambar tubuh Kayra dan sedetik kemudian dia sudah menghempaskan tubuh ramping Kayra ke atas tempat tidur. Tak lama kemudian dia pun menindih tubuh Kayra dan siap untuk mulai percintaannya.
" Pak, saya tidak mau! Tolong lepaskan saya!" Kayra memukul dada Erlangga sambil berteriak-teriak.
" Diamlah! Dan nikmati saja! Jangan sampai saya benar-benar memper kosamu, Kayra!" Kalimat ancaman langsung keluar dari mulut Erlangga membuat Kayra seketika merinding.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung ...
Happy Reading❤️