MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO

MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO
Ke Salon


__ADS_3

Kayra menyampaikan rencana suaminya yang akan membawanya pergi berbulan madu ke luar negeri kepada Ibunya. Karena menurutnya Ibu Sari harus tahu apa yang terjadi padanya. Kayra pun menjelaskan jika Krisna sudah mengetahui hubungannya dengan Erlangga yang sudah berstatus suami istri. Sepertinya apapun yang dialami oleh Kayra, dia ingin ibu Sari mengetahuinya.


" Syukurlah jika Papa mertuamu itu bisa menerima kamu, Kayra. Setidaknya jika Mama mertuamu menentang keberadaanmu, Tuan Krisna bisa membela kamu, Nak." Ibu Sari merasa sedikit lega karena Papa dari Erlangga merestui pernikahan Erlangga dan Kayra. bahkan Krisna menganggap jika Kayra adalah korban sikap egois Erlangga yang memaksakan kehendak agar mau dinikahinya.


" Iya, Bu. Kayra juga sempat khawatir, apalagi waktu Pak Krisna marah, rasanya dunia hampir runtuh menimpa Kayra, Bu." Kayra menjelaskan kepada Ibu Sari, bagaimana yang dirasakan oleh dirinya saat Krisna berusaha menyelidikinya siang tadi di kantor.


" Lalu bagaimana rencana bulan madunya? Apa kamu tetap akan berangkat ikut ke luar negeri, Nak?" Ibu Sari mengalihkan pembicaraan, membahas seputar rencana bulan madu yang telah dirancang oleh Erlangga.


" Menolak pun Pak Erlangga tetap akan memaksa Kayra untuk pergi, Bu." Kayra menatap pasrah kepada Ibu Sari. Sepertinya dia memang tidak punya kemampuan untuk menolak setiap keinginan Erlangga.


" Seandainya pernikahanmu ini berjalan normal, kamu pasti bahagia sekali, Kayra. Mempunyai suami yang begitu perhatiaan sama kamu. Ya ... walaupun suka memaksa-maksa seperti ini." Ibu Sari justru terkekeh menanggapi sikap Erlangga yang selalu tidak ingin kehendaknya itu ditentang.


Kayra tersenyum samar karena sejujurnya dia pun merasakan hal yang sama. Sikap Erlangga memang memperlihatkan jika pria itu begitu memperhatikannya dan juga berusaha melindunginya. Tak jarang suaminya itu sering melakukan hal yang manis meskipun dengan sedikit memaksa. Apalagi saat siang tadi Erlangga berusaha melindunginya dari cecaran pertanyaan yang dilontarkan Krisna kepadanya.


" Ibu harap perhatian Nak Erlangga terhadapmu tidak pernah surut apalagi jika kamu hamil nanti, Kayra. Oh ya, apa kamu sudah merasakan tanda-tanda hamil, Nak?" Teringat jika anaknya sudah tidak mengkonsumsi pil KB dan aktivitas bercinta yang kadang sering Kayra ceritakan dengan polosnya kepada dirinya, Ibu Sari menanyakan kemungkinan jika Kayra hamil.


" Belum, Bu. Aku belum merasakan apa-apa," jawab Kayra.


" Apa bulan ini kamu sudah menstruasi?" tanya Ibu Sari kemudian.


" Jadwalnya Minggu depan aku baru halangan, Bu." sahut Kayra mengingat jadwal menstruasinya.


" Ya sudah, kalau Minggu depan kamu tidak mendapatkan menstruasi sebaiknya kamu cepat cek kehamilan, agar bisa kelihatan hasilnya. Jadi kamu bisa mulai mengkonsumsi vitamin yang diperlukan untuk ibu hamil." Sebagai orang yang berpengalaman sebagai seorang ibu yang pernah mengandung, Ibu Sari tentu ingin agar Kayra lebih memperhatikan nutrisi yang harus dikonsumsinya jika Kayra hamil nanti.


" Aku kok deg-degan ya, Bu? Kalau sampai hamil anak Pak Erlangga." Sambil memegangi dadanya Kayra menyampaikan perasaannya jika dia benar mengandung benih dari Erlangga.


" Setiap ibu hamil, apalagi hamil anak pertama rasa deg-degan itu wajar, Kayra." Ibu Sari mencoba menenangkan Kayra agar tidak khawatir jika ternyata memang harus hamil anak dari Erlangga.


Sebenarnya bukan karena hamil anak pertama yang membuatnya deg-degan, namun hamil dengan status istri siri Erlangga lah yang masih membuatnya cemas.


Tok tok tok


" Permisi, Nyonya. Nyonya dipanggil Tuan." Atik yang muncul dari pintu kamar Ibu Sari menyampaikan pesan dari Erlangga yang menyuruh Kayra untuk kembali ke kamarnya. Karena setelah makan malam tadi Kayra meninggalkan suaminya itu sendirian di kamar dan berbincang panjang lebar dengan Ibunya.


***


Kayra memasuki sebuah salon langganannya di salah satu mall di Jakarta. Hanya satu bulan sekali dia datang untuk merawat rambut hitam panjangnya. Posisinya sebagai sekretaris menuntutnya harus selalu tampil fresh walaupun tidak dengan perawatan yang mewah. Dia merawat rambutnya di salon agar rambutnya tetap indah dan sehat.


" Hai, Mbak cantik. Ke mana saja baru kelihatan lagi, nih!?" tanya salah seorang pegawai pria yang terlihat gemulai menyapa Kayra.


Kayra tersenyum menanggapi sapaan pria bernama Yanto yang sering dipanggil Mak Yanti jika di salon.


" Ada sedikit kesibukan, Mak. Jadi tidak sempat ke salon bulan kemarin." Karena menghadapi musibah yang menimpa Ibunya dan juga dirinya repot harus mengurusi Erlangga membuat Kayra tidak dapat melakukan perawatan rambut bulan lalu.


Untung saja hari ini Erlangga mengijinkan Kayra pergi ke salon karena Erlangga sendiri ada keperluan yang harus dikerjakan oleh pria itu hingga membuat Erlangga akan telat pulang ke rumah.


" Perawatan seperti biasa atau apa nih, Mbak cantik?' tanya Yanto.


" Hair mask saja seperti biasa, Mak." sahut Kayra.


" Oke, tambah vitamin, ya!? Totalnya seratus dua puluh lima ribu, Mbak cantik." Yanto menyebutkan nominal yang harus dibayar oleh Kayra untuk perawatan rambut yang dipilihnya.


" Debet atau cash, Mbak cantik?" tanya Yanto lagi menanyakan metode pembayaran yang akan digunakan oleh Kayra.


" Cash saja, Mak." Kayra menyodorkan tiga lembar uang lima puluh ribuan. " Biar ada kembalian untuk kasih uang tip yang nanti pegang rambut aku," lanjut Kayra tertawa kecil.


" Uhuuy enaknya ..." celetuk Yanto ikut tertawa kecil dan memberi uang kembalian Kayra. " Ditunggu dua orang lagi, langsung ke dalam saja, Mbak cantik." Yanto menyuruh Kayra untuk masuk ke dalam agar dia cepat dilayani oleh para terapis salon.


" Makasih ya, Mak." Kayra lalu menunggu di kursi tunggu. Dari cermin-cermin di ruangan salon itu dia bisa melihat pegawai-pegawai di dalam yang terlihat sibuk dengan pelanggan masing-masing.


Setelah sepuluh menit menunggu akhirnya giliran Kayra pun tiba untuk dilayani.


" Mbak Kayra ...!" salah seorang pegawai salon memanggil nama Kayra. Kayra pun bangkit dari kursi untuk dilayani oleh terapis salon yang memanggilnya.

__ADS_1


" Hair mask ya, Mbak?" tanya Jamilah, terapis salon yang melayani Kayra.


" Iya, Mbak." sahut Kayra.


" Keramas dulu yuk, Mbak." Jamilah meminta Kayra duduk di kursi keramas dan menyandarkan kepala di washback keramas.


" Oke, Mbak." Kayra lalu memposisikan tubuhnya setengah berbaring di kursi keramas.


" Kurang ke atas sedikit, Mbak." Jamilah meminta Kayra menaikan posisi duduknya. " Saya keramas dulu ya, Mbak. Maaf saya pegang kepalanya." Jamilah dengan santun meminta ijin kepada Kayra karena akan memegang kepala Kayra.


" Oke, Mbak. Silahkan ..." sahut Kayra mempersilahkan Jamilah merawat rambutnya


Kayra menikmati pijatan tangan Jamilah di kepala dengan memejamkan matanya. Setelah selesai dikeramas, Kayra pun berpindah ke kursi di hadapan cermin siap untuk dipakaikan masker rambut.


" Lho, Mbak Kayra ada di sini?"


Seseorang yang duduk di samping Kayra menyapa Kayra sehingga Kayra menoleh ke asal suara tadi.


" Mbak Kayra perawatan di sini juga, ya?" tanya orang itu lagi.


Kayra mendapati seorang wanita yang dia ingat adalah salah satu karyawan yang bekerja di perusahaan Erlangga.


" Eh, oh ... iya, Mbak." Kayra membalas sapaan teman satu kantornya itu.


" Mau pakai apa, Mbak?" tanya Jamilah menanyakan masker apa yang ingin dipakai oleh Kayra seraya memasang jubah untuk Kayra.


" Yang avocado saja, Mbak." ujar Kayra menjawab pertanyaan Jamilah.


" Oke, Mbak. Saya siapkan dulu, ya!?" Jamilah menyiapkan bahan-bahan yang akan dipakai untuk perawatan rambut Kayra.


" Mbak Kayra sendirian ke sini?" tanya rekan kerja Kayra tadi.


" Iya, oh ya, Mbak ini siapa namanya ya? Kita sering ketemu tapi saya belum tahu nama Mbak." Kayra ingat pernah bertemu karyawan itu beberapa kali.


Kayra hanya tersenyum tipis menanggapi candaan Gita. Mana mungkin dia bisa pergi bersama Gita karena dia selalu diantar oleh Koko atau Erlangga sendiri yang mengantarnya.


Kemudian terapis yang melayani Kayra sudah kembali dan mulai memijat kulit kepala kepala dengan membalurkan masker ke rambut Kayra.


" Segini cukup, Mbak?" Jamilah menanyakan apakah pijatan yang dilakukannya cukup nyaman untuk Kayra.


" Agak kencang sedikit dong, Mbak." pinta Kayra.


" Oke, Mbak." Jamilah menambah tenaganya untuk memijat Kayra.


" Mbak Kayra rutin kemari?" tanya Gita kemudian.


" Hanya sebulan sekali, Mbak." sahut Kayra.


" Mbak Kayra ini sudah cantik alami, ditambah treatment rambut di sini cantiknya makin bertambah." Jamilah ikut mengomentari.


" Ah, Mbak Ilah bisa saja." Rona merah membias di wajah cantik Kayra mendengar pujian dari terapis salon itu.


" Beruntung sekali nanti yang jadi suami Mbak Kayra," lanjut Jamilah. " Oh ya, Mbak Kayra pacarnya orang mana?" tanyanya kemudian.


" Hmmm, orang sini saja, Mbak." sahut Kayra asal.


" Mbak Kayra ini cocoknya jadi istri bos, lho. Cari yang bos saja pacarnya, Mbak Kayra. Biar banyak duitnya. Pasti banyak yang mau sama yang cantik kayak Mbak Kayra ini ..." Jamilah berkelakar membuat Kayra menghela nafas panjang. Apakah yang dikatakan Jamilah itu benar? Nyatanya saat ini dia memang berstatus istri seorang bos walaupun masih berstatus istri siri.


Beberapa menit berlalu kini terapis sudah mulai memijat bahu punggung dan tangan Kayra.


" Cincinnya bagus banget, Mbak. Tapi kok kayak cincin kawin, ya!? Lho, Mbak Kayra sudah menikah, ya?" Jamilah terkejut melihat cincin bertahtakan berlian yang melingkar jari manis Kayra. Karena setiap kali ke salon itu, lebih banyak Jamilah yang sering menghandle Kayra ketimbang terapis salon yang lainnya.


" Mbak Kayra sudah menikah? Kapan, Mbak? Kok teman-teman kantor tidak ada yang diundang, Mbak?" Perkataan Jamilah membuat Gita ikut merasa penasaran.

__ADS_1


" Hmmm, ini hanya cincin biasa saja kok, Mbak." Kayra segera menyembunyikan jari yang memakai cincin pernikahannya dengan Erlangga. Jika saja tidak ada Gita, mungkin dia bisa mengaku jika dia memang sudah menikah kepada Jamilah. Namun jika Gita tahu status dia yang sudah menikah, dia takut akan kembali menjadi bahan gosip di kantornya, apalagi gosip yang sebelumnya beredar tentang kedekatan dia dan Wira. Jangan sampai nanti hal tersebut akan dikaitkan hingga menimbulkan dugaan juga Kayra adalah istri simpanan dari Wira.


" Tapi itu cincin malah lho, Mbak. Cincin mahal itu beda lho, Mbak. Saya 'kan dulu pernah kerja di toko jewerly." Jamilah tetap bertahan dengan pendapat awalnya jika cincin yang dipakai Kayra pasti berharga mahal dan bukan cincin biasa saja.


" I-iya, Mbak. Ini cincin tunangan." Kayra mengaku jika cincin yang dipakainya adalah cincin tunangan. Jika hanya bertunangan tidak mengundang teman kantor tidaklah menjadi masalah, berbeda jika menikah secara diam-diam, itu akan menimbulkan tanda tanya besar.


" Wah, berarti tunangan Mbak Kayra ini pasti orang berduit, nih! Cincin begini harganya pilihan juta lho, Mbak." Jamilah masih saja membahas soal cincin pernikahan Kayra.


Kayra hanya membalas dengan senyuman dan melirik ke arah Gita, sebenarnya Kayra tidak nyaman ditanya soal cincin itu oleh Jamilah. Dia sendiri sebenarnya tidak pernah tahu berapa harga cincin yang diberikan oleh suaminya itu.


Sementara itu di basemen mall tersebut mobil Erlangga baru saja terparkir di sana. Setelah menyelesaikan urusannya dia langsung menghubungi Koko karena dia ingin tahu keberadaan istrinya saat ini. Dan saat tahu jika Kayra masih berada di salon, Erlangga pun segera menyusul ke sana.


" Hallo, Pak Koko. Di mana posisi salonnya?" tanya Erlangga saat dia menghubungi Koko untuk mendapatkan informasi posisi Kayra di mall itu.


" Di lantai tiga, Tuan. Jika keluar dari pintu lift posisinya sebelah kiri paling pojok." Koko memberitahu posisi dia yang sedang menunggu di ruangan tunggu salon yang dikunjungi oleh Kayra.


Erlangga segera mematikan panggilan ponselnya saat Koko sudah memberitahu posisi Kayra saat ini.


Erlangga lalu menaiki lift menuju lantai tiga yang disebutkan oleh Koko tadi. Dia kemudian berjalan ke arah kiri dari lantai tersebut setelah sampai di lantai tiga.


" Tuan ..." Koko menghanpiri Erlangga saat Erlangga memasuki salon.


" Di mana, Kayra?" tanya Erlangga mencari keberadaan Kayra di antara orang yang menunggu antrian.


" Nyonya sudah di dalam, Tuan." sahut Koko.


" Pak Koko sebaiknya kembali ke mobil, biar Kayra bersama saya." Erlangga menyuruh Koko untuk meninggalkan salon karena dia sendiri yang akan menemani Kayra di salon.


" Baik, Tuan." Koko lalu keluar dari salon untuk kembali ke mobilnya.


Setelah Koko pergi, Erlangga lalu berjalan ke arah ruangan dalam salon itu.


" Eh, ada artis, noh!"


" Masya Allah, ganteng banget ...."


" Kayak Oppa-Oppa Korea ...."


" Cari siapa, Mas?" tanya salah seorang pegawai salon. Kehadiran Erlangga yang tiba-tiba di salon itu tentu saja menarik perhatian, bukan hanya pegawai salon namun juga para pengunjung yang sedang menunggu ataupun sedang diterapis, hingga beberapa dari mereka saling berisik dengan rasa kagum akan sosok tampan Erlangga.


" Saya cari istri saya!" Erlangga menjawab tanpa mengalihkan pandangan pada orang yang bertanya kepadanya, karena matanya mengedar pandangan mencari sosok istrinya di ruangan tersebut hingga dia menemukan Kayra yang sedang dikeringkan rambutnya oleh seorang pegawai salon laki-laki.


Sontak Erlangga membulatkan bola matanya saat melihat pemandangan seorang lelaki memegang rambut Kayra. Dengan langkah cepat Erlangga menghampiri orang yang sedang mengeringkan rambut Kayra dengan hair dryer.


" Berani sekali menyentuh istri saya!" Erlangga langsung menepis tangan pegawai salon yang sedang mengeringkan rambut Kayra.


Tentu saja apa yang dilakukan oleh Erlangga membuat orang yang ada di ruangan itu terperanjat, termasuk Kayra dan juga Gita yang juga masih belum selesai melakukan treatmentnya.


" Pak Erlangga??" Kayra dan juga Gita tersentak kaget melihat Erlangga yang berkata dengan sangat ketus kepada petugas salon. Kayra dan Gita bahkan sampai berdiri dari duduknya.


" Kenapa kamu membiarkan pria lain menyentuh rambut kamu, Kayra?" geram Erlangga melihat Kayra membiarkan seorang pria menyentuh bagian dari tubuh Kayra walaupun hanya bagian rambut. Dia berpikiran seharusnya Kayra meminta karyawan salon wanita yang melayaninya bukan karyawan pria.


" Pak ..." Kayra melirik ke arah Gita yang masih tercengang dengan sikap Erlangga yang sangat posesif kepada Kayra. Wajah Kayra sendiri seketika menegang dan memucat, dia tidak dapat membayangkan jika Gita nantinya akan menyebarkan tentang keberadaan dirinya dan Erlangga di salon yang sama apalagi Erlangga secara terang-terangan mengatakan jika dia adalah istri dari CEO Mahadika Gautama.


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading❤️

__ADS_1


__ADS_2