MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO

MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO
Berkunjung Ke Kantor Krisna


__ADS_3

Kayra mengepak pakaiannya dan juga pakaian Erlangga ke dalam koper. Lusa dia dan Erlangga akan terbang ke salah satu kota di negara benua biru. Ini adalah pertama kalinya dia berpergian ke luar negeri, dan juga pertama kalinya dia pergi mengunakan pesawat terbang. Sudah bisa dibayangkan bagaimana stresnya Kayra memikirkan penerbangan puluhan jam dari Jakarta ke Torino, Italia.


" Sudah selesai mengepak pakaiannya?" tanya Erlangga pada Kayra yang sedang menutup koper yang akan mereka bawa.


" Sudah, Pak." sahut Kayra.


" Sebaiknya jangan terlalu banyak membawa pakaian. Kita bisa beli pakaian di sana agar tidak terlalu banyak barang yang nanti kita bawa." Melihat jumlah koper yang sudah berjejer di samping lemari pakaian Erlangga menyampaikan pendapatnya.


" Untuk apa beli, Pak? Lebih kita bawa dari sini jadi tidak menghamburkan uang untuk hal yang tidak penting di sana." Seperti itulah prinsip yang Kayra jalani selama ini. Dia jarang membelanjakan uangnya untuk hal yang tidak terlalu diperlukannya hingga dia bisa mengirit pengeluaran.


" Apa kamu lupa jika suami kamu ini seorang bos?" Berkata dengan nada yang terkesan jumawa, Erlangga membalas kata-kata Kayra.


" Meskipun Bapak seorang bos, tapi tidak ada salahnya kita membiasakan lebih tertib dalam membelanjakan dan mengatur keuangan. Saya tidak ingin membiasakan diri dengan gaya hidup Bapak selama ini." Kayra tetap menolak usulan Erlangga.


" Lagipula sudah saya packing semua barang-barannya. Jika Bapak berpikir seperti itu, kenapa tidak sejak tadi Bapak memberitahunya!?" gerutu Kayra, karena saat dia repot memasukan pakaian ke dalam koper, Erlangga justru sibuk dengan laptopnya. Sejak tinggal bersama Kayra, pria itu memang membiasakan diri pulang tepat waktu dan memilih menyelesaikan pekerjaannya di rumah, agar dia lebih puas bersama Kayra.


" Hei, jangan menggerutu kepada suami!" Erlangga terkekeh meledek Kayra.


" Empat koper saat pergi, pulang nanti bisa bawa lima atau enam koper." Erlangga berpikir mereka pasti akan membeli oleh-oleh saat kembali ke tanah air.


" Kenapa bisa lebih banyak, Pak?" tanya Kayra heran.


" Karena kita akan membawa oleh-oleh untuk orang-orang di sini," sahut Erlangga. " Maka dari itu kita tidak usah membawa banyak barang dari sini," ujar Erlangga kembali.


" Semuanya sudah beres, apa harus saya bongkar dan pilih-pilih lagi?" Kayra merasa kesal karena Erlangga mengomentari apa yang sudah dikerjakannya tadi.


" Ya sudah kalau kamu ingin membawa yang sudah kamu packing tadi. Tapi tidak usah menekuk wajahmu seperti itu." Erlangga merangkul pundak Kayra lalu mengecup pipi Kayra dengan cepat sebelum wanita itu menghindar.


" Besok kita akan temui Papa untuk minta ijin karena kita akan pergi bulan madu."


Kayra menoleh dengan cepat ke arah suaminya. Bertemu dengan Papa dari suaminya? Rasanya dia masih sangat malu bertemu kembali dengan Krisna, apalagi sekarang datang menemui Papa mertuanya itu untuk minta ijin pergi berbulan madu di saat urusan perceraian Erlangga dan Caroline belum tuntas.


" Kita akan menemui Pak Krisna di mana, Pak?" tanya Kayra kemudian.


" Di kantornya, atau kamu ingin bertemu Papa di rumah, biar kita sekalian pamit pada Mama saya?" Erlangga sengaja menggoda Kayra hingga membuat wanita cantik itu terperangah.


" Tidak, tidak, Pak. Saya takut harus bertemu dengan Ibu Helen sekarang ini." Masih terngiang di telinga Kayra saat Mama dari suaminya itu menghina Caroline dan Mama Ivone di rumah sakit. Rasanya sangat menyeramkan jika dia pun akan diperlakukan sama seperti mereka.


" Kenapa? Mama saya itu 'kan Mama mertua kamu, Kayra."


" Saya tahu, Pak. Tapi bagaimana jika Ibu Helen menolak dan mengusir saya?" Kayra tidak dapat membayangkan jika dirinya mengalami penolakan seperti yang dilakukan Helen kepada Caroline.


" Kamu tidak usah khawatir, saya akan menjaga kamu. Kalau Mama berani mengusir kamu, saya juga akan pergi dan tidak akan lagi berkunjung ke sana!" Erlangga bahkan mengancam akan bertindak tegas dengan tidak akan menemui Mamanya lagi jika sampai Helen mengusir Kayra.


Sikap Erlangga itu sontak membuat Kayra terkejut, walaupun tindakan Erlangga itu membela dirinya namun dia tidak setuju jika tindakan Erlangga yang marah kepada Helen.


" Bapak jangan bicara seperti itu! Ibu Helen itu orang tua Bapak sendiri, orang yang melahirkan Bapak. Tidak akan menjadi berkah hidup kita jika kita memusuhi orang tua kita apalagi membuat hati Ibu sendiri sedih dan sakit hati." Kayra mencoba menasehati Erlangga agar berhati-hati dalam mengambil tindakan yang membuat orang tua kecewa.


" Tapi Mama selalu bertentangan dengan saya, Kayra. Kamu dengar sendiri bagaimana Mama menghina Caroline di depan orang tua Caroline, kan? Itu hal yang tidak pantas Mama lakukan. Lagipula selama ini Mama menginginkan saya menikah dengan Agnes, apa kamu pikir sikap Mama saya itu benar? Mengharapkan rumah tangga anaknya hancur karena Mama mempunyai ambisi tersendiri?" Erlangga merasa jika tindakan menentang Mamanya itu benar, karena keinginan Helen tidak seharusnya dilakukan oleh seorang Mama terhadap anaknya.


" Bagaimanapun sikap Ibu Helen, seharusnya Bapak bisa lebih bijak menyikapinya, tidak harus dengan pertengkaran dan saling keras kepala." Kembali sebuah nasehat diucapkan oleh Kayra karena dia tidak ingin Erlangga menjadi anak yang durhaka terhadap orang tuanya.


" Seandainya Mama mau membuka mata hatinya, pasti Mama akan bersyukur mempunyai menantu yang baik dan tulus sepertimu, Kayra." Jemari tangan Erlangga mengusap wajah halus Kayra, dia sendiri merasakan jika kehadiran Kayra lambat laun akan membawa perubahan positif kepada dirinya hingga menjadikan dirinya pribadi yang lebih baik.


Kayra hanya mende sah, walaupun harus dia akui, sebagai seorang menantu dia menginginkan mempunyai mertua yang sayang dan menerima kehadirannya, namun dia tidak berani berharap banyak bisa mendapatkan itu dari Helen.


***


" Gita, tolong kamu pesankan menu untuk makan siang saya dan Kayra!" Saat keluar dari ruangan Wira setelah berbincang dengan asistennya itu, Erlangga langsung memberikan. perintah kepada Gita yang sedang menperhatikan Kayra mengerjakan pekerjaannya.

__ADS_1


" Baik, Pak." Gita segera berdiri merespon apa yang ditugaskan Erlangga kepadanya.


" Bukannya Bapak bilang kita akan ke kantornya Pak Krisna lalu makan siang bersama Pak Krisna?" Mendengar perintah Erlangga kepada Gita, Kayra mengingatkan suaminya soal rencana mereka mengunjungi kantor Papa dari Erlangga itu.


" Ah, iya ... saya lupa. Ya sudah kita siap-siap ke kantor Papa sekarang." Pungkas Erlangga mengakhiri kalimatnya lalu berjalan masuk ke dalam ruangannya.


Kayra segera merapihkan mejanya mendengar suaminya itu menyuruhnya untuk bersiap-siap.


" Mbak Kayra kenapa panggilannya resmi sekali sama Pak bos?" Selama beberapa hari bertugas bersama Kayra, Gita sering mendengar perbincangan antara Kayra dan Erlangga yang selalu menggunakan bahasa yang resmi.


" Memangnya kenapa, Mbak? Pak Erlangga 'kan bos saya juga di sini." Kayra beralasan jika panggilan itu adalah hal yang wajar dalam lingkungan kantor.


" Berarti kalau di rumah ada panggilan khusus ya, Mbak? Sayang atau Babe gitu?" Gita justru menggoda Kayra membuat wajah putih Kayra bersemu.


" Tidak juga, Mbak. Saya biasa panggil seperti biasa saja seperti di kantor," aku Kayra jujur.


" Masa panggil Bapak sih, Mbak? Tidak ada romantis-romantisnya sama sekali itu ..." Gita berpendapat.


" Memangnya saya harus panggil apa, Mbak? Saya malu harus panggil dengan sebutan yang lain, Mbak." Kayra memang tidak terbiasa menyebut Erlangga dengan panggilan lain selain Pak atau Bapak.


" Kenapa harus malu, Mbak? Pak bos 'kan suami Mbak Kayra sendiri. Lagipula ... maaf ya kalau saya tanya begini, Mbak sering berhubungan suami istri dengan Pak bos, kan?"


Ditanya seperti itu, wajah Kayra semakin memperlihatkan semu merah. Rasanya malu sekali membahas urusan ranjang dengan orang lain.


" Jangan bicara soal itu deh, Mbak. Saya malu ..." Kayra mengibas tangan ke udara meminta Gita tidak membahas soal itu lagi.


Gita terkekeh menanggapi komentar Kayra lalu berucap, " Maksud saya kalau Mbak sudah terbiasa melakukan hubungan dengan Pak Erlangga harusnya Mbak Kayra tidak usah malu mengganti panggilan untuk Pak bos, Mbak." Gita menjelaskan maksud pertanyaannya kepada Kayra.


" Mbak Kayra 'kan bisa ganti panggilan Bapak menjadi Mas saja kalau Mbak Kayra malu mengganti dengan panggilan sayang atau babe." Gita seakan mengajari Kayra bagaimana Kayra harus memanggil suaminya itu.


" Kamu sudah selesai, Kayra?" Tiba-tiba Erlangga sudah muncul dari pintu ruangannya.


Erlangga langsung melingkarkan tangannya di pinggang Kayra lalu berjalan ke arah lift. Sementara Kayra yang merasa tidak enak karena Erlangga tanpa ada rasa canggung memperlihatkan kemesraannya langsung menoleh ke belakang melihat Gita yang terlihat mengacungkan jempolnya ke atas dan mengedipkan mata ke arahnya.


***


" Git, kok kamu bisa dipilih jadi sekretaris Pak bos, sih? Kamu pakai jampe-jampe, ya!? Sampai mendapatkan jabatan enak itu?" Saat makan siang, beberapa teman Gita dari satu divisi yang dia tempati terdahulu menanyakan bagaimana Gita bisa menempati posisi sekretaris Erlangga.


" Eh, maaf-maaf, ya! Hari gini masih percaya jampe-jampe? Capek, deh!" Gita menepuk jidatnya menanggapi komentar rekan-rekannya.


" Tapi iya, lho! Kok bisa kamu dikasih posisi itu? Kamu mimpi apa sih, Git?" tanya Rani meneruskan pertanyaan Susi sebelumnya.


" Itu namanya rezeki orang baik." Dengan terkekeh Gita menjawab pertanyaan Rani.


" Ngomong-ngomong, kenapa Pak bos pakai dua sekretaris, ya? Memangnya sekretarisnya itu kenapa?" tanya Susi heran karena Erlangga mempekerjakan dua sekretaris.


" Kayaknya sih karena Mbak Kayra akan resign." Teringat ucapan Erlangga soal larangan bekerja kepada Kayra jika Kayra hamil, Gita menggunakan alasan itu. Karena jawaban yang diberikannya adalah jawaban yang paling masuk akal, walaupun tetap akan ada pertanyaan kenapa dirinya yang dipilih bukan karyawan yang lebih berkompeten untuk mendapatkan posisi itu.


" Sekretaris bos mau resign? Kenapa memangnya? Apa karena gosip yang beredar kemarin?" selidik Rani penasaran.


" Kalian jangan membicarakan soal gosip kemarin kalau kalian tidak ingin mendapatkan masalah!" Gita memperingatkan rekan-rekannya agar hati-hati dan tidak membahas soal gosip yang melibatkan Kayra lagi.


" Oh ya maaf, Mbak sekretaris." Rani meledek Gita seraya melakukan gerakan hormat kepada Gita lalu tertawa.


" Tapi kenapa sekretaris bos resign, Git? Jadi sekretaris perusahaan ini 'kan gaji dan tunjangannya besar, sayang sekali kalau harus resign," ucap Susi lagi.


" Katanya sih mau menikah, dan calonnya itu posesif banget, tidak memberikan ijin jika sudah menikah nanti." Gita kembali memberi alasan yang tidak akan membuat karyawan lain curiga dengan kedekatan Kayra dan Erlangga. Apalagi mereka berdua sebentar lagi akan pergi berlibur bersama. Gita menyebutkan jika calon dari Kayra sangat posesif karena dia ingat bagaimana sikap Erlangga yang dia lihat selama beberapa hari bekerja bersama Kayra, terutama saat di salon hingga membuatnya mendapatkan berkah naik jabatan menjadi asisten pribadi, bahkan kemungkinan akan menjadi sekretaris Erlangga menggantikan Kayra jika Kayra sudah resmi menjadi istri sah Erlangga.


***

__ADS_1


" Selamat siang, Mas Erlangga." Sekretaris dari Krisna langsung bangkit dan menyapa Erlangga saat melihat kehadiran Erlangga bersama Kayra di kantor Krisna.


" Papa saya ada, Mbak Dewi?" tanya Erlangga kepada sekretaris Papanya yang sudah lebih dari lima belas tahun bekerja di perusahaan Krisna


" Ada, Mas." Dewi lalu berjalan untuk membukakan pintu ruangan Krisna.


Setelah mengetuk pintu Dewi lalu membuka handle pintu ruang kerja Krisna dan mempersilahkan Erlangga masuk ke dalam.


" Silahkan, Mas."


" Terima kasih ..." Erlangga bersama Kayra masuk ke dalam ruangan itu.


" Selamat siang, Pa." Erlangga menyapa Krisna yang masih berkutat dengan aktivitasnya di depan meja kerjanya.


" Assalamualaikum. Pak." Kayra berusaha menyapa dengan memberi salam kepada Papa mertuanya itu.


" Waalaikumsalam, Kayra, Erlangga. Kalian duduklah dulu, Papa sebentar lagi selesai ..." Krisna yang terlihat masih sibuk dengan pekerjaannya menyuruh putranya dan menantunya untuk menunggu terlebih dahulu.


Erlangga lalu mengajak Kayra duduk di sofa. Kayra sebenarnya ingin mencium tangan Krisna sebagai rasa hormat kepada Papa mertuanya itu, namun karena Krisna terlihat sibuk, dia mengurungkan niatnya. Dia berpikir nanti saja jika Krisna sudah selesai bekerja dan berbincang dengan mereka dia akan menyalami Papa mertuanya itu. Jantung Kayra sendiri saat ini berdegup kencang karena harus berhadapan dengan Krisna kembali meskipun Krisna sudah bisa menerima posisinya sebagai istri Erlangga walau masih berstatus istri siri.


" Apa kami mengganggu Papa?" Melihat Krisna masih terlihat sibuk, Erlangga bertanya karena dia takut mengganggu aktivitas Papanya biarpun dia sudah mengabari akan berkunjung ke kantor Krisna sebelumnya.


" Tidak, Lang. Sebentar lagi juga selesai," sahut Krisna.


" Apa kamu sudah merasa lapar?" tanya Erlangga kepada Kayra karena jam sudah menunjukkan pukul setengah satu siang.


" Belum, Pak. Tapi saya ingin Dzuhur dulu. Sambil menunggu Pak Krisna menyelesaikan pekerjaannya sebaiknya kita sholat dulu saja, Pak." Kayra mengajak Erlangga melaksanakan kewajiban ibadahnya terlebih dahulu.


" Ya sudah, ayo ..." Erlangga lalu bangkit dan mengulurkan tangannya kepada Kayra.


" Kalian mau ke mana?" Melihat Erlangga bangkit dari tempat duduk membuat Krisna bertanya.


" Kami mau sholat dulu, Pa." sahut Erlangga.


Tentu saja jawaban yang diberikan Erlangga membuat Krisna tertegun beberapa saat. Sejauh ini dia jarang sekali melihat putranya itu melaksanakan ibadahnya. Dan sekarang dia mendengar sendiri Erlangga berpamitan ingin melaksanakan sholat, seketika hatinya terasa seperti diterpa angin sejuk. Dia bahkan mengembangkan senyuman seraya menganggukkan kepalanya memberi ijin kepada Kayra dan Erlangga untuk melaksanakan sholat terlebih dahulu.


Sekitar dua puluh menit kemudian, Kayra dan Erlangga sudah kembali ke ruangan kerja Krisna. Krisna pun terlihat sudah duduk di atas sofa dengan ponsel di tangannya.


" Kalian sudah selesai?" tanya Krisna melihat kehadiran Erlangga dan Kayra kembali di ruangannya.


" Sudah, Pa." sahut Erlangga duduk di samping Papanya. Sementara Kayra langsung bersalaman dan mencium punggung tangan papa mertuanya itu.


Apa yang dilakukan Kayra kembali membuat Krisna terpukau. Sikap yang ditunjukkan wanita yang berstatus istri siri anaknya itu menunjukkan seorang wanita yang santun.


" Ada apa kalian kemari?" tanya Krisna saat Kayra sudah duduk di kursi di dekat sofa yang diduduki oleh Erlangga juga Krisna.


" Begini, Pa. Aku dan Kayra berencana akan pergi bulan madu ke Italia besok selama satu Minggu ke depan, karena itu kami mau minta ijin ke Papa sebelum berangkat ke sana " Erlangga menyampaikan rencananya yang akan berangkat berbulan madu.


" Bulan madu ke Italia?" Krisna mengeryitkan keningnya saat mendengar penjelasan dari Erlangga soal rencana bulan madu anak dan menantunya itu ke luar negeri. Bahkan pandangannya kini terarah menatap Kayra. Baru saja dia dibuat terkagum dengan sikap Kayra. Namun mendengar rencana bulan madu ke Italia, membuatnya bertanya-tanya karena sidang perceraian Erlangga dan Caroline belum beres, tapi kenapa mereka berdua sudah memutuskan untuk pergi bersenang-senang.


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading❤️

__ADS_1


__ADS_2