
" Mas, Mas, berhenti ...!!" Saat melintasi sebuah mini market, Kayra tiba-tiba meminta Erlangga menghentikan laju kendaraannya.
" Ada apa?" tanya Erlangga memperlambat kecepatan berkendaraannya saat Kayra yang memintanya untuk berhenti.
" Aku mau itu, Mas." Kayra menunjuk gerobak buah yang ada di pekarangan mini market yang dilewatinya tadi.
" Kamu mau beli apa di mini market itu?" Menduga istrinya ingin membeli sesuatu di dalam mini market, Erlangga bertanya apa yang dibutuhkan oleh Kayra.
" Bukan, Mas. Aku bukan mau beli barang di mini market, tapi aku mau itu ... rujak buah." Kayra kembali menunjuk ke arah gerobak buah.
" Rujak buah?" Erlangga akhirnya menemukan apa yang dimaksud oleh Kayra.
" Kita beli di supermarket saja kalau kamu ingin makan buah. Aku takut di sini tidak higienis karena di jual di tepi jalan, pasti banyak debu dan bakteri yang akan menempel di buah itu, itu berbahaya untuk kesehatan kamu dan janin di perut kamu, Sayang." Erlangga melarang Kayra yang ingin membeli rujak buah di pelataran mini market tersebut.
" Tapi aku mau yang itu saja, Mas. Itu bersih, kok." Kayra bahkan mengguncang lengan Erlangga agar suaminya itu cepat memenuhi permintaannya.
" Kamu yakin itu aman?" Erlangga masih kurang yakin jika buah yang dijual pedagang rujak buah itu higienis untuk istri dan bayinya.
" Iya, Mas. Aku sering makan rujak buah seperti itu, kok." Kayra mengangguk berusaha meyakinkan.
" Ya sudah, kamu di sini saja, biar aku yang beli." Erlangga menepikan mobilnya lalu membuka seat belt dan turun dari dalam mobil.
" Mas, yang pedas, ya!?" teriak Kayra setelah suaminya itu keluar dari dalam mobil.
Beberapa menit kemudian, Erlangga sudah kembali ke dalam mobil dengan membawa potongan buah melon dan pepaya di wadah mika yang dibungkus kantong plastik putih transparan.
" Ini pesananmu ..." Erlangga menyodorkan buah yang diminta Kayra.
" Lho, kok pepaya sama melon sih, Mas?" Melihat hanya ada melon dan pepaya, Kayra langsung memprotes Erlangga, karena buah yang dia inginkan adalah mangga muda dan kedondong.
" Memang kamu maunya apa?" tanya Erlangga bingung atas protes yang dilayangkan oleh istrinya itu.
" Aku mau buah mangga sama kedondong, Mas."
" Buah itu masih mentah, Kayra. Belum matang, pasti akan asam sekali rasanya." Bahkan Erlangga sampai mengedikkan bahunya membayangkan rasa asam dari kedua buah yang disebutkan Kayra tadi.
" Tapi aku maunya itu, Mas. Biar bisa mengurangi rasa mual di perutku ..." Kayra berkata manja dengan mengusap perutnya.
" Tidak, Kayra! Itu asam sekali dan tidak baik untuk perutmu." Erlangga tetap menolak permintaan Kayra.
Kayra langsung mengerucutkan bibirnya karena suaminya itu menolak keinginannya. Erlangga tahu jika keinginan Kayra adalah bawaan dari kehamilan wanita itu. Erlangga juga tahu jika saat ini Kayra sedang mengalami ngidam, keinginan yang kadang diinginkan oleh wanita hamil. Namun, walaupun permintaan yang diminta istrinya itu harganya murah, tapi dia tidak ingin melihat istrinya itu mengalami sakit perut karena memakan buah yang asam.
" Kita cari buah mangga yang matang .saja nanti di supermarket, ya!? Kamu jangan mengambek seperti itu, dong." Erlangga membelai wajah istrinya yang memberengut.
" Mas tidak menuruti keinginan ngidam aku. Kalau ngidam itu harus dituruti, Mas. Kalau beli di supermarket sama juga bohong! Aku 'kan inginnya rujak buah yang itu." Kayra menepis tangan Erlangga yang membelainya.
" Baiklah, aku akan membelikan permintaanmu, tapi jangan dimakan banyak-banyak, ya!?" Erlangga meminta Kayra tidak memakan buah yang diinginkan Kayra dalam jumlah banyak.
" Iya, Mas." Kayra mengangguk seraya tersenyum. " Cuma buat menyegarkan tenggorakan saja, kok." Tangan Kayra mengusap lehernya.
Erlangga akhirnya mengalah dan membelikan rujak buah yang diinginkan Kayra agar istrinya itu tidak terus memberengut.
Setelah memenuhi keinginan sang istri, Erlangga kini kembali mengendarai mobilnya menuju arah kantor. Sekitar sepuluh menit kemudian mobil yang dia kendarai sudah memasuki basemen gedung Mahadika Gautama.
__ADS_1
Erlangga buru-buru membukakan pintu mobil untuk Kayra setelah dia keluar dari mobilnya.
" Mas, jangan terlalu mencolok seperti ini kalau di kantor, nanti ada karyawan yang melihat dan akan ada orang yang tahu kedekatan kita!" Kayra memperingatkan Erlangga agar jangan terlalu mencolok memperlihatkan kemesraan mereka berdua di depan karyawan kantor.
" Biarkan saja! Sebentar lagi juga mereka akan tahu status kamu. Ayo ...!" Erlangga mengajak Kayra ke arah lift. Jika saja bukan di kantor, Erlangga pasti sudah menggenggam tangan Kayra.
" Mas ...."
Kayra merasa tidak nyaman dengan Erlangga yang langsung merangkul pundaknya lalu mengecup pipi Kayra saat mereka sudah berada di dalam lift.
" Mas, jangan begini ... nanti ada yang lihat."
" Ini lift khusus, Sayang. Tidak semua orang bisa menggunakan lift ini." Erlangga kembali mencium pipi Kayra.
" Tapi, Mas ...."
Erlangga benar-benar tidak memperdulikan keluhan sang istri yang memintanya untuk tidak bermesraan saat di kantor hingga mereka sampai di lantai sembilan dan pintu lift pun terbuka.
" Erlangga, apa yang kamu lakukan!?"
Suara bentakan Helen terdengar menggema di ruangan saat melihat aktivitas yang dilakukan Erlangga dan Kayra di dalam lift. Sontak teriakan Helen mengejutkan semua yang melihat termasuk sepasang insan yang sedang dimabuk cinta tersebut.
" Mama?"
" I-ibu ?'"
Erlangga dan Kayra sama-sama tercengang mendapati sosok Helen yang berdiri dengan wajah dipenuhi aura kemarahan dan sorot mata tajam menatap Erlangga juga Kayra. Kayra bahkan langsung menjauhkan tubuhnya dari Erlangga karena Erlangga merenggangkan rangkulannya di pundak Kayra.
" Apa yang kamu lakukan dengan sekretarismu ini, Erlangga!? Apa kamu tidak waras!? Dia ini sekretarismu, apa kamu mau ingin membuat skandal di kantor ini!?" geram Helen berjalan ke arah dua orang yang baru muncul dari lift itu, bahkan tatapannya kini memandang penuh kebencian kepada Kayra.
" Hentikan, Ma! Apa yang Mama lakukan!?" Erlangga kini yang terlihat marah karena Mamanya hendak menampar Kayra.
" Lepaskan, Erlangga! Mama ingin memberi pelajaran pada wanita murahan ini karena sudah berani menggoda kamu!" Helen terlihat murka karena Erlangga menghalanginya.
" Tidak ada yang boleh menyakiti Kayra termasuk Mama!" Erlangga bahkan menarik tangan Kayra lalu mendekapnya.
Suasana semakin terlihat tegang saat Erlangga sengaja memeluk Kayra di depan Mamanya dan Agnes, Sementara Wira yang berada di antara mereka sampai menahan nafas melihat perdebatan yang terjadi antara Erlangga dan Helen. Dia tahu suatu saat hal ini akan terjadi, namun dia tidak menduga jika kejadian ini berada tepat di depannya. Sedangkan Gita bahkan sampai tercengang tak berkedip melihat kemarahan Helen yang hampir menampar Kayra. Dia bisa membayangkan bagaimana perasaan Kayra saat ini.
Melihat Erlangga yang melindungi Kayra bahkan sampai memeluk wanita yang mereka tahu sebagai sekretaris Erlangga, Helen terlihat semakin berang, sementara Agnes sendiri langsung terbakar cemburu melihat bagaimana mesranya sikap Erlangga terhadap Kayra.
" Maaf, Bu. Sebaiknya Ibu Helen dan Pak Erlangga membahas ini di dalam ruangan saja, tidak enak jika ada karyawan lain yang nanti mendengar." Wira berusaha meredam perdebatan antara Ibu dan anak itu dan menyarankan untuk berbicara di dalam ruangan Erlangga.
Erlangga langsung mengerti ucapan Wira, dia lalu membawa Kayra ke dalam ruangannya disusul Helen dan Agnes di belakangnya.
" Pak, bagaimana ini?" Gita yang seperti baru tersadar dari keterkejutannya bertanya kepada Wira dengan ada cemas.
Wira hanya mengedikkan bahunya, dia sendiri tidak tahu akan bagaimana nasib Kayra setelah Helen tahu. Dia lalu ikut masuk ke dalam ruangan Erlangga karena dia takut terjadi sesuatu pada Kayra.
" Apa maksud dari semua ini, Erlangga? Kamu dengan wanita murahan ini ...."
" Jangan pernah menyebut Kayra dengan kalimat itu!" Erlangga memprotes Mamanya yang menghina Kayra dengan mengatakan sebagai wanita murahan.
Kayra sendiri yang terlihat syok karena kepergok Helen bahkan hampir menerima tamparan dari Mama mertuanya itu hanya bisa menangis, apa yang dia takutkan benar-benar menjadi kenyataan, bahkan terjadi dengan begitu cepat. Helen mengetahui hubungan mereka dan kini Helen menghinanya sama seperti saat Caroline menghinanya.
__ADS_1
" Memangnya kenapa? Apa dia yang akhirnya membuat kamu menceraikan Caroline? Demi Tuhan, Erlangga. Mama lebih tidak setuju kamu bersama wanita ini dibanding Caroline! Apa kamu buta, Erlangga!? Dia itu hanya karyawan kamu, dia itu tidak pantas untuk kamu! Mama tidak terima kamu bersama dia!" Helen seperti kesetanan, dia tidak terima dengan kedekatan Erlangga dan juga Kayra.
" Suka atau tidak suka, Mama harus harus menerima kenyataan. Saat ini Kayra adalah istriku, dia adalah menantu Mama. Dan sebentar lagi akan menjadi Ibu dari anakku, juga Ibu dari cucu Mama!"
Perkataan Erlangga kali ini benar-benar membuat Helen dan Agnes syok, apalagi Agnes yang sangat berharap menjadi istri Erlangga menggantikan posisi Caroline.
" A-apa Mama tidak salah dengar? Dia istri kamu?" Seketika Helen menangis kencang karena kecewa dengan fakta yang sebenarnya tentang hubungan putranya dengan Erlangga.
" Mama tidak sudi mempunyai menantu dia, Erlangga! Mama tidak terima! Ini sangat memalukan, kita ini keluarga terpandang, Papamu itu orang terhormat, Lang. Kenapa kamu memilih wanita seperti dia menjadi istrimu!?" Nada-nada tinggi terus keluar dari mulut Helen.
" Kalau Mama tidak setuju dengan pilihan aku, sebaiknya Mama pulang saja, dan jangan pernah mengusik kami!" Bahkan Erlangga mengusir Helen. " Saat ini Kayra sedang mengandung anakku, jadi aku harap Mama tidak ikut campur rumah tanggaku dengan Kayra!" tegas Erlangga tak menoleh ke arah Mamanya, dia terus berusaha menenangkan Kayra yang masih terus menangis.
Apa yang kamu lakukan pada anak saya, sekretaris tidak tahu diri!?" Helen menarik tangan Kayra yang sedang berada dalam dekapan Erlangga.
" Hentikan, Ma!" Erlangga membentak Helen, dia bahkan menyingkirkan tangan Helen dari tangan Kayra karena Helen seperti orang yang tidak berperasaan menyerang Kayra yang sedang mengandung cucunya sendiri.
" Ibu, sebaiknya Ibu tenang. Jangan bersikap seperti ini. Kayra sedang mengandung anak Pak Erlangga, cucu Ibu Helen dan Pak Erlangga." Wira ikut membantu menenangkan Helen.
" Saya tidak sudi punya menantu dia, Wira! Saya tidak sudi mempunyai cucu dari wanita miskin itu!" Cacian terus saja dilontarkan Helen kepada Kayra.
" Sebaiknya Mama tinggalkan kantor ini! Aku tidak suka Mama menyakiti ibu dari calon anakku!" Kembali Erlangga mengusir Mamanya.
" Pak Erlangga benar, Bu. Sebaiknya Ibu pulang saja, jika terus seperti ini yang ada hanya pertengkaran yang ada. Dan akan menimbulkan pertanyaan karyawan di sini." Wira berusaha menengahi. Wira adalah satu satu orang kepercayaan keluarga Mahadika Gautama, tentu saja dia sangat dekat dengan keluarga Erlangga.
" Sebaiknya Anda membawa Ibu Helen pulang." Wira menyuruh Agnes membawa Helen pergi dari ruangan Erlangga. Wira takut Helen akan semakin mengamuk menyerang Kayra dan dia juga takut Erlangga akan kalap karena melindungi istrinya.
" Tidak, Wira! biarkan saja seluruh karyawan kantor ini tahu wanita seperti apa dia ini!" Helen menunjuk ke arah Kayra yang hanya menenggelamkan wajahnya di dada Erlangga, tak berani menatap Helen.
" Silahkan Mama melakukan hal itu, dan aku tidak akan memaafkan Mama seumur hidupku!" ancam Erlangga geram karena Helen berencana memberitahu hubungannya dengan Kayra, dan juga menjelek-jelekkan Kayra pada karyawan Mahadika.
Helen semakin tersulut karena sikap Erlangga dinilainya jauh lebih kasar saat ini setelah bersama Kayra, membuat kebencian wanita paruh baya itu kepada Kayra semakin menjadi.
" Kamu benar-benar keterlaluan, Erlangga! Kamu berani membentak Mama, kamu bersikap kasar terhadap Mama! Pasti ini semua karena ulah wanita kampung itu, kamu jadi tidak punya sopan santun terhadap Mama!" Helen terus saja menyalahkan Kayra karena perubahan sikap Erlangga yang semakin menentangnya.
" Kamu, kamu pasti telah mempengaruhi anakku, dasar perempuan tidak tahu malu! Kamu pasti sedang mengincar harta anak saya, kan!? Kamu itu tidak pantas untuk Erlangga, Erlangga itu hanya pantas dengan wanita terhormat seperti Agnes!" Kembali Helen menyerang Kayra dengan caci maki, bahkan membandingkannya dengan Agnes yang dianggapnya lebih tepat dan berkelas untuk Erlangga.
" Jangan bandingkan Kayra dengan dia, Ma! Kayra lebih terhormat daripada teman Mama itu!" Erlangga menatap sinis kepada Agnes.
" Apa katamu? Dia lebih terhormat dari Agnes!? Dia itu berani menikah dengan wanita beristri kamu bilang wanita terhormat!? Dia itu bermimpi ingin menjadi bagian keluarga Mahadika Gautama!" cibir Helen.
" Aku yang memaksa Kayra agar mau aku nikahi. Aku mengancam Kayra kalau tidak mau menjadi istriku. Dia terhormat karena dia tidak menggodaku, tidak sepeti teman Mama ini, yang begitu berharap menikah dengan pria yang sudah beristri. Apa itu yang Mama bilang terhormat!?" Kini Erlangga menyerang balik Agnes yang langsung merah padam disundutkan dan disindir Erlangga.
" Seorang wanita terhormat itu punya harga diri, tidak akan mau dijodohkan dengan pria beristri! Tapi teman Mama ini justru dengan senang hati dijodohkan dengan suami dari wanita lain." Erlangga tersenyum meremehkan Agnes, karena wanita itu selalu saja menempel pada Mamanya dan berharap menjadi istrinya.
" Mama tidak terima! Mama akan laporkan hal ini ke Papamu, Erlangga!" Helen mengertak Erlangga sebelum akhirnya meninggalkan ruangan. kerja Erlangga bersama Agnes dengan bersungut-sungut.
" Saya permisi dulu, Pak." Setelah Helen beranjak meninggalkan ruangan Erlangga, kini Wira pun berpamitan kepada bosnya untuk meninggalkan ruangan itu.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung ....
Happy Reading❤️