MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO

MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO
Pelarian


__ADS_3

Sudah lebih dari dua puluh menit mobil yang membawa Kayra dan Ibu Sari berjalan, namun tak juga sampai ke tempat tujuan. Padahal menurut informasi dari Diah, tempat yang rencananya akan dia huni tidak lebih dari lima belas menit jaraknya dari rumah kontrakan terdahulu.


" Pak, maaf ... apa Bapak tahu tempat yang saya tuju? Saya memang belum pernah ke sana tapi menurut informasi tempatnya tidak jauh, alamatnya jelas dan tidak sulit mencari alamat itu." Kayra memang bermodalkan nekat datang ke rumah itu padahal dia sendiri belum pernah mengunjungi tempat barunya.


" Nona tenang saja, saya akan membawa Nona sesuai perintah."


Kayra mengeryitkan keningnya seraya menatap ke arah kaca spion untuk melihat wajah sang pengemudi, karena kata-kata yang diucapkan supir itu begitu mencurigakan menurutnya.


" Tapi kenapa tidak sampai-sampai ya, Pak? Padahal ini sudah lebih dari waktu yang dibutuhkan untuk sampai di tempat itu, Pak." Rasa khawatir sudah mulai menyeruak di hati Kayra.


" Sebenarnya Mas ini tahu atau tidak tempatnya? Kami sedang buru-buru agar tidak ketinggalan kereta lho, Mas." Ibu Sari pun ikut bertanya karena dia takut akan telat sampai di stasiun kereta yang akan membawa ke Bandung pukul 06.40.


" Seperti yang saya katakan tadi, saya akan membawa Nona sesuai yang diperintahkan." Kalimat yang sama kembali diucapkan pengemudi itu.


Kayra langsung menggenggam tangan Ibu Sari karena dia sudah merasakan ada yang tidak beres dengan orang yang membawanya itu.


" Sebenarnya Bapak ini siapa? Bapak ingin membawa saya ke mana?" Nada ketakutan terdengar dari suara Kayra.


Mendengar pertanyaan Kayra, Ibu Sari langsung menoleh ke arah putrinya apalagi saat Kayra tiba-tiba menggenggam erat tangannya. Ibu Sari lalu mengalihkan pandangan ke pengemudi mobil itu.


" Ada apa ini?" Ibu Sari pun mulai merasa curiga


" Kalian tenang saja, saya tidak akan menyakiti kalian," sahut pengemudi misterius itu.


Deg


Hati Kayra langsung mencelos saat pengemudi itu mengeluarkan kalimat yang membuatnya merinding. Jika orang itu benar-benar orang yang ingin mengantarkan dirinya ke tempat yang dia tuju, tidak mungkin orang itu mengatakan hal tersebut. Kayra merasa curiga jika ini adalah tindakan penculikan, karena pria itu membawa dia dan Ibunya bukan ke tempat tujuannya.


" Bapak ini siapa? Kenapa tidak membawa saya ke tempat yang saya tuju?" geram Kayra hampir menangis.


" Kayra, apa orang ini berniat jahat?" bisik Ibu Sari mulai dihinggapi ketakutan.


" Aku tidak tahu, Bu. Tapi dia sangat mencurigakan," ungkap Kayra sama-sama merasakan gelisah.


" Apa jangan-jangan dia itu orangnya Tuan Erlangga?" Ibu Sari langsung beranggapan jika pengemudi itu adalah orang suruhan Erlangga.


" Semoga saja bukan, Bu." Walaupun dia berharap jika orang itu bukanlah suruhan dari Erlangga, namun dia tidak tahu apakah dirinya dan ibunya akan aman dan selamat dengan pria yang membawanya ini.


" Apa kamu orang suruhan Tuan Erlangga?" Ibu Sari langsung bertanya kepada si pengemudi.


"' Sebaiknya Nona dan Ibu tidak perlu banyak bertanya. Saya pastikan jika kalian akan baik-baik," ujar pria itu.


Entah mengapa meskipun pria itu mengatakan jika Kayra dan Ibunya akan baik-baik saja namun tetap kecemasanlah yang mereka rasakan saat ini.


Kayra dan Ibu Sari pun tidak berani bertindak apa-apa, apalagi pintu mobil terkunci. Sulit memberikan perlawanan saat ini. Mereka berdua hanya bisa berdoa agar mereka selamat dan tidak terkena masalah. Apalagi saat mobil yang dikemudikan pria misterius itu terus melaju dan mulai menjauh dari arah yang dituju.


" Pak, sebenarnya kami ingin dibawa ke mana?" Kayra semakin penasaran bahkan sudah berangkulan dengan Ibunya karena merasa mereka akan diculik dan tidak tahu akan dibawa ke mana. Ibu Sari bahkan sudah menitikan air matanya karena semakin ketakutan..


Pria pengemudi itu bergeming dan terus fokus dengan jalan di depannya, sama sekali tak mengabaikan pertanyaan Kayra, hingga mobil itu akhirnya berhenti di sebuah pekarangan rumah berlantai dua bergaya Eropa klasik.


Setelah turun dari mobil, pria itu lalu membukakan pintu untuk Kayra.


" Silahkan ..." Pria itu mempersilahkan Kayra dan Ibu Sari untuk turun dari mobil.


Kayra dan Ibu Sari mengikuti apa yang diperintahkan oleh pria itu. Kayra dan Ibunya memperhatikan rumah di hadapannya dengan saling menggenggam tangan.


" Mari ikut saya!" Pinta pria yang masih misterius tidak tahu siapa orangnya.


" Ini rumah siapa? Kenapa kami dibawa kemari?" tanya Kayra kembali karena dia benar-benar bingung dengan situasi yang dihadapinya.

__ADS_1


" Nona akan mengetahuinya nanti," ucap pria itu lalu berjalan meninggalkan Kayra dan Ibu Sari.


" Kayra, apa kita tidak bisa kabur dari sini?" Ibu Sari menoleh ke sekeliling rumah yang mempunyai halaman luas dan pintu gerbang yang cukup tinggi. Sepertinya sulit untuk bisa keluar dari rumah itu.


Kayra menggelengkan kepalanya, dia tidak tahu apakah bisa kabur dari tempat ini. Mungkin jika dia hanya membawa dirinya sendiri saja sejak di mobil tadi dia akan berontak, namun dia memikirkan Ibunya.


" Mari, Nona ..." Merasa langkahnya tidak diikuti oleh Kayra dan Ibunya, pria tadi kembali meminta Kayra untuk masuk ke dalam rumah berlantai dua itu.


Dengan merangkulkan tangan ke lengan Ibunya Kayra berjalan mengikuti langkah pria itu hingga kini mereka masuk ke ruangan tamu yang cukup besar dengan interior dan furniture yang terlihat mewah.


" Selamat datang, Nona. Mari silahkan ikut saya." Ada dua orang wanita di sana berusia kisaran tiga puluhan menyambut Kayra dan Ibu Sari. Namun salah satu dari wanita tadi meminta Kayra ikut dengannya.


Kayra berpandangan dengan Ibu Sari, dia tentu saja tidak ingin mengikuti perintah wanita itu, namun dia memang tidak kuasa untuk menolak. Kayra menggenggam tangan Ibunya untuk menemani dirinya.


" Ibu ikut dengan saya." Wanita lainnya meminta Ibu Sari untuk ikut dengannya seolah ingin memisahkan Kayra dengan Ibunya.


" Tidak, Mbak. Saya tidak ingin jauh dengan Ibu saya! Saya tidak tahu tempat apa ini!? Saya juga tidak tahu kenapa kami dibawa kemari dan apa yang kalian rencanakan kepada kami!" Merasa dirinya akan dipisahkan dengan Ibunya, Kayra dengan tegas menolak dengan dada bergemuruh karena dia menahan emosi.


" Kami tidak akan menyakiti dan mencelakai Ibu dan Nona. Sebaiknya Nona tidak mempersulit tugas kami." Wanita yang ingin membawa Kayra menjelaskan agar Kayra tidak perlu merasa khawatir.


" Tidak menyakiti dan tidak mencelakai? Tapi kalian semua tidak ada yang mau mengatakan apa sebenarnya tujuan kami dibawa kemari!" Dengan penuh emosi Kayra berbicara menyentak hingga dia tidak sanggup menahan tangisnya.


" Maaf, Nona. Kami hanya menjalankan tugas." Melihat Kayra menangis, wanita itu langsung menundukkan kepala dengan menyesal.


" Siapa yang menyuruh kalian melakukan hal ini kepada kami?" Kayra menyeka air matanya.


" Apa yang kalian lakukan?" Suara seorang pria dari lantai atas terdengar menggelegar membuat semua orang yang ada di bawah langsung mengarahkan pandangan kepada pemilik suara itu. Namun Kayra tidak mengenali pria di lantai atas itu.


" Apa yang kalian lakukan hingga membuat Nona Kayra menangis?" Dengan nada emosi pria itu memarahi kedua wanita yang dia tugaskan membawa Kayra dan menemani Ibu Sari.


" M-maafkan kami, Tuan." Kedua wanita yang masing-masing mendapat tugas mengurus Kayra dan Ibu Sari langsung menciut ketakutan.


" Bapak ini siapa? Kenapa Bapak membawa kami ke tempat ini?" Entah berapa kali kalimat pertanyaan itu telontarkan dari mulut Kayra terhadap orang-orang yang berbeda namun tidak ada satupun yang memberikan jawaban.


Deg


Mendengar pria itu menyebutkan namanya, membuat Kayra melemas. Dia ingat jika Bondan adalah orang kepercayaan dari Erlangga dan merupakan orang yang menyuruh Diah bekerja mengurus Ibunya.


" Di mana Pak Erlangga?" Kayra menanyakan keberadaan bosnya itu.


" Pak Erlangga akan segera ke sini, Nona." jawab Bondan.


" Kayra, jadi benar ini semua rencana Tuan Erlangga?" Ibu Sari terkejut saat mengetahui ternyata Erlangga yang merencanakan semua ini walaupun dia juga mencurigai bosnya itu.


" Apa maksud Tuan Erlangga melakukan hal ini, Tuan?" Ibu Sari menanyakan kepada Bondan tentang alasan Erlangga menculik mereka.


" Saya rasa Tuan Erlangga sudah mengatakan ke Ibu tentang niat beliau," sahut Bondan.


Ibu Sari mendengus kasar, dia merasa marah kepada bos dari anaknya itu. Penculikan yang dilakukan kepada mereka pasti berhubungan dengan rencana Erlangga yang ingin menikahi Kayra.


" Sebaiknya Nona Kayra ikut dengan Atik, dia yang akan membantu Nona berhias," lanjut Bondan.


" Berhias? Untuk apa saya berhias?" Pikiran buruk sudah mulai menggelayuti benak Kayra. Apa yang dimaksud mempersiapkan dirinya berhias? Apakah Erlangga sedang menyiapkan acara penting hingga membuat dirinya harus mempersiapkan diri dengan berhias?


" Nanti Nona akan tahu ..." sahut Bondan. " Tik, bawa Nona Kayra ke kamar." Bondan memberi perintah kepada Atik.


" Baik, Tuan." Atik lalu menuntun langkah Kayra yang terlihat berat mengikutinya.


" Ibu nanti akan dibantu oleh Siti." Melihat Ibu Sari yang cemas dan ingin mengikuti langkah Kayra, Bondan langsung menyuruh Siti untuk membawa Ibu Sari ke kamar yang berbeda dengan Kayra.

__ADS_1


Setelah Kayra dan Ibu Sari berpisah mengikuti Atik dan Siti, Bondan segera menghubungi Erlangga melalui ponselnya.


" Selamat pagi, Tuan. Nona Kayra dan Ibu Sari sudah sampai di tempat." Bondan melaporkan kepada Erlangga.


" Oke, apa Pak Bondan sudah mempersiapkan semuanya?" tanya Erlangga dari sebrang.


" Sudah, Tuan. Penghulu akan sampai di sini sekitar jam sepuluh," jawab Bondan.


" Oke, sip. Sebentar lagi saya akan meluncur ke sana," ucap Erlangga.


" Baik, Tuan."


Setelah Bondan menjawab Erlangga, Erlangga langsung mematikan sambungan teleponnya.


***


Kayra menatap kebaya berwarna putih yang tergeletak di tepi spring bed berukuran besar.. Di dalam kamar itu sudah menunggu seorang wanita dengan peralatan riasan yang Kayra menduga jika wanita itu adalah MUA.


" Halo, Nona Kayra. Mari silahkan duduk di sini. Perkenalkan nama saya Aisyah, saya akan mendandani Nona untuk acara akad nikah pagi ini."


Jantung Kayra seakan berhenti berdetak saat Aisyah mengatakan jika wanita itu akan membantu dirinya berdandan untuk acara akad nikah. Dan Kayra sudah tahu siapa yang akan melaksanakan akad nikah itu.


" Saya ingin bicara dengan Pak Erlangga." Kayra langsung mengambil ponsel dari tasnya dan segera menghubungi bosnya itu.


" Halo ..." Suara Erlangga terdengar dari ponsel Kayra.


" Kenapa Bapak melakukan hal ini kepada saya?" Rasa kesal dan amarah Kayra kepada Erlangga membuat dia tidak mengucapkan salam seperti yang biasa dia katanya kepada bosnya itu.


" Bukankah sudah saya katakan jika saya ingin menikahimu?" sahut Erlangga.


Kayra akhirnya kembali menangis karena jawaban Erlangga. Sepertinya bosnya itu sudah bulat dengan tekadnya ingin memperistri dirinya, dan dia tidak dapat menghindari keinginan Erlangga itu.


" Kamu tidak usah merasa khawatir, saya tidak akan menyakitimu," ucap Erlangga berusaha mencoba meyakinkan sekretarisnya.


***


Erlangga memasuki kamar di mana Ibu Sari berada. Dia langsung mendapatkan sorot mata tajam penuh amarah dari calon ibu mertuanya itu.


" Kenapa Tuan tega menjebak anak saya? Apa salah anak saya sampai Tuan menjadikan dia wanita simpanan, Tuan?" Ibu Sari yakin jika Erlangga tidak mungkin berani mengumumkan pernikahannya dengan Kayra di depan publik dan hanya akan menganggap Kayra sebagai wanita simpanannya saja.


" Saya tidak bermaksud menjebak Kayra, Bu. Saya ingin menikahi dia karena saya sangat membutuhkan kehadiran Kayra di samping saya. Saya tidak akan menyakiti Kayra, percayalah, Bu. Saya tidak akan mungkin membuat anak Ibu menderita." Sama seperti dia menyakinkan Kayra, Erlangga pun berusaha meyakinkan Ibu Sari agar merestui pernikahannya.


" Bagaimana Tuan tidak membuat Kayra menderita? Pernikahan ini hanya akan membawa masalah untuk Kayra. Apa tanggapan orang tua Tuan dan istri Tuan jika tahu Tuan menikah lagi bersama sekretaris Tuan? Mereka pasti akan menyalahkan Kayra, mencemo'oh Kayra. Mereka pasti akan menganggap Kayra wanita tidak baik karena merebut suami orang, padahal Tuan sendiri yang memaksa Kayra untuk menerima Tuan." Ibu Sari mengeluarkan seluruh unek-unek di hatinya terkait dengan kekhawatiran dirinya akan pernikahan Kayra dan Erlangga.


" Saya tidak akan membiarkan itu terjadi, Bu! Saya akan melindungi Kayra, saya tidak akan membiarkan orang mengusik Kayra karena pernikahan kami ini!" tekad Erlangga, namun tetap Ibu Sari tidak bisa yakin dengan tekad yang sudah diucapkan Erlangga, karena pandangan buruk pasti akan tetap disematkan kepada putrinya itu jika dia berstatus istri kedua Erlangga.


" Lalu apa yang akan Tuan lakukan jika istri Tuan mengetahui pernikahan Tuan dengan Kayra? Apa Tuan akan membela Kayra dari segala macam tuduhan yang akan istri Tuan arahkan kepada Kayra? Apa Tuan bisa menjamin jika anak saya bisa hidup tenang dan tentram sebagai istri simpanan Tuan tanpa adanya gunjingan dan cibiran orang-orang?" Ibu Sari sudah membayangkan hal buruk yang akan dialami Kayra nanti sebagai istri simpanan Erlangga.


" Tuan, apa Tuan hanya ingin menjadikan Kayra sebagai pelarian karena Tuan merasa kecewa dengan rumah tangga Tuan dan istri Tuan?" Ibu Sari bahkan sudah berpikiran jika Kayra hanya sebagai pelarian Erlangga karena kecewa dengan masalah rumah tangganya.


Erlangga menarik nafas mendengar tuduhan Ibu Sari kepadanya, dia pun menatap Ibu Sari dengan lekat.


" Saya tidak tahu, Bu. Tapi yang pasti, saya tidak bisa jauh dari Kayra. Saya sangat membutuhkan dia ada di samping saya. Bersama Kayra, hati saya terasa lebih tenang, hal itu yang tidak saya dapati dari istri saya hampir selama kami menikah. Apa Ibu menganggap saya hanya menganggap Kayra sebagai pelarian saja?" Erlangga melempar pertanyaan itu kepada Ibu Sari dan meminta Ibu Sari menilainya sendiri dari tatapan matanya yang saat ini menatap lekat mata wanita paruh baya itu.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung ...


Happy Reading❤️


__ADS_2