
Kenyataan soal Erlangga yang mempunyai adik wanita yang sudah meninggal membuat Kayra terkejut, hingga akhirnya dia tahu alasan Helen tidak pernah ingin kembali ke rumah lama milik keluarganya itu. Kehilangan seorang anak adalah hal paling memilukan bagi orang tua, terutama bagi seorang Ibu, mungkin akan mengingatkan kepada bayinya jika Helen kembali ke rumah lamanya itu.
" Assalamualaikum, Bu ..." Kayra membuka pintu kamar ibunya saat dia dan Erlangga kembali ke rumah mereka.
" Waalaikumsalam, kamu sudah pulang, Nak?" tanya Ibu Sari yang sedang melipat pakaian yang akan dibawa pindah nanti.
" Iya, Bu." Kayra menghampiri Ibunya untuk menyalami dan mencium punggung tangan Ibunya itu. " Ibu sedang mengepak pakaian? Kayra bantu ya, Bu?" tanya Kayra kemudian.
" Tidak usah, Nak. Ini hanya sedikit dan hampir selesai," tolak Ibu Sari secara halus. " Oh ya, bagaimana? Sudah selesai renovasi rumah di sana?" Sebelumnya Kayra memang sudah minta ijin terlebih dahulu kepada Ibunya jika dia akan pulang telat hari ini, karena ingin melihat perkembangan renovasi rumah yang akan mereka tempati setelah pindah dari rumah tempat tinggalnya sejak Kayra menikah dengan Erlangga sekarang ini.
" Sudah, Bu. Besok barang-barang furniture yang baru akan dikirim, jadi lusa kita bisa pindah ke sana," sahut Kayra duduk di tepi tempat tidur Ibunya.
" Ada apa Kayra?" Melihat aura wajah sedih putrinya, Ibu Sari menanyakan apa yang terjadi, karena Kayra tidak seperti biasanya yang selalu ceria jika pulang dari tempat baru mereka nanti. " Kamu kelihatan sedih, biasanya kamu terlihat bahagia dan bersemangat setelah mengunjungi rumah lama mertuamu itu." Ibu Sari mengatakan keanehan yang dia lihat dari Kayra saat ini.
Kayra menarik nafas dan menghempaskannya perlahan. Dia lalu menoleh ke arah Ibunya lalu berkata, " Aku baru tahu cerita soal keluarganya Mas Erlangga, Bu. Ternyata suamiku itu mempunyai adik perempuan yang meninggal ketika masih bayi. Karena itu pula akhirnya mereka pindah dari sana dan Ibu Helen tidak pernah mau kembali ke rumah itu." Kayra menceritakan apa yang diceritakan Erlangga tadi.
" Innalillahi wa innailaihi rojiun, Mama mertuamu mungkin mempunyai trauma di rumah itu hingga beliau tidak ingin menginjakkan kaki di rumah itu lagi." Ibu turut prihatin, Kayra.
" Iya, seperti itulah Bu." lirih Kayra.
" Ibu mengerti, mereka pasti sangat kehilangan." Ibu Sari merangkulkan tangannya di pundak Kayra hingga Kayra menyandarkan kepalanya di bahu Ibunya itu.
" Mas Erlangga bilang, adiknya itu seumuran denganku, Bu. Bahkan tanggal lahir, bulan dan tahun kelahiran kami sama, mungkin karena itu suamiku perhatian sama aku ya, Bu?" Kayra mendongakkan kepala menatap wajah ibunya.
" Mungkin saja, Nak. Mungkin karena dia teringat akan adiknya saat dia tahu tanggal lahir kamu sama dengan tanggal lahir adiknya, makanya suami kamu itu perhatian, tapi perhatiannya jadi kebablasan ..." Suara kekehan terdengar mengakhiri perkataan Ibu Sari.
" Kebablasan?" Kening Kayra mengeryit.
" Iya, karena akhirnya Nak Erlangga malah jatuh cinta sama kamu, Nak." Ibu Sari mengusap wajah cantik Kayra, membuat Kayra ikut terkekeh.
" Mungkin juga, Bu."
Tok tok tok
" Kayra ...!" Terdengar suara ketukan pintu dan suara Erlangga dari luar kamar Ibu Sari.
" Sudah sana kembali ke kamarmu, suamimu mencari pawangnya, tuh!" Ibu Sari meledek Kayra dengan menyebut jika Kayra adalah pawang dari Erlangga.
" Ya ampun, Ibu ..." Namun Kayra pun justru tertawa dan beranjak ke arah pintu untuk membukakan pintu. " Kayra ke kamar dulu ya, Bu." pamit Kayra meninggalkan kamar Ibunya karena Erlangga sudah mencarinya.
" Kamu sedang apa? Lama sekali tidak segera ke kamar." tanya Erlangga saat melihat Kayra keluar dari kamar Ibu Sari.
" Aku tadi habis membantu ibu mengepak pakaian, Mas." Kayra langsung melingkarkan tangannya di lengan kekar suaminya itu.
" Kamu jangan terlalu capek membantu mengepak pakaian, Kayra!" Erlangga mendelik saat istrinya itu mengatakan telah membatu Ibunya mengepak pakaian.
" Tidak capek kok, Mas. Aku hanya duduk saja." Kayra menyeringai karena telah salah memberikan alasan.
" Oh ya, Pak Bondan tadi memberitahu jika tadi Mamaku bertemu dengan Agnes, dan kamu tahu? Mereka bertengkar, itu suatu kabar bagus, kan?" Erlangga tertawa sinis menyampaikan berita tentang pertengkaran Mamanya dengan sekutu dari Mamanya itu.
" Astagfirullahal adzim, orang bertengkar, kok Mas malah senang, sih? Kayra memprotes sikap suaminya yang bahagia melihat orang bertengkar.
" Tentu saja senang kalau melihat Mama dan perempuan licik itu bertengkar. Ini keuntungan untukmu, Sayang. Kalau Mama dan Agnes bertengkar, itu tandanya mereka pecah kongsi, apalagi setelah Mama merasakan sendiri Agnes berani berkata kasar terhadap Mama." Erlangga menceritakan apa yang dilaporkan Bondan kepadanya.
" Ya Allah, Nona Agnes berkata kasar terhadap Mama Mas?" Kayra terkesiap, walaupun Mama mertuanya itu tidak menyukainya, namun dia tidak suka jika Mama dari suaminya itu diperlakukan kurang baik oleh Agnes.
" Iya, semoga dengan kejadian ini, Mama akan terbuka mata dan hatinya, jika Agnes bukanlah wanita yang baik. Agnes adalah wanita licik yang tidak mempunyai sopan santun terhadap orang tua." Dengan terbongkarnya sifat asli Agnes, Erlangga berharap Mamanya akan sadar dan tidak terus menerus bersekutu dengan Agnes untuk memisahkan Kayra darinya.
__ADS_1
" Aamiin, Mas ..." sahut Kayra, dia pun berharap Mama mertuanya itu tidak lagi terus menerus memusuhinya dan mau menerima dia sebagai menantu keluarga Mahadika Gautama.
***
" Ada apa, Ma?" Krisna merasakan sejak tadi istrinya itu terlihat gelisah sampai berkali-kali berganti posisi tidur.
" Tidak ada apa-apa." Helen menepis pertanyaan suaminya dengan mengatakan jika tidak ada hal yang sedang membuatnya gelisah. Bagaimana tidak membuatnya gelisah? Fakta yang diungkap Erlangga tentang Agnes yang mencoba memfitnah Kayra sudah membuat dirinya malu terutama di hadapan Kayra, belum lagi soal Agnes yang berani berkata kasar terhadap dirinya, dan yang membuatnya kaget adalah soal pria yang berkata sebagai teman tidur Agnes. Rasanya Helen tidak ingin mempercayai itu, namun semuanya terlihat jelas di depan matanya, terutama soal Agnes yang disebut mempunyai teman tidur pria dan sering melakukan hubungan in tim, hal itu benar-benar membuat Helen merinding. Dia tidak dapat membayangkan jika wanita yang ingin dia jadikan menantu ternyata tidak beda jauh dengan wanita ja lang yang sering melakukan pertualangan dengan beberapa pria untuk mendapatkan kenikmatan berhubungan in tim.
" Yakin tidak ada apa-apa?" tanya Krisna kembali, dia tahu saat ini istrinya itu sedang berbohong.
" Iya, sudah deh, Pa. Mama mau tidur." Helen membelakangi suaminya. Dia memang tidak ingin bercerita kepada suaminya karena dia merasa malu jika dugaannya tentang Agnes itu benar, menji jikkan sekali menurutnya.
" Apa Mama merasa kesal karena Agnes ternyata tidak sebaik yang Mama pikirkan?" Sudah pasti pertemuan antara Helen dan Agnes terpantau oleh Krisna karena Erlangga yang melaporkannya.
" Apa Erlangga yang bilang ke Papa?" Helen menoleh ke arah suaminya.
" Tentu saja Erlangga akan selalu cerita pada Papa, Ma." sahut Krisna.
" Erlangga cerita apa saja, Pa?" Helen penasaran, apakah Erlangga tahu soal pria yang menjadi langganan Agnes untuk memuaskan Agnes di ranjang.
" Mama bertengkar dengan Agnes sampai Agnes berkata kasar sama Mama." Krisna menceritakan apa yang dilaporkan Erlangga kepadanya.
" Hanya itu?" tanya Helen penasaran, dia takut jika tabiat Agnes terendus oleh anak dan suaminya itu.
" Memangnya ada apa lagi?" Krisna balik bertanya kepada istrinya itu.
" Tidak, tidak ada." tepis Helen.
" Setelah Mama tahu kelakuan Agnes, apa Mama masih berharap menjodohkan Agnes dengan Erlangga lagi?" sindir Krisna seraya terkekeh, karena dia tahu bagaimana ngototnya sang istri ingin menjodohkan putra mereka dengan Agnes.
" Ck, sudah deh, Pa! Jangan sindir-sindir Mama!" Helen memprotes suaminya yang justru meledeknya dengan sindiran.
" Ck, tidak udah bawa-bawa dia deh, Pa!" Helen masih terlalu gengsi mengakui jika sikap Kayra jauh lebih baik dari pada Agnes, wanita yang dia banggakan akan menjadi calon menantu idamannya.
" Seharusnya Mama bisa melihat itu dari awal, Ma. Seorang wanita baik-baik, tidak akan mungkin mau dijodohkan dengan pria yang mempunyai istri, tidak punya malu itu namanya. Kayra saja menolak saat Erlangga berniat menikahinya. Kalau tidak dipaksa sama anak Mama itu, Kayra pasti tidak mau menjadi istri muda Erlangga." Kembali Krisna membandingkan sikap Kayra dan Agnes bak langit dan bumi.
" Sudah deh, Pa! Mama mau tidur, sudah mengantuk, Papa jangan bicara terus!" Helen langsung menarik selimut hingga menutupi kepalanya, dia tidak ingin suaminya itu terus saja membicarakan kebaikan Kayra dan membuka keburukan-keburukan Agnes.
***
" Pak Wira, tolong siapkan data-data nama perusahaan yang biasa bekerja sama membeli produk kita, tapi usahakan yang tidak diketahui oleh Rivaldi. Tanyakan kepada divisi marketing dengan siapa-siapa saja Rivaldi berhubungan." Keesokan harinya saat baru tiba di kantornya, Erlangga meminta Wira untuk menghadap dan memberikan perintah kepada Asistennya tersebut.
" Baik, Pak. Tapi, ada apa ya, Pak?" tanya Wira heran karena Erlangga memberi perintah dengan membawa-bawa nama Rivaldi.
" Saya harus menghentikan gerakan Rivaldi agar tidak terus mengusik kehidupan saya dan Kayra, juga tidak terus mempermainkan perusahaan ini. Jika dia bisa masuk ke perusahaan kita. Dan kita akan melakukan hal yang sama kepada perusahaannya itu." Seringai tipis langsung terbentuk di sudut bibir Erlangga memperlihatkan jika dia pun bisa bermain licik terhadap rivalnya tersebut.
" Apa maksudnya Anda akan menempatkan orang kita untuk masuk ke dalam perusahaan Rivaldi, Pak?" Wira langsung memahami ucapan Erlangga tadi.
" Benar, saya sudah menyuruh Pak Bondan mengajak temannya bekerja sama. Rivaldi itu licik, perlu orang yang cekatan dan berpengalaman untuk menghentikan aksi dia," sahut Erlangga dengan gigi mengerat karena dia selalu emosi jika mengingat nama Rivaldi dan aksi-aksi pe cundang Rivaldi terhadap perusahaan Mahadika Gautama.
" Baiklah, Pak. Nanti saya akan suruh divisi marketing mencari datanya," ujar Wira.
" Ada satu kabar menarik lagi, Pak Wira. Mama saya sudah tahu jika Agnes menyewa orang untuk memyebar fitnah terhadap Kayra." Rasanya kurang afdol jika Erlangga tidak menyampaikan berita gembira ini kepada Wira. Dia tahu jika Wira begitu sangat memperdulikan Kayra, karena Wira sudah menganggap Kayra seperti adiknya sendiri.
" Dan Mama Anda percaya, Pak?" Wira kurang yakin jika Helen akan mempercayai keburukan Agnes.
" Tentu saja, bahkan Mama langsung membuat janji bertemu dengan Agnes. Dan saat mereka bertemu, Agnes menyangkal sampai dia mengeluarkan kalimat kasar terhadap Mama. Saya yakin Mama tidak suka dengan sikap Agnes itu. Saya harap itu akan merenggangkan hubungan mereka berdua." Ya, Erlangga memang berharap Mamanya itu berhenti mengusik kehidupannya bersama Kayra jika hubungan baik yang selama ini Helen jalin bersama Agnes terputus.
__ADS_1
" Semoga saja, Pak Erlangga. Saya pun berharap seperti itu. Sudah seharusnya Ibu Helen menerima Kayra, karena Kayra adalah menantu beliau dan saat ini sedang mengandung cucu yang sangat dinantikan keluarga Mahadika Gautama." Tak beda jauh dengan Erlangga, Wira pun mengharapkan hal yang sama.
***
Helen berjalan menuruni anak tangga, dia merasa sangat penasaran dengan apa yang dikatakan pria yang menyapa Agnes di restoran itu, rasanya dia ingin sekali mengetahui langsung jika Agnes itu suka bersenang-senang dengan pria lain.
" Bi, Syamsul mana?" Helen menanyakan keberadaan supirnya kepada Bi Inah.
" Syamsul ada di belakang sedang makan siang, Nyonya." sahut Bi Inah.
" Kalau sudah makan siang, suruh siapkan mobil, saya mau pergi," ujar Helen memberikan perintah.
" Baik, Nyonya." jawab Bi Inah, sementara Helen memutar arahnya kembali ke dalam kamar, karena dia ingin siap-siap.
Sedangkan Bi Inah sendiri berjalan ke arah dapur untuk memberitahukan Syamsul.
" Syamsul, cepat makannya! Nyonya mau pergi ke luar, kamu diminta siapkan mobil." Bi Inah memberitahu Syamsul yang sedang menikmati makan siang dengan sayur asam, ditambah tempe, sambal dan ikan asin.
" Nyonya mau pergi, Bi Inah?" Syamsul buru-buru menghabiskan makanan di piringnya.
" Jangan buru-buru seperti itu juga, Sul! Nanti malah tersedak." Melihat Syamsul yang menyantap makanannya seperti tidak dikunyah, Bi Inah menegur cara makan Syamsul.
" Hehe, aman kok, Bi Inah." sahut Syamsul sambil meneguk segelas es teh manis diakhiri dengan sendawa. " Alhamdulillah, kenyang ..." Syamsul lalu bangkit. " Makasih makan siangnya, Bi Inah. Saya mau mengeluarkan mobil dulu." Syamsul lalu keluar meninggalkan dapur menuju arah bagasi untuk mengeluarkan mobil dan mengantar majikannya itu pergi.
" Ke mana, Nyonya?" Setelah dia menyiapkan mobil dan Helen sudah masuk ke dalam mobilnya, Syamsul menanyakan tujuan Helen akan pergi.
" Keluar saja dulu, nanti saya kasih tahu tujuan kita pergi ke mana?!" Helen menyuruh Syamsul menjalankan mobil ke luar dari rumah lebih dulu sebelum dia menyebutkan ke mana dia akan pergi.
" Baik, Nyonya." Syamsul menjawab permintaan bosnya itu.
" Syamsul, apa punya kenalan orang yang bisa mengawasi orang, tidak?" tanya Helen setelah mobil yang dikendarai Syamsul berjalan sekitar lima ratus meter dari rumah keluarga Mahadika.
" Maksud, Nyonya?" tanya Syamsul, dia kurang memahami maksud dari perkataan Helen.
" Apa kamu punya kenalan orang yang bisa jadi mata-mata untuk mengawasi seseorang tanpa diketahui orang tersebut?" Helen memperjelas kalimatnya.
" Detektif maksud Nyonya?" Akhirnya Syamsul mengerti arah pembicaraan Helen.
" Iya, punya atau tidak?"
" Kalau teman saya banyak, Nyonya. Tapi kalau bisa menjadi mata-mata atau tidak, saya tidak tahu, Nyonya." jawab Syamsul.
" Menurut kamu, kalau saya butuh orang yang bisa memata-matai orang, saya harus cari ke mana ya, Syamsul?" Helen meminta pendapat dari supirnya.
" Waduh, saya kurang tahu, Nyonya. Coba saja Nyonya cari di internet, biasanya ada informasi di sana, Nyonya. Carinya yang ratingnya tinggi, Nyonya. Lihat juga ulasannya, kalau pelanggannya banyak yang memberikan komentar positif, berarti itu kerjanya bagus." Samsul menjelaskan.
" Oh, gitu, ya?"
" Iya, Nyonya. Cari saja yang bintangnya paling banyak," saran Syamsul kembali.
Helen pun lalu membuka ponselnya dan mencari di halaman yang disarankan Syamsul hingga akhirnya dia menemukan nama-nama agen detektif. Dia melihat beberapa agen yang mempunyai rate tinggi dan dia pun tertarik dengan nama RG Special Agent yang ternyata letaknya lebih dekat dengan posisinya sekarang ini dibandingkan dengan agen detektif lainnya.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung ...
Happy Reading