MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO

MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO
Siap Mempertaruhkan Nyawa


__ADS_3

" Mama kenapa, Mas?" Rasa penasaran, takut dan cemas yang menjadi satu kini dirasakan Kayra. Setelah Kayra tahu ternyata Agnes berusaha memfitnahnya, Kayra merasa jika Agnes adalah wanita yang culas. Karena itu dia menjadi khawatir saat suaminya menanyakan kepada Helen, kenapa Agnes ingin membunuh Helen.


" Mama tidak apa-apa, Sayang. Mama hanya sedikit ketakutan saja." Erlangga merangkul Kayra agar Kayra tidak merasa cemas.


" Tapi, tadi Mas bilang Nona Agnes ingin membunuh Mama?" Kayra tahu suaminya tidak ingin dia khawatir, hingga mengatakan tidak ada apa-apa agar dirinya tidak cemas.


" Agnes tidak akan berani melakukan hal itu, Sayang. Itu hanya ketakutan Mama saja." Erlangga mencoba meyakinkan Kayra jika keadaan aman terkendali.


" Tapi, Mas. Kenapa Mama sampai menduga Nona Agnes ingin membunuh Mama?" Jawaban suaminya tidak cukup membuat Kayra tenang.


" Kamu tidak usah memanggil dia dengan sebutan Nona lagi, Kayra." Erlangga tidak suka Kayra memanggil dengan panggilan hormat kepada Agnes, hingga dia melarang istrinya itu menyebut kata Nona kepada Agnes.


" Memangnya ada apa dengan Agnes, Mas?"


Erlangga membawa istrinya itu untuk duduk di tepi tempat tidur, untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.


" Mama baru menyadari sifat Agnes yang sebenarnya seperti apa. Saat aku mengatakan kepada Mama jika dia memfitnah kamu, mama masih belum yakin jika wanita yang ingin Mama jadikan menantunya itu seperti ular. Sampai akhirnya Mama mendengar dari seseorang jika Agnes itu senang menyewa pria untuk memuaskannya di ranjang dengan melakukan hubungan in tim." Erlangga menjelaskan apa yang membuat istrinya itu


penasaran.


Kayra terbelalak mendengar penjelasan suaminya, jika ternyata Agnes sering berhubungan in tim dengan banyak pria.


" Dan kemarin Mama memergoki sendiri Agnes sedang membawa pria ke dalam apartemennya. Agnes memakai pakaian tidur sek si sedangkan si pria hanya menggunakan pakaian dalam saja." Erlangga kembali menceritakan secara detail apa yang terjadi antara Mamanya dengan Agnes.


" Astaghfirullahal adzim ... aku tidak menyangka Agnes seperti itu, Mas."


" Iya, wanita itu seperti ular. Aku bersyukur, aku terselamatkan olehmu, Kayra." Erlangga mengecup kening Kayra.


" Aku menyelamatkan Mas?" Kayra bertanya dengan kening berkerut.


" Iya, kalau saja aku tidak menikahimu dan Mama terus memaksa aku untuk menikah dengan Agnes. Bisa kamu bayangkan akan seperti apa nasibku ini?" Erlangga membelai kepala istrinya itu.


" Kalaupun Mas tidak menikah denganku, aku yakin Mas tidak akan menikahi Agnes. Karena aku tahu, Mas itu sangat keras kepala, tidak mungkin mengalah pada keinginan Mama yang menginginkan Mas bersama Agnes." Kayra tahu bagaimana sikap Erlangga, yang tidak ingin disetir oleh Mamanya. Sehingga Kayra yakin, seorang Erlangga tidak akan luluh ada bujuk rayu wanita seperti Agnes.


" Kamu sudah mengenal suamimu ini rupanya, hmmm? Lagipula kalau aku tidak menikahimu, memangnya aku akan menikahi siapa? Kamu ini adalah belahan jiwaku, Kayra. Jadi pasti kamulah wanita terakhir yang akan aku nikahi." Erlangga kembali memeluk erat sang istri dan memberikan ciuman bertubi-tubi ke wajah Kayra hingga akhirnya mereka tertawa penuh rasa bahagia.


***


Rizal tersenyum memperhatikan Vito yang berjalan masuk ke dalam ruangannya. Semalam anak buahnya itu sudah memberikan informasi tentang perbuatan Agnes yang hampir memangsa Vito dan juga perlakuan kasar Agnes kepada Helen.


" Saya senang akhirnya tugas ini sudah selesai, Pak Rizal." ucap Vito seraya duduk di kursi depan meja Rizal.


" Saya pikir kau akan sedih karena tugasmu ini berakhir, Vit. Dikejar wanita cantik dan kaya. Kapan lagi punya kesempatan sepeti itu?" Rizal terkekeh menyindir Vito yang semalam bercerita hampir melakukan kenikmatan surga dunia yang ditawarkan oleh Agnes kepadanya.


Vito memutar bola matanya mendengar sindiran Rizal.


" Saya benar-benar terselamatkan di masa injury time, Pak. Untung saja iman saya masih kuat." Vito merasa bersyukur, dia tidak sampai melakukan hubungan itu dengan Agnes.


" Jika Nyonya Helen tidak segera datang, apa yang akan terjadi denganmu, Vit?" Rizal menyeringai.


" Saya tidak tahu, Pak. Dia benar-benar liar. Sepertinya dia memang wanita yang pandai memuaskan pria." Vito sendiri tidak yakin apa yang akan menimpanya, jika saat itu, Helen tidak segera datang.


" Lalu apa yang terjadi setelah Nyonya Helen pergi? Alasan apa yang kau katakan pada Agnes? Apa kau yakin Agnes tidak akan curiga terhadapmu?" Rizal tentu ingin pekerjaan Vito diakhiri tanpa rasa curiga jika selama ini Vito hanya bertugas menjebak wanita tersebut.


" Iya, Pak. Saya yakin Agnes akan percaya jika saya pergi karena saya kecewa akan sikapnya tersebut." Vito menjelaskan.


Flashback on


" Vito, ayo kita lanjutkan yang tadi." Agnes kembali mengajak Vito untuk meneruskan aktivitas pemuas naf su yang sempat terkesan karena kemunculan Helen tadi, setelah orang tua Erlangga itu keluar dari apartemennya.

__ADS_1


" Tidak, Agnes!" Vito menepis tangan Agnes di lengannya.


" Kenapa, Vito?" tanya Agnes kaget dengan penolakan Vito.


" Saya tidak suka dengan sikap kamu yang kasar kepada ibu tadi. Kamu tidak sepantasnya bersikap seperti itu terhadap orang yang lebih tua. Apalagi kamu tadi bilang akan menghabisi nyawa ibu itu. Saya tidak ingin berhubungan dengan orang yang akan melakukan kejahatan kriminal, Agnes!" Vito segera merapihkan pakaiannya dan memasang kembali sepatunya.


" Vito, aku tadi itu hanya bercanda. Aku tidak mungkin akan membunuh orang. Aku juga tidak ingin masuk ke dalam penjara, Vit." Agnes mengelak dan mengatakan jika semua yang dia ucapkan itu tidaklah serius.


" Tidak, Agnes! Saya tidak menganggap apa yang kamu lakukan kepada wanita tadi itu suatu candaan! Kamu bersikap dan berkata kasar, itu tidak bisa saya terima! Saya juga punya orang tua, punya Ibu. Dan saya tidak suka jika ada orang yang bersikap tidak hormat kepada orang tua!" Vito bersikap tegas. Helen sudah tahu bagaimana Agnes yang sebenarnya dan dia harus mengakhiri pertualangannya dengan Agnes.


Vito merasa moment ini adalah moment yang paling tepat untuk dia menjauh dari Agnes, tanpa menimbulkan kecurigaan Agnes, jika selama ini dia hanya ingin menjebak wanita itu.


" Vit, kamu jangan seperti itu. Tadi itu aku hanya kesal terhadap Tante Helen. Aku tidak bermaksud bersikap kasar terhadapnya." Agnes mencoba melakukan pembelaan diri.


" Apapun alasanmu, saya tidak bisa menerimanya, Agnes!" Vito bergegas melangkah ke arah pintu apartemen Agnes.


" Vito, dengarkan dulu penjelasanku!" Agnes menahan langkah Vito dengan merangkulkan tangannya di lengan pria itu.


" Sudah tidak ada yang perlu kamu jelaskan, Agnes! Sikapmu tadi itu sudah menjelaskan semuanya. Mulai saat ini, jangan hubungi saya lagi!" Vito kembali menepis tangan Agnes, lalu melangkah ke luar dari apartemen Agnes, tanpa memperdulikan Agnes yang berteriak memanggil namanya.


Flashback off


***


Rizal memasuki kantor perusahaan milik Rivaldi, karena dia memiliki janji bertemu dengan bos PT. Abadi Jaya tersebut. Rizal sengaja tidak membawa Grace, karena dia ingin tahu, apakah Rivaldi akan menanyakan keberadaan Grace. Karena beberapa hari ini, antara Rivaldi dan Grace tidak terjalin komunikasi.


" Selamat siang, Pak Rivaldi." Rizal menyapa Rivaldi saat dia masuk ke dalam ruangan kerja Rivaldi.


" Selamat siang, Pak Firman. Mari, silahkan ..." Rivaldi mempersilahkan Rizal untuk duduk di sofa.


" Terima kasih, Pak." Rizal kemudian duduk di sofa tamu ruangan Rivaldi.


" Sudah beberapa hari ini Nona Rena tidak datang ke kantor. Dihubungi juga susah sekali. Pesan yang saya kirim pun masih terpeding sampai sekarang belum terkirim ke ponselnya. Maklumlah, Pak Rivaldi. Anak bos, suka moddy an." Rizal menjelaskan bagaimana karakter sosok Rena yang diperankan oleh Grace kepada Rivaldi.


" Hmmm, begitu, ya?" Rivaldi mengusap rahangnya, karena sejak pulang dari acara pesta, dia memang tidak pernah menghubungi Grace kembali.


" Oh ya, bagaimana, Pak Firman? Apa sudah ada keputusan tentang rencana kerjasama perusahaan kita?" tanya Rivaldi setelah mereka sama-sama terduduk di sofa.


" Kami sudah diskusikan dengan atasan kami, Pak Rivaldi. Perusahaan kami memang sangat berminat melakukan kerja sama dengan perusahan Bapak. Tapi, kami ingin tahu, bagaimana soal pembayarannya, Pak Rivaldi? Karena selama kami bekerjasama dengan rekanan bisnis kami yang sekarang, setiap suplai barang yang dikirim ke perusahaan kami, pembayarannya dengan cara tempo kisaran enam puluh sampai tujuh puluh lima hari dari tanggal pembelian. Apa di Abadi Jaya juga bisa seperti itu?" tanya Rizal memulai maksud dan tujuannya datang menemui Rivaldi.


" Di mitra bisnis Langgeng sebelumnya, biarpun pembayarannya cukup lama, tapi harganya mahal 'kan, Pak Firman? Sedangkan di tempat kami lebih murah. Kalaupun tempo, mungkin hanya satu bulan saja, Pak Firman." Rivaldi menjelaskan kepada Rizal keunggulan di perusahaannya.


" Apa tidak bisa disamakan saja, Pak Rivaldi? Agar perusahan kita bisa bekerja sama. Anda juga pasti tahu bagaimana reputasi perusahaan kami, kan? Walaupun pembayarannya lama, tapi pembayaran kami lancar." Rizal bersikukuh ingin meminta tempo yang sama dengan mitra bisnis Langgeng sebelumnya, yang tidak lain adalah Mahadika Gautama.


Rivaldi menarik nafas beberapa saat seraya memikirkan apa yang diminta Rizal mewakili perusahaan Langgeng Putra Persada.


" Nanti kami akan pertimbangkan terlebih dahulu, Pak Firman. Saya tidak bisa memutuskan sekarang. Karena harga yang sudah kami tawarkan sudah sangat murah." Rivaldi masih ragu untuk menyetujui penasaran pembayaran dengan cara tempo dari PT Langgeng Putra Persada milik Satria, yang dia kira jika Rizal adalah benar utusan dari perusahaan tersebut.


" Tidak apa-apa, Pak. Mungkin Anda juga perlu mempertimbangkan beberapa hal agar kesepakatan ini bisa terjalin." Rizal menjawab perkataan Rivaldi.


" Kalau begitu saya pamit dulu, Pak Rivaldi. Saya tidak bisa berlama-lama, karena ada tugas lain yang harus saya kerjakan." Rizal bangkit dari duduk dan berniat berpamitan.


" Baiklah, Pak Firman." Rivaldi pun ikut bangkit dan mengantar Rizal ke pintu ruangannya.


" Saya permisi dulu, Pak Rivaldi. Terima kasih sudah meluangkan waktu. Semoga Anda bisa segera mengambil keputusan." Rizal kembali berpamitan seraya menjabat tangan Rivaldi yang langsung disambut oleh Rivaldi.


" Baik, Pak Firman. Secepatnya saya akan mengambil keputusan," sahut Rivaldi.


Setelah berpamitan, Rizal pun meninggalkan kantor Rivaldi. Sementara Rivaldi langsung meraih ponselnya. Entah kenapa, dia tertarik untuk menghubungi Grace.

__ADS_1


Rivaldi mencari nomer ponsel Grace. Di aplikasi jejaring sosial chat nya, terlihat Grace aktif sekitar empat hari lalu. Sudah lama juga wanita itu tidak aktif dengan ponselnya. Apalagi dia tadi sempat mendengar dari Rizal, jika Grace tidak hadir di kantor, juga tidak dapat dihubungi. Rivaldi akhirnya mengurungkan niatnya untuk menghubungi Grace, karena dia merasa jika panggilan telepon atau pesan yang akan dia kirim tidak akan diperdulikan oleh Grace.


***


Sepulang dari kantor, Erlangga mengajak Kayra berkunjung ke rumah orang tuanya. Dia ingin menemui Mamanya untuk menenangkan hati Mamanya itu sekaligus memanfaatkan moment ini untuk mendekatkan Kayra dengan Mamanya.


" Assalamualaikum ..." Erlangga dan Kayra mengucap salam saat memasuki rumah orang tuanya.


" Waalaikumsalam, Den, Non." Bi Inah yang membukakan pintu rumah membalas salam yang diucapkan Erlangga dan Kayra.


" Papa sudah pulang, Bi?" tanya Erlangga kepada Bi Inah.


" Tuan belum datang, Den." ucap Bi Inah.


" Mama di mana?" tanya Erlangga kemudian.


" Nyonya dari pagi di kamarnya saja, Den. Tidak mau keluar kamar. Nyonya seperti ketakutan begitu, Den." Bi Inah menceritakan apa yang dilakukan Helen seharian ini.


" Ya sudah, kami mau menemui Mama dulu, Bi." Erlangga ingin segera menemui Mamanya di kamar.


" Baik, Den." sahut Bi Inah


" Ayo, Sayang." Dengan merangkulkan tangannya ke pundak Kayra, mereka berjalan ke arah tangga menuju kamar kedua orang tua Erlangga.


Tok tok tok


" Ma ..." Erlangga membuka handle pintu kamar Helen, namun pintu kamar Mamanya itu terkunci dari dalam.


" Ma, ini aku ... tolong buka pintunya!" seru Erlangga meminta Mamanya itu untuk membuka pintu kamarnya.


" Ma ..." Kali ini Erlangga kembali mengetuk pintu agar Helen mendengar dan mau membuka pintu.


Ceklek


" Erlangga ..." Helen langsung memeluk tubuh putranya dan menangis di dada putranya itu. " Lang, Mama takut Agnes akan datang kemari dan membunuh Mama." Helen terus tersedu dalam pelukan putranya itu, karena rasa takut yang menghantuinya saat ini.


" Ma, Mama tenang saja. Agnes tidak akan berani datang kemari, Ma." Erlangga mengusap punggung Mamanya agar tenang.


" Tapi Agnes tahu tempat ini. Dia sering datang kemari, Lang. Bagaimana kalau dia datang dan menyerang Mama?" Helen benar-benar digelayuti ketakutan.


" Ma, Mama percaya sama aku. Agnes tidak akan berani datang kemari dan menyentuh Mama. Anak buahku sudah aku suruh memata-matai pergerakan Agnes. Aku juga sudah menyuruh orang untuk menjaga rumah ini." Erlangga berusaha terus meyakinkan Mamanya agar tidak menanggapi serius perkataan Agnes.


" Tapi Mama takut, Lang. Mama tidak ingin mati cepat ..." Helen menangis semakin kencang.


" Ibu, Ibu harus tenang. Mas Erlangga pasti akan melindungi Ibu. Mas Erlangga pasti tidak akan membiarkan Agnes menyakiti Ibu." Kayra yang sejak tadi hanya diam memperhatikan interaksi antara Erlangga dan Helen, akhirnya ikut berusaha menenangkan Mama mertuanya itu dengan mengusap lengan Helen.


Helen menoleh ke arah Kayra saat Kayra menyentuh lengannya. Dia nampak canggung menatap menantu yang tidak dianggapnya itu.


" Kayra benar, Ma. Aku tidak akan membiarkan Agnes atau siapapun juga menyakiti keluargaku, terlebih Mama, Papa juga Kayra. Aku bahkan siap mempertaruhkan nyawaku untuk melindungi kalian semua." Erlangga kini merengkuh kedua wanita yang sangat berharga dalam hidupnya, Mamanya dan juga istri tercintanya.


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading ❤️

__ADS_1


__ADS_2