
" Bangunlah, Caroline." Erlangga membantu Caroline bangkit dan menuntun Caroline duduk di sofa.
" Erlangga, aku mohon ... jangan ceraikan aku," pinta Caroline penuh harap.
Erlangga menatap Caroline dengan lekat. Sebenarnya dia sudah menyusun rencana untuk pernikahannya dengan Kayra setelah perceraiannya dengan Caroline tuntas. Namun melihat Caroline seperti ini, dia merasa iba terhadap wanita itu, tapi dia sudah memantapkan hatinya apalagi saat dia tahu ada pria lain yang sudah ikut menikmati tubuh istrinya itu.
" Caroline, aku sudah memberikan kesempatan untukmu sebelum ini, tapi kamu tetap bersikukuh dengan keputusanmu ingin mengejar karirmu. Dan keputusanku untuk berpisah sudah bulat. Aku tidak bisa merubah keputusanku ini!" tegas Erlangga. " Tapi aku bisa membantumu menjebloskan Wisnu ke dalam penjara." Erlangga bersedia menolong Caroline jika Caroline memang menuntut Wisnu karena perbuatan pria itu kepadanya. Karena dia pun merasa geram mengetahui kelakuan be jat Wisnu terhadap istrinya itu.
" Kenapa kamu tega seperti itu kepadaku, Erlangga?" Bahkan kini Caroline sudah tidak berani menyebut kata sayang setelah Erlangga mengetahui kejadian tentang dirinya dan Wisnu. " Apa karena Wisnu telah memper kosaku? Erlangga aku mohon maafkan aku, aku bersedia melakukan apapun yang kamu inginkan asal kamu tidak menceraikanku," lirih Caroline pilu.
" Aku tidak bisa menerima apa yang terjadi antara kau dan Wisnu, Caroline. Meskipun kamu menjadi korban tapi itu terjadi karena sikapmu yang tidak mau mendengarkan perkataanku."
Sudah pasti apa yang terjadi antara Caroline dan Wisnu tidak bisa diterima oleh harga dirinya sebagai seorang laki-laki dan suami.
Terang saja apa yang dikatakan oleh Erlangga membuat Caroline kembali menangis kencang.
" Seadainya kemarin kamu mau mendengarkanku, mungkin hal ini tidak akan terjadi denganmu, Caroline," lanjut Erlangga.
" Caroline!! Di mana, kau !!" Suara teriakan Wisnu terdengar kencang dari luar ruangan Erlangga.
" Caroline!!" Suara itu terdengar semakin jelas saat pintu ruangan dibuka hingga menampakkan Wisnu yang masuk ke dalam ruang kerja Erlangga.
" Untuk apa kamu datang ke sini, Caroline? Ingin mengemis cinta pria ini?!" tanya Wisnu menunjuk ke arah Erlangga dengan mencibir.
Melihat kemunculan Wisnu di ruangannya, dengan langkah cepat Erlangga menghampiri Wisnu dan menyerang pria itu dengan sebuah pukulan di wajah Wisnu.
" Ba jingan kau,Wisnu!!!"
Buuugghhh
" Berani sekali kau datang ke kantorku setelah kau mele cehkan Caroline." Erlangga menarik kemeja yang dipakai Wisnu membuat tubuh Wisnu ikut terbawa dan sebuah pukulan kembali Erlangga arahkan kepada Wisnu, tidak hanya sekali tapi berkali-kali. Bahkan meskipun tubuh Wisnu sudah sempoyongan Erlangga tetap tak memberi ampun kepada orang yang paling berpengaruh membuat rumah tangganya dengan Caroline berakhir kandas.
" Erlangga hentikan!! Jangan buat dirimu menjadi pembunuh!" Caroline berlari memeluk Erlangga yang seperti kesetanan memukuli Wisnu.
" Aku akan jebloskan kau ke penjara, Wisnu!!" geram Erlangga yang benar-benar dikuasa emosi.
" Jangan Erlangga!! Aku tidak ingin publik mengetahui apa yang terjadi denganku!" Caroline menggelengkan kepada meminta Erlangga tidak melaksanakan ancamannya itu, karena dia takut namanya akan tercemar.
" Apa yang kamu harapkan dari dia, Caroline? Apa kamu pikir dia masih mau menerimamu kembali setelah dia tahu jika aku pun sudah merasakan tubuhmu?!" Walaupun dalam kondisi wajah lebam namun Wisnu masih bisa mengolok Erlangga dan juga Caroline.
" Breng sek!!" Erlangga kembali ingin menyerang Wisnu namun Caroline berusaha mencegah agar Erlangga tidak terus memukuli Wisnu.
" Erlangga, hentikan!!" Dengan menangis Caroline meminta Erlangga untuk tidak menghajar Wisnu lagi.
" Dia pantas mendapatkannya, Caroline!" Melihat Caroline menghentikannya, Erlangga merasa sangat kesal.
" Tapi kamu bisa membunuhnya, Erlangga! Aku tidak ingin kamu terlibat masalah karena hal ini." Caroline mengatakan alasannya melarang Erlangga terus memberi hukuman kepada Wisnu.
" Dia itu melarangmu bukan karena takut kau bermasalah, tapi karena dia membutuhkanku. Karena hanya aku yang bisa mengerti dia, yang bisa memahami keinginannya, yang bisa membantunya mencapai impiannya sebagai model top dunia." Tangan Wisnu mengusap darah di sudit bibirnya, namun dia masih bisa berkata-kata yang membuat Erlangga meradang.
" Jangan dengarkan dia!" Caroline menahan tubuh Erlangga yang hendak menyerang Wisnu.
" Ayolah, Erlangga. Selama ini apa kau pernah mendukung karir dia? Bukankah kamu sendiri sudah berjanji saat kau melamar Caroline? Hanya aku yang mampu memberikan kebahagiaan kepada istrimu yang tidak pernah bisa kau berikan! Seharusnya kau bersyukur karena aku telah mempermudah perceraianmu dengan Caroline, Erlangga!" Seringai tipis nampak di sudut bibir yang sedikit robek karena dihajar Erlangga.
" Keluar kau dari ruanganku!!!" geram Erlangga mengusir Wisnu.
" Aku akan keluar bersama Caroline!" Wisnu bertekad akan membawa Caroline.
" Aku tidak akan membiarkan kau membawa Caroline!" tegas Erlangga tidak kalah ngotot dengan Wisnu.
" Untuk apa lagi kau menahan Caroline? Bukankah kau akan tetap menceraikannya!?" Dengan tersenyum sinis Wisnu menyindir Erlangga.
" Walaupun kami akan bercerai, aku tidak akan biarkan kau terus menyakiti Caroline, breng sek!!" Suara Erlangga menggelar karena diucapkan dengan nada yang keras.
" Caroline tidak mungkin lepas dariku, Erlangga! Dia punya beberapa kontrak ekslusif yang harus dia selesaikan dengan pihak luar dan reputasinya akan hancur jika dia melanggarnya." Wisnu menebarkan ancaman. " Jika dia tetap bersamaku, aku pastikan semua yang dia impikan akan menjadi kenyataan, termasuk menjadi model iklan mobil sport itu." Wisnu memang selalu mengimingkan kesuksesan di dunia modelling kepada Caroline.
Erlangga menatap ke arah Caroline. Dia ingin tahu apakah Caroline masih terpengaruh mulut manis Wisnu yang selama ini mujarab mempengaruhinya.
__ADS_1
" Aku sudah tidak menginginkannya, Wisnu!" bantah Caroline yang memang sudah bulat ingin meninggalkan dunia model.
" Kau masih menginginkan atau tidak kau tetap harus menjalankan prkerjaan sampai pekerjaan itu berakhir, Caroline!" Wisnu menjelaskan jika Caroline tidak bisa begitu saja ingkar dengan kesepakatan yang mereka buat dengan pihak perusahaan yang akan memakai jasanya.
" Kau tidak akan bisa jauh dariku, Caroline!" Wisnu berjalan mendekati Caroline dan menarik tangan Caroline agar mendekat ke arahnya.
" Singkirkan tanganmu, Ba jingan!!" Erlangga menepis tangan Wisnu yang memegang tangan Caroline.
" Sekarang ini Caroline milikku, Erlangga. Dan siapa tahu saat ini di rahimnya sudah mulai tumbuh benihku." Wisnu tersenyum meledek.
" Tidak mungkin! Aku tidak mungkin hamil, Wisnu! Aku memakai alat pencegah kehamilan! Aku tidak mungkin hamil, apalagi hamil anakmu!! Aku tidak Sudi!!" Caroline menentang ucapan Wisnu.
" Sebaiknya kau cepat tinggalkan kantorku, Wisnu!! Aku sudah muak melihatmu!!" usir Erlangga hingga pria itu berjalan untuk membuka pintu ruangannya.
" Sebaiknya kau juga biarkan aku membawa Caroline, karena hanya akulah yang dia butuhkan." Dengan percaya diri Wisnu menyebut jika dirinya yang paling pantas untuk Caroline.
" Aku tidak mau!!" Caroline masih tetap menolak. " Erlangga, tolong aku. Aku tidak ingin ikut dengan dia!" Caroline tersedu meminta bantuan Erlangga.
" Keluar kau, Wisnu! Jangan buat kesabaranku habis!!" hardik Erlangga. " Keluar kau, bang sat!!" Erlangga sampai mengeluarkan kata-kata kasar sampai menendang daun pintu ruangannya.
" Oke, baiklah ... tapi jangan harap kau bisa lepas dariku, Caroline." Wisnu akhirnya pergi namun sebelumnya dia menebar ancaman terlebih dahulu.
" Saya akan menyuruh supir mengantarmu pulang, Caroline." Erlangga berniat menyuruh supirnya mengantar Caroline pulang ke rumah orang tua Caroline.
" Aku tidak mau Erlangga! Aku ingin di sini bersamamu."
" Kau tidak bisa ikut denganku, Caroline. Kita akan berpisah." Erlangga benar-benar sudah bulat dengan keputusannya.
Mendengar ucapan Erlangga, Caroline terduduk lemas, ternyata suaminya itu tidak bisa memaafkannya. Wanita itu hanya bisa menyesali keputusannya selama ini yang lebih mengutamakan karir daripada pernikahannya.
Sementara itu di kantin kantor, Kayra duduk bersama dengan Pak Yosep, manager dari divisi marketing dan seorang wanita yang pernah menjumpai Kayra dengan Wira di ruangan Wira hingga membuat gosip itu tersebar.
Saat Wira mengajak Kayra, dia juga segera menghubungi manager divisi marketing untuk mengajak karyawan yang diduga menyebarkan gosip tentangnya dan juga Kayra. Dia sengaja membicarakan hal ini disela waktu istirahat dia di kantor agar gosip itu tidak terus merebak.
" Saya ingat jika kamulah yang mengantar beberapa dokumen ke ruangan saya saat itu. Jadi saya tidak mungkin menuduh orang lain yang menyebarkan gosip antara saya dan Kayra. Apa kamu dengar jika Pak Erlangga sudah memecat dua orang pekerja security karena ketahuan membicarakan masalah gosip ini? Saya tidak bisa menjamin kamu akan tetap bekerja di sini jika Pak Erlangga tahu masalah itu." Nada bicara Wira walaupun diucapkan dengan kalimat yang lugas namun mengandung ancaman.
" Saya ingin gosip soal ini segera clear sepecatnya, dan saya tidak mau ada lagi yang membahas masalah gosip itu di kantor ini!" Wira berkata tegas. " Saya serahkan kepada Anda, Pak Yosep, dia adalah anak buah Bapak, jadi Anda harus bisa mempertanggungjawabkan perbuatan anak buah Anda ini." Wira memberi tekanan kepada Yosep agar bertindak tegas kepada karyawannya yang telah berbuat kesalahan.
" Baik, Pak. Saya akan bertindak tegas kepada karyawan saya." Yosep dengan cepat merespon ucapan Wira.
" Saya mohon jangan pecat saya, Pak." Rita menangis dan memohon kepada Wira juga Yosep agar hukuman untuknya karena menyebarkan gosip tidak sampai berujung pemecatan kepada dirinya.
Sementara Kayra sendiri tidak memusatkan perhatiannya kepada ketiga orang yang berada satu meja dengannya saat ini. Dia justru sedang memikirkan apa yang terjadi dengan Erlangga dan Caroline di ruangan kerja bosnya itu. Apakah Erlangga saat ini sedang bercumbu mesra dengan istrinya seperti saat Caroline datang ke kantor beberapa hari lalu? Rasa hatinya terasa tergigit mengingat hal tersebut.
Ddrrtt ddrrtt
Kayra tersiap saat ponselnya berbunyi, dia melihat nama Erlangga di layar ponselnya itu.
" Maaf, saya terima telepon dulu, Pak." Kayra meminta ijin mengangkat telepon dari suaminya itu.
" Selamat siang, Pak." Kayra menjawab panggilan telepon dari Erlangga.
" Di mana kamu, Kayra?" Suara Erlangga terdengar di telinganya.
" Saya di kantin, Pak." jawab Kayra.
" Kembalilah sekarang!"
" Baik, Pak."
Sambungan telepon langsung terputus setelah Kayra mengatakan kalimat terakhir.
" Hmmm, maaf, Pak. Saya harus kembali ke ruangan saya karena Pak Erlangga mencari." Kayra segera bangkit dan kemudian meninggalkan kantin setelah Wira dan Yosep mengiyakan
***
Erlangga baru teringat akan Kayra setelah kepergian Wisnu dan juga Caroline dari kantornya. Dia segera keluar dari ruangannya namun tidak dia temukan istrinya di sana.
__ADS_1
Erlangga kembali masuk ke dalam ruangan untuk mengambil ponselnya dan menghubungi Kayra.
" Selamat siang, Pak." Suara merdu wanita yang beberapa hari ini membuat hidupnya lebih tentram terdengar di telinga Erlangga saat panggilan teleponnya terangkat okeh Kayra.
" Di mana kamu, Kayra?" tanya Erlangga kemudian.
" Saya di kantin, Pak." sahut Kayra
" Kembalilah sekarang!" perintah Erlangga.
" Baik, Pak."
Erlangga segera menaruh ponselnya di atas meja setelah itu dia duduk bersandar di sofa menunggu kehadiran Kayra.
Sekitar lima menit berselang, Kayra sudah sampai di lantai ruang kerja Erlangga. Dia nampak ragu untuk masuk ke dalam ruangan kerja pria yang juga berstatus sebagai suaminya itu.
Dengan menarik nafas terlebih dahulu, Kayra membuka handle pintu ruangan kerja Erlangga. Dia mendapati suaminya itu tengah memejamkan matanya dengan kepada menengadahkan ke langit-langit ruang kerjanya.
Kayra mengetuk pintu terlebih dahulu hingga membuat Erlangga membuka mata dan menolehkan pandangan ke arahnya.
" Kemarilah ..." Seperti biasa, Erlangga senang memanggilnya dengan mengulurkan tangan ke arahnya.
Kayra menutup pintu ruangan Erlangga lalu berjalan mendekat ke arah Erlangga.
" Apa Ibu Caroline sudah pulang?" tanyanya melirik ke arah ruang istirahat Erlangga. Dia takut ada istri sah Erlangga di sana, padahal tidak mungkin Erlangga berani memintanya mendekat jika Caroline masih ada di ruangan tersebut.
" Kau tahu Caroline ada di sini?" Erlangga kaget saat menyadari Kayra ternyata tahu tentang kedatangan Caroline di kantornya itu.
" Apa Ibu Caroline menolak bercerai?" Kayra menduga jika penyebab Caroline menangis adalah karena wanita itu menolak diceraikan Erlangga.
" Duduklah ..." Erlangga meminta Kayra duduk di sampingnya.
" Maaf jika saya terlalu lancang, tapi tadi saya mendengar Ibu Caroline menangis, apa beliau menolak untuk bercerai, Pak? Kalau memang Ibu Caroline tidak ingin berpisah dengan Bapak, sebaiknya. Bapak jangan memaksakan bercerai dengan Ibu." Kayra merasa bersalah atas apa yang menimpa Caroline.
" Saya tetap akan bercerai dengan Caroline dan sidang pertama akan dilaksanakan awal Minggu depan." Erlangga menjelaskan keputusannya kepada Kayra.
" Apa Bapak tidak kasihan terhadap Ibu? Beliau pasti merasa sedih dan terpukul dengan perceraian ini, Pak. Sebaiknya Bapak pikirkan lagi soal rencana Bapak. Sebaiknya batalkan rencana perceraian Bapak. Bukankah Bapak sangat mencintai Ibu Caroline?" Kayra memohon agar Erlangga tidak meneruskan niatnya untuk bercerai.
" Sekarang ini masalahnya tidak semudah itu, Kayra. Tidak ada alasan lagi untuk saya mempertahankan rumah tangga saya dengan Caroline!" tegas Erlangga yang sudah merasa yakin dengan keputusannya.
" Apa Bapak sudah tidak mencintai Ibu lagi? Kenapa perasaan Bapak terhadap Ibu Caroline begitu cepat berubah?" Kayra tidak mengerti mengapa Erlangga begitu cepat melupakan rasa cintanya terhadap Caroline, padahal dia tahu selama ini pria itu begitu mencintai Caroline.
Erlangga menarik nafas dalam-dalam, rasanya sesak di hatinya jika dia harus menjelaskan kepada Kayra tentang pele cehan yang terjadi pada Caroline, karena bagaimanapun juga saat ini Caroline masih berstatus sebagai istrinya.
" Saya tidak bisa menerima wanita yang tubuhnya sudah dinikmati oleh pria lain, walaupun itu karena paksaan," ucapnya kemudian. Mungkin dia terlalu kejam dengan keputusannya, tapi memang pernikahannya sudah tidak bisa diselamatkan apalagi saat tahu Wisnu sudah menikmati tubuh istrinya berkali-kali.
Kening Kayra berkerut mencoba menterjemahkan maksud dari perkataan Erlangga.
" Caroline sudah melayani pria lain, Kayra." ungkap Erlangga kemudian.
" M-maksud, Bapak?" tanya Kayra masih belum paham dengan apa yang dibicarakan oleh Erlangga.
Erlangga menoleh dan memandang wajah kebingungan Kayra. Jarinya menyampirkan rambut Kayra yang menutupi sebagian pipi wanita itu.
" Caroline pernah diper kosa Wisnu ...."
Bola mata Kayra membulat penuh bahkan mulutnya pun ikut terbuka mendengar penuturan Erlangga atas apa yang terjadi dengan Caroline.
" Astaghfirullahal adzim, kasihan sekali Ibu Caroline." Seketika. air mata menetes di pipi Kayra, dia bisa merasakan bagaimana hancurnya hati Caroline saat ini.
*
*
*
Bersambung ...
__ADS_1
Happy Reading❤️