MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO

MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO
Semakin Aman


__ADS_3

Ibu Sari tertegun menatap rumah yang akan mereka tempati ke depannya. Dia bahkan hampir tak berkedip seakan takjup dengan interior dan juga furniture yang tertata dengan rapih dan terlihat sangat mewah dan elegan.


Rasanya seperti memasuki istana saat melangkahkan kaki di rumah itu. Mungkin selama ini dia hanya melihat di televisi rumah-rumah orang kaya seperti ini, tak menyangka jika suatu hari dia sendiri akan menempati rumah mewah begini karena dia bermenantukan seorang CEO kaya raya.


" Kayra, benar ini rumah yang akan kita tempati nanti?" tanya Ibu Sari masih belum percaya jika mereka akan tinggal di tempat yang sangat mewah di hadapannya saat ini.


" Iya, Bu. Ibu pasti suka, kan? Aku juga suka sekali, Bu. Di sini terasa nyaman dan menyenangkan," ujar Kayra dengan senyuman melebar di bibirnya.


Ibu Sari menatap Kayra saat mendengar putrinya berkata demikian.


" Kamu bersemangat dan senang ingin pindah kemari, bukan karena rumah ini lebih besar dan lebih bagus dari tempat sebelumnya 'kan, Nak?" Ibu Sari takut jika Kayra terbuai keadaan, karena merasa istri dari seorang bos hingga membuatnya terlena dan ingin merasakan hidup penuh dengan kemewahan.


" Kenapa Ibu bicara seperti itu? Tentu saja Kayra tidak berpikir seperti itu, Bu. Kayra hanya merasa begitu akrab dengan lingkungan di rumah ini, walaupun Kayra tidak tahu apa penyebabnya, Bu." Kayra mengatakan perasaan yang sesungguhnya jika berada di rumah itu.


" Maafkan Ibu sudah berprasangka buruk terhadapmu, Kayra." Ibu Sari menyampaikan penyesalannya karena dia sudah berpikiran tidak baik terhadap putrinya tersebut.


" Tidak apa-apa, Bu. Kayra mengerti, Ibu hanya ingin mengingatkan Kayra agar Kayra tidak lupa diri, kan?" Menyadari jika Ibunya hanya berusaha menjaga dirinya untuk tetap rendah hati, Kayra pun bisa memaklumi kecemasan Ibunya itu.


" Bagaimana, Bu? Apa Ibu suka tinggal di sini?" Erlangga yang baru selesai memeriksa seluruh ruangan bertanya kepada Ibu Sari, karena ini kali pertama Ibu mertuanya itu datang ke rumah itu.


" Ibu terserah kalian saja, Nak. Kalau kalian merasa nyaman di sini, Ibu hanya bisa menuruti ke mana kalian ingin tinggal," sahut Ibu Sari.


" Di rumah ini ada tujuh kamar, dua kamar utama, tiga kamar tamu dan dua kamar ART. Satu kamar utama di atas untuk saya dan Kayra, dan satu kamar utama lainnya ada di lantai bawah untuk Ibu. Dua kamar tamu ada di lantai atas dan satu kamar tamu di bawah akan difungsikan sebagai kamar untuk Atik, Diah dan Siti, karena kamar itu cukup luas. Sedangkan dua kamar ART di belakang sudah ditempati oleh Bi Jumi dan Bi Onah. Untuk Pak Koko, ada rumah tersendiri di bagian samping bangunan utama rumah ini." Erlangga menjelaskan secara mendetai kamar-kamar yang ada di rumah peninggalan orang tuanya dulu.


" Baik, Tuan." Koko dan ketiga ART bawaan dari rumah sebelumnya menyahuti bersamaan.


" Bi Jumi, Bi Onah, tolong antar Ibu Sari ke kamar." Erlangga menyuruh Bi Jumi untuk mengantar Ibu mertuanya itu ke kamar. " Kalian bisa ke kamar kalian di depan ruangan keluarga." Lalu Erlangga menyuruh ketiga ART bawaannya untuk ke kamar mereka.


" Baik, Den." ujar Bi Jumi menyahuti.


" Baik, Tuan." Ketiga ART lainnya pun ikut menyahuti.


" Ayo, kita ke atas, Sayang." Erlangga lalu mengajak Kayra untuk naik ke kamar mereka.

__ADS_1


" Oh ya, Papa kemarin bilang, katanya Papa mau datang kemari hari ini." Sesampainya di kamar, Erlangga menyampaikan kabar rencana Papanya yang ingin berkunjung ke rumah yang pernah keluarga Krisna tempati dulu.


" Oh ya?" Kayra terlihat sumringah mendengar suaminya menyampaikan kabar jika Krisna akan datang berkunjung menemui mereka. Sejak menikah dengan Erlangga, Papa mertuanya itu memang belum pernah mengunjungi mereka di tempat tinggal sebelumnya.


" Iya, Papa bilang ingin bertemu dengan Ibu, karena kemarin-kemarin Papa belum sempat bertemu dengan Ibumu," sahut Erlangga seraya menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur.


" Apa Mama juga ikut, Mas?" tiba-tiba Kayra menanyakan apakah Mama mertuanya itu akan ikut datang ke rumah itu.


" Sepertinya tidak, sementara ini aku tidak ingin Mama tahu kita tinggal di sini, untuk ketenangan dan kenyamanan kamu." Erlangga kembali bangkit, dia menjelaskan jika kedatangan Helen dalam waktu dekat sepertinya kurang baik untuk Kayra. Mungkin jika istrinya itu sudah melahirkan, baru dia akan membiarkan Helen mengetahuinya.


Erlangga menggenggam tangan Kayra lalu menautkan jari-jari mereka hingga saling mengait.


" Aku harap kamu jangan terlalu ambil pusing dengan sikap Mama, ya? Aku yakin suatu saat nanti, Mama akan bisa menerima kamu sebagai menantunya, apalagi sekarang hubungan Mama dan Agnes sedang tidak membaik, semoga Mama bisa cepat menyadari kekeliruannya selama ini terhadap kamu." Erlangga berharap Kayra lebih tenang dan tidak dipusingkan dengan sikap Mamanya.


" Aamiin, Mas. Aku harap juga seperti itu, Mas. Aku berharap Mama bisa membuka hatinya untuk aku dan juga bayi di perutku ini." Kayra mengusap perutnya yang belum terlalu menampakkan perubahan bentuk.


" Tentu saja, Kayra. Aku tidak ingin cucu keluarga Mahadika nantinya akan dimusuhi oleh Neneknya sendiri." Erlangga terkekeh.


Ddrrtt ddrrtt


" Ada informasi apa, Pak Bondan?" Saat melihat nama Bondan di layar ponselnya, Erlangga segera mengangkat panggilan telepon masuk tersebut.


" Selamat siang, Tuan. Saya ingin menyampaikan berita cukup mengejutkan kepada Tuan." Bondan sepertinya ingin menyampaikan pertemuannya dengan Helen dan berita seputar Agnes yang sering melakukan hubungan in tim dengan banyak pria.


" Apa sudah ada hasil dari teman Anda, Pak Bondan?" Erlangga tidak berpikir jika berita yang ingin disampaikan oleh Bondan adalah soal Agnes.


" Rizal sudah menghubungi perusahaan Abadi Jaya, untuk melakukan kerjasama. Dia akan memakai nama perusahaan milik PT. Langgeng Putra Persada, sesuai yang Tuan rekomendasikan. Dan rencana pertemuan dengan Rivaldi baru dijadwal lusa, Tuan." Bondan melaporkan apa yang ditanya Erlangga terlebih dahulu.


" Bagus, segera kabari saya soal hasilnya." Erlangga senang, Rizal bekerja cukup cepat dan sepertinya cukup lihai.


" Baik, Tuan." sahut Bondan.


" Oh ya, apa berita ini yang Anda katakan mengejutkan, Pak Bondan?" Menganggap berita yang disampaikan Bondan bukanlah kabar mengejutkan, Erlangga lalu kembali menyinggung soal berita mengejutkan yang diucapkan Bondan tadi.

__ADS_1


" Ah, itu, Tuan. Tadi di tempat Rizal, saya bertemu dengan Nyonya Helen."


Erlangga terkesiap mendengar informasi dari Bondan yang mengatakan bertemu dengan Mamanya di tempat Rizal.


" Bertemu dengan Mama saya? Sedang apa Mama di sana?" Erlangga heran, ada apa dengan Mamanya, hingga mendatangi tempat Rizal, yang menurut Bondan adalah kantor detektif swasta.


" Benar, Tuan. Menurut Rizal, Nyonya Helen menyewa orang untuk menyelidiki Nona Agnes, karena Nyonya Helen mendapatkan informasi dari seseorang jika Nona Helen seorang wanita yang senang menyewa pria untuk menemaninya tidur dan bercinta." Bondan menyampaikan apa yang dia dengar dari Rizal.


" Apa??" Erlangga sampai terperanjat mendengar penjelasan Bondan.


" Sepertinya Nona Agnes adalah penganut budaya s*eks bebas, Tuan." Bondan memperjelas ucapannya.


Sudut bibir Elangga tertarik tipis hingga membentuk seringai mengetahui apa yang sering dilakukan Agnes, wanita yang selalu dibanggakan oleh Mamanya itu.


" Dari mana Mama saya mendapatkan kabar itu, Pak Bondan?" tanya Erlangga kemudian.


" Saya kurang tahu, Tuan. Tapi mungkin saat di restoran itu, karena saat itu ada seorang pria yang mengenali Nona Agnes, dan pria itu sempat berbicara dengan Nyonya Helen, Tuan." Bondan memang tidak menceritakan jika Helen sempat terlibat perdebatan dengan seorang pria di restoran itu, karena dia pikir sudah bisa dia atasi.


" Oke, Pak Bondan. Biarkan saja jika Mama saya memang ingin mengawasi Agnes, biar Mama saya melihat sendiri bagaimana kelakuan wanita kesayangannya itu."


" Baik, Tuan. Tapi, saya harap Tuan tidak mengatakan hal ini kepada Nyonya Helen, karena sebenarnya hal ini seharus dirahasiakan oleh Rizal untuk menjaga privacy kliennya, namun karena memandang Tuan Erlangga, karena itu dia bersedia menceritakan tugas yang dia terima dari Nyonya Helen." Bondan meminta pengertian Erlangga.


" Oke, Pak Bondan. Saya paham ...!" Setelah menjawab Bondan, Erlangga mengakhiri percakapan teleponnya dan menaruh kembali ponselnya di atas nakas.


" Ada apa, Mas? Ada apa dengan Mama Mas?" Kayra yang sejak tadi mendengar kata-kata Erlangga dengan Pak Bondan, namun tidak mengerti apa yang dibicarakan, akhirnya menanyakan kepada suaminya, apalagi saat nama Agnes disebut-sebut.


Erlangga tersenyum seraya membelai kepala istrinya. " Mama sedang mencari pembenaran jika Mama adalah mertua beruntung karena mendapatkan seorang menantu yang cantik dan baik hati seperti kamu." Tak dapat dipungkiri jika Mamanya menemukan fakta tentang kehidupan bebas Agnes, hal itu semakin membuat posisi Kayra sebagai istrinya dan menantu keluarga Mahadika Gautama semakin aman.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung ...


Happy Reading❤️


__ADS_2