
Erlangga sampai di kantor sekitar sepuluh menit setelah Kayra menghubungi bosnya itu. Wira sendiri sudah bersiap agar mereka tidak telat sampai di tempat pertemuan dengan relasi bisnis mereka dari Surabaya.
" Kamu ikut kami, Kayra!" perintah Erlangga.
" Saya, Pak?" tanya Kayra, karena sebelumnya Erlangga tidak menjadwalkan dirinya turut serta, sebab sudah ada Wira yang menemani Erlangga.
" Iya, cepatlah! Jangan buat malu kita karena telat sampai di sana!" Erlangga lalu berjalan menuju ruangannya terlebih dahulu untuk menaruh tas kerjanya, karena semua data dan arsip yang diperlukan dalam pembicaraan masalah bisnis sudah dihandle oleh Wira.
Kayra segera membereskan mejanya karena tugas dari Erlangga untuk ikut bersama dengan Erlangga dan juga Wira.
Beberapa menit kemudian Erlangga, Wira dan Kayra sudah berada di dalam lift yang membawa mereka turun ke basement.
" Biar saya yang bawa, Pak." Kayra meminta tas berisi notebook yang dipegang oleh Wira.
Mendengar permintaan Kayra, Erlangga langsung menolehkan pandangan ke arah istrinya.
" Biarkan saja Pak Wira yang membawa!" Erlangga bahkan langsung melarang Kayra mengambil tas dari tangan Wira.
" Kamu itu bukan asisten Pak Wira, jadi kamu tidak perlu melayani Pak Wira!" ketusnya kemudian.
" B-baik, Pak." Kayra kemudian menoleh ke arah Wira yang tersenyum tipis dengan menganggukkan kepalanya pelan.
" Tidak apa-apa, Kayra. Ini tidak cukup berat untuk saya bawa," sahut Wira kemudian.
Tak berapa lama pintu lift terbuka dan mereka bertiga keluar dari dalam lift.
" Pak Wira menggunakan mobil sendiri saja, Kayra nanti akan naik di mobil saya." Erlangga memberikan perintah saat keluar dari lift menyuruh Wira memakai kendaraannya sendiri menuju tempat pertemuan.
" Baik, Pak." sahut Wira, untung saja Wira mengantongi kunci mobilnya hingga dia tidak perlu kembali ke ruangannya karena perintah mendadak seperti ini.
Sementara Kayra segera mengikuti langkah lebar Erlangga walau harus dia lakukan sambil berlari kecil agar bisa menyusul langkah bosnya itu.
Selama dalam perjalanan menuju tempat pertemuan tak ada percakapan di antara Kayra dan Erlangga, mereka sama-sama terdiam, tak ada satu hal pun yang dibahas oleh mereka. Sebenarnya bukan hal yang aneh bagi Kayra menghadapi sikap Erlangga yang tidak banyak bicara terhadapnya. Namun karena status dia saat ini adalah istri dari Erlangga, membuatnya merasa sangat canggung, apalagi saat mengingat aksi buas Erlangga pagi tadi yang menginginkan melakukan hubungan in tim suami istri.
Kayra sampai menahan tawanya hinga dia menutup mulut dengan telapak tangan dan melempar pandangan ke jendela mobil saat mengingat ekspresi lucu wajah Erlangga saat dia menendang alat reproduksi suaminya itu.
" Apa ada yang lucu?" tanya Erlangga yang memperhatikan gerak-gerik Kayra.
" Oh, t-tidak, Pak. Tidak ada apa-apa." Kayra yang terkesiap karena Erlangga menyadari tingkahnya dengan cepat menyangkal apa yang dilakukannya.
" Apa kamu menertawakan saya soal kejadian pagi tadi?" tuding Erlangga menebak apa yang diketawakan oleh istrinya itu.
Kayra membulatkan matanya saat suaminya itu bisa mengetahui apa yang membuat dirinya menahan tawa.
" T-tidak, Pak." Kayra kembali melakukan sanggahan, karena jika Erlangga tahu dia benar-benar menertawakan kelakuan suaminya itu, Erlangga pasti tidak akan memaafkannya.
Erlangga melirik ke arah Kayra kemudian kembali fokus dengan kemudinya, sepertinya pria itu tidak ingin memperpanjang masalah tersebut.
Erlangga tiba di sebuah restoran western lima menit setelah Wira tiba di sana. Dia bersama Kayra turun dari mobil menuju Wira yang sudah menunggu di pintu depan restoran.
" Apa Pak Joko sudah tiba?" tanya Erlangga kepada Wira.
" Sudah sejak sepuluh menit lalu, Pak." jawab Erlangga.
" Oh ... ya sudah, mari kita temui mereka. Jangan membuat mereka menunggu terlalu lama." Erlangga bergegas berjalan ke private room yang dipesan oleh Wira berdampingan dengan Wira, sementara Kayra berjalan di belakang kedua atasannya tersebut.
" Selamat siang, Pak Joko. Maaf kami membuat Anda menunggu." Erlangga menyapa relasi bisnisnya tersebut setelah sampai di private room dengan berjabatan tangan dengan Joko.
__ADS_1
" Selamat siang, Pak Erlangga. Apa kabar? Senang akhirnya bisa bertemu dengan Anda kembali," sahut Joko menepuk lengan Erlangga.
" Saya juga merasa beruntung Pak Joko masih berkenan menjadi rekanan kerja kami," balas Erlangga. " Silahkan, Pak." Erlangga mempersilahkan Joko untuk duduk kembali, kemudian dia pun duduk berhadapan dengan Joko. Sementara Wira yang sudah menemui Joko sebelum kedatangan Erlangga memilih duduk di samping kanan Erlangga dan Kayra duduk di sebelah kiri Erlangga.
Sedangkan Joko sendiri berdampingan dengan dengan seorang wanita cantik yang menggunakan setelan blazer berwarna hijau mint dan perhiasan bertahtakan berlian yang dipakai wanita itu menandakan jika wanita itu bukan wanita biasa saja.
Kayra sesekali melirik ke arah wanita yang. ada di sebelah Joko, selama Erlangga, Wira dan Joko membicarakan urusan bisnis mereka. Jika dilihat dari sikap wanita itu melayani Joko berhubungan dengan urusan kerjasama yang dibicarakan dengan Erlangga dan Wira, Kayra menduga jika wanita itu adalah sekretaris dari Joko. Tapi jika dilihat dari penampilan glamor wanita itu terlebih dari perhiasan yang dikenakan, sepertinya bukan hanya sekedar sekretaris saja.
Hampir satu jam Erlangga, Wira dan Joko membicarakan kerjasama mereka hingga mendapatkan kesepakatan memperluas kerjasama kedua perusahaan mereka. Kini mereka mengobrol santai sambil menunggu hidangan yang mereka pesan tiba di meja mereka.
" Apa dia ini sekretaris Anda, Pak Erlangga?" tanya Joko menunjuk ke arah Erlangga. Karena beberapa kali berjumpa dengan Erlangga dia tidak pernah melihat Kayra sebelumnya.
Tentu saja pertanyaan Joko membuat Erlangga menatap dengan memasang wajah serius. Dia melirik ke arah Joko lalu mengalihkan pandangan kepada Kayra yang duduk di sampingnya.
Tak hanya Erlangga, wanita di samping Joko pun langsung memasang ekspresi wajah memberengut tidak suka seraya melirik sinis ke arah Kayra yang seketika salah tingkah, karena saat ini semua seakan mengarahkan pandangan kepada di dirinya.
" Iya, dia sekretaris saya!" tegas Erlangga,
" Anda pintar memilih sekretaris, Pak Erlangga." Joko terkekeh memuji Kayra yang terlihat cantik namun sangat sederhana.
Gigi Erlangga mengerat dengan rahang mengeras mendengar Joko memuji Kayra. Inilah yang paling tidak dia suka jika membawa Kayra kalau rekan bisnis yang akan ditemuinya adalah laki-laki. Kebanyakan dari mereka selalu menanyakan tentang Kayra.
" Tentu saja, Pak Joko. Dia salah satu karyawan terbaik saya dan bisa menghandle pekerjaan saya dengan baik." Walaupun kesal namun Erlamgga masih menjawab pertanyaan Joko.
" Apa Nona ini sudah menikah? Karena saya tidak melihat cincin melingkar di jari sekretaris Anda ini, Pak Erlangga."
Deg
Kayra sontak membulatkan bola matanya. ternyata Joko melihat jika Kayra tidak memakai cincin pernikahannya dengan Erlangga. Kayra segera menarik dan menyembunyikan tangannya dari pandangan Erlangga yang saat ini menatap tajam dirinya.
" Memangnya kenapa jika sekretaris saya sudah menikah atau belum menikah, Pak Joko?" Meskipun Erlangga berkata kepada Joko namun pandangan matanya masih mengarah ke Kayra. Dia tidak menyadari jika Kayra melepas cincin pernikahannya itu. Tentu saja perbuatan Kayra tidak mengenakan cincin pernikahan membuat dirinya kesal.
" Pak Joko juga mempunyai sekretaris cantik." Wira yang sejak tadi hanya mendengarkan kini ikut berbicara dan menyinggung tentang wanita di samping Joko, karena dia mulai menyadari ketidaknyamanan Erlangga dengan topik yang sedang diperbincangkan.
" Iya seperti inilah repotnya mempunyai sekretaris cantik, karena itu saya mengerti jika Pak Erlangga terlihat tidak suka saya menanyakan soal sekretaris Pak Erlangga ini." Sepertinya Joko merasakan nada ketus Erlangga saat dia menanyakan seputar Kayra.
" Apa sekretaris Pak Joko ini juga sudah menikah?" tanya Wira kemudian.
" Hahaha, jika dia sudah menikah, pasti suaminya tidak akan mengijinkan dia mendampingi saya tugas ke luar kota hanya berdua saja. Kecuali sayalah yang menikahi dia." Joko melirik ke arah sekretarisnya dan dibalas tindakan yang sama oleh wanita di sebelahnya itu.
" Ehemm, maksud Pak Joko, Nona ini ..." Wira tidak berani melanjutkan pertanyaannya.
" Hahaha ... saya rasa Anda pasti paham, Pak Wira." Joko mengerti maksud kalimat Wira yang tidak tuntas. " Seorang bos dekat dengan sekretarisnya lalu terjadi affair di antara mereka bukanlah hal yang aneh bukan? Yang penting tetap memberikan jatah memuaskan kepada istri sah." Tanpa rasa malu Joko mengatakan hal tersebut, bahkan dia terdengar tanpa beban mengatakan jika affair antara bos dan sekretarisnya adalah hal yang wajar.
Tentu saja perkataan Joko membuat Erlangga dan Kayra sama-sama terdiam. Namun Erlangga masih terlihat tenang, berbeda dengan Kayra yang seketika gelisah dan menjadi beban pikiran. Begitu mudahnya bos macam Joko dan Erlangga menganggap posisi sekretaris dijadikan sebagai selingan dan hanya untuk memuaskan has rat bira hi saja.
" Ya, saya paham, Pak Joko. Tapi tidak semua bisa dipukul rata seperti itu. Pak Erlangga sendiri sangat profesional dalam hubungan pekerjakan dengan karyawan-karyawannya." Wira meyakini jika Erlangga dan Kayra tidak sampai melakukan apa yang dilakukan oleh Joko dan sekretarisnya. Apalagi dia sangat mengenal Kayra bukanlah wanita penggoda yang senang mendekati pria yang sudah beristri.
Kayra menelan salivanya, hatinya seakan tercubit. Betapa malunya dia jika Wira tahu dia tidak seperti yang dibayangkan asisten bosnya itu.
" Tentu saja saya percaya, saya melihat Pak Erlangga ini tipe pria setia. Pak Erlangga mempunyai seorang istri yang cantik dan mempunyai karir yang sangat cemerlang. Tidak mungkin Pak Erlangga akan melirik wanita lain yang jauh di bawah istrinya itu," ujar Joko.
Deg
Kata-kata Joko terasa setajam belati menusuk hati Kayra. Walaupun Joko benar jika dia tidak bisa dibandingkan dengan Caroline, ibarat bumi dan langit. Namun kenyataannya hal itu tidak menyelamatkan dirinya dari keinginan Erlangga untuk menjadikannya istri.
" Permisi ..." Beberapa pramusaji restoran datang mengantar makanan pesanan Erlangga dan yang lainnya.
__ADS_1
" Sebaiknya kita makan dulu, Pak Joko." Erlangga mengajak Joko dan yang lainnya untuk menyantap makanan daripada Joko terus berbicara soal hubungan affair bos dan sekretaris yang sejujurnya sangat mengusiknya.
Selepas menghabiskan makan siangnya, Kayra berpamitan ingin ke toilet. Dan secara bersamaan sekretaris Joko pun melangkahkan kaki ke arah toilet restoran.
" Mbak ..." Kayra menyapa sekretaris Joko dan mengulum senyuman saat dia melihat dari kaca cermin wanita itu muncul dari arah pintu.
" Mbak ini sudah lama bekerja dengan Pak Erlangga?" tanya sekretaris Joko.
" Sudah lima tahun," sahut Kayra menyalakan kran air setelah dia mengambil handsoap di telapak tangan untuk mencuci tangannya.
" Selama lima tahun memang tidak pernah terjadi sesuatu antara Mbak dengan Pak Erlangga?" Seketaris Joko terkesan ingin tahu dan penasaran mengorek tentang hubungan Kayra dan bosnya.
" Tidak ada kok, Mbak." Kayra menyanggah namun dia tidak berani menatap sekretaris Joko walaupun dari cermin.
" Bos Mbak ini tampan begitu, sayang sekali tidak dimanfaatkan, Mbak."
Kayra mengerutkan keningnya lalu dia memutar tubuhnya berhadapan dengan sekretaris Joko.
" Maksud Mbak ini apa?" tanya Kayra merespon ucapan sekretaris dari Joko.
" Menggoda pria itu tidak sulit walaupun pria itu sudah mempunyai istri cantik. Apalagi Mbak juga cantik dan selalu bersama Pak Erlangga. Manfaatkan saja, Mbak. Yang penting kesejahteraan kita terjamin. Coba Mbak lihat saya ..." Sekretaris Joko memperlihatkan perhiasan yang terpasang di tubuhnya. Dia membandingkan dirinya dengan Kayra yang tidak mengenakan perhiasan dan hanya arloji di tangannya saja.
Kayra mende sah, dia tidak menyangka wanita di hadapannya itu mengajari hal tidak baik kepadanya. Walaupun dia tidak menggoda Erlangga dan juga tidak berminat memanfaatkan Erlangga, nyatanya dia tetap menjadi istri kedua Erlangga.
" Apa Mbak merasa puas dengan yang Mbak jalani saat ini?" tanya Kayra.
" Tentu saja, saya sangat menikmati semua fasilitas yang tidak mungkin bisa saya dapati jika saya tidak menjadi wanita simpanan bos," ungkap sekretaris Joko dengan enteng. " Mbak juga bisa seperti saya, lho!"
" Saya sudah cukup bersyukur dengan apa yang saya dapatkan sejauh ini, Mbak." Kayra menjawab seraya tersenyum tipis. " Saya duluan ya, Mbak." Kayra memilih segera keluar dari toilet dan kembali bergabung dengan Erlangga.
***
" Kenapa kamu melepas cincinmu?" tanya Erlangga saat mereka berada dalam perjalanan kembali ke kantor setelah mengakhiri pertemuan dengan Joko.
" Cincin itu cincin pernikahan, Pak." sahut Kayra.
" Saya tahu itu cincin pernikahan! Lalu kenapa kamu tidak memakainya?" tanya Erlangga menuntut penjelasan Kayra.
" Orang di kantor Bapak tahu jika saya adalah wanita single, lalu bagaimana mungkin saya memakai cincin pernikahan?" Kayra merasa gemas karena Erlangga tidak memahami maksud perkataannya tadi.
Erlangga terdiam, dia tidak bisa menyanggah apa yang baru saja Kayra ucapkan.
" Lain kali kalau ikut keluar dengan saya, pakai cincin nikah kamu agar pria lain tahu jika kamu itu sudah punya suami!" pinta Erlangga bernada perintah.
" Kalau Pak Wira ikut, apa saya harus memakai cincinya, Pak?" Kayra menduga Wira pasti akan curiga jika melihat dirinya memakai cincin nikah, karena sepertinya Wira belum tahu tentang pernikahannya dengan Erlangga. Mungkin Emma belum memberitahu tentang hal itu, karena Emma juga terlalu takut jika keluarga Erlangga akan tahu soal pernikahan sembunyi-sembunyi Erlangga dengan Kayra dan menyalahkan dia dan suaminya. Apalagi Emma dan suaminya menjadi saksi pernikahan tersebut.
" Saya akan memberitahu Pak Wira soal status kamu saat ini."
Kayra langsung menoleh ke arah Erlangga dengan mata terbelalak saat bosnya itu mengatakan akan memberitahu soal status dirinya sebagai istri kedua Erlangga. Tentu saja Kayra merasa cemas jika kabar pernikahannya dengan Erlangga akan diketahui keluarga Erlangga seandainya Wira sampai tahu tentang statusnya saat ini.
*
*
*
Bersambung ...
__ADS_1
Happy Reading❤️