MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO

MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO
Semalam Dari Mana?


__ADS_3

Sesampainya di rumah, Erlangga masih mendapati Caroline yang masih terlelap di tempat tidur karena jam di dinding kamar Erlangga masih menunjukkan pukul lima pagi. Erlangga mendengus kesal karena istrinya itu asyik terlelap membiarkan dia tersiksa hingga harus mendinginkan has rat dan emosinya sendiri, hingga membawa dirinya menemui dengan Kayra.


Erlamgga melepas pakaiannya yang terasa lembab karena semalam dia turun ke kolam renang tanpa membuka pakaiannya. Pikirannya yang kacau dan rasa kecewa terhadap Caroline membuatnya bertingkah tanpa berpikir panjang lebih dahulu.


Setelah membersihkan tubuh dengan air hangat, Erlangga memilih naik ke tempat tidur dan mengistirahatkan tubuhnya karena sekarang ini dia mulai merasakan tubuhnya yang agak sakit dan kepalanya terasa sangat pusing.


Tepat jam delapan pagi Erlangga terbangun dari tidurnya. Dia menoleh ke arah sampingnya namun dia tidak mendapati istrinya di sana.


Erlangga menyibak selimutnya dan berjalan ke luar dari kamarnya menuju ruang makan. Dia mempertajam pendengarannya karena dia mendengar suara Caroline yang sedang berbincang di ruang makan. Dia melihat istrinya itu ternyata sedang menyantap roti panggang berhadapan dengan Wisnu yang duduk di seberangnya dan sedang menikmati sarapan dengan menu yang sama.


" Aku sedang mencoba agar kamu yang akan menjadi model untuk iklan mobil sport itu Caroline Kamu tahu siapa yang akan menjadi model prianya? Alexander Gilbert, model terkenal dari Jerman itu." Wisnu terlihat antusias menceritakan kepada Caroline jika dia sedang berusaha mendapatkan kesempatan agar Caroline membintangi iklan internasionalnya.


" Benarkah? Alexander Gilbert yang akan menjadi model prianya?" Caroline juga begitu bersemangat saat nama Alexander Gilbert disebut oleh Wisnu.


" Kapan aku pernah berbohong kepadamu, Caroline? Dan kau tahu apa? Iklan itu akan ditayangkan di sebagian besar negara di benua Eropa. Artinya wajahmu akan sering muncul di televisi dan lambat laun orang akan familiar denganmu, Caroline." Wisnu mencoba meyakinkan Caroline betapa pentingnya iklan itu didapatkan oleh Caroline


" Aku harus bisa mendapatkan iklan itu, Wisnu!" Caroline yang memang berambisi mengejar karir sebagai top model, tentu saja sangat menginginkan mendapatkan iklan itu.


" Sejak kapan ruangan makanku ini menjadi ruang makan umum?" Erlangga yang sejak tadi hanya mendengarkan dan memperhatikan istri dan managernya itu berbincang akhirnya keluar dari persembunyiannya.


" Sayang, kau sudah bangun?" Caroline terkesiap saat mendengar suara suaminya dan kehadiran suaminya itu di ruang makan.


Erlangga menatap dengan sorot mata tajam ke arah Caroline dan juga Wisnu secara bergantian.


" Kau mau sarapan, Sayang? Kau ingin roti atau sarapan nasi?" Tanpa memperdulikan tatapan mata bak elang yang siap menerkam mangsanya Caroline justru dengan santai menanyakan menu sarapan yang akan disantap oleh suaminya pagi ini.


" Apa keluargamu tidak menyediakan sarapan sampai harus datang ke tempat orang lain untuk menumpang sarapan pagi?" Tak memperdulikan pertanyaan Caroline, Erlangga justru menyindir kehadiran Wisnu pagi-pagi di rumahnya.

__ADS_1


" Sayang, Wisnu itu datang kemari karena ada job yang harus aku ambil. Kau tahu, Sayang. Aku berkesempatan terkenal di benua Eropa kalau aku mendapatkan iklan itu." Caroline mengungkapkan alasan kedatangan Wisnu pagi-pagi ke rumah mereka.


" Apa kau terus mencoba meracuni pikiran istriku?" Berita yang disampaikan Caroline tentu saja bukan kabar yang menyenangkan untuk Erlangga. Segala hal yang berhubungan dengan pekerjaan istrinya sebagai model bukanlah hal yang dapat membuat dirinya bahagia.


" Meracuni pikiran Caroline? Oh Gosh, kau tahu jika aku sudah menjadi manager istrimu sebelum dia menikah denganmu, Erlangga! Dan kau juga tahu sebelum menikah pun istrimu itu sudah berprofesi sebagai model. Lantas kenapa sekarang kau malah menuduhku meracuni pikiran Caroline?" Dengan tegas Wisnu menampik tuduhan Erlangga kepadanya.


" Sekarang ini dia sudah menikah dan tugas dia adalah mengurusi suaminya bukan terus mengejar ambisinya!" Erlangga seakan tidak mau kalah mengatakan jika posisi dia sebagai suami Caroline lebih kuat daripada pekerjaan Caroline yang masih saja diabaikan oleh istrinya itu.


" Sayang, sudahlah ... kenapa kalian malah bertengkar? Kau duduklah, Sayang. Kau harus sarapan dulu." Caroline bangkit untuk menghentikan perdebatan Erlangga dan Wisnu. Dia juga menarik kursi dan meminta Erlangga duduk untuk menikmati sarapannya.


" Kau suruhlah managermu itu pulang! Aku tidak suka ada orang lain di rumahku pagi-pagi begini!" Dengan nada ketus Erlangga mengusir Wisnu. Dia memang tidak menyukai kehadiran Wisnu di rumahnya.


" Tapi, Sayang ...."


" Kau suruh dia pergi atau aku yang tidak akan sarapan di sini?" Erlangga langsung menebar ancaman agar istrinya itu lebih menurut kepadanya.


" Aku pulang, Caroline." Wisnu berpamitan kepada Caroline.


" Kabari aku tentang iklan itu, Wis." Caroline berbisik dengan memberikan kode agar suaminya itu tidak mendengar


" Pergilah dan jangan terus mempenggaruhi istriku!" teriak Erlangga saat Wisnu berjalan ke luar dari ruangan makan.


***


Kayra terlihat sibuk dengan aktivitasnya di depan laptop. Sesekali dia memijat pelipisnya karena rasa pusing masih dia rasakan. Dia tidak tahu apakah itu karena efek dari minuman beralkohol yang tidak sengaja dia minum atau karena sebab lainnya. Sementara itu Erlangga belum menampakkan diri padahal waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi.


Ting

__ADS_1


Kayra menoleh ke arah lift saat suara terdengar dari lift.


" Selamat pagi, Pak Wira." Kayra menyapa Wira. Awalnya dia mengira Erlangga lah yang keluar dari pintu lift itu.


" Pagi, Pak Erlangga masih belum datang, Kayra?" tanya Wira menyerahkan beberapa berkas kepada Kayra.


" Belum, Pak." sahut Kayra.


" Tolong direvisi yang saya tandai setelah itu minta ditanda tangani dan diparaf Pak Erlangga." Wira memberi perintah yang harus dikerjakan oleh Kayra.


" Baik, Pak. Nanti saya akan revisi." Tangan Kayra menerima beberapa arsip yang disodorkan Wira kepadanya.


" Oh ya, Kayra. Kalau boleh saya tanya kalian semalam dari mana saja?"


Deg


Pertanyaan Wira seketika membuat jantung Kayra berdetak kencang, hingga membuat dia menoleh ke arah Wira dengan bola mata membulat dan mulut sedikit terbuka, karena dia cukup kaget ternyata Wira mengetahui kepergiannya dengan Erlangga. Sudah dapat dipastikan yang disebut sebagai 'kalian' adalah dirinya dan Erlangga, karena memang semalam dia pergi bersama Erlamgga. Lalu dari mana Wira tahu jika semalam dia bersama Erlangga. Apa Erlangga sendiri yang bercerita kepada Wira? Atau teman Erlangga yang memberikan informasi itu? Dari mana pun Wira mendapatkan info jika semalam dia pergi bersama Erlangga, dia pastikan jika hal itu semakin membuat dirinya tak tenang. Kayra tidak ingin orang lain apalagi orang-orang di kantor Mahadika Gautama berprasangka buruk tentang dirinya jika tahu semalam dia menemani Erlangga bahkan Erlangga sampai menginap di rumahnya.


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading❤️

__ADS_1


__ADS_2