MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO

MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO
Bukan Nyonya Erlangga Lagi


__ADS_3

Kayra benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran Erlangga. Entah mengapa sikap yang ditunjukkan Erlangga tidak menampakkan seseorang CEO yang mempunyai wibawa. Semua keputusan yang dibuat Erlangga menurutnya adalah suatu hal yang konyol hingga memutuskan memberi jabatan sebagai asisten pribadinya kepada Gita.


" Saya tidak setuju dengan keputusan Bapak menjadikan Mbak Gita sengaja asisten pribadi saya, Pak!" Saat Gita sudah kembali ke ruangannya, Kayra langsung menentang keputusan suaminya itu. " Kenapa Bapak tidak memberikan pekerjaan lain yang bermanfaat untuk perusahaan daripada mengurusi saya? Saya jelas-jelas tidak membutuhkan seorang asisten untuk apa Bapak memberikan saya seorang asisten?" Kayra masih mengajak suaminya itu beradu argumentasi.


" Kayra, yang saya lakukan ini untuk melindungi kamu! Saya hanya mengantisipasi agar Gita tidak banyak berinteraksi dengan karyawan lain jika dia berada dalam satu ruangan denganmu." Erlangga pun menyampaikan alasannya mengambil keputusan untuk menarik Gita bekerja dekat dengan Kayra.


" Tapi dengan menyamarkan pekerjaan Mbak Gita dengan berpura-pura menjadi sekretaris kedua Bapak itu sangat tidak masuk akal, Pak. Orang pasti akan bertanya-tanya, kenapa Bapak mempekerjakan dua sekretaris? Orang pasti beranggapan, kenapa Mbak Gita yang dipilih padahal banyak karyawan lain yang lebih kompeten ingin menjadi sekretaris Bapak? Pasti orang akan berpikiran seperti itu, Pak." Kayra masih belum bisa menerima alasan yang diberikan Erlangga dengan menyebut Gita sebagai sekretaris kedua.


" Saya rasa tidak ada yang salah dengan keputusan saya. Lagipula jika kamu sudah tidak bekerja di sini, saya pasti akan butuh sekretaris baru untuk menggantikan posisimu," ujar Erlangga tetap pada pendiriannya jika apa yang sudah dia putuskan sudah tepat.


Kening Kayra berkerut menanggapi ucapan Erlangga yang mengatakan mengganti posisinya sebagai seorang sekretaris.


" Bapak ingin memecat saya?" tanya Kayra kemudian.


" Jika kamu hamil nanti, saya tidak akan membiarkan kamu kelelahan dalam bekerja. Kamu tidak akan mungkin menjadi sekretaris lagi karena ada pekerjaan yang lebih penting untuk kamu, yaitu mengurus anak dan suami kamu." Erlangga menyampirkan helaian rambut Kayra ke belakang telinga.


Kayra mengerjapkam mata saat Erlangga membicarakan soal anak. Sepertinya pria itu memang mendambakan keturunan dari pernikahan dengannya.


" Tapi saya 'kan belum hamil, Pak!?" Kayra teringat jika sampai saat ini dia memang tidak merasakan tanda-tanda kehamilan.


" Maka dari itu kita harus berusaha supaya kamu bisa cepat hamil. Karena itu juga saya ingin mengajak kamu bulan madu ke Italia," ujar Erlangga kemudian.


" Memangnya kalau bulan madu ke Italia bisa membuat saya hamil?"


Mendengar pertanyaan lugu Kayra, Erlangga tergelak kencang. Dia sungguh tak mengira istrinya akan sepolos itu.


" Memang tidak menjamin, tapi jika kita melakukannya dengan intens, kemungkinan itu bisa saja terjadi. Apalagi di sana kita tidak disibukkan dengan urusan pekerjaan, hanya fokus dengan berlibur menikmati waktu berdua." Erlangga menangkup wajah lembut sang istri. Menatap sosok anggun wanita di hadapannya itu sanggup membuat jiwanya dipenuhi kedamaian.


Kayra tertegun beberapa saat sambil memandangi wajah tampan suaminya. Sejujurnya dia sendiri tidak mengerti bagaimana perasaan Erlangga terhadap dirinya. Apakah pria itu mencintainya sampai memperlakukannya begitu istimewa? Sejauh ini, Erlangga memang tidak pernah mengucapkan kata-kata cinta terhadapnya, namun perhatian yang diberikan Erlangga kepadanya lambat laun mulai meruntuhkan tembok pertahanannya yang selama ini dia bangun agar tidak tumbuh perasaan terhadap suaminya itu.


" Sudah masuk waktu makan siang, sebaiknya kita makan dulu saja." Erlangga merangkulkan tangannya mengajak Kayra ke luar dari ruangannya untuk makan siang bersama.


***


Keesokan harinya, perintah Erlangga langsung segera dilaksanakan oleh Gita. Gita kini sudah bertugas sebagai asisten pribadi Kayra. Namun karena Kayra merasa tidak membutuhkan asisten, dia memilih mengajari Gita tugas-tugas yang biasa dia kerjakan selama ini termasuk mengatur jadwal kerja Erlangga.


" Saya tidak menyangka jika Mbak Kayra ini ternyata sudah menikah dengan Pak Erlangga." Gita merasa penasaran dengan pernikahan Kayra dan Erlangga. Dia menyampaikan rasa penasarannya itu disela-sela Kayra mengajarinya tentang tugas sekretaris.


Kayra menarik nafasnya perlahan seraya menoleh ke arah Gita


" Mungkin Mbak Gita menganggap saya ini wanita tidak baik karena menikah dengan bos sendiri ..." lirih Kayra.


" Pasti anggapan seperti itu akan muncul jika mengetahui seorang sekretaris yang menikahi bosnya sendiri apalagi bosnya itu sudah mempunyai keluarga. Tapi jujur saya bingung dengan hubungan Mbak Kayra yang terlihat canggung terhadap Pak Erlangga. Dan saya melihat Mbak Kayra tidak nyaman dengan status Mbak Kayra sendiri." Gita mungkin dapat melihat bagaimana sikap Kayra kepada Erlangga yang tidak terlihat sewajarnya seperti seorang suami istri.


" Saya memang tidak menginginkan pernikahan ini, Mbak. Saya sebenarnya tidak ingin dituduh merusak rumah tangga orang lain apalagi bos saya sendiri." Dan entah mengapa Kayra mengatakan hal yang sejujurnya kepada Gita, padahal dia sendiri belum lama mengenal wanita itu. Namun dia merasa cocok bertukar pikiran dengan Gita.


" Apa pernikahan Mbak Kayra ini karena paksaan?" tanya Gita semakin penasaran yang langsung ditanggapi Kayra dengan anggukkan kepalanya.


" Ya Allah, lalu apa selama ini Pak Erlangga bersikap baik terhadap Mbak Kayra?" Gita teringat bagaimana sikap Erlangga saat melihat Kayra di salon. Bahkan tangan Erlangga mencengkram lengan Kayra karena emosi.


" Pak Erlangga selalu bersikap baik selama ini terhadap saya, Mbak. Tapi bagaimanapun juga saya tidak merasa nyaman dengan status saya sekarang ini. Bukan karena saya ingin menjadi istri satu-satunya Pak Erlangga, tapi karena saya merasa bersalah sebab pernikahan ini membuat rumah tangga Pak Erlangga dan Ibu Caroline diambang perceraian." Kayra tertunduk menceritakan apa yang dia rasakan selama ini.


" Apa istri Pak Erlangga sudah tahu tentang pernikahan Mbak Kayra ini?" Gita semakin ingin tahu cerita yang sebenarnya.

__ADS_1


" Kalau Ibu Caroline sudah tahu, mungkin seisi kantor ini akan tahu, Mbak." sahut Kayra. " Saya harap Mbak Gita bisa menjaga rahasia ini. Walaupun saya ini istri siri bos, saya tidak memanfaatkan posisi saya sekarang ini untuk kepentingan pribadi saya dan juga bukan untuk bersenang-senang." Kayra berharap pengertian dari Gita agar Gita bisa menjaga rahasianya dari siapapun juga.


" Mbak Kayra tidak usah merasa khawatir, saya akan merahasiakan hal ini dari semua orang." Gita mengusap pundak Kayra, dia pun berjanji akan menjaga rahasia itu.


Saat Kayra dan Gita sedang mengobrol, pintu lift terbuka dan sosok Wira keluar dari lift. Pria itu memperhatikan Gita yang duduk di sebelah meja Kayra. Dia mengerutkan keningnya seraya berjalan menghampiri mereka berdua.


" Selamat pagi, Pak Wira." Kayra bangkit saat melihat Wira dan menyapa asisten dari suaminya itu.


" Selamat pagi, Pak." Gita pun mengikuti Kayra menyapa Wira.


" Ada apa ini, Kayra?" tanya Wira masih memperhatikan Gita. " Siapa dia ini?" tanyanya kemudian.


" Ini Mbak Gita, Pak. Mbak Gita ini staf dari divisi umum." Kayra memperkenalkan Gita kepada Wira.


" Lalu kenapa ada di sini?" tanya Wira heran karena sekarang ini tersedia meja kerja di samping meja Kayra yang ditempati karyawan bernama Gita itu.


" Itu atas permintaan Pak Erlangga, Pak. Pak Erlangga menyuruh Mbak Gita di sini membantu pekerjaan saya." Rasanya malu sekali Kayra harus mengatakan jika tugas Gita adalah sebagai asisten pribadinya kepada Wira.


" Benar, Pak. Pak Erlangga menugaskan saya untuk menjadi sekretaris kedua beliau." Kini Gita yang angkat bicara.


Bola mata Wira membulat saat mendengar jabatan yang diberikan Erlangga kepada Gita. Walaupun terasa aneh dengan keputusan bosnya itu, namun Wira mencoba memaklumi. Wira merasa sejak Erlangga bersama Kayra, bosnya itu sering melakukan hal yang menurutnya aneh. Dan dia menduga jika bosnya sudah mulai merasakan virus bucin yang tidak disadari oleh Erlangga.


" Apa Pak Erlangga sudah tiba di kantor, Kayra?" Wira menoleh ke arah ruangan kerja Erlangga.


" Belum, Pak. Pak Erlangga tadi bilang akan ke rumah orang tuanya terlebih dahulu," sahut Kayra.


" Oh, ya sudah ..." Wira melangkah masuk menuju ruangannya.


" Mbak, kemarin itu sempat ada gosip antara Pak Wira dengan Mbak Kayra. Pantas saja Pak Erlangga begitu marah waktu ada security yang membicarakan tentang gosip itu." Berita pemecatan security di kantor sempat menjadi perhatian karyawan kantor karena pemecatan itu terjadi hanya kerena security ketahuan bergosip.


" Sudah, di kantor ini hanya Pak Wira dan Mbak Gita yang tahu, karena itu saya mohon Mbak Gita tidak mengatakan hal ini kepada karyawan yang lain ya, Mbak!?" Kayra kembali berharap.


" Siap, Mbak. Pekerjaan saya dipertaruhkan di sini. Daripada saya dipecat lebih baik saya menurut saja apa yang diperintah Pak bos. Lagipula gaji yang saya terima lebih besar dari sebelumnya." Gita terkekeh. Dia memang harus mensyukuri apa yang dia terima saat ini. Belum tentu dia mendapatkan peluang seperti ini lagi di waktu yang akan datang, pikirnya.


***


Wisnu memarkirkan mobilnya di pekarangan rumah milik orang tua Caroline. Dia pun kemudian keluar dari mobil dan berlari menuju teras rumah. Setelah dia sampai di depan pintu, Wisnu menekan bel di samping pintu rumah Mama Ivone.


" Caroline ada, Bi?" tanya Wisnu saat pintu rumah terbuka dan memperlihatkan ART yang bekerja di rumah milik Mama Ivone.


" Den Wisnu? Mbak Caroline ada di kamar, Den. Sebentar saya panggilkan, silahkan duduk dulu, Den." Uci, ART Mama Ivone mempersilahkan Wisnu masuk ke dalam rumah.


" Tante Ivone di mana, Bi?" Wisnu menanyakan keberadaan Mama Ivone kepada Uci, karena jika Mama Ivone tahu kedatangannya di rumah itu, pasti dia akan diusir dari sana.


" Ibu sedang ke luar, Den." sahut Uci.


" Ada siapa saja di rumah, Bi?" tanyanya penasaran.


" Hanya Mbak Caroline saja, Den."


Wisnu menarik nafas lega, bahkan sudut bibirnya tertarik samar sangat mengetahui keadaan rumah itu aman untuk dia menenui Caroline.


" Bi, biar saya saja yang menemui Caroline." Wisnu menahan langkah Uci yang hendak menaiki anak tangga menuju kamar Caroline.

__ADS_1


" Oh, silahkan, Den." Karena sejak remaja, Wisnu sering datang ke rumah itu, sehingga Uci tidak merasa aneh saat Wisnu berinisiatif ingin ke kamar Caroline. Dia pun mempersilahkan Wisnu yang ingin menemui Caroline di kamarnya.


Wisnu lalu berlari kecil menaiki anak tangga hingga dia sampai di depan kamar Caroline. Sudah sepuluh hari ini Catoline pulang dari rumah sakit setelah mendapatkan perawatan atas tindakan percobaan bunuh dirinya itu.


Wisnu membuka handle pintu kamar Caroline yang tidak terkunci lalu masuk ke dalam kamar dengan perlahan. Dia mendapati wanita itu sedang berbaring dengan posisi miring dan membelakangi.


Wisnu berjalan mendekat dan duduk di tepi tempat tidur menatap punggung Caroline.


" Sampai kapan kamu akan seperti ini terus, Caroline?"


Sontak Caroline menoleh ke belakang saat mendengar suara Wisnu ada di kamarnya.


" Kau?? Mau apa kamu kemari!? Cepat pergi dari sini!!" Caroline memukuli tubuh Wisnu dan mengusir Wisnu.


" Bi ...!! Bibi ...!!" Bahkan wanita itu berteriak memanggil ART nya.


" Hei, kamu tenanglah, Caroline." Wisnu mengunci tangan Catoline yang memukuli.


" Mau apa kamu kemari, Breng sek!?" sembur Caroline terlihat penuh emosi.


" Aku ingin membawamu pergi dari sini, Caroline!" Wisnu lalu bangkit mencari tas koper Catoline.


" Kamu mau apa, Wisnu?" Caroline tercengang saat melihat Wisnu mengambil koper milikinya, membuka lemari dan mengeluarkan beberapa pakaian Caroline dari lemari lalu memasukkannya ke dalam koper.


" Apa yang kamu lakukan, Wisnu?" Wanita itu bahkan bangkit dari tempat tidur karena melihat Wisnu tak menggubris pertanyaannya.


" Aku sudah katakan jika aku akan membawamu pergi dari sini, Catoline!" Tanpa menghentikan aktivitasnya, Wisnu kini justru merapihkan pakaian Caroline ke dalam koper.


" Aku tidak mau!" Caroline menyingkirkan tangan Wisnu dari kopernya. " Pergi kamu dari sini, Wisnu! Aku tidak ingin ikut denganmu dan aku tidak ingin melihatmu lagi sia lan!!" geram Caroline dengan suara berteriak.


" Kita harus pergi ke Italia, Caroline. Akan ada pameran mobil di Turin dan kemungkinan perusahan mobil sport asal Jerman akan datang juga ke sana. Kita harus mengambil kesempatan ini agar kamu bisa mengambil posisi sebagai model iklan mobil sport yang akan di launching akhir tahun ini." Wisnu yang masih berambisi menaikan karir Caroline terus berusaha mencari cara agar Caroline mendapatkan kesempatan menjadi model mobil sport.


" Aku tidak perduli dengan iklan itu! Aku tidak mau ikut denganmu!! Pergi kamu, Wisnu! Pergi ...!!" Caroline trus memukul tubuh Wisnu dengan penuh amarah.


" Caroline, dengarkan aku!!" Wisnu mencengkram kedua lengan Caroline.


" Apa ini yang kamu inginkan? Pernikahan dan karirmu hancur bersamaan? Erlangga sudah tidak mau menerima kamu, lalu apa kamu ingin karirmu juga hancur?" Wisnu mencoba menasehati Caroline yang memang terlihat patah semangat hingga tidak memikirkan karirnya lagi.


" Dengar aku, Caroline! Lupakan Erlangga, gapai cita-citamu itu! Hanya tinggal selangkah lagi keinginanmu dapat tercapai. Iklan kosmetik yang akan dipasarkan di Asia dan mobil sport terbaru yang akan diperkenalkan di Eropa, aku yakin kamu bisa menggapainya, Caroline." Kini Wisnu menggenggam tangan Caroline. " Percayalah padaku, aku berjanji aku akan membuatmu menjadi model top dunia terkenal seperti yang kamu inginkan selama ini." Wisnu bertekad akan membuat Caroline benar-benar mendapatkan apa yang didamba Caroline sejak lama.


" Apalah arti kesuksesanku tanpa keberadaan Erlangga di dekatku?" lirih Caroline memalingkan wajahnya. Sekarang ini sepertinya dia baru menyadari kehilangan orang yang sangat dicintainya itu.


" Berhentilah memikirkan Erlangga! Dia tidak memikirkanmu untuk apa kamu memikirkannya!?" Wisnu kesal karena Caroline masih saja mendewakan Erlangga.


" Aku mencintainya, Breng sek! Dia suamiku!" Caroline membentak karena Wisnu mengatakan untuk apa dia memikirkan suaminya itu.


" Mantan, sebentar lagi dia akan menjadi mantan suamimu, Caroline! Harusnya kamu bisa menerima kenyataan itu! Kau akan bercerai dengan Erlangga, hanya tinggal menunggu hasil sidang saja keputusan perceraian kalian akan sah. Dan kamu bukanlah Nyonya Erlangga lagi, Caroline!" Wisnu mencibir Caroline yang masih belum bisa menerima kenyataan jika rumah tangganya bersama Erlangga akan segera berakhir.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung ...


Happy Reading❤️


__ADS_2