
Bola mata indah Grace membulat saat dia mendapati sosok Agatha, yang tak lain adalah Mamanya sendiri di acara pesta pernihakan putri dari Pak Ronald. Grace mungkin lupa jika Mamanya juga adalah pengusaha kaya raya, tentu saja Mamanya itu kenal dengan pengusaha-pengusaha besar di negeri ini yang membuat Mamanya itu diundang di acara pesta pernikahan itu.
" Grace, kamu kok ada di sini? Dengan siapa?" Melihat kemunculan Grace di pesta salah satu orang penting di dunia perbisnisan, membuat
Agatha terheran. Karena Agatha tahu bagaimana anaknya yang tidak pernah tertarik dengan dunia bisnis, tiba-tiba hadir di acara resepsi yang dihadiri bukan oleh orang-orang sembarangan. Apalagi saat ini berdiri seorang pria yang tidak dia kenal berasa dengan Grace. Setahu Agatha, saat ini putrinya itu sedang dalam pengawasan Rizal atas tindakan kriminal yang dilakukan putri tunggalnya itu.
" Oh, hai, Tante Agatha." Grace langsung menyapa Agatha dengan menempelkan pipinya dengan pipi Agatha bergantian. Bahkan Garce menyebut Mamanya itu dengan panggilan Tante, membuat Agatha semakin bingung.
" Aku sama ..." Grace menoleh ke arah Rivaldi yang sedang menatap dengan pandangan mata menyelidik, saat Agatha memanggil Rena dengan nama Grace. " Aku dengan teman bisnis Papa, Tan." Grace segera memperkenalkan Rivaldi kepada Agatha seraya mengedipkan matanya memberi kode kepada Agatha untuk mengikuti permainannya.
" Aldi, kenalkan ini Tante aku, Tante Agatha. Tante Agatha ini adik Mamaku."
" Rivaldi, Tante." Walaupun masih merasa aneh dengan nama Grace yang disebut Agatha. Namun, Rivaldi tetap bersalaman dan memperkenalkan dirinya kepada Agatha.
" Kamu teman Grace?" Kini Agatha bertanya kepada Rivaldi. Hal itu membuat kening Rivaldi semakin berkerut karena Agatha masih saja menyebut nama Grace.
" Aldi ini pemilik perusahaan Abadi Jaya, Tan. Dan Papa rencananya ingin bekerja sama dengan perusahaan milik Aldi. Oh ya, Tante sudah bertemu Papa sama Mama? Itu mereka ada di sana." Grace menunjukkan ke arah Satria di meja tempat keluarga Krisna berkumpul. " Tapi Tante jangan bilang Rena datang ke sini, ya!? Rena tidak mau, lain waktu disuruh Papa hadir di acara yang membosankan seperti ini." Grace menyerobot, tak memberi kesempatan Rivaldi untuk menjawab pertanyaan Agatha. Grace pun menyebut dirinya dengan nama Rena, karena dia merasakan jika Rivaldi sudah mulai mencurigainya.
" Rena duluan ya, Tan." Grace mulai merasa tidak nyaman dengan kemunculan Agatha saat dia bersama Rivaldi. Dia takut semakin lama berada di pesta itu, membuat penyamarannya akan terbongkar.
" Kamu punya satu hutang penjelasan kepada Tante, Renata!" Akhirnya Agatha bisa mengikuti permainan Grace, dia menyadari putrinya itu seperti sedang menyembunyikan identitasnya, hingga akhirnya dia menyebut nama panjang Grace agar pria yang bersama Grace tidak curiga. Agatha bisa merasakan keanehan saat Grace mulai menyebut namanya sendiri dengan nama Rena, padahal selama ini, baik Grace maupun dirinya tidak pernah menggunakan nama itu jika berkomunikasi.
" Grace? Kenapa Tante kamu menyebut namamu Grace?" Setelah meninggalkan Agatha yang masih kebingungan, Rivaldi akhirnya menyinggung soal nama Grace.
" Oh, itu. Itu memang namaku." Grace menjawab santai berusaha untuk tidak grogi.
__ADS_1
" Namamu?"
" Iya, namaku Grace Renata. Dan Tante lebih senang memanggil namaku dengan sebutan Grace. Karena dulu aku sempat tinggal di Jerman bersama Tante Agatha. Dia bilang nama Grace lebih enak didengar di luar negeri daripada nama Rena, karena itulah Tanteku itu selalu memanggil dengan nama Grace." Entah bagaimana dengan cepatnya Grace memberilan alasan yang bisa diterima akal sehat Rivaldi.
" Grace Renata?" Kerutan di kening Rivaldi semakin berlipat, menandakan dia menyangsikan semua ucapan Grace tadi.
" Kenapa? Tidak percaya jika itu namaku? Apa perlu aku keluarkan KTP agar kamu tahu jika aku bicara jujur?" sindir Grace karena Rivaldi sedang mencurigainya.
" Tidak perlu!" Saat Grace ingin membuka clutch di tangannya untuk mengeluarkan KTP, Rivaldi langsung melarangnya.
" Ya sudah, aku antar kamu pulang." Rivaldi akhirnya menerima penjelasan dari Grace, hingga mereka pun kemudian berjalan menuju halaman parkir menuju mobil mereka.
***
" Ada apa, Sayang? Aku perhatikan sepertinya kamu tidak tenang. Apa ada yang sedang mengganggu pikiranmu;?" Erlangga akhirnya bertanya, karena Kayra tidak berniat menceritakan apa-apa kepadanya.
" Aku sedang kepikiran dengan Ibu-ibu yang aku jumpai di toilet tadi lho, Mas." Kayra mengatakan apa yang membuat dirinya tiba-tiba merasakan gelisah.
" Kenapa dengan Ibu itu memangnya? Apa dia berkata atau berbuat sesuatu yang menyakitimu?" Erlangga khawatir jika di toilet tadi Kayra mendapatkan perlakuan tidak baik.
" Tidak, Mas. Bukan seperti itu ...!" Dengan cepat Kayra menepis dugaan suaminya itu.
" Lalu, apa yang membuat kamu kepikiran dengan Ibu itu?" tanya Erlangga kemudian.
" Aku tidak tahu, Mas. Aku merasakan ada sesuatu yang membuat aku ingin mendekat dan menyapa ibu itu. Bahkan saat kami berbincang, aku merasa jika aku pernah mengenal ibu itu. Tapi, aku tidak tahu di mana." Kayra menjelaskan apa yang dirasakannya saat berbincang dengan wanita yang tak lain adalah Arina.
__ADS_1
" Bahkan saat menatapku, ibu itu terlihat seperti tertegun, mamandang tanpa berkedip, Mas." Kayra pun menceritakan reaksi Arina saat melihatnya, sama dengan reaksinya saat melihat Arina.
" Sayang, apakah ini pengaruh dari kehamilanmu?" tanya Erlangga tiba-tiba menyangkutkan apa yang dirasakan Kayra dengan kehamilan Kayra.
Kayra menoleh ke arah Erlangga saat suaminya itu menyinggung soal pengaruh kehamilannya.
" Kenapa memangnya dengan kehamilanku, Mas?" tanya Kayra bingung. Memangnya apa hubungan kehamilannya dengan perasaan yang dia rasakan terhadap wanita paruh baya yang dia temui di toilet tadi.
" Sejak kamu hamil, kamu ini jadi aneh, Sayang. Kamu sering merasa familiar dengan sesuatu yang baru pertama kamu temui. Pertama dengan rumah ini. Kamu bilang merasa nyaman seperti merasa dekat sekali dengan rumah ini, padahal kamu baru pertama kali datang kemari. Sekarang dengan Ibu yang kamu temui di toilet tadi. Kamu bilang merasa begitu dekat dengan Ibu itu, padahal kamu belum pernah bertemu sebelumnya. Itu 'kan aneh namanya!?" Erlangga berpendapat jika sikap yang dirasakan oleh Kayra berhubungan dengan kehamilan istrinya saat ini.
" Kalau rumah dan Ibu di toilet tadi, tidak masalah. Asal jangan sampai, kamu bertemu dengan pria asing yang baru kamu kenal, tapi kamu merasa kenal, dekat dan nyaman dengan pria itu. Itu bisa bahaya!" Erlangga menyindir sikap Kayra yang terlihat suka terbawa perasaan, dan tidak tahu bagaimana hal itu bisa terjadi.
" Mana mungkin seperti itu, Mas. Mana mungkin Mas memperbolehkan pria lain mendekatiku," sanggah Kayra cepat.
" Ya sudah, sebaiknya kamu tidur saja. Jangan terlalu larut tidurnya. Kemarilah ..." Erlangga merentangkan tangannya, membiarkan istrinya itu tidur di lengannya dengan tangan Kayra akhirnya melingkar di dada bidangnya.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading❤️
__ADS_1