MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO

MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO
Ketakutan Erlangga


__ADS_3

Satria menatap Rivaldi dengan kebingungan. Anak muda di hadapannya itu merasa mengenalinya. Bahkan anak muda itu mengatakan jika perusahaannya sedang menjalankan kerjasama dengan perusahaan Langgeng Putra Persada. Padahal dia sendiri tidak pernah merasa melakukan kerjasama dengan perusahaan yang disebut oleh Rivaldi tadi.


" Maaf, Nak. Saya tidak mengerti dengan maksud Anda. Sepertinya ada kesalahan di sini." Satria kembali menegaskan jika dirinya tidak mengenal Rivaldi.


" Oh, mungkin Pak Satria lupa. Memang perusahaan saya masih baru, jadi belum banyak dikenal. Tapi Pak Firman dari perusahaan Pak Satria sudah menghubungi perusahaan saya untuk mengadakan kerjasama untuk menyuplai barang yang biasanya PT. Langgeng dapatkan dari PT. Mahadika." Rivaldi menjelaskan kepada Satria, agar Satria dapat mengingatnya.


" Firman?" Satria mengerutkan keningnya kembali. Dia sungguh tidak mengerti apa yang dikatakan Rivaldi yang terus mengatakan perusahaan mereka sedang menjalin kerjasama.


" Benar, Pak Satria. Pak Firman yang datang ke kantor saya, bahkan bersama putri Anda, Rena." Rivaldi sampai mengatakan jika putri Satria pun ikut datang menemuinya.


" Putri saya? Putri saya saat ini sedang kuliah di Amerika. Tidak mungkin putri saya datang ke tempat Anda, Nak Rivaldi. Dan juga nama anak saya bukan Rena tapi Clara. Lalu, siapa tadi yang Nak Rivaldi sebut datang ke kantor Nak Rivaldi?" tanya Satria lupa mengingat nama Firman.


" Pak Firman, Pak." jawab Rivaldi. Kali ini Rivaldi sudah mulai merasa curiga, jika ada yang tak beres dengan orang yang mengaku bernama Firman dan Rena.


" Saya tidak mempunyai karyawan bernama Firman. Lagipula biasanya saya sendiri yang turun tangan jika bertemu dengan relasi saya atau biasanya diwakilkan oleh Pak Nicholas yang menghandlenya." Satria menegaskan jika orang bernama Firman bukanlah orang dari perusahaannya.


" Mungkin Nak Rivaldi ini bekerjasama dengan perusahaan lain yang namannya agak mirip dengan nama perusahaan saya," jelas Satria kembali.


" Oh, maaf sekali, jika saya sudah mengganggu waktu Bapak." Rivaldi yang menyadari jika dirinya sedang ditipu langsung meminta maaf.


" Tidak apa-apa, Nak." Satria menepuk pundak Rivaldi. " Jika begitu, saya permisi ..." Satria lalu meninggalkan Rivaldi.


Tangannya Rivaldi seketika mengepal. Sorot mata memerah dibarengi dengan rahang mengeras menandakan emosi yang meletup-letup di dadanya. Dia merasakan jika saat ini ada yang sengaja ingin menipunya.


Rivaldi segera mengeluarkan ponsel di saku blazernya dan mencari nomer telepon Rizal. Namun, hanya suara operator yang menjawab panggilan teleponnya saat ini.


" Si al! Kalian ingin bermain-main denganku. Kalian belum tahu siapa aku rupanya!" Rivaldi sudah memulai menabuh genderang perang. Dan siap melakukan pembalasan atas apa yang dilakukan orang yang sedang berusaha menipunya saat ini.


Rivaldi lalu menghubungi nomer telepon Arina. Karena pagi tadi Arina menghubunginya sebelum pergi ke luar bersama Grace. Arina meminta ijin kepada Rivaldi jika dia akan menemani Grace berbelanja keperluan Grace.


" Halo, Ma. Mama ada di mana sekarang?" tanya Rivaldi menanyakan keberadaan Mamanya itu saat panggilan teleponnya tersambung dengan Arina.


" Mama baru sampai rumah, Aldi." suara Arina terdengar segau. membuat Rivaldi terheran.


" Kenapa dengan suara Mama? Mama habis menangis?" selidik Rivaldi. Dia menduga jika telah terjadi sesuatu dengan Mamanya. Dan Rivaldi merasa jika hal itu ada hubungannya dengan Grace. Rivaldi khawatir jika Grace telah menyakiti keluarganya.


" Ah, tidak apa-apa, Aldi. Mama tidak habis menangis, kok." tepis Arina menyanggah dugaan Rivaldi yang mengatakan dirinya habis menangis.


" Mama yakin tidak apa-apa?" Rivaldi tidak mempercayai begitu saja. Mengetahui jika Rizal dan Grace ternyata orang-orang yang telah menipunya membuatnya curiga jika Grace telah melakukan sesuatu terhadap keluarganya.


" Iya, Mama tidak apa-apa, Aldi. Kenapa kamu khawatir seperti itu sama Mama?" tanya Arina masih tidak mengakui jika dia memang habis menangis akibat dia bertemu dengan orang-orang di masa lalunya. Apalagi membuatnya teringat akan anaknya yang saat ini entah berada di mana.


" Rena ada di mana, Ma?" tanya Rivaldi kemudian.


" Rena ada di kamarnya. Kamu mau bicara dengan Rena?" tanya Arina.


" Tidak, Ma. Ma, tolong jaga Rena agar jangan pergi dari rumah, ya!?" Rivaldi meminta Arina untuk menjaga Grace agar tidak kabur dari rumah. Karena dia ingin mencari informasi tentang motif dari Grace dan Rizal berputa-pura sebagai utusan dari perusahaan Langgeng Putra Persada dan berniat melakukan kerjasama palsu dengan perusahaannya.


***


Rizal terkejut saat mendapat laporan dari anak buahnya yang mengatakan jika Rivaldi baru saja bertemu dengan Satria. Dia menduga dari pertemuan itu, Rivaldi akan menanyakan soal kerja sama yang dia rekayasa, yang memakai nama perusahaan Langgeng Putra Persada.


Rizal segera menonaktifkan ponselnya yang biasa dia gunakan untuk berkomunikasi dengan Rivaldi, saat mengetahui Rivaldi dan Satria bertemu. Prediksinya Rivaldi pasti akan menghubunginya ataupun Grace untuk mengintrogasi penyamaran mereka.


Rizal langsung menghubungi Grace, agar Grace segera keluar dari rumah orang tua Rivaldi.

__ADS_1


" Ada apa, Pak Tua? Apa aku juga harus mengabarimu sementara Pak Erlangga sendiri sudah mendapatkan kepastian soal Mama dari Rivaldi itu?!" Grace menduga jika Rizal meneleponnya karena dia belum memberi kabar kepada Rizal soal pertemuan antara Arina dengan Erlangga dan juga Krisna.


" Di mana posisimu saat ini, Grace?" tanya Rizal tak memperdulikan apa yang Grace laporkan.


" Aku masih di rumah keluarga orang tua Rivaldi," sahut Grace.


" Rivaldi bertemu dengan Pak Satria. Penyamaran kita sepertinya sudah diketahui oleh Rivaldi. Sebaiknya kau keluar dari rumah itu secepatnya!" Rizal menyuruh Grace untuk segera meninggalkan tempat orang tua dari Rivaldi.


" Rivaldi bertemu Pak Satria? Lalu, hanya sampai di sini saja penyamaranku?" Grace menyesali karena penyamarannya sudah tercium dengan cepat.


" Apa kamu merasa berat meninggalkan Rivaldi? Atau jangan-jangan kamu sudah jatuh hati terhadapnya?" Rizal terkekeh meledek Grace.


" Cih, siapa juga yang jatuh hati kepadanya!?" tangkis Grace.


" Ya sudah, sebaiknya kau cepat pergi dari sana. Aku akan melaporkan hal ini kepada Pak Erlangga," ujar Rizal kembali menyuruh Grace cepat-cepat pergi.


" Oke, aku akan bersia-siap dulu," jawab Grace sebelum mengakhiri percakapannya dengan Rizal.


***


Helen memperhatikan Kayra yang sedang membaca majalah dengan santai di kursi ayunan di teras pekarangan samping rumah lamanya. Dia melihat wanita itu tersenyum menatap lembar demi lembar majalah tentang ibu dan anak. Aura positif terpancar dari wajah menantunya itu. Tidaklah heran jika putranya begitu tergila-gila terhadap wanita di depannya itu.


" Kamu minum vitamin apa saja selama kehamilanmu ini, Kayra?" tanyanya berjalan mendekati Kayra.


" Mama?" Kayra yang terkejut saat melihat kemunculan Helen langsung bangkit karena merasa tidak enak berbicara sambil duduk sementara Mama mertuanya itu berdiri.


" Ini, minum vitamin ini. Ini bagus untuk kesehatan kamu dan janin kamu." Helen menyodorkan botol vitamin kepada Kayra.


Kayra terlihat terkejut saat Helen menyodorkan vitamin kepadanya, hingga membuatnya terdiam, tak langsung menerima botol vitamin yang diberikan oleh Helen.


" Ah, tidak, Ma. Aku tidak berpikir seperti itu!" tepis Kayra segera mengambil vitamin dari tangan Helen. " Terima kasih banyak, Ma." Tentu saja Kayra sangat senang. Perhatian kecil dari Mama mertuanya itu bernilai besar baginya.


" Jangan lupa diminum!" Setelah itu Helen melangkah pergi meninggalkan Kayra yang masih dalam mode ketertegunannya menanggapi sikap Helen kepadanya saat ini.


Kayra tersenyum seraya mendekap botol vitamin yang diberikan Helen kepadanya dan kembali duduk di kursi ayunan.


" Alhamdulillah, Nak. Nenek sekarang sudah bersikap baik sama Mama. Ini semua karena kamu, Sayang." Kayra mengusap perutnya. Merasakan perubahan sikap Helen adalah karena bayi yang dikandungnya, yang tidak dapat dipungkiri jika itu adalah darah daging dan penerus keluarga Mahadika Gautama.


" Kayra, tadi Mama mertuamu memberi apa?" Ibu Sari yang tadi mengambilkan potongan buah untuk Kayra langsung mendekat dan menanyakan apa yang dilakukan oleh besannya tadi.


" Oh, vitamin ini, Bu." Kayra menunjukkan kepada Ibu Sari, vitamin yang diberikan untuk Helen.


" Ibu senang, Mama mertua kamu sudah mulai melunak sikapnya terhadap kamu, Kayra." Ibu Sari menyodorkan piring berisi potongan buah apel kepada Kayra. " Ini, dimakan dulu buahnya," sambungnya.


" Terima kasih, Bu." Kayra menerima piring berisi potongan buah apel yang sudah disiapkan oleh Ibunya, lalu segera memakannya. " Iya, Bu. Alhamdulillah, Mama Helen sudah mulai bersikap perhatian terhadap Kayra." Dengan mulut penuh buah apel, Kayra menyahuti perkataan Ibu Sari soal sikap Helen yang melunak.


" Kalau di mulut penuh makanan, jangan bicara, Kayra. Nanti kalau Mama mertuamu tahu, kamu pasti akan kena tegur, Nak!" Ibu Sari menegur Kayra, karena dia tidak ingin putrinya itu akan kena marah oleh Helen karena kesalahan yang dilakukan oleh Kayra.


" Oh, iya, Bu. Maaf ..." Dengan tersipu malu dan menutup mulut dengan tangannya Kayra tertawa kecil. Mungkin karena dia terlalu bahagia karena saat ini Mama mertuanya itu mulai perhatian kepadanya.


" Kamu terlihat bahagia sekali, Nak?" Ibu Sari membelai kepala Kayra, dia pun tak bisa menampik perasaan llega karena melihat kebahagiaan Kayra.


" Tentu saja aku bahagia, Bu. Aku medapatkan suami yang baik dan sayang kepadaku, Aku memiliki Papa mertua yang sangat perhatian. Dan Mama mertua yang juga mulai perhatian. Aahhh, pokoknya aku benar-benar bahagia, Bu. Dan semua ini karena bayi di perutku ini, Bu. Rasanya aku tidak sabar untuk segera melahirkan, agar aku bisa merasakan bagaimana saat ibu berjuang melahirkan, Bu." ucap Kayra dengan wajah berbinar.


Senyum di bibir Ibu Sari seketika memudar saat mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Kayra. Apa yang dikatakan Kayra seketika membuat hatinya merasa tidak nyaman.

__ADS_1


***


Dalam perjalanan kembali ke Jakarta, Erlangga lebih banyak terdiam. Hal itu tertangkap oleh mata Krisna. Krisna bahkan merasakan kegelisahan dalam diri putranya tersebut. Karena cerita yang didapat dari Arina semakin mengarahkan dugaan Erlangga jika anak dari Arina adalah Kayra.


" Kita harus mencari keterangan dari Ibu mertuamu, jika dugaanmu mengarah kepada Kayra, Lang." ucap Krisna kemudian. " Mungkin Ibu mertuamu bisa menjadi kunci untuk menguak misteri siapa anak dari Arina yang menghilang dulu," lanjutnya.


Erlangga menghela nafas panjang. Bukannya dia tidak senang jika Kayra adalah orang yang dia cari. Dia pun tidak mempermasalahkan jika ternyata dia menikahi adik sepupunya sendiri. Yang dia takutkan adalah kondisi psikologi Kayra saat mengetahui fakta yang sebenarnya tentang asal usul Kayra. Apalagi saat mengetahui ayah biologis Kayra adalah Om dari Erlangga tidak mau bertanggungjawab atas kehamilan Arina. Ada ketakutan di hati Erlangga jika Kayra akan membencinya dan meninggalkan dirinya, karena perlakuan bia dab ayah biologis Kayra itu.


" Aku takut Kayra akan merasa sedih jika tahu siapa dirinya yang sebenarnya, Pa. Apalagi saat tahu Om Danny itu adalah Papanya ternyata mempunyai sikap yang buruk." Erlangga mende sah. " Aku justru berharap sepupuku itu bukan Kayra, Pa." Bukan hanya Kayra yang Erlangga khawatirkan, tapi juga janin di perut Kayra, jika Kayra mengetahui jika dia ternyata anak di luar nikah.


" Kita tetap harus selidiki hal ini, Lang. Tapi, Papa juga khawatir jika Ibu Sari akan tersinggung jika kita tanya soal hal asal usul Kayra." Krisna merasa khawatir jika besannya itu tidak mau menjawab atau mungkin akan mengadukan hal ini kepada Kayra. Hal itu dia pastikan akan membuat Kayra sedih, seperti yang dikhawatirkan oleh putranya.


" Kita tidak perlu menanyakan kepada Ibu mertuaku untuk memastikan hal itu, Pa." Erlangga mengambil sesuatu dari saku blazernya. " Aku mendapatkan sampel rambut Sus Rina tadi, Pa." Erlangga menunjukkan beberapa helai rambut Arina dalam genggamannya.


" Kamu mendapatkannya?" Krisna terkesiap, dia tidak menyangka jika anaknya bertindak cepat untuk mendapatkan benda yang bisa dijadikan sampel untuk melakukan test DNA.


" Aku rasa, aku harus melakukan ini, Pa. Menurut Papa bagaimana?" Erlangga meminta pendapat kepada Papanya untuk melakukan test DNA dari sampel rambut Arina yang akan disamakan dengan sampel dari Kayra.


" Jika memang ini jalan keluar untuk menyingkap rahasia yang selama ini tersimpan, Papa setuju dengan rencanamu, Nak." Krisna menyetujui rencana Erlangga yang ingin melakukan test DNA untuk mencocokkan hubungan antara Kayra dan Arina.


" Baiklah, Pa." Erlangga menarik tissue lalu menyimpan rambut itu, kemudian menaruh kembali di dalam saku blazernya.


Ddrrtt ddrrtt


Saat ponselnya berbunyi, Erlangga langsung mengambil benda pipih itu dari saku bagian dalam balzer yang dia kenakan.


" Ada apa, Pak Bondan?" tanya Erlangga menjawab panggilan masuk dari Bondan yang menghubunginya.


" Selamat siang, Tuan. Maaf sekali, ada hal yang mesti saya sampaikan. Rizal baru memberi kabar jika Rivaldi bertemu secara tidak sengaja dengan Pak Satria, Tuan." Bondan melaporkan apa yang dia dengar dari Rizal.


" Rivaldi bertemu Pak Satria?" Erlangga terkejut dengan berita yang disampaikan Bondan kepadanya.


" Benar, Tuan."


" Kalau begitu, suruh Rizal menarik Grace dari rumah orang tua Rivaldi secepatnya! Jangan sampai Rivaldi mengetahui jika semua ini adalah campur tangan kita." Erlangga mengomandoi Bondan untuk cepat menghubungi Rizal.


" Rizal sudah mengintruksikan Grace untuk pergi dari rumah orang tua Rivaldi, Tuan." Bondan mengatakan jika Rizal sudah bertindak lebih dahulu.


" Syukurlah jika Rizal bisa bertindak cepat. Jangan sampai meninggalkan jejak yang membuat Rivaldi curiga. Suatu saat Rivaldi akan tahu jika sayalah yang menyuruh Rizal dan Grace, tapi tidak untuk saat ini!" tegas Erlangga kemudian. Karena jika Kayra terbukti adik sepupunya, hal ini akan membuat dirinya terus bersinggungan dengan Rivaldi.


" Baik, Tuan." jawab Bondan. Sebelum sambungan teleponnya berakhir.


" Rivaldi sudah mengetahui penyamaran Grace?" Selepas Erlangga mengakhiri percakapannya dengan Bondan, Krisna yang sejak tadi mendengarkan perkataan Erlangga langsung menanyakan.


" Iya, Pa. Terlalu cepat memang. Tapi, tidak apa-apa, Pa. Setidaknya ada hal penting yang terungkap dalam penyamaran Grace ini." Sudah pasti, bertemu dengan Arina adalah hal besar dan penting yang didapat dari penyamaran Grace mendekati Rivaldi sejauh ini.


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading❤️

__ADS_1


__ADS_2