
" Oek ... oek ..."
Erlangga mengerjapkan matanya saat mendengar suara tanggisan bayi yang berada di baby box di sisi kanan tempat tidurnya. Erlangga bergegas bangkit dari tidurnya. Dia menatap sang istri yang masih terlelap, tak terganggu dengan tangisan Devan.
Erlangga tidak berniat membangunkan istrinya itu, karena dia tahu jika seharian istrinya pasti kelelahan mengurus bayi mereka, karena Kayra enggan menggunakan baby sitter untuk mengasuh Baby Devan..
" Cup ... cup ... cup ... sayang, Adek terbangun ya?" Erlangga menepuk-nepuk paha Baby Devan.
Erlangga mengecek celana Baby Devan untuk melihat apakah diapers yang dipakai sudah penuh dengan cairan sehingga bayinya itu merasa tidak nyaman.
" Hmmm, Adek ompol, ya? Papa siapkan dulu gantinya, ya!" Erlangga bergegas mengambil diapers baru, tissue, air hangat juga waslap dan menaruhnya di tepi tempat tidur. Setelah itu dia mengangkat tubuh Baby Devan dari baby box lalu diletakkan di tempat tidur untuk dia ganti diapersnya.
Erlangga sudah berjanji akan menjadi suami dan Papa terbaik untuk istri dan anak-anaknya. Karena itu, walaupun dia seorang CEO yang penuh wibawa dengan segala kesibukkannya, dia tak segan memerankan sosok suami dan Papa siaga jika berada di rumah. Bahkan sejak seminggu setelah Baby Devan lahir, dia mulai memberanikan diri untuk menggendong buah cintanya bersama Kayra. Sehingga sekarang ini, dia sudah terlatih untuk menggendong, mengganti diapers atau menyiapkan ASI untuk anak pertamanya itu. Erlangga sengaja tidak membangunkan sang istri tercintanya. Karena dia ingin membiarkan istrinya itu istirahat yang cukup.
Setelah selesai mengganti diapers Baby Devan, Erlangga tidak menaruh bayinya itu ke dalam baby box. Dia menaruh Baby Devan di sebelah Kayra tidur dengan menumpuk guling agar Baby Devan tidak terjatuh, karena dia ingin menghangatkan ASI perah untuk bayinya.
Kali ini Erlangga tengah menggendong Baby Devan dan memberikan ASI perah yang sudah dia hangatkan sebelumnya.
" Adek sama Papa dulu mimi su sunya, kasihan Mamanya capek." Erlangga berkata kepada anaknya yang saat ini seolah menatapnya, hingga akhirnya mata Baby Devan terpejam.
Dirasa Baby Devan sudah tertidur, Erlangga lalu meletakkan tubuh bayinya itu di sampingnya, di tengah antara dia dan Kayra.
" Adek bobo di sini sama Papa sama Mama." Erlangga mengecup pipi berkulit lembut Baby Devan. Dia pun mengusap kepala sang istri yang masih terlelap.
" Kamu lelah ya, Sayang? Terima kasih ya, kamu sudah mau menjadi Ibu bagi anakku, mau merawat dan mengasuh anak kita dengan tanganmu sendiri," ucap Erlangga.
Dia menyadari jika Kayra merasakan letih seharian menjaga putranya, tanpa dia memperdulikan jika dia pun sama lelahnya bekerja seharian di kantor dengan kesibukannya sebagai seorang CEO.
***
Jelang Shubuh, Kayra terbangun. Dia terkejut saat mendapati Baby Devan ada di sebelahnya saat ini.
" Lho, Adek ada di sini? Kok, Mama tidak dengar Adek bangun ya?" Kayra mengecek diapers putranya yang masih kering. Dia menduga jika suaminya yang sudah mengganti diapers Baby Devan. Dia juga melihat botol su su di atas nakas yang artinya Baby Devan sudah minum ASI perahnya semalam.
__ADS_1
Kayra tersenyum melihat suaminya yang saat ini masih tertidur. Dia sungguh tidak menduga jika Erlangga benar-benar menjalankan perannya sesuai dengan janjinya sebagai suami dan Papa siaga untuknya dan anak mereka.
" Papa hebat ya, Nak. Semoga Adek kalau sudah besar bisa menjadi orang Sholeh dan juga orang yang hebat seperti Papa ya, Sayang." Kayra menciumi pipi bulat Baby Devan yang membuatnya gemas.
Kayra turun dari tempat tidur untuk bersiap melaksanakan sholat Shubuh. Setelah selesai mengerjakan ibadah dua rakaatnya, barulah dia membangunkan Erlangga untuk melakukan hal yang sama dengannya.
" Mas, bangun, Mas. Sholat Shubuh dulu ..." Kayra duduk di tepi tempat tidur dan menepuk lengan sang suami dengan pelan.
Tak butuh waktu lama untuk Kayra membangunkan Erlangga, karena Erlangga langsung menggeliat dan merentangkan tangannya lalu memeluk pinggang sang istri dan menjadikan paha Kayra sebagai bantalan kepalanya.
Kayra terkekeh menanggapi sikap manja sang suami. Tangannya kini membelai rambut hitam lebat Erlangga.
" Kenapa Mas semalam tidak membangunkan aku wanktu Adek bangun, Mas?" tanya Kayra dengan suara lembutnya.
" Kamu lelap sekali tidurnya, Sayang." Dengan suara parau, Erlangga menjawab pertanyaan Kayra.
" Terima kasih ya, Mas. Mas sudah bantu mengurus Devan kalau malam hari." Kayra terus membelai rambut sang suami.
" Itu tidak gratis, Sayang. Nanti malam aku akan tagih bayarannya." Erlangga mendongakkan wajahnya menatap Kayra seraya menyeringai.
" Ya sudah, sekarang Mas sholat dulu ..." Kayra kembali menyuruh Erlangga untuk bangun dan melaksanakan ibadah lebih dahulu.
" Cium dulu ...!" Erlangga menyodorkan pipinya meminta istrinya itu mencium pipinya.
Cup
Kayra langsung memberikan apa yang diminta oleh suaminya tadi.
Cup
Erlangga langsung bangkit dan memberikan balasan kecupan di pipi sang istri kemudian turun dari tempat tidur dan melangkah menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu sebelum melaksanakan sholat Shubuh.
***
__ADS_1
" Mas, kok masih bercanda saja? Cepat bersiap! Sudah jam sembilan, tuh!" Melihat sang suami masih berbaring dan mengajak bercanda Baby Devan, Kayra segera menegur suaminya itu.
" Rasanya malas ke kantor kalau sudah berada di antara kalian berdua, Sayang." Erlangga beralasan yang membuatnya lebih betah di rumah.
" Lho, kok malah malas seperti itu, Mas? Tidak baik itu! Mas harus tetap punya tanggung jawab dengan pekerjaan Mas. Mas itu harus menunjukkan sebagai sosok Papa yang hebat untuk Adek." Kayra menasehati suaminya yang belakangan memang senang mengulur waktu jika harus pergi ke kantor.
" Bagaimana jika kamu dan Adek ikut aku ke kantor, Sayang?" Erlangga mengusulkan agar istri dan anaknya itu mau dia bawa ke kantornya.
" Untuk apa, Mas?" tanya Kayra tidak setuju dengan permintaan sang suami.
" Untuk menyemangati suamimu ini, Sayang. Kalau ada kamu dan Devan di dekatku, aku akan semakin semangat dalam bekerja." Erlangga menyampaikan alasannya.
" Mas ini ada-ada saja, deh! Yang ada nanti aku sama adek malah mengganggu pekerjaan Mas di kantor." Kayra justru berbeda pendapat.
" Tidak, Sayang! Kamu dan Devan adalah penyemangatku." Erlangga lalu bangkit dan mengambil pakaian kantornya yang sudah disiapkan oleh Kayra di tepi tempat tidur.
" Kamu persiapkan keperluan Adek, mulai hari ini kalian ikut aku ke kantor. Biar Adek terbiasa dengan suasana kantor, karena kelak, dia lah yang akan melanjutkan memimpin perusahaan Mahadika Gautama." Erlangga sudah mengambil keputusan.
Kayra menggelengkan kepalanya menanggapi permintaan sang suami yang dia anggap berlebihan. Namun, sebagai seorang istri yang baik, dia tidak bisa menolak keinginan Erlangga, hingga akhirnya dia menuruti dengan menyiapkan dan memasukkan keperluan Baby Devan selama di kantor Papanya. Mungkin nanti dia bisa menasehati suaminya itu atau kalau perlu dia akan minta bantuan Papa dan Mama mertuanya untuk menghentikan keputusan suaminya itu.
*
*
*
Happy Reading ❤️
Yang belum mampir di kisahnya Grace & Rizal yuk cuss ke novel TAWANAN BERUJUNG CINTA ya, ketemu duda ganteng dan si bocah nakal. Makasih 🙏
__ADS_1