
Kayra terlihat gelisah di kamarnya. Sejujurnya dia merasa berat untuk meninggalkan Jakarta, bukan karena Erlangga, tapi karena dia sudah merasa nyaman tinggal dan bekerja di kota metropolitan itu. Seandainya dia tidak lagi bekerja di kantor milik Erlangga, mungkin dia bisa bekerja di perusahaan lain di Jakarta ini.
“ Ya Allah, kenapa jadi rumit seperti ini? Dan kenapa Pak Erlangga tiba-tiba saja ingin menikahiku?” batin Kayra dilanda kegelisahan.
Sebelumnya Erlangga tidak pernah bersikap seaneh ini kepadanya. Baginya Erlangga adalah atasan yang baik walaupun banyak sebagian karyawan menganggap bosnya adalah pemimpin yang tegas dan sangat disiplin dan terkesan kaku terhadap karyawan.
Ddrrtt ddrrtt
Kayra menoleh ke arah ponsel di sebelahnya. Kayra lalu mengambil ponsel itu, ternyata Erlangga lah yang mengirimkan pesan kepadanya.
“ Apa kamu sudah tidur?” Itu pesan dari Erlangga yang masuk ke dalam ponselnya.
Kayra tak langsung membalas pesan dari Erlangga itu, hingga satu pesan lagi masuk ke dalam ponselnya,
“ Apa Ibumu sudah bicara kepadamu soal keinginan saya?” Itu isi pesan kedua Erlangga.
Kayra menarik nafas yang begitu sulit dihirupnya, namun dia mencoba membalas pesan dari Erlangga itu.
“ Maaf, Pak. Saya mohon agar Bapak membatalkan niat Bapak menikahi saya.” Bahkan mengetikkan kata ‘menikahi saya’ saja sampai membuat Kayra merinding.
Tak sampai lima detik dari pesan dia terkirim bunyi dering telepon dari Erlangga langsung terdengar dari ponselnya, membuat Kayra terkejut tak menduga jika Erlangga akan meneleponnya.
Kayra menghela nafas kembali mencoba menenangkan dirinya lalu mengangkat panggilan telepon dari Erlangga.
“ Selamat malam, Pak.” Kayra masih menyapa Erlangga dengan formal walaupun tidak berada di kantor karena dia terbiasa menyapa atasannya seperti itu.
“ Kenapa kamu ingin saya membatalkan niat saya? Apa kamu berniat menerima Rivaldi?”
Kayra membelalakkan matanya mendengar tuduhan Erlangga yang mengatakan jika dirinya menolak rencana Erlangga karena alasan Rivaldi.
“ Tidak, Pak! Saya tidak memikirkan tentang hal itu!” tepis Kayra melakukan sanggahan atas tuduhan tak beralasan Erlangga.
" Kalau begitu tidak ada alasan untuk kamu menolak keinginan saya." Betapa arogannya kalimat yang diucapkan Erlangga.
“ Jangan sampai kamu menghindari saya, Kayra. Karena saya akan bisa menemukanmu di mana pun kamu berada,” lanjut Erlangga bernada mengancam.
Deg
Kalimat selanjutnya dari Erlangga sanggup membuat Kayra merinding. Dia berpikir apa Erlangga tahu akan rencana kabur dia dan Ibunya? Lalu dari mana Erlangga tahu tentang rencana kaburnya? Seketika Kayra menaruh curiga kepada Diah. Dia lupa jika Diah adalah orang suruhan dari orang kepercayaan Erlangga.
“ Sebenarnya apa yang Bapak inginkan dari saya?” Rasa hati Kayra seperti ingin meledak menghadapi sikap bosnya itu.
" Saya sudah katakan kepada Ibumu jika saya ingin memperistri kamu."
" Tapi Bapak sudah mempunyai Ibu Caroline, untuk apa Bapak ingin menikahi saya?" Dengan kesal Kayra menyampaikan keluhannya itu.
“ Tidak masalah jika saya memang sudah mempunyai Caroline. Tidak ada larangan jika saya ingin menikahi kamu. Lagipula saya sangat membutuhkan kamu, dan saya tidak ingin ada pria lain yang memiliki kamu selain saya." Kata-kata yang tersusun rapih yang keluar dari mulut Erlangga seperti tanpa beban diucapkan oleh Erlangga.
Tentu saja jawaban Erlangga membuat dada Kayra semakin sesak, betapa mudahnya Erlangga menganggap hal itu adalah hal sepele. Namun baginya masalah itu adalah masalah besar yang bisa mempengaruhi masa depannya.
“ Saya sudah mengurus rencana pernikahan kita secepatnya. Minggu depan pernikahan kita akan dilaksanakan." lanjut Erlangga.
Deg
Seakan tersambar petir di siang bolong mendengar Erlangga sudah merencanakan pernikahan dengannya padahal dirinya dan Ibunya belum menyetujui permintaan Erlangga tersebut. Tangannya bahkan tak kuasa memegang benda pipih alat komunikasinya hingga dia menjatuhkan ponselnya di atas karpet tempat tidurnya saat ini, karena tempat spring bednya sudah diangkut ke tempat baru. Kayra pun seketika terisak karena dia merasa takut jika sampai pernikahan itu benar-benar terjadi.
" Halo, Kayra? Kamu masih mendengar suara saya? "
Kayra segera mematikan sambungan telepon dari Erlangga karena dia tidak ingin terus mendengar suara bosnya itu lagi.
Kayra segera menyeka air matanya dan keluar dari kamar untuk menemui Ibunya.
" Bu, Ibu sudah tidur?" Kayra mengetuk pintu dan membuka pintu kamar Ibu Sari.
" Ada apa, Kayra?" Melihat Kayra masuk ke dalam kamarnya secara tiba-tiba dengan menangis membuat Ibu Saru terkejut dan bangkit dari tidurnya.
" Bu, kita pergi sekarang saja. Kayra takut Pak Erlangga sudah tahu tentang rencana kita, karena Pak Erlangga mengancam agar Kayra tidak pergi.." Kayra menyampaikan rasa khawatirnya.
__ADS_1
" Dari mana Tuan Erlangga tahu soal rencana kita, Kayra?" tanya Ibu Sari heran.
" Aku khawatir Mbak Diah yang sudah membocorkan rencana kita, Bu." Kayra menganggap Diah lah yang sudah melaporkan rencana mereka kepada orang suruhan Erlangga.
" Maksudmu Diah mendengar obrolan kita?" tanya Bu Sari terkesiap.
" Mungkin saja, Bu. Kita harus secepatnya pergi dari sini mumpung Mbak Diah sudah tidur."
" Tapi ini sudah malam, Nak. Ibu khawatir jika kita harus pergi malam-malam begini." Ibu Sari merasa terlalu riskan jika mereka harus pergi malam hari apalagi mereka adalah wanita.
" Kita harus sabar menunggu sampai Shubuh, Kayra. Biar nanti Ibu yang bicara dengan Diah agar dia tidak melaporkan kepada Tuan Erlangga jika kita akan pergi besok pagi." Ibu Sari mencoba menenangkan Kayra yang terlihat ketakutan.
***
Erlangga baru sampai di rumahnya setelah seharian dia di rumah Henry. Cukup lama dia mengobrol di sana. Dia meminta Henry untuk menjadi saksi dari pihaknya untuk menikah dengan Kayra. Sebenarnya Emma merasa keberatan dengan keinginan Erlangga, namun karena Henry lah yang awalnya memberi ide soal menikahi Kayra, mau tidak mau Henry harus menyetujui permintaan Erlangga.
Erlangga menghentikan langkahnya yang ingin membersihkan tubuhnya di kamar mandi, saat ponselnya berbunyi. Erlangga melihat nama Bondan lah yang menghubunginya saat ini. Dia pun segera mengangkat panggilan telepon masuk dari anak buahnya itu.
" Halo, selamat malam, Tuan. Maaf jika saya mengganggu. Saya hanya ingin menyampaikan kabar yang saya terima dari orang yang bekerja dengan Nona Kayra, dia mengatakan jika Nona Kayra dan Ibunya berniat ingin kabur besok pagi ke Bandung, Tuan." Bondan segera menyampaikan informasi yang dia dapat dari Diah.
" Kabur??" Erlangga tentu merasa terkejut dengan berita yang disampaikan oleh Bondan.
" Seperti itulah info yang saya dapat, Tuan."
Erlangga mendengus kasar mendengar rencana sekretarisnya itu.
" Oke, kau suruh anak buahmu untuk memantau di sana. Jangan biarkan dia dan Ibunya itu sampai kabur!" Perintah langsung diberikan Erlangga kepada Bondan.
" Baik, Tuan. Akan saya laksanakan." sahut Bondan tanpa lama berpikir.
Setelah memberikan perintah, Erlangga segera mematikan panggilan telepon itu.
" Mau ke mana kamu, Kayra? Jangan coba-coba berani lari dariku!" geram Erlangga.
Tak lama kemudian Erlangga mengirimkan pesan kepada Kayra dan melakukan panggilan telepon kepada wanita itu. Beberapa saat dia mengobrol dengan sekretarisnya sampai akhirnya dia tak mendengar kata-kata Kayra, hanya suara isak tangis yang terdengar dari ponselnya.
" Halo, Kayra? Kamu masih mendengar suara saya?"
Tak juga ada jawaban dari Kayra hingga akhirnya panggilan teleponnya itu terputus sepihak karena dimatikan oleh Kayra.
Erlangga yang merasa khawatir dengan sikap Kayra, kembali keluar dari kamarnya dan bergegas menuju mobilnya untuk segera pergi ke rumah Kayra.
***
Setelah jam kemudian mobil Erlangga sudah terparkir di depan gang rumah Kayra. Dia bergegas turun dari mobil dan berjalan memasuki gang menuju rumah Kayra.
Erlangga memperhatikan rumah kecil di depannya itu. Sunyi ... tidak terlihat aktivitas di dalamnya. Erlangga ingin melangkah memasuki pekarangan rumah itu untuk memastikan apakah Kayra dan Ibunya masih berada di sana.
" Mas ini siapa? Ada perlu apa malam-malam datang ke rumah Mbak Kayra?" Suara seseorang mengagetkan Erlangga hingga dia menghentikan langkahnya.
Erlangga menoleh ke arah pria yang menegurnya tadi. Dia mendapati pria yang pagi tadi mengantar barang-barang milik Kayra ke tempat baru.
" Oh, Tuan ... Tuan ini bosnya Mbak Kayra, kan?" Tino, orang yang menegur Erlangga tadi ternyata masih mengenali Erlangga.
" Apa Kayra ada di dalam?" Bukannya menjawab pertanyaan Tino, Erlangga justru melontarkan pertanyaan konyol kepada Tino.
Tino bukan penghuni rumah itu, namun Erlangga menanyakan kepadanya apakah Kayra ada di dalam rumah tersebut.
" Sepertinya Mbak Kayra ada di dalam." Walaupun dia tidak pasti namun Tino yakin jika Kayra ada di dalam rumahnya.
" Ada atau tidak? Jangan jawab sepertinya!" Bagi Erlangga, jawaban Tino tidak cukup meyakinkan baginya dan terkesan tidak pasti.
" Maaf, Tuan. Saya tidak tinggal di rumah ini, jadi mana saya tahu pastinya. Tapi sepertinya Mbak Kayra memang ada di dalam karena baru besok pagi mereka pindah rumah." Tino menjelaskan kepada Erlangga.
" Ya sudah, kamu boleh pergi." Erlangga mempersilahkan Tino meninggalkannya.
" Maaf, Tuan. Saya mendapat tugas menjaga keamanan di sini. Jika Tuan ada keperluan dengan Mbak Kayra sebaiknya besok pagi saja. Ini sudah malam, tidak enak dilihat oleh warga.
__ADS_1
" Apa kamu pikir saya ingin berbuat jahat?" Erlangga merasa tersinggung dengan perkataan Tino.
" Maaf, Tuan. Saya tidak bermaksud seperti itu. Saya hanya menjalankan tugas menjaga keamanan di kampung ini. Bukan hanya dari orang yang ingin berbuat jahat tapi juga hal yang meresahkan di kampung ini. Jika warga tahu ada tamu malam-malam datang ke rumah seorang wanita apalagi seorang pria pasti warga akan merasa terganggu dan akan menimbulkan pergunjingan masyarakat di sini, Tuan." Tino menuturkan hal umum yang biasanya berlaku di sebagian besar masyarakat di kampung-kampung.
" Sebaiknya Tuan meninggalkan tempat ini sebelum warga di sini curiga. Kasihan Mbak Kayra, Tuan." Tino menyarankan agar Erlangga segera pergi untuk menjaga nama baik Kayra.
Erlangga mendengus kesal, walaupun berat akhirnya Erlangga beranjak meninggalkan rumah kontrakan Kayra kembali ke dalam mobilnya.
***
" Bu, Ibu sudah siap?" tanya Kayra saat masuk ke dalam kamar Ibu Sari.
" Sebentar Ibu pakai hijab dulu, Nak." Ibu Sari memakai kerudungnya.
" Sini Kayra bantu, Bu." Kayra membantu Ibunya memakaikan kerudung, karena tangan kiri Ibu Sari kesulitan bergerak.
" Kamu sudah dapat mobil yang akan mengantar kita, Kayra?" tanya Bu Sari kemudian.
" Sudah, Bu. Sedang dalam perjalanan kemari mobilnya." Kayra lalu membawakan tas pakaian Ibunya lalu mereka melangkah ke luar kamar.
" Ibu sama Mbak Kayra mau ke mana?" Ternyata di luar kamar, Diah sudah menunggu mereka.
" Mbak Diah?" Kayra tentu saja terkejut karena saat dia masuk ke dalam kamar Ibunya tadi dia tidak melihat keberadaan Diah.
" Mbak Diah, saya mau bicara!" Ibu Sari yang kesal saat tahu Diah sudah memberitahu rencananya kepada Erlangga langsung berkata dengan nada ketus pada orang yang merawatnya itu.
" Ada apa, Bu?" Diah tidak menaruh curiga jika Ibu Sari dan Kayra sudah mengetahui perbuatannya.
" Mbak Diah, apa Mbak Diah yang memberitahu kepada Tuan Erlangga soal rencana kepergian kami ke Bandung?" Pertanyaan menyelidik langsung diarahkan Ibu Sari kepada Diah, membuat wanita itu terkejut.
Diah langsung menundukkan kepala karena perbuatannya telah diketahui oleh Ibu Sari dan Kayra.
" Apa Mbak Diah tahu kenapa kami ingin pergi dari sini?"
" Saya ingin melindungi anak saya dari masalah yang akan terjadi, karena Tuan Erlangga menginginkan Kayra menjadi istrinya. Mbak Diah tahu kalau bos Kayra itu sudah mempunyai istri? Apa Mbak Diah tidak kasihan terhadap anak saya yang akan menjadi korban keegoisan bosnya itu? Bagaimana kalau hal ini menimpa keluarga Mbak Diah sendiri?" Ibu Sari mengeluarkan kekesalannya terhadap Diah.
" Maaf, Bu. Saya hanya menjalankan tugas," sahut Diah. Diah memang ditugaskan oleh Bondan untuk merawat Ibu Sari atas perintah Erlangga. Tentu saja jika sampai Kayra dan Ibunya berhasil kabur, dialah yang akan terkena masalah karena dianggap tidak becus dalam melaksanakan pekerjaannya.
" Saya mohon untuk kali ini pakai hati nurani Mbak Diah! Saya tidak ingin anak saya dituduh ingin merusak rumah tangga orang lain. Kepergiaan kami ini untuk menyelamatkan rumah tangga Tuan Erlangga dan nama baik Tuan Erlangga juga, seharusnya Mbak Diah mengerti itu!" ucap Ibu Sari kembali.
" Sekarang kami akan pergi, tolong jangan halangi keputusan kami ini!" Ibu Sari lalu mengajak Kayra untuk pergi dari rumah kontrakannya.
" Mbak, tolong bantu kami! Jangan. ceritakan hal ini kepada Pak Erlangga. Dan tolong serahkan kunci rumah ini kepada Ibu Inah, ya!? Saya pamit dulu. Assalamualaikum ..." Kayra berpamitan kepada Diah kemudian bersama Ibu Sari meninggalkan rumah kontrakan yang hampir lima tahun dihuninya.
Sambil melingkarkan tangan di lengan kanan Ibunya Kayra berjalan ke luar gang menunggu mobil yang akan membawanya pergi ke stasiun kereta api. Dan sekitar sepuluh menit kemudian sebuah mobil berhenti di depan mereka.
Kayra memperhatikan nomer mobil yang berhenti sesuai dengan mobil yang dia pesan. Kayra lalu membuka pintu mobil dan mempersilahkan Ibunya naik terlebih dahulu, kemudian dia menyusul naik ke dalam mobil itu.
" Pak, tolong antar ke tempat yang pertama dulu, setelah itu antar kami ke stasiun Gambir ya, Pak!?" Kayra menyebutkan tujuannya kepada pengendara mobil yang menggunakan masker dan memakai topi.
" Baik." Singkat kata yang diucapkan pengendaraan mobil itu.
" Alhamdulillah, akhirnya kita bisa meninggalkan rumah itu tanpa sepengetahuan Tuan Erlangga, Kayra." Ibu Sari bersyukur karena mereka bisa keluar tanpa ada hambatan.
" Iya, Bu. Kayra harap Mbak Diah tidak sampai melaporkan hal ini," sahut Kayra seraya menghela nafas dan menyandarkan kepalanya di sandaran kursi.
" Kamu harus ikhlas, Kayra. Insya Allah nanti kamu akan mendapatkan pekerjaan baru di Bandung." Ibu Sari yang melihat putrinya itu masih terlihat berat meninggalkan Jakarta mencoba menyemangati.
" Iya, Bu." jawab Kayra tersenyum.
Mereka tidak sadar jika orang yang mengendarai mobil yang membawa mereka pergi sedang menarik satu sudut bibirnya ke atas di balik maskernya seraya melirik ke arah Kayra yang sedang melemparkan pandangan ke luar jendela walaupun suasana pagi itu masih gelap karena baru pukul lima pagi.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung ....
Happy Reading❤️