MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO

MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO
Menolak Agnes


__ADS_3

Kayra bergegas kembali ke arah tempat tidur dan merebahkan tubuhnya dengan menarik selimut sampai ke lehernya. Dia sengaja membelakangi sisi tempat tidur yang biasa ditempati oleh Erlangga. Kayra tidak ingin suaminya tahu jika tadi dia merasakan gelisah dan tidak tenang karena ketidakberadaan Erlangga di dekatnya dengan berpura-pura tidur.


Tak lebih dari lima menit dia mendengar suara pintu kamar dibuka. Kayra menduga Erlangga sudah masuk ke dalam kamar saat ini, membuat Kayra merekatkan matanya agar dianggap sudah terlelap oleh Erlangga.


Kali ini Kayra merasakan kasur empuk yang dia tiduri berguncang. bahkan aroma maskulin terasa menyeruak ke dalam penciumannya dan dia pun merasakan telapak tangan Erlangga menyentuh kepalanya, mengusap secara perlahan lalu memberikan sebuah ciuman di pipi Kayra


" Saya tahu kamu belum tertidur," bisik Erlangga di telinga Kayra, kemudian mengecup pipi Kayra kembali, membuat Kayra terbelalak karena ternyata suaminya tahu jika dia memang hanya pura-pura tidur. Namun Kayra masih belum menolehkan wajahnya ke arah Erlangga karena malu ketahuan Erlangga berpura-pura tidur.


" Apa kamu sengaja pura-pura tidur karena tidak ingin melayani suami kamu?" Erlangga justru ikut berbaring dengan memeluk tubuh Kayra dari belakang.


" Kenapa belum tidur? Apa kamu sedang menunggu saya pulang?" Dengan percaya diri Erlangga mengatakan hal tersebut kepada Kayra.


" Tadi saya mengobrol sama Ibu makanya belum tidur," akhirnya Kayra merespon perkataan Erlangga kepadanya. Dia pun berbohong soal alasan kenapa dia belum terlelap.


Erlangga mengangkat kepala Kayra dan merentangkan lengannya lalu menaruh kembali kepala Kayra berbantalkan lengan berototnya.


" Sekarang tidurlah, sudah malam ..." Erlangga mengecup pucuk kepala Kayra dan menyuruh istrinya itu segera memejamkan matanya. Dia pun ikut bergabung dalam selimut yang sama dengan Kayra, hingga kini mereka berdua berbaring dengan posisi yang sama dengan tangan Erlangga memeluk erat tubuh ramping Kayra. Tak butuh waktu lama mereka sudah terlelap ke dalam alam mimpi mereka.


***


Caroline menekuk kakinya dan duduk memeluk lututnya di dalam bathtub dengan air shower yang membasahi tubuhnya hingga menyamarkan air mata yang terus berlinang di pipinya. Saat ini hanya sesal yang dirasakan oleh Caroline tentang peristiwa yang baru saja dialami olehnya. Wanita berprofesi sebagai model itu tidak pernah menyangka jika dirinya akan mengalami pele cehan seperti tadi dari Wisnu. Dia sama sekali tidak menduga jika sahabat sekaligus managernya itu tega berbuat be jat terhadapnya.


Caroline tidak tahu apa dia masih bisa mempertahankan rumah tangganya setelah apa yang dilakukan Wisnu kepadanya. Dia takut Wisnu akan mengatakan kepada Erlangga jika pria itu telah menyetu buhinya.


Brakk brakk brakk


" Caroline, kau sedang apa? Cepatlah keluar! Apa yang kau lakukan di dalam?"


Suara gebrakan pintu dan teriakan Wisnu terdengar dari luar kamar mandi membuat Caroline beringsut. Saat ini Wisnu ibarat monster menakutkan baginya.


" Caroline, buka pintunya!" Wisnu kembali memukul pintu karena Caroline sejak setengah jam lalu tidak juga keluar dari kamar mandi.


" Kalau kamu tidak juga keluar, aku dobrak paksa pintu ini, Caroline!" ancam Wisnu karena Caroline tidak juga merespon panggilannya.


Caroline bangkit dari bathtub, dia mematikan shower dan mengambil bathrobe lalu berjalan perlahan karena merasakan intinya yang terasa sakit karena permainan paksa yang dilakukan Wisnu kepadanya. Dia ingin segera membuka pintu karena dia takut Wisnu akan benar-benar mendobrak pintu karena saat ini sosok Wisnu bagaikan monster yang siap menghancurkannya.


" Sedang apa kau lama sekali di dalam?" tanya Wisnu menatap Caroline yang memalingkan wajah darinya.


" Sore ini kita akan bertemu dengan orang yang bisa membantumu mendapatkan kontrak untuk ikut berpartisipasi dalam acara fashion di Florence bulan depan Kebetulan orangnya sedang ada di Jerman jadi kita bisa bertemu di sini. Sebaiknya kamu hilangkan mata sembabmu itu, aku tidak mau kamu menemui mereka dengan kondisi kamu seperti ini." Melihat mata sembab Caroline, Wisnu meminta Caroline untuk segera mengompres matanya karena ada orang yang harus mereka temui.


" Aku tidak mau!" ketus Caroline menatap Wisnu dengan penuh kebencian, karena perlakuan Wisnu kepadanya tadi.


" Apa maksudmu tidak mau?"


" Aku tidak perduli dengan karirku! Aku ingin pulang ke Jakarta!" Caroline berjalan ke luar kamar mandi.


" Kau tidak bisa kembali ke Jakarta tanpa ijinku, Caroline!" Wisnu menahan langkah dengan mencekal tangan Caroline.


" Kau tidak berhak melarangku, Wisnu!"


" Kau punya perjanjian kontrak kerja, apa kau lupa itu!?"


" Aku akan membayar ganti rugi!"


" Tidak semudah itu, Caroline!" Wisnu tersenyum sinis. " Memang apa yang kamu lakukan jika mundur dari dunia model? Kembali kepada Erlangga? Apa kamu yakin Erlangga masih mau menerimamu saat dia tahu kalau kamu sudah tidur denganku?" Wisnu menebar ancaman dengan mengatakan akan melaporkan pada Erlangga apa yang sudah mereka lakukan.


" Breng sek kau, Wisnu! Kau sudah memper kosaku!" Caroline memukuli tubuh Wisnu dengan penuh emosi dan kebencian.


" Kalau kau tetap dengan pendirianmu, aku akan katakan kepada Erlangga apa yang sudah kita lakukan tadi!" desis Wisnu. Tangannya menyampirkan rambut ke belakang telinga Caroline, namun dengan cepat Caroline menepis tangan Wisnu. Tangan Wisnu langsung mengnangkup wajah Caroline dengan sedikit menekan.


" Jika kau menurut kepadaku, aku pastikan kamu akan mendapatkan apa yang kamu inginkan sebagai model terkenal, Caroline."

__ADS_1


" Perse tan dengan semua itu!" pekik Caroline mencoba melepaskan dirinya dari cengkraman Wisnu.


" Sayangnya kamu tidak punya pilihan selain menurutiku, Caroline!" seringai tipis bak ib lis mengembang di sudut bibir pria tampan itu membuat Caroline seketika merinding dengan ancaman yang ditebarkan Wisnu kepadanya.


***


Hendro memasuki ruangan kerja Erlangga karena dia ingin melaporkan soal pemutusan hubungan kerja antara Rivaldi dengan pihak perusahaan Mahadika Gautama.


" Bagaimana, Pak Hendro?" Erlangga menanyakan apa yang akan disampaikan Hendro kepadanya.


" Surat pemutusan hubungan kerja sudah selesai dibuat, Pak. Namun ternyata Pak Rivaldi hari ini tidak masuk kantor lagi tanpa memberi alasan, Pak." Hendro melaporkan semua terkait dengan pemecatan Rivaldi kepada Erlagga.


" Kalau begitu bayarkan gaji terakhir dia. Saya tidak ingin dia berhubungan kembali dengan kantor kita!" perintah Erlangga yang sepertinya memang sangat kesal dengan Rivaldi.


" Baik, Pak."


Ddrrtt ddrrtt


Erlangga melirik ponselnya dan melihat nama Bondan di layar ponselnya itu. Dia lalu mengambil telepon genggamnya tersebut lalu berkata kepada Pak Hendro, " Anda boleh kembali ke tempat Anda, Pak Hendro." Rivaldi menyuruh Hendro untuk meninggalkan ruangannya terlebih dahulu sebelum mengangkat panggilan masuk di teleponnya.


" Baik, Pak. Permisi." Hendro bergegas meninggalkan ruang kerja Erlangga.


" Halo? Ada informasi apa, Pak Bondan?" Erlangga lalu mengangkat panggilan telepon dari Bondan.


" Selamat siang, Tuan. Iya, saya mendapatkan informasi dari Rizal, teman saya kalau Jimmy itu ternyata tangan kanan anak dari pemilik perusahaan Garmen di Bandung, Tuan." Bondan menyampaikan info tentang Jimmy yang dia dapat dari Rizal.


" Anak pemilik perusahaan garmen di Bandung?" Erlangga mengeryitkan keningnya mendengar informasi yang diberikan Bondan kepadanya.


" Benar, Tuan. Orang itu rupanya mempunyai bisnis baru di bidang yang sama seperti bidang yang Tuan Erlangga jalani saat ini. Namun kami masih terus mencari informasi tentang siapa orang itu, Tuan," lanjut Bondan.


" Perusahaan besar di Bandung dan memiliki usaha di bidang yang sama dengan saya?" Erlangga seketika terlihat ucapan Wira yang mengatakan jika ada pesaing yang ingin menikung dia dalam melobi pihak perusahaan dari Korea.


" Benar, Tuan."


***


Kayra menatap seorang wanita paruh baya yang keluar dari lift dan berjalan ke arah ruangan Erlangga. Dengan cepat Kayra berdiri dan menyapa Helen yang datang ke kantor Erlangga siang ini.


" Selamat siang, Bu." Kayra menyapa wanita yang merupakan Ibu mertuanya itu.


" Erlangga ada?" tanya Helen kepada Kayra. Berita tentang rencana perceraian Erlangga dan Caroline ternyata mempengaruhi mood Helen, sehingga wanita paruh baya yang biasanya bersikap ketus kepada Kayra sekarang ini terlihat lebih ramah.


" Ada, Bu." Tentu saja Kayra terkejut dengan sikap humble Helen hari ini kepadanya. Dia lalu berjalan untuk membukakan pintu untuk Helen.


Tok tok tok


Setelah mengetuk dan membuka handle pintu, Kayra masuk segera memberitahukan kedatangan Helen kepada Erlangga.


" Maaf, Pak. Ada ...."


" Erlangga ..." Belum selesai Kayra menyebutkan siapa yang datang, Helen sudah lebih dahulu masuk ke dalam ruangan kerja Erlangga.


" Mama? Ada apa Mama kemari?" Erlangga menatap ke arah Kayra lalu melirik ke arah Mamanya.


" Erlangga, Mama sudah mendengar rencana kamu menceraikan Caroline. Mama senang akhirnya kamu sadar juga jika istrimu itu tidak pantas menjadi menantu keluarga Mahadika Gautama."


Deg


Hati Kayra seakan tercubit mendengar perkataan Helen tentang Caroline. Jika Caroline saja yang merupakan wanita berkelas ditolak mentah-mentah oleh Helen, lalu bagaimana dengan dirinya? Itu yang ada di benak Kayra saat ini.


" Lalu apa hubungannya perceraianku dengan kedatangan Mama kemari?" tanya Erlangga dengan nada ketus.

__ADS_1


" Kamu kenapa masih berdiri di situ?" Helen menegur Kayra yang masih berdiri di dekat pintu dengan menundukkan kepala.


" Oh, maaf, Bu. Permisi ..." Kayra bergegas keluar dan menutup pintu ruang kerja Erlangga.


" Lang, Mama berharap perceraian kamu dengan Caroline berjalan dengan lancar." Helen lalu berjalan menuju kursi sofa lalu mendudukkan tubuhnya di atas sofa mewah ruangan Erlangga itu.


" Setelah kamu resmi bercerai, Mama ingin kamu menikah dengan Agnes, Lang. Mama rasa Agnes lah wanita yang paling cocok mendampingimu. Dia pasti akan selalu ada bersamamu tidak seperti model itu yang selalu pergi-pergi tidak mengurus suaminya." Helen mengutarakan keinginannya dan membandingkan Caroline dan juga Agnes.


" Mama tidak bisa mengatur hidupku termasuk dengan siapa aku akan menikah!" Dengan tegas Erlangga menolak rencana perjodohan yang akan Mamanya lakukan.


" Mama ingin yang terbaik untukmu, Lang. Mama tidak ingin kamu gagal lagi dalam berumah tangga. Mama ingin memilihkan wanita yang terbaik untukmu!"


" Aku tahu apa yang terbaik untukku, Ma."


" Tapi hasilnya apa? Caroline adalah pilihanmu, nyatanya dia tidak bisa memberikan kebahagiaan yang seutuhnya untukmu. Jadi Mama ingin memilihkan Agnes karena Mama yakin jika dia adalah wanita terbaik untuk kamu, Erlangga!" Helen bersikukuh ingin menjodohkan Erlangga dengan Agnes.


" Ma, perceraianku dengan Caroline saja belum beres, kenapa Mama sudah merencanakan menjodohkanku dengan Agnes? Sampai kapanpun aku tidak akan mau menikah dengan Agnes! Sebaiknya Mama lupakan saja mimpi Mama itu!" Erlangga lalu kembali berjalan ke arah kursi kerjanya.


" Sebaiknya Mama pulang saja! Banyak pekerjaan yang harus aku kerjakan daripada hanya mendengarkan rencana konyol Mama itu!" Erlangga mengusir halus Helen dari ruangannya.


" Tapi, Erlangga ...."


" Kayra, antar Mamaku sampai ke lobby." Erlangga berbicara kepada Kayra melalui intercom wireless menyuruh Kayra mengantar Mamanya keluar dari ruangannya.


" Kamu benar-benar keterlaluan mengusir Mama, Erlangga!" Helen bangkit dari duduk dan berjalan keluar ruangan anaknya dengan bersungut-sungut sebelum Kayra menjemputnya.


" Mari saya antar, Bu." Saat berpapasan dengan Helen, Kayra segera menawarkan diri mengantar Helen sampai lobby sesuai perintah Erlangga


" Tidak usah!!" tolak Helen dengan nada ketus melangkah dengan tergesa ke arah lift.


Kemudian Kayra melangkah ke ruangan Erlangga setelah Helen turun dengan lift ke bawah.


" Ibu Helen tidak mau saya antar, Pak." Kayra melaporkan kepada Erlangga karena Ibu mertuanya itu menolak diantar olehnya.


" Ya sudah biarkan saja!" sahut Erlangga tak memperdulikan kemarahan Mamanya. " Kemarilah ...!" Erlangga meminta Kayra untuk medekat ke arahnya yang duduk di kursi singgasananya.


Kayra perlahan melangkah mendekat ke arah Erlangga hingga pria itu menarik pinggang Kayra membuat Kayra berdiri di depan Erlangga duduk. Tangan Erlangga melingkari pinggang Kayra lalu dia mencium perut Kayra yang tertutup baju.


" Saya harap secepatnya ada bayi di perutmu ini," ucap Erlangga kembali mencium dengan mesra perut Kayra.


Kayra mulai terbiasa dengan sikap Erlangga yang selalu ingin menyentuhnya walaupun dia masih tetap merasa canggung.


" Kenapa Ibu Helen tadi terlihat marah, Pak?" Kayra merasa penasaran karena perubahan sikap Helen yang berbeda saat datang dan keluar dari kantor itu.


Erlangga mendongakkan kepala lalu mengurai pelukannya dan menghembuskan nafas panjang.


" Mama ingin menjodohkan saya dengan Agnes," ucapnya kemudian.


Sebenarnya Kayra tidak terlalu kaget dengan rencana Helen terhadap Erlangga. Wanita paruh baya itu memang terlihat begitu semangat menjodohkan Erlangga dengan Agnes, setidaknya itulah yang Kayra tangkap saat acara malam malam di rumah orang tua Erlangga beberapa waktu lalu. Namun masalahnya proses perceraian Erlangga belum tuntas, bagaimana Helen sudah mengatur soal perjodohan Agnes dan Erlangga? Hal itu benar-benar membuat Kayra tidak habis pikir.


" Apa Bapak akan menerima Nona Agnes untuk menjadi istri Bapak?" Kayra tidak bisa membayangkan jika Erlangga nantinya akan menikah dengan Agnes.


" Tentu saja tidak! Saya tidak menyukai wanita itu, mana mungkin saya mau menikahi dia!" tegas Erlangga menepis anggapan Kayra yang mengira dia akan menerima perjodohan dengan Agnes.


Kayra menarik nafas lega saat mendengar kalimat sanggahan dari Erlangga. Tapi tentu saja ketenangannya itu tidak akan lama karena Helen ataupun Agnes tidak akan diam saja dengan penolakan Erlangga, terlebih lagi jika sampai mereka tahu jika sebenarnya Erlangga telah memperistri dirinya.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung ...


Happy reading❤️


__ADS_2