MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO

MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO
Membatasi Gerakan Rivaldi


__ADS_3

Agnes merasa kesal saat dia disudutkan oleh Helen, padahal dia sendiri merasa jika sebenarnya Helen tidak mempunyai power untuk mengatur suami dan juga anaknya, hingga akhirnya Agnes membalikkan perkataan Helen dengan mengatakan jika Helen tidak banyak berpengaruh dalam usahanya untuk mendapatkan Erlangga.


Helen sendiri langsung terkesiap mendengar Agnes yang menghardikknya, padahal selama ini Agnes tidak pernah bersikap kasar terhadapnya.


" Selama ini apa yang Tante lakukan tidak ada hasilnya, Erlangga tidak pernah mendengarkan Tante, kan? Jadi apa salahnya kalau aku berusaha sendiri? Lagipula, bukankah Tante juga tidak suka dengan sekretaris Erlangga itu, lalu kenapa sekarang Tante mempermasalahkan aku menyewa orang untuk merusak nama Kayra? Seharusnya Tante itu mendukungku, bukan malah menyudutkanku!" ketus Agnes melirik sinis ke arah Helen, karena merasa kesal disalahkan oleh Helen


" Kenapa kamu bicara seperti itu, Agnes? Apa kamu pikir selama ini Tante tidak berusaha mendekatkan kamu dengan Erlangga?!" Helen menampik tudingan Agnes yang mengatakan jika upayanya selama ini menjodohkan Erlangga dengan Agnes tidak menghasilkan apa-apa karena dirinya tidak serius membantu Agnes.


" Nyatanya selama ini memang tidak ada hasilnya 'kan, Tan? Yang ada setiap bertemu Erlangga, dia selalu meremehkan aku, anak Tante itu membuat aku ini seolah-oleh bo doh di depan matanya!" Agnes mengeluhkan sikap Helen yang dianggapnya gagal memuluskan misinya menjadi menantu keluarga Mahadika Gautama.


" Sekarang Tante harus bantu aku! Bagaimanapun caranya, Tante harus membela aku, bilang kepada Erlangga jika sebenarnya bukan aku yang melakukan itu! Tante katakan saja ke Erlangga jika aku itu difitnah." Agnes bahkan meminta Helen membantunya dengan menyangkal tuduhan Erlangga yang menuduh dirinya sudah membayar orang untuk merusak nama baik Kayra.


" Kamu menyuruh Tante membelamu? Dengan semua bukti yang Erlangga punya? Apa kamu gi la, Agnes?! Erlangga tidak mungkin percaya kata-kata Tante!"


" Benar, kan?! Tante itu tidak berguna sama sekali! Percuma aku mengharapkan Tante, lebih baik aku bertindak sendiri!" Agnes bangkit dari duduknya.


" Berani sekali kamu bicara seperti itu sama Tante, Agnes!" Melihat Agnes yang terus berkata kasar, Helen menjadi geram karena menganggap Agnes yang selama ini dia bela sama sekali tidak menghormatinya sebagai orang yang lebih tua.


" Percuma aku terus berlama-lama bicara sama Tante!" Agnes langsung meninggalkan Helen.


Buugghh


Saat Agnes memutar tubuhnya, dia menabrak seseorang membuatnya hampir terpental jatuh.


" Kalau jalan lihat-lihat, dong!" Agnes mengumpat orang yang tadi menabraknya.


" Kamu?" Orang tadi bertabrakan dengan Agnes rupanya mengenali Agnes.


Menyadari orang yang menabraknya tadi mengenalinya, Agnes langsung tercengang. Dia lalu melirik ke arah Helen, sebelum akhirnya bergegas meninggalkan restoran itu.


" Siapa dia, Roy?" tanya teman dari orang bertabrakan dengan Agnes tadi.


" Dia pelangganku, Fer." sahut pria yang dipanggil Roy oleh temannya seraya menyeringai.


" Pelanggan? Pelanggan untuk menemani dia di ranjang?" sahut teman Roy yang bernama Feri ikut terkekeh.


" Ya, begitulah ..." sahut Roy tertawa kecil seraya melanjutkan langkah mereka masuk ke dalam restoran.


Percakapan dua pria tadi terdengar oleh Helen yang masih duduk di kursinya. Helen penasaran dengan perkataan kedua orang pria tadi yang mengatakan soal Agnes, pelanggan dan teman di ranjang hingga akhirnya dia bangkit dan berjalan menyusul dua orang pria muda tadi.


" Hei, tunggu!" seru Helen menghentikan langkah kedua pria itu, membuat Roy dan Feri memutar tubuhnya dan mencari suara yang memanggil mereka.


" Ada apa?" tanya Roy dan Feri bersamaan.


" Kamu kenal Agnes tadi?" tanya Helen kemudian.


" Agnes? Wanita yang tadi?" tanya Roy menunjuk ke arah pintu restoran, arah Agnes tadi melangkah.

__ADS_1


" Iya, kamu kenal dia? Kamu tadi bilang Agnes itu pelanggan kamu? Memang pelanggan apa?" selidik Helen penasaran dengan apa yang sudah dilakukan Agnes di luar pengetahuannya.


Roy memperhatikan Helen dari ujung rambut sampai ujung sepatu yang dikenakan Helen, dia bisa mengetahui jika semua barang yang dipakai Helen bukankah barang-barang murah, apalagi dilihat dari wajah Helen yang masih terlihat cantik walaupun sudah berumur lebih dari lima puluh tahun.


" Memangnya kenapa Tante ingin tahu? Apa Tante juga ingin menjadi pelanggan saya? Mungkin Tante kesepian karena suami Tante sibuk dengan pekerjaan? Saya tidak masalah harus melayani Tante, asalkan bayarannya oke," Dengan suara berbisik, Roy menawarkan dirinya. Tentu saja melihat penampilan Helen yang terlihat elegan, Roy tidak menolak melayani wanita paruh baya untuk melakukan hubungan in tim, asalkan bayaran yang dia terima memuaskan.


Helen seketika melebarkan bola matanya hingga dia terperanjat saat pria yang mengenali Agnes justru mengatakan kalimat yang menurutnya tidak pantas diucapkan kepadanya.


" Hei, yang sopan sama orang tua, ya! Kamu tidak tahu siapa saya?! Saya bisa tuntut kamu karena berkata tidak sopan terhadap saya!" Helen yang emosi mendengar kalimat yang dianggap mele cehkan dirinya memarahi Roy seraya menunjukkan telunjuknya ke wajah Roy. Perdebatan antara Helen dan Roy sontak menjadi perhatian pengunjung restoran, hampir semua mata kini tertuju ke arah mereka.


" Tante slow saja, dong! Tante itu 'kan teman si Agnes, pasti Tante juga tidak beda jauh kelakuannya dengan teman Tante itu." sindir Roy membuat Helen meradang.


" Kurang ajar! Tidak ada sopannya sekali kamu bicara sama orang tua!" geram Helen melayangkan tangannya ke arah pipi Roy karena emosi, namun tangan Roy lebih dulu menangkap pergelangan tangan Helen.


" Tante berani menampar saya?" Roy mencengkram erat pergelangan tangan Helen dengan emosi, karena Helen akan menamparnya.


" Roy, jangan macam-macam! Di sini banyak orang yang melihat!" Feri mencoba melerai dan meminta Roy untuk tidak membuat keributan, karena dia tidak ingin temannya itu berbuat onar di tempat umum.


" Lepaskan tangan saya!" Helen berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman Roy.


" Singkirkan tanganmu dari Nyonya ini!" Tiba-tiba terdengar suara pria dari belakang Roy yang mengejutkan mereka mereka bertiga. Pria itu bahkan menepuk dan mencengkram pundak Roy dengan kencang.


" Kalau hidupmu tidak ingin terlibat masalah besar, sebaiknya lepaskan Nyonya ini dan segeralah pergi dari sini!" gertakan suara berat pria itu dibarengi sorot mata tajam menatap ke arah Roy membuat Roy bergidik.


" Bawa temanmu itu menjauh dari sini!" Kini pria itu memberikan perintah kepada Feri untuk membawa Roy pergi dari restoran.


" Anda tidak apa-apa, Nyonya?" tanya pria itu kepada Helen.


" Kamu ..." Helen mencoba mengingat pria yang menolongnya tadi.


" Saya Bondan, Nyonya. Saya bekerja untuk Tuan Erlangga. Saya sengaja mengawasi Nona Agnes dan Nyonya atas perintah Tuan Erlangga." Pria yang tak lain adalah Bondan memperkenalkan dirinya kepada Helen dan mengatakan tugas yang dia terima dari Erlangga.


" Erlangga menyuruh kamu mengawasi saya?" Helen terkesiap karena tidak menyangka jika putranya berani menyuruh orang memata-matainya.


" Tuan Erlangga sangat mengkhawatirkan Anda, Nyonya. Karena itu beliau menyuruh saya untuk mengawasi Anda berdua. Nona Agnes itu wanita licik, Tuan Erlangga tidak ingin Nona Agnes akan menyakiti Nyonya, setelah dia tahu jika rencananya sudah diketahui oleh Tuan Erlangga." Bondan menjelaskan agar Helen tidak salah paham, walaupun itu hanya pendapatnya saja karena Erlangga sendiri tidak mengatakan jika dirinya diminta mengawasi Helen dan Agnes, demi keselamatan Helen.


" Sebaiknya Nyonya segera pulang, dan jangan sampai Nyonya berurusan dengan pria seperti mereka tadi. Mari saya antar Nyonya ke mobil, nanti anak buah saya akan mengawal mobil Nyonya sampai ke rumah." Bondan menyarankan Helen untuk segera pulang ke rumahnya.


Helen yang masih merasa kesal dengan ucapan Roy namun juga takut dengan perlakuan Roy yang menurutnya kasar, tidak mempunyai pilihan lain selain menuruti apa yang diminta oleh Bondan untuk segera kembali ke rumahnya.


Malam sebelumnya ...


Setelah menerima panggilan dari Henry, Erlangga segera menghubungi Bondan untuk membahas soal pertemuan antara Jimmy dan Rivaldi yang membahas kemungkinan Agnes akan membantu usaha Rivaldi memisahkannya dengan Kayra.


" Selamat malam, Tuan." sapa Bondan dari seberang telepon Erlangga.


" Di mana anak buah Anda malam ini, Pak Bondan? Apa tidak ada satupun anak buah Pak Bondan yang memantau pergerakan Jimmy?" Erlangga mempertanyakan kenapa tidak ada laporan dari Bondan soal orang yang mengawasi gerak-gerik Jimmy.

__ADS_1


" Maaf, Tuan. Anak buah saya yang mengawasi Jimmy kebetulan tadi mengalami pecah ban jadi dia gagal mengikuti ke mana Jimmy pergi." Bondan mengucapkan permohonan maafnya karena anak buahnya yang mendapat tugas mengikuti Jimmy gagal melaksanakan tugas dengan baik.


" Jika Pak Bondan membutuhkan bantuan personil, Anda bisa minta bantuan teman Anda yang waktu itu menyelidiki soal Jimmy. Sekarang ini musuh kita mungkin semakin kuat, apalagi sekarang ini Jimmy sudah tahu jika anak buahnya bekerja untuk Agnes, bukan tidak mungkin Agnes akan membantu mereka." Erlangga minta Bondan untuk minta bantuan Rizal untuk melindungi rumah tangganya dari gangguan Rivaldi dan Agnes.


" Baik, Tuan. Nanti saya akan pertimbangkan apakah kita perlu bantuan teman saya itu atau kami masih bisa menghandle sendiri urusan ini." Bondan menjawab perkataan Erlangga.


" Oh ya, Pak Bondan. Tolong awasi Agnes dan Mama saya, saya yakin mereka pasti akan bertemu dalam waktu dekat ini." Erlangga sangat yakin setelah dia menceritakan keburukan Agnes di depan Helen, Mamanya itu pasti akan segera melakukan pertemuan dengan Helen.


" Saya yakin, Mama akan menceritakan jika saya mengawasi gerak-gerik Agnes kepada wanita itu. Awasi Agnes dan pantau terus apa yang dibicarakan Agnes dan Mama saya jika mereka benar bertemu!" perintah Erlangga kembali kepada Bondan.


" Baik, Tuan. Untuk kemungkinan pertemuan antara Nyonya Helen dengan Nona Agnes, nanti saya sendiri yang akan turun tangan," ucap Bondan berniat mengawasi Agnes sendiri.


" Awasi juga orang-orang di seputar club' boxing milik Jimmy, saya tidak ingin ada hal yang terlewatkan dari pantauan anak buah Anda, Pak Bondan. Saya juga minta Anda terus membatasi gerakan Rivaldi, sebaiknya hubungi teman Anda itu, khusus untuk memantau Rivaldi, serahkan pada teman Anda untuk mengatasinya." Erlangga benar-benar tidak ingin kecolongan hingga tidak ingin memberi celah kepada siapapun orang-orang yang akan mengusiknya, dia bahkan rela membayar orang dalam jumlah besar untuk mematikan gerakan Rivaldi, agar pria itu tidak lagi mengganggu. kebahagiaannya bersama Kayra


" Baik, Tuan. Saya akan menghubungi teman saya itu, semoga dia bisa membantu kita mengatasi Rivaldi." sahut Bondan.


" Saya mau semua berjalan lancar hingga tidak ada lagi tikus-tikus yang akan menggerogoti kebahagiaan keluarga saya bersama Kayra, terlebih lagi saya tidak ingin perusahan milik Rivaldi itu berhasil menyaingi perusahan Mahadika Gautama!" tegas Erlangga.


***


Sementara itu setelah keluar dari restoran, Agnes segera menghubungi Bobby karena dia merasa telah ditipu pria itu. Sebelumya Bobby mengatakan jika semua pekerjaan berjalan dengan lancar, ternyata semua aksi Bobby telah terdeteksi oleh Erlangga.


" Si al, kau ingin menipuku, Bobby?! Erlangga tahu semua aksimu, bagaimana bisa kamu mengadakan jika semua misi berhasil? Kamu ingin bayaran tinggi tapi pekerjaan nol besar!" Saat panggilan teleponnya terangkat oleh Bobby, Agnes langsung melampiaskan kekesalannya dengan mendamprat Bobby.


" Apa maksudmu?" Bobby yang tiba-tiba diserang Agnes merasa bingung dengan perkataan Agnes yang dilontarkan dengan nada ketus dan tinggi.


" Jangan pura-pura tidak tahu! Erlangga mengetahui orang yang kamu sewa untuk menyamar sebagai suami dan anak Kayra, sekarang bagaimana mungkin kalau kamu bilang jika misi kamu jalankan ini berhasil, hah?!" geram Agnes, karena menganggap Bobby telah berbohong kepadanya.


" Erlangga tahu?" Bobby baru menyadari ucapan Agnes yang mengatakan jika Erlangga sudah mengetahui aksinya. " Dari mana dia tahu?" Bobby merasa aksinya itu sudah berjalan rapih, tapi bagaimana mungkin rencananya itu bisa terendus oleh Erlangga.


" Aku tidak mau tahu, ya! Jika kamu tidak bisa secepatnya memisahkan Kayra dan Erlangga, sebaiknya kamu segera kembalikan uangku itu!" Agnes bahkan meminta Bobby untuk mengembalikan uang senilai dua puluh lima juta yang sudah dia berikan sebagai down payment atas tugas yang dia berikan kepada Bobby.


" Uang itu sudah ada yang aku berikan kepada orang yang menyamar kemarin, mana mungkin aku meminta uang itu kembali pada orang yang aku suruh kemarin?!" Merasa uang yang dia terima dari Agnes sudah tidak utuh, Bobby tentu tidak mau mengembalikan semua uang yang Agnes berikan kepadanya.


" Orang yang kamu suruh itu tidak becus bekerja, seharusnya kamu tidak menyuruh orang bo doh seperti itu!" Agnes tidak menyadari jika rencana dia sudah terendus oleh Erlangga, sebelum orang yang disuruh Bobby itu beraksi.


" Apa kau gi la?! Menyuruh orang tanpa membayar?! Sebaiknya kamu lakukan saja tugas itu sendiri tanpa minta bantuan dari orang lain!" Mendengar jawaban arogan dari Agnes, Bobby terpancing emosi, karena menganggap Agnes sama sekali tidak menghargai tenaga orang, bahkan dia menyuruh Agnes agar bergerak sendiri tanpa meminta bantuan orang lain.


" Aku akan kembalikan sisa uang yang kamu berikan, berapa nomer rekeningmu? Aku akan transfer uangnya sekarang! Dan kau cari saja orang lain yang mau menjalankan ide gilamu itu!" gertak Bobby, tak takut terhadap intimidasi yang dilancarkan Agnes kepadanya, bahkan Bobby pun berkata akan mentransfer sisa uang yang dia terima dari Agnes saat itu juga.


*


*


*


Bersambung ....

__ADS_1


Happy Reading ❤️


__ADS_2