MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO

MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO
Apa Yang Saya Makan, Itu Juga Yang Harus Kamu Makan


__ADS_3

" Kamu mau makan, Kayra?"


Kayra baru saja hendak melangkah untuk melaksanakan sholat Dzuhur saat suara Erlangga terdengar dari arah pintu ruangan kerja pria itu.


" Saya ingin sholat dulu, Pak." Kayra menahan langkahnya dan menjawab pertanyaan Erlangga.


" Ya sudah, nanti kalau sudah selesai, tolong pesankan makanan untuk makan siang kita. Kita makan bersama di ruanganku."


Kayra mengeryitkan keningnya mendengar perintah Erlangga kali ini. Nada bicara yang diucapkan Erlangga hari ini benar-benar terdengar beda, tidak seperti biasanya.


" Bapak ingin makan apa?" tanya Kayra menanyakan menu makanan yang ingin dipesan oleh Erlangga.


" Terserah kamu saja yang pilihkan, asal tidak pedas," ujar Erlangga.


" Baik, Pak. Saya pesankan sekarang ..." sahut Kayra berniat memesan makanan terlebih dahulu karena dia takut Erlangga terlalu lama menunggunya jika dia sholat terlebih dahulu.


" Kamu sembahyang saja dulu, pesan makanannya setelah kamu selesai beribadah." Erlangga melarang Kayra yang ingin memesan makanan dan menyuruh Kayra menlaksanakan kewajibannya lebih dulu. Setelah itu dia kembali masuk ke dalam ruangannya.


Sepeninggal Erlangga, Kayra segera melaksanakan sholat Dzuhur, setelah itu dia langsung turun ke bawah menuju kantin untuk memesan makan siang untuk Erlangga, Karena hari ini Ibu Nina tidak masuk kerja sehingga dia sendiri yang harus ke kantin.


Suasana kantin siang ini terlihat ramai karena banyak karyawan kantor makan siang di sana. Kayra merasakan beberapa pasang mata menatapnya dengan serius, tak sedikit juga yang berbisik saat melihat kehadirannya di kantin itu.


Kayra tidak tahu apa yang membuat mereka menatapnya seperti itu dan mencoba mengacuhkan pandangan mata beberapa karyawan yang menatapnya. Dia langsung menemui ibu pemilik kantin itu.


" Bu, tolong siapkan makan siang untuk Pak Erlangga. Apa makanan yang biasa Pak Erlangga suka ya, Bu?" tanya Kayra kepada Ibu kantin.


" Oh, siap, Mbak. Pak Erlangga biasanya suka makanan yang tidak bersantan dan tidak pedas, Mbak." ucap Ibu kantin


" Ya sudah, tolong siapkan saja, Bu." Kayra meminta bantuan Ibu kantin untuk menyiapkan makanan untuk Erlangga.


" Biasanya Bu Nina yang pesankan. Bu Nina nya ke mana, Mbak?" tanya Ibu kantin kemudian.


" Ibu Nina tidak berangkat, Bu." sahut Kayra. Dia sendiri lalu mengambil piring dan mengambil nasi berserta lauk pauk untuknya.


" Saya ini ya, Bu." Kayra menyerahkan piring berisi nasi yang dia ambil dan menaruh di atas baki. " Berapa semuanya, Bu?" tanya Kayra kemudian.


" Yang punya Mbak dua puluh dua ribu. Kalau punya Pak bos dihitung nanti saja, Mbak."

__ADS_1


" Oh, ya sudah kalau begitu saya bayar punya saya saja, Bu" Kayra menyodorkan uang pecahan seratus ribu rupiah kepada Ibu kantin. Dia tidak ingin mengundang kecurigaan dan memilih membayar makanannya sendiri.


" Biar nanti diantar ke atas makanannya, Mbak." Ibu kantin menawarkan bantuan membawakan makanan ke atas, kemudian menyerahkan uang kembalian kepada Kayra.


" Oh, baik, Bu. Terima kasih. Kalau begitu saya duluan ke atas ya, Bu!?" Kayra berpamitan kepada Ibu kantin hendak meninggalkan kantin.


" Penampilan kalem itu ternyata tidak menjamin orang itu baik." Selentingan terdengar di telinga Kayra saat dia akan keluar dari kantin.


" Iyalah, punya wajah cantik sayang dong, kalau tidak dimanfaatkan. Ya walaupun hanya sebagai wanita simpanan, yang penting duit mengalir lancar. Apalagi jadi simpanan atasan sendiri, aman, tentram dan sejahtera." Terdengar suara orang yang berbeda menyahuti perkataan orang yang sebelumnya berbicara.


Deg


Jantung Kayra seketika berdebar kencang saat mendengar orang-orang itu seolah sedang membicarakan dirinya. Karena sejak dia masuk tadi dia pun menyadari beberapa orang memperhatikannya. Dan kata-kata mereka yang menyinggung soal wanita simpanan benar-benar membuat dirinya tak tenang. Apakah mereka tahu tentang pernikahannya dengan Erlangga? Seketika rasa cemas menggelayuti hatinya.


" Kalau sampai Pak bos tahu ternyata asistennya selingkuh dengan sekretarisnya, kira-kira gimana, ya? Tidak mungkin Pak bos pecat asistennya, kan? Paling sekretarisnya yang dikeluarkan."


Kayra terbelalak saat mendengar tentang gosip yang dihembuskan orang-orang itu. Apakah asisten dan sekretaris yang dimaksud dengan Wira dan dirinya? Itu yang ada di dalam pikirannya.


" Ya Allah, kenapa bisa ada gosip seperti ini? Apa orang yang dimaksud mereka itu adalah aku dan Pak Wira?" Kayra menggigit bibirnya dan meremas roknya.


" Eh, jangan sembarang bergosip! Kalau tidak benar kalian bisa kena masalah, lho!" Suara seorang pria mengingatkan kedua orang wanita tadi yang sedang berbisik.


" Tampilannya mulus, dalamnya mengandung racun. Sampai Pak Aldi juga kena tipu penampilan kalemnya," lanjut orang tadi.


Kata-kata sindiran itu semakin membakar dada Kayra. Sudah jelas jika wanita yang disebut wanita simpanan yang sedang dibicarakan oleh mereka adalah dirinya. Gosip yang dihembuskan mereka tidaklah benar tentang dirinya dan Wira, namun sudah membuat beberapa orang mencemo'ohnya, apalagi jika kenyataan tentang status dia sebagai istri simpanan Erlangga diketahui karyawan lain, Kayra merasa itu seperti bom waktu yang siap meledak dan menghancurkan dirinya.


" Ini mau dibawa ke atas sekarang 'kan, Mbak?" Pelayan kantin yang membawa baki berisi makanan miliknya dan Erlangga membuat Kayra tersadar dari keseriusan dia mendengar orang-orang yang menggunjingkannya.


" Oh, i-iya, Mas. Langsung bawa ke atas saja." Kayra menyahuti pelayan kantin. Kayra kemudian berjalan di depan mendahului pelayan kantin dengan hati yang berkecamuk karena mendengar gosip yang menyakitkan tentang dirinya.


" Biar saya yang bawa, Mas. Terima kasih, ya!" Kayra mengambil baki dari tangan pelayan kantin saat sudah sampai di lantai ruangan Erlangga. Dia mengambil peralatan makan terlebih dahulu ke dapur lalu menuju ruang kerja Erlangga.


Tok tok tok


Dengan siku tangannya Kayra membuka pintu ruangan Erlangga karena dia kesulitan membuka pintu.


" Permisi, Pak." Kayra masih bersikap formal kepada Erlangga meskipun pria itu berstatus suaminya juga.

__ADS_1


Erlangga langsung bangkit dari duduknya dan sedikit berlari menghampiri Kayra yang terlihat kesulitan membuka pintu.


" Terima kasih, Pak." Walau kaget dengan perlakuan Erlangga yang terlihat tanggap dengan kesulitannya tadi, namun Kayra tak lupa mengucapkan terima kasih terhadap Erlangga.


" Kamu pesan makanan apa?" tanya Erlangga melihat isi makanan di baki itu.


" Saya pesankan beaf steak dan cah brokoli untuk Bapak." Kayra menata piring berisi nasi putih dan menaruh lauk pauk di tepi piring berisi nasi milik Erlangga.


" Itu makananmu?" tanya Erlangga menunjuk ke arah piring berisi ayam, tahu dan tempe goreng yang kini dipegang Kayra.


" Iya, Pak." sahut Kayra kemudian duduk di hadapan Erlangga.


" Kenapa duduk berjauhan? Kita ini suami istri bukan musuh, duduklah di sini." Erlangga meminta Kayra duduk di sebelahnya.


" Baik, Pak." jawab Kayra kembali.


" Jangan terlalu resmi jika kita sedang berdua." Erlangga meminta Kayra agar tidak selalu berucap seperti karyawan jika sedang berdua dengannya.


" Maaf, Pak. Saya masih belum bisa. Di kantor ini saya tetap karyawan Bapak dan harus menghormati Bapak sebagai pimpinan saya." Kayra beralasan.


Erlangga tidak lagi menentang apa yang dikatakan oleh Kayra. Dia membiarkan wanita itu memanggilnya sesuai keinginan Kayra.


" Sini piringmu." Erlangga mengambil piring makanan Kayra. Dia lalu membagi steak dan cah brokoli ke piring nasi Kayra lalu menyingkirkan ayam goreng berserta tahu dan tempe dari piring Kayra, membuat Kayra bengong dan kebingungan.


" Kenapa, Pak?" tanya Kayra bingung dengan tingkah Erlangga.


" Apa yang saya makan, itu juga yang harus kamu makan," ucap Erlangga.


" Saya ingin setiap hari kita makan seperti ini, tapi saya ingin kamu yang memasaknya untuk saya. Sekarang makanlah ...!" ucap Erlangga kemudian menyantap makanannya.


*


*


*


Bersambung ...

__ADS_1


Maaf ya, kalo bab ini sangat singkat, soalnya asam lambung kambuh bikin ga konsen 🙏


Happy Reading❤️


__ADS_2