MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO

MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO
Wanita Yang Disukai Aldi


__ADS_3

Setelah bertandang ke rumah ketua RT dan berbicara seputar rencana renovasi rumah milik orang tua asuhnya, Kayra berpamitan pulang. Tentu saja Kayra akan tetap melibatkan warga setempat terutama Pak RT yang akan ikut membantu mengawasi karena saat ini dirinya tidak tinggal di sana.


Sekitar empat puluh menit kemudian, Kayra dan Erlangga sampai juga di rumah milik Nugraha. Ini kunjungan kedua bagi Erlangga ke rumah Nugraha, namun yang pertama kalinya untuk Kayra berkunjung ke rumah Ibu kandungnya yang telah menikah dengan pengusaha kaya di Bandung itu.


" Kayra, Mama senang sekali akhirnya kamu mau datang kemari, Nak." Arina memeluk tubuh Kayra saat putrinya itu tiba di rumahnya.


" Kayra juga senang bisa berkunjung ke tempat Mama dan Papa." Kayra membalas pelukan Arina.


" Apa kabar, Pak?" Sementara Erlangga menyapa Nugraha.


" Alhamdulillah, baik, Nak. Kamu lupa janjimu kala itu, Nak?" Sepertinya Nugraha menagih janji Erlangga kepadanya.


" Maaf, Pak. Apa itu, Pak?" Kening Erlangga sampai berkerut mencoba mengingat janji apa yang telah dia ucapkan kepada Nugraha hingga kini Nugraha menagih janjinya.


" Kamu berjanji akan memanggil Papa jika Kayra sudah mengetahuinya, kan?" Nugraha menyebutkan janji yang diucapkan Erlangga saat berkunjung ke kantornya beberapa bulan lalu.


" Ya ampun, maaf, saya lupa hal itu." Erlangga menepuk keningnya. Dia baru ingat jika memang pernah mengucapkan hal tersebut saat pertama kali bertemu Nugraha di kantor milik Nugraha.


" Tuh, kan! Mas lupa lagi." Kayra yang mendengar obrolan Erlangga dengan Papa sambungnya langsung menegur suaminya itu.


" Maaf, Pa. Saya benar-benar minta maaf." Erlangga merasa tidak enak karena melupakan janjinya kepada Nugraha. Apalagi saat istrinya sudah menegurnya, tentu Erlangga tidak ingin Kayra akan memceramahinya nanti.


" Tidak apa-apa, Nak. Papa memgerti kalau banyak hal yang mesti kamu pikirkan." Sebagai sesama pengusaha, tentu Nugraha lebih memahami Erlangga.


" Sayang, aku minta maaf." Erlangga melingkarkan tangan di pinggang istrinya karena Kayra masih menatapnya tajam. " Papa saja sudah memaafkanku, kok." Erlangga menyeringai.


" Ya sudah, ayo kita masuk ..." Arina lalu mempersilahkan Erlangga dan Kayra masuk ke dalam rumahnya.


" Ryan, kemari, Nak." Nugraha memanggil putra keduanya yang baru keluar dari kamar membuat pria muda itu mendekati mereka. Kebetulan Ryan sedang pulang ke Indonesia karena ada hal yang harus diurus di Bandung.


" Ryan, kenalkan. Ini kakak kamu ... Kayra." Nugraha memperkenalkan Kayra kepada Ryan.


" Hai, Kak. Aku Ryan. Senang bisa bertemu dengan Kak Kayra." Ryan menjabat tangan Kayra, namun pandangannya terus memperhatikan wajah cantik Kayra sampai membuat matanya menyipit dan alisnya saling bertautan.


Mendapati Ryan yang memperhatikan istrinya begitu lekat membuat Erlangga merasa tidak nyaman, meskipun Ryan adalah adik Kayra.


" Oh, hai, Ryan. Kakak juga senang bisa bertemu dengan kamu ..." sahut Kayra yang tidak menyadari sikap Ryan.


" Kakakmu cantik, kan?" Erlangga mencoba mengganggu Ryan yang masih terlihat asyik menatap Kayra.


" Eh, oh iya, cantik. Kak Kayra benar-benar cantik." aku Ryan jujur. " Hmmm, tapi ... wajahnya Kak Kayra ini mirip dengan wanita yang ditaksir oleh Kak Aldi ya? Namanya pun sama ... Kayra." Akhirnya Ryan jujur menyebutkan apa yang membuatnya tadi memerhatikan Kayra dengan lekat.


Peryataan jujur Ryan sontak membuat Kayra dan Erlangga terkesiap. Kayra seketika salah tingkah, sementara Erlangga langsung memasang wajah serius dan tak nyaman dengan perkataan Ryan.


" Kamu ini ada-ada saja, Yan." Arina justru terkekeh mendengar penuturunan putra pertama hasil pernikahannya dengan Nugraha.


Sedangkan Nugraha mencoba menelaah perkataan Ryan itu. Dia bahkan berkesimpulan jika penyebab Rivaldi terlalu berniat menjatuhkan Mahadika Gautama, khususnya Erlangga, karena putranya itu bersaing dengan Erlangga untuk mendapatkan Kayra. Karena selama ini putranya itu tidak terbuka soal wanita yang disukai oleh Rivaldi.


" Memangnya Kakak kamu itu ada curhat sama kamu?" tanya Arina terus membahas soal Rivaldi. Sementara Nugraha curiga jika yang dikatakan oleh Ryan benar saat dia mendapati perubahan gestur tubuh Kayra dan Erlangga.


" Iya, Ma. Kak Aldi sempat cerita beberapa bulan lalu jika menyukai wanita namanya Kayra. Fotonya juga pernah dikirimkan sama Kak Aldi, Ma. Sayang sekali fotonya sudah aku hapus. Aku takut Susan cemburu kalau ada foto wanita lain di galery ponselku, Ma." Ryan beralasan.


" Mungkin itu satu kebetulan saja. Di dunia ini 'kan banyak orang yang mirip-mirip." Nugraha mengibas tangannya ke udara. Dia tidak ingin istri dan anaknya terus membahas soal wanita yang disukai oleh putranya itu.


" Kalian pasti belum makan siang, kan? Kita langsung makan saja, ya? Kasihan bumil ini pasti sudah lapar." Arina mengusap perut Kayra dan mengajak Kayra dan Erlangga menyantap makan siang terlebih dahulu.

__ADS_1


" Iya, Ma." jawab Kayra, kemudian dia pun mengandeng tangan suaminya. Dia tahu saat ini hati suaminya itu sedang terganggu dengan ucapan Ryan tadi.


Setelah beberapa menit di meja makan ....


" Ryan kuliah di Australia, ya?" tanya Kayra mencoba mengakrabkan diri dengan adik satu ibunya itu saat mereka menikmati makan siang.


" Iya, Kak. Aku di Camberra kalau Rio di Melbourne. Kak Kayra pernah ke sana? Kalau pergi ke sana mampir deh ke tempat aku atau Rio." Ryan pun nampak sangat hangat sehingga dapat menerima Kayra sebagai kakaknya.


" Belum pernah." Dengan menggelengkan kepala, Kayra menjawab dengan tersipu malu.


" Kalau Kak Erlangga punya usaha sendiri ya? Bergerak di bidang apa, Kak?" Kini giliran Erlangga yang ditanya oleh Ryan.


" Produsen suku cadang otomotif," sahut Erlangga datar.


" Kok sama seperti Kak Aldi ya? Semoga saja Kak Aldi dengan Kak Erlangga tidak saling bersaing," celetuk Ryan kemudian. " Oh ya, Ma. Kak Aldi tidak ikut datang ke sini?" Kembali Ryan menyinggung soal Rivaldi, membuat Kayra dan Erlangga saling pandang.


" Mama sudah minta Kakak kamu untuk datang kemari karena ingin Mama kenalkan pada Kayra dan Elang, tapi Aldi bilang, tidak janji bisa datang karena ada keperluan. Tapi semoga saja nanti bisa datang dan bisa bertemu Kayra dan Elang." Arina memang tidak tahu yang terjadi jika ada masalah antara Erlangga dan Rivaldi begitu santai mengatakan soal Rivaldi yang dia harapkan hadir di rumahnya.


" Padahal waktu aku bilang mau pulang ke Bandung, Kak Aldi ngajak aku glamping lho, Ma. Kok, sekarang jadi super sibuk gitu?" tanya Ryan heran. " Nanti aku coba hubungi Kak Aldi supaya bisa datang kemari. Kak Aldi pasti kaget kalau lihat Kak Kayra wajahnya mirip sekali sama wanita yang dia taksir." Ryan justru terkekeh tak tahu jika hati Erlangga sedang bergejolak karena terus saja membahas Rivaldi dan wanita yang disukai Rivaldi yang tak lain adalah istrinya.


***


" Mas, jangan menunjukkan sikap tidak suka dengan Pak Aldi di hadapan Papa dan Mama. Tidak enak kalau mereka tahu kalau Pak Aldi dan Mas pernah bersaing karena dulu Pak Aldi pernah menyukaiku." Setelah Kayra dan Erlangga masuk ke dalam kamar tamu yang akan mereka pakai untuk menginap, Kayra menyampaikan unek-unek di hatinya karena sikap suaminya tadi yang kurang bersahabat.


" Jangan sampai Papa dan Mama tahu soal ini." Kayra mengusap dada suaminya. " Tolong maafkan sikap Pak Aldi terhadap Mas dan perusahaan Mas dulu. Aku yakin jika Papa dan Mama tahu, beliau juga pasti akan menyesalkan sikap Pak Aldi itu." Kayra mencoba membujuk suaminya agar tidak terus memupuk rasa benci terhadap Rivaldi.


" Mas 'kan sudah berjanji ingin menjadi suami idaman untuk aku. Bisa memaafkan kesalahan atas apa yang pernah dilakukan Pak Aldi, itu semakin mendekatkan Mas pada kriteria suami idaman aku, lho." Bahkan tak segan Kayra merayu Erlangga agar Erlangga bisa bersikap tenang. Dia pun langsung bermanja dengan bergelayut di lengan sang suami.


Tingkah manja Kayra, membuat Erlangga langsung merangkulkan tangannya di pundak sang istri.


Kayra spontan menutup penuh wajah dengan telapak tangannya.


" Kenapa kamu menutup wajahmu seperti itu, Sayang?" Erlangga bertanya heran.


" Daripada nanti dicubit sama Mas." Suara Kayra teredam karena tertutup tangannya.


Jawaban Kayra membuat Erlangga tertawa lebar. Dia lalu mengangkat tubuh istrinya yang kini lebih berat karena ada bayi mereka di dalam perut istrinya itu.


" Aaakkhh, Mas." Kayra spontan berteriak dan melepas tangan dari wajahnya saat merasa tubuhnya melayang di udara. Dengan spontan kini tangannya melingkar di leher sang suami.


" Kalau begitu aku kasih hukuman yang lain ..." Erlangga merebahkan tubuh sang istri di atas peraduan.


" Aku memang berbuat salah apa, Mas? Kok dihukum?" Jari lentik Kayra mengusap rahang sang suami.


" Kamu dihukum karena kamu begitu menggemaskan, sehingga membuat suamimu ini semakin tergila-gila kepadamu." Erlangga kini menautkan bibirnya di bibir ranum yang sudah menjadi vitamin wajib yang mesti dikonsumsi olehnya setiap saat, karena sudah terlalu candu menyentuh bibir itu.


" Masih siang, Mas. Tidak enak kalau berbuat ini di rumah orang." Kayra memperingatkan suaminya, karena dia tidak nyaman harus melakukan hubungan in tim di tempat orang.


" Hahaha, memangnya kenapa? Ini 'kan rumah Mamamu juga, Sayang."


" Iya, tapi aku malu, Mas." jawab Kayra. " Takut kedengaran ..." Kayra terkikik seraya menutup mulutnya.


" Apanya yang kedengaran, hemm?" Erlangga mengusap leher Kayra dengan hidungnya.


" Geli, Mas." Kayra meminta suaminya menghentikan aksinya. Namun tidak digubris oleh Erlangga.

__ADS_1


" Dek, Papa nakalin Mama nih!" Tak diladeni oleh suaminya, Kayra seolah mengadu pada bayi di dalam perutnya.


Erlangga lalu menoleh ke arah baby bump istrinya. Perlahan dia mengelus perut istrinya yang sudah mulai membuncit besar karena perkiraan bulan depan anak pertama mereka itu akan lahir ke dunia ini.


" Aku sudah tidak sabar melihat anak kita ini terlahir ke dunia ini," ucap Erlangga kemudian.


" Aku juga, Mas. Rasanya sudah tidak sabar untuk menggendong dia, Mas." Kayra membalas ucapan sang suami.


" Aku berharap dia memiliki sikap yang bijaksana sepertimu, Sayang." Erlangga berharap anaknya itu akan mempunyai sikap yang bijaksana seperti istrinya itu.


" Dan yang pasti setampan Papanya." Kayra membalas pujian Erlangga dengan balik memuji suaminya itu, membuat Erlangga kembali menautkan kecupan di bibir manis wanita yang telah menjadi bagian dari hidupnya itu.


Sementara di kamar Nugraha ...


" Ma, Papa merasa jika apa yang dikatakan oleh Ryan itu benar." Nugraha merasa perlu bicara dengan Arina tentang dugaannya jika. wanita yang disukai oleh Rivaldi memang Kayra.


" Apanya yang benar, Pa?" Arina berjalan menghampiri suaminya yang duduk di kursi sofa di kamarnya.


" Soal wanita yang disukai oleh Aldi," jawab Erlangga.


" Maksud Papa, wanita yang disukai Aldi memang benar Kayra anakku, Pa?" Arina membelalakkan matanya.


" Iya." Nugraha melingkarkan tangan di atas bahu sofa. Selama ini Nugraha maupun Rivaldi tidak pernah bercerita kepada Arina jika Rivaldi sempat bekerja di kantor Mahadika Gautama. Hal itulah yang membuat Arina tidak mencurigai sesuatu saat Ryan mengatakan wanita yang disukai Rivaldi memang benar Kayra.


" Papa tahu dari mana?" tanya Arina penasaran.


" Aldi itu sebelumnya pernah bekerja di kantor milik Erlangga, Ma. Kayra pernah bercerita sama Mama kalau mereka bertemu dan dia menikah dengan Erlangga itu karena dia menjadi sekretaris Erlangga, kan?" Nugraha pernah mendengar istrinya bercerita soal pertemuan Erlangga dengan Kayra.


" Menurut Mama, apa suatu kebetulan saja apa yang dikatakan oleh Ryan tadi?" tanya Nugraha menanyakan pendapat sang istri.


" Ya ampun, jadi Kayra yang dimaksud Ryan itu memang benar Kayra anakku, Pa?" Arina terkesiap mengetahui jika Rivaldi memang benar menyukai Kayra.


" Iya, Ma. Papa pikir juga seperti itu. Dan hubungan Aldi dengan Erlangga selama ini berjalan tidak harmonis, karena selama Aldi menyembunyikan identitasnya selama bekerja di kantor Mahadika. Aldi secara sengaja ingin menyaingi perusahaan Mahadika dengan menyusup ke kantor milik Erlangga memang ingin mencuri info tentang usaha itu yang akan dia terapkan di perusahaannya sendiri. Papa rasa ketika berkerja di sanalah Aldi mulai menyukai Kayra." Nugraha menceritakan segala hal tentang perbuatan tak sportif putranya kepada Arina.


" Astaghfirullahal adzim, kenapa Aldi berbuat seperti itu, Pa?" Arina tidak menyangka jika putra sambungnya itu berbuat selicik itu.


" Papa harap Mama jangan membenci Aldi, karena Aldi melakukan semua itu karena Aldi sangat menyanyangi Mama. Aldi selalu melihat Mama bersedih setiap kali ingat akan anak Mama. Dan Aldi merasa keluarga Mahadika lah yang harus bertanggung jawab atas kesedihan Mama sehingga membuatnya ingin membalas dendam atas rasa sakit hati Mama." Nugraha menjelaskan penyebab Rivaldi melakukan tindakan tidak terpuji seperti itu.


" Ya Allah, Mama tidak membenci keluarga Pak Krisna, Pa." Arina menangis. Dia merasa Rivaldi telah salah menafsirkan kesedihannya, yang akhirnya berujung terjadi konflik antara Rivaldi dengan Erlangga apalagi mereka berdua akhirnya menyukai wanita yang sama yaitu Kayra.


*


*


*


Bersambung ...


Yang belum mampir di TAWANAN BERUJUNG CINTA mohon dibantu masukin ke fav, kasih like, komen, gift, vote dan rate nya ya,


Ayo bantu novel Rizal dan Grace biar makin meningkat levelnya. Makasih🙏



Happy Reading ❤️

__ADS_1


__ADS_2