
Hari ini Kayra berangkat ke kantor setelah beberapa hari ijin karena harus menemani Ibunya di rumah sakit. Dia bertekad membalas kebaikan Erlangga dengan mengabdi dan bekerja sebaik mungkin di perusahaan milik Erlangga itu.
" Mbak Kayra sudah berangkat kerja lagi? Kemarin habis cuti ya, Mbak?" tanya Odi, office boy yang sedang membersihkan ruangannya yang berada di depan ruang kerja Erlangga saat melihat Kayra keluar dari lift.
" Kemarin saya pulang ke Bandung karena Ibu saya tertimpa musibah, Mas Odi." Kayra menjawab pertanyaan Odi.
" Musibah apa, Mbak?" tanya Odi serius menanggapi.
" Rumah orang tua saya di Bandung kebakaran dan Ibu saya masuk rumah sakit karena terkena luka bakar, Mas Odi." Kayra menjelaskan apa yang membuatnya tidak masuk kantor beberapa hari .
" Ya Allah, saya turut prihatin, Mbak Kayra. Lalu bagaimana kondisi Ibunya Mbak Kayra?" tanya Odi lagi.
" Alhamdulillah sudah mulai membaik, sekarang sedang dalam masa pemulihan setelah operasi kemarin, Mas Odi." jawab Kayra menerangkan jika kondisi Ibunya saat ini sudah tidak mengkhawatirkan. " Oh ya, ruangan Pak Erlangga sudah dibersihkan belum, Mas Odi?" tanyanya.
" Belum, Mbak. Saya belum berani masuk ke ruangan bos kalau tidak ada yang mengawasi,. Selama Mbak Kayra kemarin tidak masuk kerja, saya menunggu Mbak Dini untuk membersihkan ruangan Pak Erlangga." Odi menjelaskan jika dia akan membersihkan ruang kerja Erlangga setelah staff dari asisten Erlangga datang dan membukakan pintu ruangan kerja Erlangga.
" Oh, begitu." Kayra lalu berjalan ke arah pintu ruang kerja atasannya itu dan membukanya. " Silahkan dibersihkan saja dulu, Mas Odi." Kayra lalu menyuruh Odi membersihkan dan merapikan ruangan kerja CEO di perusahaan mereka bekerja itu.
" Baik, Mbak." Odi pun segera masuk ke ruangan Erlangga untuk membersihkan ruangan kerja atasan mereka.
Sekitar jam setengah sepuluh pagi Erlangga tiba di kantornya. Kayra yang melihat Erlangga keluar dari lift segera berdiri dan menyapa bosnya itu.
" Selamat pagi, Pak." Kayra menyapa Erlangga.
" Pagi ..." Erlangga menjawab dan menoleh sebentar ke arah Kayra lalu berjalan masuk ke dalam ruangannya tanpa menanyakan keadaan orang tua Kayra.
Kayra memejamkan mata sejenak seraya menghela nafas panjang. Mungkin dia terlalu berharap bosnya itu akan menanyakan soal Ibunya, setidaknya walau hanya sekedar basa-basi.
Kayra kemudian kembali duduk di atas kursinya dan melanjutkan aktivitasnya karena hampir seminggu dia tidak beraktivitas di kantor, banyak pekerjaan menumpuk yang harus dia selesaikan.
__ADS_1
" Permisi, Pak." Kayra mengetuk pintu ruang kerja Erlangga setelah dia menyiapkan beberapa dokumen yang akan dia serahkan kepada Erlangga. Dia lalu berjalan mendekat setelah Erlangga menoleh ke arahnya.
" Ini laporan dari divisi keuangan yang Bapak minta, dan ini beberapa proposal kerja sama yang ditawarkan beberapa relasi kita." Kayra menyerahkan beberapa arsip kepada Erlangga.
" Taruh saja di mejaku!" sahut Erlangga.
" Baik, Pak." Kayra menaruh beberapa arsip itu ke atas meja kerja Erlangga.
" Oh ya, bagaimana kondisi Ibumu sekarang? Apa perawat yang menjaga Ibumu bisa bekerja dengan baik?" Akhirnya Erlangga menanyakan kondisi kesehatan Ibu Sari.
" Alhamdulillah Ibu saya sudah membaik dan Mbak Diah yang merawat Ibu saya juga bekerja dengan baik, Pak." jawab Kayra. " Sekali lagi saya mengucapkan terima kasih atas pertolongan Bapak terhadap Ibu saya." Kayra mengucapkan rasa terima kasihnya kembali kepada Erlangga, karena dia merasa beruntung mendapatkan atasan sebaik Erlangga yang sangat memperdulikan masalah yang sedang menimpa dirinya.
" Syukurlah kalau sudah membaik. Saya sangat membutuhkan kamu di kantor ini, jadi sebisa mungkin saya akan membantu mengatasi masalah yang sedang kamu hadapi agar pekerja kamu di sini tidak terganggu!" tegas Erlangga mengatakan alasannya.
" Iya, Pak."
" Ya sudah, kamu boleh kembali ke mejamu!" Erlangga mempersilahkan Kayra untuk kembali beraktivitas.
***
Selepas melaksanakan sholat Dzuhur, Kayra beranjak menuju kantin di ada di belakang gedung kantor perusahaan. Biasanya dia selalu membawa bekal sendiri dari rumah. Sebelum berangkat, Kayra selalu menyempatkan diri untuk memasak untuk dia makan di kantor. Dia berpikir dengan memasak sendiri akan menghemat pengeluarannya karena bisa dimakan untuk menu sarapan, makan siang dan juga makan malam daripada harus membeli di luar. Kayra benar-benar harus belajar berhemat karena dia harus mengirim jatah bulanan untuk Ibunya di Bandung selama ini. Namun karena tadi pagi dia harus membantu mengurus Ibunya terlebih dahulu sebelum Diah datang, hingga membuat Kayra tidak sempat menyiapkan bekal untuknya.
Kayra mengambil piring dan menyendokkan nasi di atasnya ditambah dengan sambal goreng daging, tempe bacem dan juga kerupuk serta mengambil satu botol air mineral. Setelah itu dia berjalan menuju arah kasir untuk membayar makanan yang sudah diambilnya.
" Dua puluh tiga ribu lima ratus rupiah." Kasir di kantin itu menyebutkan angka yang mesti dibayar oleh Kayra.
Kayra lalu merogoh kantong di bajunya dan mengeluarkan selembar uang seratus ribu rupiah dan menyerahkannya ke kasir kantin. Setelah dia mendapatkan uang kembalian, Kayra segera mencari meja yang kosong karena waktu makan siang ini di kantin itu terlihat ramai oleh beberapa karyawan yang makan di sana.
" Boleh saya duduk di sini?" tanya Kayra saat melihat satu kursi kosong di antara beberapa karyawan yang sedang asyik menyantap makanan dan mengobrol dengan karyawan lainnya.
__ADS_1
" Silahkan ..." sahut karyawan itu mempersilahkan Kayra untuk duduk di sebelahnya.
" Terima kasih ..." sahut Kayra kemudian menaruh piring dan botol mineral di atas meja kemudian duduk di kursi yang kosong itu.
" Tumben makan di kantin, Mbak?" tanya karyawan bernama Gita yang mengenali Kayra sebagai sekretaris dari Erlangga.
" Memang Mbak kalau makan di mana? Sama Pak Erlangga, ya?" karyawan lainnya yang bernama Rani ikut bertanya penasaran.
Kayra tersenyum tipis menjawab pertanyaan rekan-rekan karyawan di kantornya itu.
" Saya biasanya bawa bekal dari rumah, Mbak. Dan makan di dapur atas dekat ruangan Bapak," sahut Kayra menerangkan kebiasaannya selama ini.
" Oh, aku pikir Mbak ini kalau makan sekalian menemani Pak Bos." Rani tertawa kecil menertawakan dirinya sendiri karena tebakannya itu salah.
" Tidak kok, Mbak." Kayra mengulum senyuman mematahkan dugaan Rani.
" Bawa bekal dari rumah, masak sendiri, Mbak?" tanya Gita kemudian.
" Iya, saya pagi-pagi masak dulu biar lebih hemat, Mbak." jawab Kayra tanpa merasa malu mengakui jika dia memang sangat menghemat pengeluarannya.
" Gaji sekretaris Pak Bos 'kan besar. Kok menghemat segala, sih? Ya buat makan-makan saja sih, pasti cukuplah ..." Rani berpendapat jika gaji sekretaris dari Erlangga itu pasti nilainya fantastis jadi dia merasa heran mengapa Kayra harus menghemat untuk makanan.
Kayra tersenyum menanggapi ucapan Rani. " Banyak pengeluaran lain yang mesti saya pikirkan, Mbak. Saya makan dulu ya, Mbak." Kayra ingin menyantap makanannya dulu sebelum Gita dan Rani mengajaknya berbicara lebih lama.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung ....
Happy Reading❤️