MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO

MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO
Uang Bulanan


__ADS_3

Bola mata Kayra membulat sempurna saat dia membaca pesan SMS masuk di ponselnya. Pesan pemberitahuan mutasi transaksi yang berasal dari salah satu bank pemerintah itu memberitahukan jika ada dana masuk di nomer rekeningnya di bank tersebut.


Itulah pesan yang membuat matanya terbelalak. Dia tidak pernah mendapatkan uang sebesar itu selama hidupnya, membuat dirinya benar-benar bingung, siapa orang yang mentransfer uang itu ke rekeningnya? Apakah ada orang yang salah transfer mengirim uang kepadanya? Itulah pertanyaan yang muncul di benak Erlangga..


Ddrrtt ddrrtt


Di saat Kayra merasa kebingungan tiba-tiba notif pesan masuk ke dalam ponselnya kembali.


" Saya transfer uang bulanan untuk kamu, pakaian uang itu untuk kebutuhan sehari-hari."


Pesan masuk dari Erlangga membuat Kayra tercengang hingga dia menutup mulutnya. Ternyata uang yang masuk ke rekening tabungannya berasal dari Erlangga dan Erlangga menyebut jika uang itu adalah uang bulanan untuk dipakai kebutuhan sehari-hari olehnya. Sebanyak itu? Jumlah itu hampir sama dengan jumlah uang gaji yang dia terima selama lima bulan. Sepertinya Kayra benar-benar syok dengan jumlah uang yang diberikan Erlangga kepadanya.


" Maaf, Pak. Kenapa Bapak mentransfer uang tiga puluh juta?" Kayra segera membalas pesan masuk dari Erlangga.


" Apa jumlahnya kurang?" Tak lama Erlangga langsung meneleponnya.


" Oh, tidak, Pak. Ini justru besar sekali nilainya untuk saya." Kayra menepis anggapan Erlangga yang mengira uang yang diberikannya terlalu kecil untuk dirinya.


" Saya selalu memberikan uang bulanan pada Caroline lebih dari itu. Jika kami sudah bercerai nanti, uang bulanan yang selama ini diterima Caroline akan beralih kepadamu," tutur Erlangga menjelaskan, namun suara Erlangga tidak hanya terdengar dari dalam ponselnya namun juga dari arah pintu ruangan Erlangga karena pria itu sudah berdiri di pintu ruangannya.


Kayra segera mematikan sambungan telepon Erlangga karena pria itu sudah berjalan ke arahnya.


" Apa ini tidak berlebihan untuk saya, Pak?" Kayra merasa dirinya tidak pantas untuk menerima uang sebanyak itu untuk dipakai untuk kebutuhan sehari-hari.


" Saya rasa apa yang saya dapat dari kamu lebih dari uang yang saya berikan itu."


Kayra langsung menatap tajam ke arah Erlangga. Dia salah mengartikan maksud ucapan Erlangga.


" Apa Bapak membayar karena saya sudah melayani Bapak?" tanyanya dengan nada ketus.


Erlangga memicingkan matanya menanggapi pertanyaan Kayra. Dia tidak menduga jika Kayra akan berpikir sedangkal itu.


" Kenapa kamu berpikiran seperti itu? Yang kamu berikan bukan hanya sekedar kehangatan tubuh kamu, tapi semua perhatian yang kamu berikan kepada saya." Erlangga tersenyum lalu duduk di tepi meja kerja Kayra.


" Kamu pantas mendapatkan apa yang saya beri itu, Kayra," jari Erlangga bahkan menyampirkan helaian rambut Kayra ke belakang telinga.


" Eheemmm, maaf jika saya mengganggu." Suara Wira yang terdengar dari arah ruangannya membuat Kayra dan Erlangga terkejut. Kayra bahkan mendorong kursinya agar menjauh dari Erlangga.


" Ck, apa Anda tidak bisa melihat sikon, Pak Wira?" Erlangga terlihat kesal karena kehadiran Wira mengganggu dirinya yang sedang berusaha bersikap romantis kepada Kayra.

__ADS_1


" Maaf, Pak. Saya hanya ingin menyampaikan ini." Wira menyodorkan beberapa berkas di tangannya kepada Erlangga.


" Taruh saja di ruangan saya!" Erlangga memberi perintah kepada Wira untuk menaruh berkas yang disodorkan Wira tadi padahal sebelumnya Erlangga sudah meminta Wira menyerahkan berkas itu secepatnya.


" Hmmm, biar saya saja, Pak." Kayra hendak bangkit ingin mengambil berkas dari Wira dan menaruh di ruang kerja Erlangga.


" Kamu bukan sekretaris Pak Wira, biarkan Pak Wira menaruh sendiri berkas itu di meja saya!" Erlangga langsung melarang Kayra yang hendak menaruh berkas yang dipegang Wira.


" Baik, Pak." Walau merasa canggung namun Wira tetap masuk ke dalam ruangan Erlangga untuk mengantar berkas yang diminta oleh Erlangga.


" Kamu itu istri saya, jangan sekalipun menawarkan diri untuk membantu bawahan saya!" Erlangga memprotes Kayra karena sikap Kayra yang menawarkan bantuan kepada Wira.


" Tapi di sini saya juga karyawan Bapak. Saya dan Pak Wira sama-sama bawahan Bapak." Kayra membalas ucapan Erlangga.


" Berani melawan perintah saya!?" Erlangga mendelik tajam ke arah Kayra karena jawaban yang diucapkan Kayra atas protesnya tadi.


" Maaf, Pak." Melihat Erlangga mendelik dengan galak, Kayra langsung mengatakan permintaan maafnya kepada Erlangga.


" Berkas sudah saya letakan di atas meja Anda, Pak." Wira yang baru keluar dari ruangan Erlangga melaporkan jika tugasnya telah selesai.


" Hmmm ..." Hanya itu respon dari Erlangga atas ucapan Wira.


" Bapak sebaiknya kembali ke ruangan Bapak, tidak enak jika ada karyawan lain yang melihat Bapak duduk seperti ini." Setiap tindakan berlebihan Erlangga terhadap dirinya di lingkungan kantor pasti membuat jantung Kayra seperti melompat-lompat. Karena bukan tidak mungkin ada tamu yang keluar dari lift yang tepat berada di depan meja kerjanya.


" Kamu mengusir saya?" Erlangga bangkit dan berkacak pinggang.


" Tidak, saya tidak mungkin berani mengusir Bapak." Kayra membantah dan ikut berdiri, dia tidak ingin Erlangga salah paham akan ucapannya.


Erlangga tersenyum memandang wanita yang baru saja melayaninya di ruangan kerjanya beberapa jam lalu. Dia mengusap wajah cantik Kayra lalu melangkah masuk ke dalam ruangan kerjanya untuk mengecek berkas yang diserahkan Wira tadi di meja kerjanya.


***


" Pak Koko, kita mampir ke toko perlengkapan alat sholat sebentar ya, Pak!?" Sepulang dari kantor, Kayra meminta kepada Pak Koko untuk mampir ke salah satu toko yang menjual alat-alat perlengkapan sholat karena dia ingin membelikan alat perlengkapan sholat untuk Erlangga. Suaminya itu sudah berinisiatif membeli beberapa buku panduan sholat untuk dipelajari, dia juga harus merespon baik upaya Erlangga dengan membelikan pakaian yang sepantasnya dipakai jika ingin menghadap Penciptanya.


" Baik, Nyonya." Koko menyetujui permintaan Kayra hingga dia memarkirkan mobil yang dikendarainya di sebuah toko milik orang keturunan timur tengah yang menjual kebutuhan-kebutuhan umat muslim untuk beribadah.


" Pak Koko tunggu sebentar di sini, ya!? Saya tidak akan kabur, kok." Saat keluar dari mobil, Kayra berpesan agar Koko tetap berada di mobil dan tidak mengikuti dirinya masuk ke dalam toko.


" Baik, Nyonya." sahut Koko menyeringai karena selain diberi tugas mengantar jemput Kayra, Erlangga juga menugaskan Koko untuk selalu mengawasi Kayra, terutama jika ada orang yang mendekati Kayra seperti Rivaldi kemarin.

__ADS_1


Di dalam toko itu, Kayra membelikan sajadah, beberapa baju Koko, peci, sarung dan juga tasbih. Setelah selesai memilih barang yang ingin dibelinya, Kayra segera berjalan ke arah kasir untuk membayar barang yang sudah dipilihnya


Ddrrtt ddrrtt


Kayra merogoh ponsel di tasnya saat mendengar ponselnya itu berbunyi. Kayra mendengus karena melihat nama Erlangga yang muncul di layar ponselnya itu. Dia menduga pasti ulah Koko yang sudah melapor kepada suaminya itu.


" Selamat sore, Pak."


" Sedang apa kamu di toko itu?" Pertanyaan menyelidik langsung diucapkan oleh Erlangga


" Saya sedang membeli kebutuhan untuk Bapak sholat. Bukankah Bapak sudah berjanji akan mulai menjalankannya kembali?" sahut Kayra merespon ucapan suaminya tadi.


" Ya sudah, jangan terlalu lama di sana!" Tak lama sambungan telepon terputus karena Erlangga telah mematikan panggilan teleponnya, Membuat Kayra memutar bola matanya menanggapi sikap posesif Erlangga terhadapnya.


Kayra menghabiskan uang hampir dua juta rupiah untuk keperluan sholat Erlangga. Dia tentu memilih barang pilihan untuk Erlangga. Kayra tidak mempermasalahkan berapa nominal yang dia keluarkan karena dia pikir uang yang dipakai untuk membeli adalah uang pemberian suaminya itu.


Setelah melakukan pembayaran, Kayra keluar dari toko dengan membawa tiga paper bag besar di tangannya.


" Biar saya yang bawa, Nyonya." Sesampainya di pintu keluar, Koko sudah menunggu Kayra dan mengambil paper bag yang dibawa Kayra.


Kayra tidak menolak pertolongan Koko, karena menolak pun, Koko akan tetap memaksanya menyerahkan barang yang ada di tangannya itu.


Kayra menggelengkan kepala pelan mengikuti langkah Koko. Kayra benar-benar merasa seperti seorang majikan yang dilayani oleh pelayannya, padahal dia hanya orang kecil yang status ekonomi biasa-biasa saja.


" Apa Pak Koko yang memberitahu Pak Erlangga jika saya ke toko ini?" Setelah Kayra masuk ke dalam mobil, dia menanyakan soal Erlangga, karena tidak mungkin Erlangga tahu apa yang sedang dilakukannya jika bukan karena Koko yang melaporkannya kepada Erlangga.


" Tadi Tuan menelepon saya, Nyonya. Dan menanyakan Nyonya ada di mana." Koko berbohong dengan mengatakan jika Erlangga lah yang menghubunginya padahal justru dia yang melapor kepada Erlangga jika Kayra minta diantar ke toko yang menjual alat perlengkapan sholat.


Kayra mendengus, tentu dia tidak mempercayai penjelasan yang disampaikan oleh Koko. Jika Erlangga ingin tahu dia sedang berada di mana, kenapa menanyakan kepada Koko bukan langsung bertanya kepadanya. Apalagi saat menghubunginya tadi, Erlangga langsung bertanya 'sedang apa kamu di toko itu?' artinya Erlangga memang mengetahui keberadaan dirinya di toko itu.


***


*


*


*


Bersambung ...

__ADS_1


Happy Reading❤️


__ADS_2