MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO

MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO
Kisah Arina


__ADS_3

Tubuh Arina seakan melemas saat mendengar pertanyaan yang selalu dia hindari. Dia tidak tahu harus menjawab apa, karena dia sendiri tidak tahu di mana keberadaan putrinya saat ini. Walaupun di setiap doanya tak pernah lupa dia selipkan doa, berharap agar anaknya itu masih hidup dan selalu diberi keselamatan juga selalu dilindungi dari segala marabahaya. Dia pun berharapkan keajaiban agar suatu saat dapat bertemu dengan putrinya itu.


Jika saja tubuhnya tidak dalam pelukan Erlangga, mungkin saja Arina sudah terkulai jatuh ke bawah.


" Sus, Sus kenapa?" Erlangga merasakan tubuh Arina yang hampir terjatuh. Bahkan saat ini Arina langsung terisak.


" Tante, Tante kenapa?" Grace mendekati Arina yang terlihat sedih.


" Lang, sebaiknya kita bicara di tempat yang aman. Coba kamu pesan private room." Krisna menyuruh putranya memesan ruangan privacy.


" Iya, Pa." Erlangga menyuruh Grace memegangi tubuh Arina, sementara dia sendiri langsung menghubungi pihak restoran.


" Tante, Tante kenapa menangis?" Grace merasakan ada suatu rahasia yang disimpan oleh Arina, hingga wanita itu menangis tersedu.


" Arina, kenapa kamu menangis? Kami tidak menyalahkan kamu karena kamu pergi dari rumah. Kamu jangan takut, Arina." Krisna menduga Arina menangis karena ketakutan sebab Arina tidak berpamitan saat pergi dari rumah Krisna.


Namun, ucapkan Krisna tidak juga membuat tangis Arina berhenti. Arina bahkan tidak memperdulikan beberapa pengunjung yang menolehkan pandangan ke arahnya karena mengetahui dirinya menangis.


" Pa, aku sudah pesan private room." Erlangga yang sudah berhasil memesan private room kembali menemui Papanya dan Arina.


" Sus, kita bicara di ruangan private room." Erlangga kini menuntun Arina ke ruangan privacy yang dipesannya bersama Krisna dan Grace. Sementara Arina sendiri seakan tak berdaya menolak permintaan Erlangga yang membawanya ke private room.


" Sus, kenapa Sus Rina menangis? Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Erlangga mencoba menyelidiki apa yang membuat Arina menangis dan bersedih.


" Arina, percayalah ... kami tidak marah padamu karena kepergian kamu secara diam-diam tanpa berpamitan. Namun, sebenarnya yang membuat kami sekeluarga heran, kenapa kamu kabur dari rumah kami, Arina? Dan sekarang ini kita secara tidak sengaja berjumpa, apa kami boleh tahu apa yang menyebabkan kamu pergi dari rumah? Dan di mana anakmu itu? Karena bagaimanapun juga anak kamu adalah darah daging Danny. Kami harus bertemu anak kamu itu, Arina." Krisna terus menanyakan keberadaan putri Arina.


Didesak Krisna seperti itu, Arina terus saja menanggis. Karena dia benar-benar merasa bersalah dan berdosa atas kejadian yang terjadi di masa lalu.


" Sus, cerita sama aku. Sebenarnya ada apa?" Erlangga pun ikut mendesak Arina untuk bercerita masalah yang sebenarnya.


" Maafkan saya, Pak Krisna. Semua itu salah saya. Hiks ..." Akhirnya Arina mulai bersuara.


" Sus, ceritakan kepada kami, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Sus saat itu pergi meninggalkan aku? Padahal Papa sudah berjanji akan mengasuh anak Sus Rina dengan baik. Dan di mana adik sepupuku itu sekarang berada, Sus?" tanya Erlangga kembali tak sabar mendapatkan jawaban dari Arina.

__ADS_1


Arina menatap nanar wajah Erlangga. Mengingat kejadian masa lalu sangat menyakitkan hatinya. Terutama perlakuan Danny, ayah biologis dari anak yang dia kandungnya dulu.


Flashback on


" Sus, saya sama Ibu akan ke Magelang. Kapan rencana kamu melahirkan?" tanya Krisna kepada Arina yang sedang menemani Erlangga menonton film kartun di televisi.


" Menurut dokter dua Minggu lagi, Pak." sahut Arina.


" Kami hanya dua hari di sana. Apa kamu yakin tidak akan apa-apa kami tinggal?" Krisna merasa khawatir meninggalkan Arina yang sebentar lagi mendekati masa persalinan.


" Tidak apa-apa, Pak." jawab Arina kembali.


" Ya sudah, kalau begitu nanti Erlangga saya bawa saja biar kamu tidak kerepotan di sini mengurus Erlangga." Krisna memutuskan membawa putranya ikut bersama, dan tidak ingin meninggalkan Erlangga bersama Arina yang tengah hamil besar.


" Erlangga ditinggal juga tidak apa-apa kok, Pak. Nanti 'kan ada bibi-bibi yang membantu saya mengurus Erlangga, Pak." Arina berharap Krisna tidak membawa Erlangga ikut ke luar kota. Karena dia pasti akan merasa kesepian jika Erlangga tidak ada di rumah.


" Apa kamu yakin bisa mengurus Erlangga, Sus?" Helen ikut bicara, dia juga tidak terlalu yakin pengasuhnya itu bisa mengurus Erlangga selama ditinggal dirinya dan suaminya.


" Insya Allah saya bisa, Bu. Erlangga juga anak pintar dan tidak rewel, kok." Arina mengusap kepala Erlangga penuh rasa sayang. " Lagipula kalau Erlangga dibawa, takut di sana Ibu kerepotan," sambung Arina, mengingat Helen pun sama-sama tengah hamil besar.


***


Arina baru saja menidurkan Erlangga. Dia hendak keluar kamar Erlangga sebentar untuk mengambil air minum untuk Erlangga, karena bocah itu selalu terjaga tengah malam dan meminta minum.


Ceklek


Arina melihat ke arah pintu kamar Erlangga yang dibuka dari luar. Matanya terbelalak lebar saat melihat kehadiran sosok Danny, pria yang telah merenggut kesuciannya hingga membuatnya hamil sekarang ini dari balik pintu.


" Mas Danny?" Arina tersentak kaget melihat pria yang telah menghamilinya ada di rumah itu. Padahal Krisna sudah melarang Danny untuk datang ke rumahnya.


" Wah, perutmu sudah membesar rupanya." Danny memperhatikan perut Arina yang membuncit dan berjalan mendekati Arina.


" M-mau apa Mas Danny datang kemari?" Arina berjalan mundur dengan ketakutan melihat Danny mendekatinya.

__ADS_1


" Aku disuruh Mbak Helen menemani Erlangga selama Mbak Helen di luar kota," sahut Danny.


" Erlangga sudah tidur." Arina merasa tidak nyaman dengan kehadiran Danny di rumah itu.


" Syukurlah kalau Erlangga sudah tidur." Tanpa menoleh ke arah Erlangga yang terlelap, pandangan mata Danny justru menatap ke arah payuda ra Arina yang terlihat segar dan menggoda matanya.


" Kamu semakin cantik saja walaupun sedang hamil seperti ini, Arina." Danny lalu menarik tubuh Arina dan memeluk paksa tubuh Arina.


" Mas, tolong lepaskan saya!" Arina berontak di dalam dekapan Danny.


" Sssttt, kamu jangan berisik! Nanti Erlangga bangun." Danny menyuruh Arina untuk tidak bersuara dan berteriak.


" Lepaskan saya, Mas Danny! Mas Danny mau apa?" Arina semakin ketakutan, apalagi tangan Danny sudah meremas bo kongnya.


" Kita ulangi yang dulu, mumpung tidak ada Mas Krisna dan Mbak Helen di sini." Danny mulai menyerang Arina dengan kecupan.


" Tidak! Jangan lakukan itu! Saya tidak mau! Lepaskan saya! Tolong ...!"


Tangan Danny membekap mulut Arina saat wanita itu berteriak meminta pertolongan.


" Diam!! Kalau kamu berteriak, aku tidak akan segan membunuhmu!" ancam Danny.


Arina terperanjat mendengar ancaman mengerikan yang keluar dari mulut Danny. Dengan posisinya saat ini, Arina tidak mempunyai perlawanan selain hanya bisa menangis.


" Tolong jangan lakukan ini, Mas." Arina terisak memohon kelembutan hati Danny yang sepertinya sudah bernafsu ingin mengga ulinya. Apalagi saat ini ada Erlangga di depan mereka walaupun sedang tertidur. Namun, Danny yang sudah kese tanan, seakan tidak perduli dengan permohonan Arina. Hingga akhirnya Danny mencapai keinginannya menyetu bihi Arina yang tengah hamil besar. Sementara Arina hanya bisa terus menangis meratapi nasibnya yang telah hancur oleh adik sepupu majikannya sendiri.


*


*


*


Bersambung ...

__ADS_1


Happy Reading ❤️


__ADS_2