
Erlangga bergegas kembali ke hotel karena dia harus menemui Kayra, dia takut Kayra terbangun dan mengkhawatirkan dirinya yang tidak berada di samping istrinya itu, apalagi siang ini mereka harus check out dari hotel untuk berganti kota menuju Venezia.
Erlangga membuka pintu kamar namun ternyata pintu kamar hotel itu tidak terkunci. Erlangga berjalan masuk, keningnya seketika berkerut karena tak didapati istrinya di kamar hotel yang mereka tempati.
" Kayra ...!" Dengan langkah lebar pria itu memeriksa kamar mandi dan juga balkon tapi istrinya tidak juga dia jumpai di sana.
Seketika kepanikkan melanda Erlangga, dia segera merogoh ponselnya untuk mengetahui di mana posisi istrinya kini berada.
Ddrrtt ddrrtt
Suara ponsel Kayra terdengar tak jauh dari tempat tidur, sontak Erlangga menoleh ke arah ponsel Kayra berbunyi dan mengambil ponsel milik Kayra yang berbunyi karena panggilan masuk darinya.
" Di mana dia? Kayra ...!" Erlangga bergegas kembali keluar dari kamar hotelnya untuk mencari istrinya. Kayra tidak mengetahui kota ini, ini pertama kalinya istrinya itu pergi ke luar negeri, ke mana Kayra pergi? Bagaimana jika Kayra tersesat? Bagaimana jika dia tidak bisa menemui Kayra kembali? Pertanyaan-pertanyaan tadi berkecamuk di benak Erlangga saat ini membuat pria itu semakin senewen.
Erlangga memilih bertanya kepada petugas hotel di lobby, siapa tahu mereka melihat keberadaan Kayra yang menghilang dari kamar
" Scusi, hai visto mia moglie?" ( Maaf, apa Anda melihat istri saya) Erlangga bertanya dengan menyebutkan ciri-ciri Kayra termasuk warna baju yang dikenakan istrinya saat dia tinggalkan tadi, juga menunjukkan foto Kayra kepada petugas hotel.
" C'era una donna che è svenuta prima, e il suo viso è come tua moglie, Signore." ( Ada wanita yang pingsan tadi dan wajahnya sangat mirip dengan istri Anda, Tuan ) Petugas hotel memberitahu Erlangga membuat pria itu terkesiap.
" Dov'è lei adesso?" ( Di mana dia sekarang ) Kecemasan langsung melanda Erlangga saat mendapatkan informasi jika sebelumnya ada wanita yang pingsan dan ciri-cirinya mirip dengan Kayra.
Petugas hotel lalu mengantar Erlangga ke ruangan di mana Kayra beristirahat, karena Kayra cepat ditangani oleh petugas medis yang tersedia di lingkungan hotel tersebut.
Erlangga langsung menghampiri Kayra yang berbaring di sebuah ranjang dengan seorang wanita mengenakan jas dokter di sampingnya sedang memeriksa Kayra.
" Kayra, kamu kenapa?" Erlangga menghampiri Kayra. Dia membelai wajah Kayra dibarengi dengan kecupan-kecupan menghujani wajah wanita cantik itu. Erlangga mengkhawatirkan Kayra yang terlihat memucat.
" Lei è tua moglie, Signore?" ( Apakah dia istri Anda, Tuan ) tanya dokter wanita itu kepada Erlangga.
" Sì, è mia moglie. Come sono le condizioni di mia moglie?" ( Iya, dia istri saya. Bagaimana kondisi istri saya ) Erlangga bertanya apa yang terjadi dengan istrinya kepada dokter wanita tadi.
" È solo esausta, non c'è niente di cui preoccuparsi." ( Dia hanya kelelahan, tidak ada yang perlu dikhawatirkan )
Tarikan nafas lega saat dokter mengatakan jika tidak ada yang perlu dikhawatirkan dengan kondisi kesehatan Kayra. Erlangga pun berucap syukur di dalam hatinya.
Belaian dan sentuhan yang terasa di pipi Erlangga membuat Kayra mengerjapkan mata dan siuman.
" Kayra, kamu sudah sadar?" Erlangga kembali menghujani ciuman di wajah Kayra.
" Pak Erlangga?" Kayra bangkit dari tidur dan memandangi ruangan dia berada sekarang, dia sadar jika dia tidak berada di kamar hotel tempat dia dan suaminya menginap, apalagi saat dia melihat sosok wanita menggunakan jas putih dengan stetoskop melingkar di lehernya.
" Kamu kenapa bisa pingsan di lobby, Kayra?" Dengan penuh kelembutan Erlangga mengusap kepala Kayra.
" Pingsan? Saya pingsan, Pak?" tanya Kayra mencoba mengingat kejadian tadi sebelum tubuhnya melemas dan ambruk ke lantai.
" Kenapa kamu keluar kamar? Saya 'kan sudah bilang supaya kamu tidak pergi ke mana-mana." Erlangga menyesalkan Kayra yang tidak mau menuruti perintahnya.
" Bapak sudah bertemu dengan Ibu Caroline?" tanya Kayra menanyakan bagaimana pertemuan Erlangga dengan Caroline, karena dia tadi keluar kamar hotel untuk mencari keberadaan Erlangga.
" Posso portare via mia moglie adesso?" ( Bisakah saya membawa istri saya pergi sekarang ) Erlangga bertanya pada dokter apakah bisa membawa Kayra keluar dari tempat itu.
" Certo che puoi, Signore." ( Tentu saja bisa, Tuan ) Dokter wanita tadi mempersilahkan Erlangga yang ingin membawa Kayra pergi.
" Grazie mile ..." ( Terima kasih banyak ) Tak lupa Erlangga menyampaikan rasa terima kasihnya atas pertolongan dari pihak hotel yang cukup cepat menanggani Kayra.
" Kita ke kamar sekarang." Lengan Erlangga langsung mengangkat tubuh Kayra saat Kayra hendak turun dari ranjang.
" Pak, turunkan saya! Saya malu dilihat orang." Walupun terbiasa dengan tindakan Erlangga yang tiba-tiba mengangkat tubuhnya, namun Kayra tidak terbiasa jika hal itu dilakukan di hadapan orang lain.
__ADS_1
" Kamu pasti lemas jadi lebih baik saya menggedongmu, lagipula dokter ini sudah tahu jika saya ini adalah suami kamu." Seperti biasa, pria yang mempunyai jabatan sebagai CEO di perusahaan keluarga milik Papanya itu tidak ingin ditentang.
" Tapi saya malu, Pak."
" Kalau kamu malu, sembunyikan wajah kamu di dada saya agar orang-orang tidak melihat wajahmu." Erlangga lalu melangkah meninggalkan kamar yang tadi dipakai Kayra ditangani oleh dokter.
" Apa kamu yakin kamu baik-baik saja, Kayra? Kita akan ke Venezia sekarang, kalau kamu masih kurang sehat sebaiknya kita menginap di sini satu malam lagi."
Setelah sampai di kamar hotel, Erlangga menanyakan kondisi Kayra kembali. Begitu mengkhawatirkan kondisi istrinya, Erlangga berniat menunda kepergian mereka ke Venezia.
" Apa kita akan naik pesawat lagi, Pak? Apa tidak bisa pakai transportasi lain?" Kayra berharap ada opsi lain yang bisa membawa mereka ke Venezia.
" Kita sudah membeli tiket pesawat untuk ke Venezia, tapi kalau kamu tidak ingin naik pesawat kita bisa cari transportasi lain ke sana." Erlangga lalu membuka ponselnya untuk mencari informasi transportasi menuju Venezia dari mesin pencari informasi di ponselnya itu.
" Kita bisa naik kereta api jika kamu mau, sekitar tiga jam lebih kita akan sampai di Venezia, apa kamu mau?" Erlangga menawarkan pilihan perjalanan menggunakan kereta api kepada Kayra.
" Lalu tiket pesawatnya apa akan hangus, Pak?" Menurut Kayra sayang sekali jika uang yang digunakan membeli tiket pesawat harus hangus jika mereka membatalkan tiket yang sudah mereka beli.
" Tidak masalah, yang penting kamu merasa nyaman dengan perjalanan kita nanti." Bagi Erlangga, rasa nyaman yang dirasakan oleh Kayra itu lebih penting daripada uang yang dia keluarkan untuk membeli tiket.
" Ibu Caroline bagaimana, Pak? Apa kita masih pantas menikmati liburan ini sementara beliau sedang merasa sedih dan kecewa." Kayra menunjukkan rasa empatinya atas apa yang dialami oleh Caroline saat ini.
" Kamu jangan terlalu memikirkan hal itu, Kayra. Saat ini yang terpenting adalah kita, rencana kita untuk mempunyai anak, saya sungguh mengharapkan hal itu."
Kayra memandang lekat wajah Erlangga, dia melihat jika pria yang menjadi suaminya itu begitu bersemangat jika membahas soal momongan. Seketika ada ketakutan di hatinya,. bagaimana jika dia tidak bisa memenuhi harapan sang suami yang begitu mendambakan mempunyai keturunan.
" Kenapa?" Melihat Kayra langsung menampakkan wajah khawatir membuat Erlangga terheran.
" Bagaimana jika saya tidak bisa memberikan apa yang Bapak inginkan? Apa saya juga akan mengalami nasib seperti Ibu Caroline?" Kayra mengungkapkan apa yang menjadi beban pikirannya.
" Untuk hal itu hanya Tuhan yang punya kuasa, tapi setidaknya kita berusaha dan tidak dengan sengaja menunda kehamilan. Saya akan menunggu sampai Tuhan memberikan anak kepada kita." Kalimat yang terdengar sangat bijak terlontar dari mulut seorang CEO yang selama ini terkenal sangat arogan dan hanya mau menang sendiri saja.
***
" Kenapa kamu terus menangisi pria tukang selingkuh itu, Caroline?" Wisnu mencibir Caroline yang masih saja menangisi Erlangga.
" Semua ini gara-gara kamu, Wisnu! Kalau bukan karena kamu yang terus memaksaku menerima job, mungkin saat ini Erlangga tidak menceraikanku!" Justru Wisnu lah yang disalahkan oleh Caroline sebagai orang yang paling bertanggung jawab atas perpisahannya dengan Erlangga.
" Bukankah kamu sendiri yang menginginkan menjadi top model? Aku hanya membantu kamu mengapai cita-citamu!" Enggan disalahkan sebagai penyebab kandasnya rumah tangga Caroline dan Erlangga, Wisnu langsung menyanggah tudingan Caroline.
" Lagipula untuk apa kamu terus mengharapkan Erlangga? Sudah jelas-jelas dia berkhianat terhadapmu. Jika kamu memaksa terus bertahan, aku yakin kamu tidak akan bahagia, Caroline! Mulai sekarang hapus Erlangga dari hatimu! Pria seperti itu tidak pantas mendapatkan cintamu, Caroline!" Wisnu melangkah mendekat ke arah Caroline.
" Saat ini waktunya kamu bangkit, tunjukkan pada dunia jika Erlangga telah salah mencampakkanmu dan lebih memilih selingkuhannya itu! Dia tidak sebanding denganmu, Caroline! Dirimu lebih berharga dari sekretaris Erlangga itu!" Wisnu mencoba untuk menyemangati Caroline, mengobarkan motivasi kembali kepada wanita cantik di hadapannya agar tidak patah semangat dan kembali berambisi mengapai cita-citanya yang sejak lama diidamkan Caroline.
***
Akhirnya Erlangga memutuskan melakukan perjalanan melalui jalan darat menggunakan kereta api menuju Venezia. Erlangga ingin membuat Kayra nyaman dengan perjalanan bulan madu mereka walaupun sempat terjadi peristiwa tak terduga dengan bertemu Caroline di Turin.
Selama melalui perjalanan, Kayra merasakan kepalanya begitu berat, hingga dia menyandarkan kepalanya di bahu Erlangga. Entah mengapa dia merasakan kenyamanan saat berdekatan dengan sang suami. Aroma maskulin yang menguar dari tubuh Erlangga masuk ke rongga pernafasannya hingga terasa menenangkan pikirannya. Kayra sama sekali tidak merasa ragu bergelayut manja di bahu Erlangga, suatu hal yang jarang sekali dia lakukan. Biasanya rasa malu dan segan yang lebih dominan mempengaruhi dirinya.
Erlangga sendiri tersenyum mendapati Kayra yang tiba-tiba saja menempelkan kepalanya di bajunya, walaupun dia tidak menyangka Kayra akan bersikap seperti itu namun tidak dipungkiri jika dia merasa senang bahkan senyuman kini terkulum di sudut bibir Erlangga.
" Apa kamu mengantuk?" tanya Erlangga merengkuh pundak Kayra agar Kayra lebih nyaman bersandar pada bahunya.
Kayra hanya menganggukkan kepala merespon pertanyaan Erlangga, karena saat ini dia sedang menahan perutnya yang tiba-tiba bergolak tidak karuan, seperti orang yang sedang mengalami mabuk perjalanan.
" Mau ke mana?" tanya Erlangga saat melihat Kayra tiba-tiba berdiri.
" Saya mau ke toilet, Pak." ucap Kayra.
__ADS_1
" Saya antar ..." Erlangga pun kemudian bangkit dan mengangtar Kayra ke arah toilet.
" Hoek ... Hoek ..." Sesampainya di toilet, Kayra mengeluarkan apa yang tadi bergolak di perutnya.
" Kayra, kamu kenapa?" Erlangga mengetuk pintu toilet saat mendengar suara Kayra yang sedang mengeluarkan sesuatu dari perutnya.
" Hoek ..."
" Kayra, apa kamu mabuk perjalanan?" tanya Erlangga kembali. " Cepat buka pintunya, Kayra!"
" Qual è il problema signore?" ( Ada apa, Tuan ) Pramugari kereta bertanya kepada Erlangga karena sikap Erlangga dianggap mencurigakan.
" Mia moglie è in bagno, sembra che abbia la cinetosi." ( Istri saya ada di dalam toilet, sepertinya dia mabuk perjalanan ) Erlangga menjelaskan kepada pramugari kereta kondisi Kayra.
" Ha bisogno di medicine, signore?" ( Apakah Anda membutuhkan obat, Tuan) pramugari kereta dengan ramahnya menawari obat untuk Kayra.
" No grazie. Abbiamo portato la nostra medicina." ( Tidak, terima kasih. Kami membawa obat sendiri." Erlangga tahu saat Kayra memasukkan obat-obatan yang dibawa ke Italia hingga dia merasa tidak perlu obat yang ditawarkan oleh pramugari kereta tadi.
Pramugari itu kemudian meninggalkan Erlangga setelah Erlangga mengatakan jika istrinya baik-baik saja dan tidak membutuhkan obat yang ditawarkan pramugari kereta tadi.
" Kayra, apa kamu mabuk perjalanan?" Ketika pintu toilet terbuka dan menampakkan sosok Kayra yang keluar dari toilet, Erlangga langsung menuntun istrinya itu. Tangannya bahkan langsung mengusap keringat yang mengembun di kening istrinya.
" Wajah kamu pucat seperti ini, apa kamu baik-baik saja? Sebaiknya kita turun di stasiun terdekat, dan mencari dokter untuk memeriksakan kondisimu." Melihat wajah pucat Kayra, rasanya dia tidak tega harus melanjutkan perjalanan ke Venezia saat itu juga.
" Tidak usah, Pak. Saya tidak apa-apa, kok. Tadi hanya sedikit mual saja." Kayra memijat pelipisnya.
" Kepalamu pusing juga?" tanya Erlangga kemudian.
" Sedikit, Pak."
" Kalau begitu kamu harus minum obat, Kayra. Saya tidak ingin kamu sakit."
" Saya tidak apa-apa, Pak. Mungkin dengan tidur, sakit di kepala akan hilang dengan sendirinya." Kayra enggan minum obat.
" Ya sudah, kalau begitu sebaiknya kamu istirahat saja." Erlangga menyuruh Kayra beristirahat. Dia menyetel kursi kereta agar lebih nyaman di pakai Kayra untuk bisa berbaring.
Memakan waktu hampir empat jam perjalanan dari kota Torino menuju kota yang terkenal dengan sebutan kota air, Venezia. Sebuah destinasi yang banyak diburu wisatawan terutama pasangan yang ingin berbulan madu karena merupakan salah satu kota romantis di dunia dan terkenal dengan transportasi air menggunakan gondola.
Erlangga sengaja memilih hotel yang jauh dari kebisingan pusat kota Venezia dan memilih hotel di sebuah private island. Dia ingin merasakan suasana romantis dengan bulan madunya bersama Kayra.
Sesampainya di kamar hotel, Kayra langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Rasa lelah yang dia rasakan saat ini, mungkin karena baru kali ini dia mengalami perjalanan panjang dari Jakarta hingga sampai di Venezia.
" Apa kamu lelah sekali?" Erlangga membelai kepala Kayra yang sedang berbaring di tempat tidur empuk.
" Iya, mungkin karena saya baru pertama kali melakukan perjalanan jauh dan menggunakan pesawat," ucap Kayra namun tak lama kelopak mata wanita itu sudah kembali rapat seperti ada lem yang menempel hingga dia tidak tahan untuk terus membuka matanya.
Melihat istrinya kembali tertidur, Erlangga hanya membiarkan tak melarang Kayra tertidur. Dia lalu menarik selimut dan merapatkan selimut ke atas tubuh Kayra yang sudah terlelap di alam mimpinya.
Begitu pun saat malam hari selepas mereka menjalankan sholat isya, Kayra langsung tertidur nyenyak, sama sekali tidak memperdulikan Erlangga yang sebenarnya ingin mengajaknya bercinta. Berbulan madu di kota romantis, tentu saja sayang sekali melewatkan waktu untuk bercinta, namun melihat kondisi Kayra yang sepertinya benar-benar penat, Erlangga pun harus mengalah dan menerima nasib harus menahan has ratnya bercinta dengan istrinya yang semakin hari semakin menjadikannya candu bersentuhan dengan sang istri.
*
*
*
Bersambung ...
__ADS_1
Happy Reading❤️