MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO

MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO
Kedatangan Caroline


__ADS_3

Beberapa menit sebelumnya ...


Erlangga menoleh ke arah ponselnya yang berbunyi dan mendapati nama Bondan yang menghubunginya saat ini. Dengan cepat tangannya menyambar benda pipih itu dan mendekatkan ke telinganya.


" Ada informasi apa, Pak Bondan?" tanya Erlangga.


" Selamat siang, Tuan. Ada info yang sangat penting sekali. untuk Tuan ketahui." Bondan ingin menyampaikan berita soal Rivaldi yang ternyata selama ini memata-matai perusahaan Erlangga.


" Berita apa, Pak Bondan?" Mendengar Bondan mengatakan jika berita yang ingin disampaikan begitu penting, Erlangga menjadi sangat penasaran.


" Saya sudah mendapatkan siapa orang dibalik Jimmy yang menyuruh mengikuti Anda, Tuan. Tuan pasti akan terkejut jika Tuan mengetahui jika orang itu selama ini ternyata bekerja di perusahaan Tuan, Mahadika Gautama." Bondan tidak langsung menyebutkan nama pria yang menjadi musuh Erlangga.


" Jangan berbelit-belit, Pak Bondan! Katakan saja siapa orang itu?!" Menganggap Bondan mengulur waktu, Erlangga segera menegur anak buahnya itu.


" Maaf, Tuan. Orang itu adalah Rivaldi Nugraha. Orang yang bekerja di perusahaan Tuan sendiri."


Erlangga terbelalak mengetahui fakta mengejutkan soal Rivaldi yang ternyata seorang musuh dalam selimut.


" Rivaldi Nugraha? Jadi dia adalah pemilik perusahaan yang diam-diam ingin bersaing dengan Mahadika Gautama?!" Wajah Erlangga terlihat geram karena selama ini kantornya telah dimasuki seorang penyusup yang berniat menghancurkan perusahaan miliknya.


" Benar, Tuan."


" Ba jingan! Si al! Pantas saja orang itu selalu melawanku, ternyata dia dia bukan orang biasa," desis Erlangga dengan emosi yang tersulut setelah mengetahui fakta dibalik siapa Rivaldi yang sebenarnya.


Tok tok tok


Erlangga yang masih berbincang dengan Bondan langsung menolehkan wajahnya saat mendengar pintu ruangannya diketuk.


" Bapak ingin makan apa siang ini?" Kayra muncul dari pintu dan menanyakan menu makanan yang diinginkan Erlangga.


" Nanti saya infokan lagi apa yang harus Anda lakukan, Pak Bondan." Erlangga segera matikan sambungan telepon dan meletakan ponselnya itu di atas meja dan segera bangkit dari duduknya.


" Kemarilah ..." Erlangga mengulurkan tangannya meminta Kayra mendekat ke arahnya. Setelah Kayra menuruti apa yang diinginkan Erlangga, pria itu langsung memeluk tubuh Kayra dengan erat.


" Pak, nanti ada yang melihat." Kayra mencoba melepaskan diri dari pelukan Erlangga.


" Kamu tahu? Ternyata feeling saya benar tentang Rivaldi itu."


Kayra menenggadahkan kepalanya saat Erlangga menyebut nama Rivaldi dengan kening berkerut.


" Maksud, Bapak?" tanya Kayra tidak mengerti dengan maksud kalimat yang diucapkan oleh suaminya itu.


" Ternyata dia penyusup di perusahaan ini. Dia adalah anak dari pengusaha garmen di Bandung. Dan Rivaldi itu pimpinan dari perusahaan yang bergerak dalam bidang yang sama dengan Mahadika Gautama. Dia seorang yang licik dan ingin bersaing dengan cara yang tidak fair. Dia itu seorang pria pecundang. Pantas saja dia berani menantang setiap kali saya melarang dia mendekati kamu." Erlangga menjelaskan kepada Kayra siapa sebenarnya Rivaldi itu.


Tentu saja apa yang disebutkan oleh Erlangga tentang Rivaldi membuat matanya terbelalak. Dia pun begitu terkejut dan tak menyangka jika Rivaldi yang dia kenal baik ternyata justru berniat tidak baik terhadap perusahaan Mahadika Gautama.


" Bapak tahu dari mana?" Seakan masih tidak percaya, Kayra menanyakan dari mana Erlangga mengetahui fakta seputar Rivaldi. Mungkin Kayra terlupa jika suaminya itu sanggup melakukan apapun yang dikehendakinya apalagi hanya mencari informasi seputar Rivaldi.

__ADS_1


" Bukan hal sukar untuk saya mendapatkan informasi tentang Rivaldi. Dan keputusan saya memecat dia sekarang ini sangat tepat, karena dia adalah musuh dalam selimut." Jari tangan Erlangga mengusap wajah Kayra, sepertinya kemarahannya tadi sudah mulai mereda dengan bersentuhan dengan Kayra seperti sekarang ini.


" Untung saja saya sudah menikahimu lebih dahulu." Erlangga memang bersyukur dia bertindak cepat dengan memperistri Kayra. Jika dia telat, bukan tidak mungkin Rivaldi akan mendapatkan Kayra.


" Bapak mau makan apa?" Kayra kembali menanyakan tujuannya dia masuk ke ruangan Erlangga.


" Terserah kamu saja, kamu pilihkan saja menu makanan sehat untuk saya. Saya ingin hidup sehat agar saya panjang umur dan bisa melihat anak-anak kita nantinya tumbuh dewasa." Erlangga sudah membayangkan mempunyai anak dengan Kayra.


Kayra mengerutkan keningnya mendengar jawaban Erlangga yang berupa harapan,


" Ya sudah kalau begitu saya ke kantin dulu, Pak." Kayra melepaskan tangan Erlangga yang melingkar di tangannya dan berjalan ke luar ruangan Erlangga, karena dia masih malu membicarakan soal anak dengan Erlangga.


***


Erlangga terkejut saat melihat kehadiran Caroline yang masuk ke ruang kerjanya. Awalnya dia mengira Kayra lah yang membuka pintu ruangan, namun saat dia mendengar suara Caroline yang terdengar dia langsung menolehkan pandangan ke arah Caroline.


" Sayang ..." Caroline berlari ke arah Erlangga dan memeluk tubuh Erlangga yang langsung bangkit dari duduk saat melihat kedatangannya, bahkan tangis Caroline pun langsung meledak saat itu juga.


" Sayang, aku tidak ingin kita bercerai." Caroline mengeratkan pelukan di pinggang Erlangga.


" Lepaskan, Caroline!" Erlangga mengurai belitan tangan Caroline di pinggangnya.


" Sayang, aku bersedia menuruti kemauanmu, aku akan berhenti menjadi model asalkan kamu menggugurkan gugatan ceraimu itu." Nada suara Caroline penuh permohonan.


" Apa kamu yakin dengan ucapanmu itu, Caroline?" Erlangga tidak percaya begitu saja dengan ucapan istrinya. Dia tahu jika Caroline begitu berambisi menjadi model top dunia, tidak akan mudah untuk wanita itu melupakan impiannya begitu saja.


" Iya, Sayang. Aku bersedia menuruti apa yang kamu inginkan dariku." Caroline terus berusaha membujuk Erlangga dengan mengatakan akan menjadi istri yang seperti diinginkan oleh Erlangga.


" Maafkan aku, Sayang. Aku benar-benar menyesal." Caroline menangis tersedu, dia mengingat perlakuan Wisnu terhadapnya, mungkin jika dia mendengar apa yang dikatakan Erlangga untuk mundur dari karirnya sebagai seorang model, nasibnya tidak akan setragis ini, diper kosa oleh sahabat sekaligus managernya sendiri.


Erlangga terus memperhatikan Caroline yang terus menangis penuh penyesalan hingga matanya tertuju pada tanda merah di bawah leher yang terlihat saat wanita itu duduk bersimpuh di hadapannya. Dia sangat hapal tanda merah itu. Tanda yang sering dia buat di leher jenjang berkulit mulus sang istri.


Erlangga menurunkan tubuhnya dan duduk berjongkok untuk memastikan tanda merah yang ada di atas dada Caroline. Tangan Erlangga menyingkap kerah baju yang dipakai Caroline hingga tanda merah itu terlihat jelas olehnya saat ini.


Mata Erlangga menatap tajam Caroline, giginya mengerat hingga rahang tegas Erlangga tampak jelas membingkai wajah tampan pria berprofesi sebagai CEO di perusahaan keluarganya.


" Dengan siapa kamu melakukannya!?" tanya Erlangga dingin dengan tangan menaikan dagu Caroline.


Caroline baru menyadari jika Erlangga telah melihat jejak cinta yang ditinggalkan Wisnu ditubuhnya hingga dia segera menutupi leher dengan merapatkan kerah bajunya.


" Dengan siapa kau melakukannya, Caroline!?" Bahkan suara bentakan sudah terdengar dari mulut Erlangga dengan tangan mencengkram kuat dagu wanita yang sebentar lagi akan diceraikannya itu.


" A-aku ..." Tangis Caroline kembali pecah saat Erlangga menekannya dengan pertanyaan.


" Katakan dengan siapa kau bersenang-senang!?" Nada tinggi dan menyentak kembali diucapkan Erlangga menuntut jawaban dari Caroline.


" Aku ... aku ... Wisnu memper kosaku ..." Suara lirih dibarengi tangisan Caroline seakan memenuhi ruangan Erlangga saat ini.

__ADS_1


Wajah Erlangga seketika memerah karena amarah saat mendengar pengakuan Caroline tentang Wis nu yang telah mele cehan istrinya itu. Caroline memang sering membangkang perintahnya namun dia tahu jika Caroline tidak pernah memakai air mata untuk berdusta kepadanya.


" Apa katamu!?"


" Aku ... aku sebenarnya sudah memutuskan untuk berhenti tapi Wisnu melarang hingga akhirnya pemer kosaan itu terjadi." Dengan kalimat terbata karena Caroline terus menangis wanita itu terus menceritakan apa yang menimpa dirinya. Bahkan sejak kejadian itu, Caroline kerap disuruh melayani Wisnu layaknya seorang suami istri. Termasuk ancaman Wisnu yang akan menyebarkan apa yang telah mereka lakukan kepada Erlangga.


Tangan Erlangga mengepal, kebencian terhadap Wisnu semakin berkobar. Harga dirinya seakan dihina oleh tindakan Wisnu. Bagaimanapun status Caroline masih sah sebagai istrinya saat ini, dan Wisnu dengan be jatnya mele cehkan Caroline.


Erlangga memandang Caroline yang benar-benar terpukul dengan kejadian yang menimpa dirinya. Bagaimanapun juga Erlangga tidak tega melihat Caroline terpuruk seperti sekarang ini.


Dia lalu merengkuh tubuh wanita yang selama beberapa tahun menjalin asmara bahkan mengikat janji suci dengannya, hingga Caroline menyandarkan tubunya dalam pelukan Erlangga dengan tangisan yang masih belum berhenti.


Sementara apa yang dilakukan Erlangga saat ini kepada Caroline tertangkap bola mata indah Kayra. Sejak kedatangan Caroline, Kayra mengurungkan niatnya turun ke bawah dan memilih menunggu di mejanya. Namun karena dia merasa penasaran apalagi samar dia mendengar suara Caroline menangis membuatnya mendekat ke arah pintu ruangan Erlangga. Kayra takut jika Erlangga akan bertindak kasar kepada Caroline hingga Caroline menangis.


Namun apa yang dia lihat justru sebaliknya. Saat ini dia melihat Erlangga tengah memeluk tubuh Caroline yang terduduk bersimpuh di hadapan Erlangga.


" Ada apa, Kayra?"


Kayra tersentak saat mendengar suara Wira di belakangnya.


" P-Pak Wira?" Kayra yang terkejut langsung memegang dadanya karena dia benar-benar tidak menyangka jika Wira memergokinya sedang mencuri dengar apa yang terjadi di ruangan Erlangga.


" Siapa yang menangis?" Wira juga ternyata mendengar isak tangis Caroline.


" Ada Ibu Caroline, Pak." Kayra kemudian melangkah kembali ke meja kerjanya. Dia lalu mengambil ponsel dan dompetnya lalu berjalan ke arah lift. " Saya permisi istirahat dulu, Pak." Kayra meminta ijin kepada Wira akan turun ke kantin.


" Iya." Wira mengerti apa yang dirasakan Kayra saat ini. Dia menatap Kayra yang berjalan menuju arah lift.


" Kayra, tunggu!" Wira tiba-tiba memanggil hingga Kayra menghentikan langkahnya.


" Ada apa, Pak?" tanya Kayra.


" Kamu mau ke kantin?" tanya Wira.


" Iya, Pak."


" Kita sekalian saja ke sana.." Wira menyusul Kayra.


" Bapak mau makan di kantin?" tanya Kayra dengan alis bertautan.


" Iya, ayo!" Wira menekan lift khusus dan menyuruh Kayra untuk ikut dengannya turun dengan lift tersebut. Kayra tertegun beberapa saat dengan ajakan Wira. Dia bingung harus menuruti Wira atau menolaknya. Jika saat ini dia turun dan makan bersama Wira, apakah gosip tentangnya dengan pria itu bukan tidak mungkin akan kembali berhembus kencang Namun rasa hatinya yang saat ini teramat kacau dengan apa yang dia lihat di ruangan suaminya membuat Kayra akhirnya mengikuti apa yang diminta Wira terhadapnya.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung ...


Happy Reading❤️


__ADS_2