
Dari kursi penonton Kayra begitu tegang memperhatikan anak lelakinya yang sedang bertanding sepak bola. Devan yang kini berusia tujuh tahun begitu lincah berlari dan berebut bola dengan lawannya di lapangan luas. Kayra bersemangat memberi dukungan kepada Devan yang menjadi kapten di timnya. Sesekali matanya melirik ke arah arloji, sebab Erlangga tak juga tiba, padahal pertandingan babak pertama sudah berjalan hampir dua puluh menit.
"Erlangga kenapa belum datang juga, Kayra?" tanya Helen yang duduk bersebelahan dengan Kanaya, anak kedua Kayra dan Erlangga yang berusia empat tahun.
"Tidak tahu, Ma. Aku kirim pesan juga belum dibaca sama sekali." Kayra kembali mengambil ponselnya untuk memastikan apakah suaminya itu sudah merespon pesan yang ia kirim.
"Masih belum di-read juga." Kayra mendesah, namun ia berusaha berpikiran positif dan menganggap suaminya itu masih sibuk dengan pekerjaannya.
"Goollllll ...!"
"Devan ...! Devan ...!"
Pekik dan suara gemuruh penonton tiba-tiba terdengar setelah terjadinya gol yang diciptakan oleh Devan.
"Devan yang menggolkan, Kayra!" Helen melonjak kegirangan bersama dengan Kanaya.
"Aduh, sayang sekali tadi tidak direkam ya, Ma?" Kayra menyesal karena melewatkan momen anaknya mencetak gol ke gawang lawan karena membicarakan Erlangga.
"Iya, Mama juga tidak lihat tadi proses terjadinya gol gimana?" Helen pun sama menyesalnya.
"Ma, Papa mana?" Devan berlari mendekat ke arah bench penonton setelah merayakan gol yang membuat timnya unggul satu kosong dari lawannya, Bocah itu menanyakan keberadaan sang Papa.
"Papa masih di jalan sepertinya, Nak." Kayra mencoba membesarkan hati Devan agar tidak kecewa karena Erlangga belum nampak memberi dukungan kepada anaknya.
"Kak Devan hebat! Yeah ... Gooolll ..." Kanaya masih terlihat euforia karena melihat sang Kakak berhasil melesatkan gol ke gawang lawan.
Devan kembali ke lapangan karena permainan akan dilanjutkan setelah terjadi gol untuk keunggulan tim Mahadika FC.
Hingga waktu istirahat, Erlangga tidak juga nampak di hadapan mereka, membuat Kayra semakin cemas karena ketidakhadiran sang suami di sana. Kayra memperhatikan Devan yang terlihat beberapa kali menoleh ke arah bench penonton untuk memastikan apakah sang Papa sudah tiba atau belum. Kayra melihat kekecewaan di wajah Devan karena pertandingan ini adalah partai final namun Erlangga tak juga kunjung datang.
__ADS_1
Peluit kick off babak kedua dibunyikan oleh wasit pertanda pertandingan empat puluh lima menit babak kedua segera dimulai.
"Sayang berapa-berapa skornya? Tim kita menang tidak?" Akhirnya orang yang sejak tadi ditunggu-tunggu datang juga. Mahadika FC adalah klub sepak milik Erlangga. Pria itu sengaja mendirikan club sepakbola karena anak pertama mereka sangat menyukai permainan sepak bola sedari kecil. Mahadika FC didirikan sejak tiga tahun lalu guna menampung hobi juga bakat anaknya dan juga anak-anak seusia Devan.
"Kenapa lama sekali datangnya, Lang?" Helen terlihat kesal sebab Erlangga telat datang.
"Maaf, Ma. Tadi di jalan ada kecelakaan dan aku harus membantu korban, membawa korban ke rumah sakit." Erlangga menjelaskan kenapa telat sampai ke stadion.
Kayra melihat bercak darah di jas suaminya. "Ya Allah, apa Mas menabrak orang?" Kayra cemas, takut suaminya itu terlibat pelanggaran lalu lintas.
"Tidak, Sayang. Tidak seperti itu. Tadi waktu mau kemari ada korban tabrak lari oleh mobil di depanku, dan aku membawa korban itu ke rumah sakit juga membantu menghubungi pihak keluarganya," terang Erlangga menepis dugaan pelanggaran yang ditanyakan Kayra.
"Syukurlah kalau bukan Mas yang menabrak." Kayra bernafas lega.
"Gooolllll ...!"
"Kak Devan lagi yang meng-gol-kan, Pa." Kanay yang fokus menonton memberitahu Papanya jika kakaknya lah yang kembali mencetak gol.
Seketika Erlangga turun dari bangku penonton, dan berlari ke pinggir lapangan untuk memberikan ucapan selamat pada putranya.
"Good job, Devan!" Teriak Erlangga, membuat pelatih dan pemain cadangan tim Mahadika FC juga dari tim lawan menoleh ke arahnya.
Ternyata Devan mendengar suara Erlangga hingga ia pun berlari ke arah sang Papa.
"Pa, Devan gol-in dua, Pa." Dengan bangga Devan mengatakan ia sudah melesatkan dua gol ke kandang lawan hingga membuat tim Mahadika FC unggul dua kosong.
"Kamu hebat, Nak. Papa bangga sama kamu." Erlangga menekuk kakinya dan memeluk putra pertamanya itu kemudian memberi kecupan di pucuk kepala Devan.
"Devan, kembali ke lapangan!" Pelatih Mahadika FC menyuruh Devan kembali bermain karena waktu selebrasi sudah selesai dan permainan harus segera berlanjut.
__ADS_1
Devan mengikuti apa yang diarahkan oleh pelatihnya, dia pun kembali bergabung dengan temannya di lapangan.
"Anak saya hebat 'kan, Pak?!" Dengan bangga Erlangga memuji Devan di hadapan Pak Kamal, pelatih Mahadika FC.
"Benar, Pak Erlangga. Dia Man of the Match dalam pertandingan final ini." Apa yang dikatakan Erlangga di-aamiini oleh pelatih, "Jika Devan bisa cetak satu gol lagi, gelar top scorer akan diraih Devan, Pak." lanjut Pak Kamal.
"Semoga Devan bisa menambah gol lagi," harap Erlangga.
Erlangga akhirnya tetap berada di tepi lapangan bergabung dengan pelatih dan pemain cadangan sambil memperhatikan dan memberikan semangat pada Devan.
Pertandingan final itu akhirnya ditutup dengan kemenangan 4-0 untuk kemenangan Mahadika FC. Devan sendiri akhirnya mencetak hattrick dan mengukuhkan posisinya sebagai top scorer dalam kejuaraan junior sepak bola sewilayah Jakarta.
***
Selepas pertandingan, Erlangga mengajak semua anggota tim termasuk pelatih untuk makan bersama di sebuah restoran ternama. Erlangga mentraktir semua anggota tim Mahadika FC berserta keluarganya yang juga datang memberikan support untuk anak-anak mereka yang bertanding. Semua anak-anak bersuka cita dan memesan makanan kesukaan mereka yang ada di restoran itu.
"Nenek bangga sama kamu, Devan, Devan pasti akan jadi pemain bola profesional yang hebat dan terkenal." Helen menyanjung cucu pertamanya dan menganggap Devan kelak akan menjadi pesepakbola handal kebanggaan Indonesia.
"Devan tidak akan jadi pemain sepak bola, Ma. Dia akan meneruskan mengurus perusahaan." Erlangga menepis kata-kata yang diucapkan oleh Mamanya yang mengharapkan Devan akan menjadi seorang atlet sepakbola. Dia membiarkan Devan bermain sepakbola dan mendirikan klub sepakbola hanya untuk menyalurkan hobi anaknya saja, namun ia tidak ingin Devan sampai menjadi atlet profesional. Karena sebagai anak pertama, tentu Erlangga berharap Devan dapat menjadi penerus kejayaan perusahaan Mahadika Gautama.
Perkataan Erlangga membuat Kayra langsung menoleh ke arah sang suami. Tak jarang mereka kadang berselisih paham tentang hal ini. Meskipun membiarkan Devan menggeluti hobby nya bermain bola, nyatanya Erlangga tak mengijinkan anaknya menjadi seorang atlet. Hal itu sangat meresahkan baginya. Saat ini Devan masih kecil belum terlalu memahami apa yang diinginkan oleh Papanya, nanti lambat laun saat Devan makin beranjak besar, ia takut Devan akan menentang keinginan Papanya itu.
*
*
*
Happy Reading❤️
__ADS_1