MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO

MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO
Jadi Bos


__ADS_3

" Bantuan apa yang kau butuhkan, Ren?" tanya Bobby saat mereka sampai di cafe dan memesan minuman.


" Aku butuh orang yang bisa membantu temanku, Bob." ucap Reno, dan Reno pun menceritakan permasalahan yang sedang di hadapi oleh Agnes, hingga wanita teman kencannya itu meminta pertolongannya.


" Siapa itu Agnes? Apa dia kekasihmu?" tanya Bobby dengan seringai di sudut bibirnya.


" Bukan, dia hanya 'klien'ku." Kini sudut bibir Reno yang tertarik ke atas.


" Gi la, kau!" Bobby menyahuti seraya tertawa lebar. Bobby memang sedikit tahu bagaimana kehidupan Reno.


" Jadi bagaimana? Apa kau bisa membantu?" tanya Reno memastikan.


" Oke, tapi aku mesti tahu siapa target yang mesti aku hadapi,, aku tidak ingin melakukan hal yang terlalu berbahaya jika orang yang ingin aku tangani ini ternyata orang yang cukup berpengaruh sementara aku sendiri tidak punya bekingan kuat." Bobby menyetujui membantu dengan memberikan syarat.


" Oke, nanti aku kabari siapa yang akan menjadi target kita."


" Aku juga mesti tahu berapa bayaran yang akan aku terima untuk tugas ini, Ren. Aku tidak ingin jika bayarannya tidak sebanding dengan resiko yang akan aku dapat." Tidak ingin dibayar dengan nominal yang tidak sesuai dengan kerjanya, Bobby meminta kepastian jumlah yang akan dia dapatkan dalam tugas yang diberikan oleh Agnes.


***


Erlangga sedang berbincang di ruangan Wira, Kayra sendiri tidak tahu apa yang sedang dibicarakan suaminya dengan asistennya itu, hingga Erlangga meninggalkannya sendiri di dalam ruangan Erlangga.


Kayra memperhatikan kursi kerja Erlangga yang terlihat kosong. Walau terlihat ragu, namun dia akhirnya mendekati kursi kebesaran suaminya itu.


Kayra menarik kursi kerja Erlangga dan mendudukkan tubuhnya di kursi empuk milik CEO perusahaan Mahadika Gautama. Kayra menyandarkan punggungnya di punggung kursi seraya terkekeh.


" Pantas saja kursinya empuk, namanya juga kursi bos." Bahkan Kayra berbicara sendiri, melakukan hal yang dianggapnya seperti anak kecil yang ingin mencoba duduk di kursi kerja bos.


" Kayra, apa jadwal saya untuk hari ini? Dengan siapa saya harus bertemu? Tolong siapkan semua yang dibutuhkan untuk pertemuan nanti." Menirukan suara suaminya jika berkata kepadanya, Kayra berlagak seperti Erlangga saat memberi perintah kepadanya, sampai Kayra terkikik sambil menutup mulutnya.


" Mana surat yang harus saya tanda tangani? Apa ada lagi berkas yang harus saya paraf?" Kayra masih menirukan gaya Erlangga saat berbicara padanya saat hubungan mereka masih murni seorang bos dan sekretarisnya.


" Sepertinya istriku ini punya bakat menjadi seorang bos juga rupanya?"


Suara Erlangga dari arah pintu masuk membuat Kayra yang sedang bergaya seperti seorang bos langsung terkesiap.

__ADS_1


" M-Mas?" Kayra langsung bangkit, namun karena terkaget dan terburu-buru bangkit hingga pahanya tersandung tepi meja bagian dalam. " Aaawww ...!" pekiknya kemudian.


" Sayang, kenapa?" Mendengar Kayra menjerit, Erlangga langsung panik dan berlari mendekat ke arah Kayra.


" Apa yang sakit?" Erlangga merengkuh tubuh Kayra dan menuntun istrinya duduk di sofa. " Apa yang terluka?" Erlangga lalu mengecek bagian yang dikeluhkan Kayra tadi.


" Aku tidak apa-apa, Mas. Tadi hanya tersandung tepi meja." Kayra mengatakan jika tidak ada hal yang serius yang dia rasakan walau tadi sempat mengaduh.


" Kamu yakin tidak apa-apa? Ini berbahaya untuk janin di perutmu tidak, Kayra?" Erlangga masih mengungkapkan rasa khawatirnya.


" Aku rasa tidak, Mas." Kayra mencoba menenangkan Erlangga yang sepertinya sangat mengkhawatirkan kandungannya.


" Kamu sedang apa tadi di mejaku?" Erlangga mengusap kepala Kayra dengan penuh kelembutan.


" Tidak apa-apa, Mas." Kayra tersipu malu karena ketahuan mengikuti gaya Erlangga dalam memimpin perusahaan.


" Apa kamu ingin menjadi bos sepertiku? Apa ini keinginan calon anak kita?" Erlangga lalu mengusap perut Kayra, dia menduga jika apa yang dilakukan Kayra adalah dorongan dari sang janin yang membuat Mamanya bersikap aneh.


" M-mungkin, Mas." Kayra mengiyakan apa yang diduga oleh suaminya daripada suaminya itu tahu jika sebenarnya itu hanya keisengannya saja.


" Maaf, Mas." Menganggap apa yang dilakukannya tidak pantas, Kayra langsung meminta maaf.


" Kenapa harus minta maaf, aku justru senang jika kamu sudah berani duduk di sana." Sambil menunjuk ke arah kursi kerjanya, Erlangga melanjutkan kalimatnya, " Artinya kamu sudah mempunyai kepercayaan diri dengan statusmu sekarang, menjadi istri Erlangga Mahadika Gautama."


" Aku tidak tahu, Mas. Itu tadi hanya iseng saja, kok."


" Besok-besok jika aku sedang rapat, atau bertemu klien, kamu bisa menggantikanku di kantor ini." Erlangga justru semakin meledek Kayra yang tadi sudah berakting menjadi dirinya.


" Hah?? Tidak, Mas. Aku tidak bisa! Aku tidak bisa menggatikan Mas memimpin di sini." Kayra menolak diminta Erlangga membantunya jika Erlangga sedang ada keperluan lain,


" Ya sudah, kita makan siang sekarang, setelah itu kita akan melihat rumah Papa yang akan kita tempati nanti." Erlangga lalu bangkit dan mengulurkan tangannya untuk membantu Kayra bangkit dari sofa


***


Kayra tertegun memandang bangunan tingkat dua di hadapannya. Bangunan itu tidak semewah rumah milik Krisna yang sekarang ditempati namun tetap terlihat megah dan terawat.

__ADS_1


" Jadi ini rumah Papa dulu?" tanya Kayra kemudian.


" Iya, ini rumah Papa saat masih merintis perusahan Mahadika." Erlangga menjelaskan.


" Ayo, kita masuk!" Erlangga lalu melingkarkan tangannya di pinggang Kayra mengajak Kayra untuk masuk ke dalam rumah orang tuanya yang sudah lama tidak ditempati.


" Assalamualaikum ..." sapa Kayra dan Erlangga saat pintu rumah yang akan mereka huni terbuka.


" Waalaikumsalam ..." Tak lama dua orang wanita berusia sekitar empat puluh tahunan datang mendekat ke arah Erlangga dan Kayra.


" Selamat siang, Den." Salah seorang ART menyapa Erlangga dengan sedikit membungkukkan tubuhnya.


" Bi, perkenalkan, ini Kayra istri saya." Erlangga memperkenalkan Kayra kepada ART di rumah tersebut. " Kami yang nanti akan menempati rumah ini," lanjutnya kemudian.


" Selamat datang di rumah ini, Non." Kedua ART yang menyambut tadi menyapa Kayra bersamaan.


" Terima kasih, Bu." Kayra membalas dengan senyum di wajahnya, tapi dia merasa heran karena kedua ART di rumah itu tidak kaget saat Erlangga memberitahu jika dia adalah istri dari Erlangga


" Mereka ini ART yang sudah lama ikut dengan Papa dan Mama bekerja, Kayra. Ini Bi Jumi dan ini Bi Onah." Kini giliran kedua ART nya yang dikenalkan Erlangga kepada Kayra.


" Salam kenal ya, Bu Jumi, Bu Onah, saya Kayra."


" Salam kenal juga Non Kayra. Mari silahkan masuk." Bi Jumi mempersilahkan Kayra dan Erlangga untuk masuk ke dalam bangunan rumah.


" Ayo, Sayang ..." Erlangga kembali mengajak Kayra untuk masuk ke dalam rumah lama milik Krisna.


Kayra melangkahkan kaki dengan perlahan memasuki rumah yang baru pertama kali dia kunjungi itu. Namun, entah mengapa tiba-tiba ada sesuatu yang dia rasakan sampai menembus ke hatinya saat dia melangkah masuk ke dalam bangunan yang sudah lama ditinggalkan keluarga Mahadika Gautama. Kayra memejamkan mata, semakin lama dia merasakan ketenangan dan kenyamanan berasa di rumah itu seakan dia sudah cukup lama tinggal di rumah Krisna yang akan dihuni olehnya juga Erlangga dan Ini Sari.


*


*


*


Bersambung ...

__ADS_1


Happy Reading ❤️


__ADS_2