
Koko terkesiap saat dia merasa telah kelepasan bicara memanggil Kayra dengan sebutan 'Nyonya'. Namun tentu saja dirinya tidak menyukai jika ada orang yang terlalu ingin tahu tentang hubungannya dengan Kayra sampai dirinya memberikan panggilan itu.
" Saya tidak punya kewajiban memberitahu Anda, kenapa saya memanggil dengan sebutan Nyonya!" tegas Koko tidak menyukai Rivaldi yang dia anggap mencoba mendekati Kayra. Koko pun langsung masuk ke dalam mobil karena dia tidak ingin memperpanjang urusan dengan Rivaldi, lalu menjalankan mobilnya meninggalkan Rivaldi dan semakin penasaran dengan Kayra dan Koko.
Bagi Rivaldi sebutan Nyonya yang ditujukan kepada Kayra mengandung arti jika Kayra adalah atasan dari Koko. Dan jika Kayra adalah Nyonya bagi Koko, siapakah Tuannya itu? Hal itulah yang menjadi pertanyaan Rivaldi, karena dia saat ini sedang berusaha mendekati Kayra, tentu ini akan menjadi penghalang usahanya untuk bisa mendapatkan Kayra.
Sementara Kayra yang meninggalkan Koko dan Rivaldi sampai di depan lobby kantor dengan nafas tersengal karena dia tadi berlari kecil agar tidak dikejar Koko ataupun Rivaldi.
" Pagi, Mbak. Kenapa lari-lari, Mbak Kayra?" tanya security yang berjaga saat melihat Kayra sedang mengatur nafas.
" Pagi, Pak. Iya, saya takut terlambat, Pak." Kayra beralasan. " Permisi ya, Pak. Saya ke atas dulu," lanjutnya berpamitan.
Setelah mengisi absen dengan finger print, Kayra berjalan menuju pintu lift di mana terlihat beberapa karyawan juga menunggu di depan pintu.
Sesampai di meja kerjanya, Kayra mendudukkan tubuhnya terlebih dahulu seraya menghela nafas panjang. Peristiwa dirinya hampir tertabrak dan kemunculan Rivaldi saat dia sedang bersama Koko membuat jantungnya tak henti berdetak kencang.
" Semoga Pak Koko tidak mengatakan apa-apa dan Pak Rivaldi juga tidak curiga," harap Kayra. Karena jika Rivaldi tahu jika Koko adalah orang suruhan Erlangga, dan Koko tahu jika Rivaldi mencoba mendekatinya lalu Koko melaporkan kepada Erlangga, maka akan semakin sulit posisi Kayra saat ini.
" Pagi, Mbak. Saya mau membersihkan ruangan Pak bos." Seorang cleaning service meminta ijin kepada Kayra untuk membersihkan ruang kerja Erlangga.
" Oh, silahkan, Mas." Kayra segera bangkit dan melangkah mendekati pintu ruangan bosnya, membukakan pintu dan mempersilahkan cleaning service itu untuk membersihkan ruang kerja Erlangga. Sementara Kayra sendiri menyetel suhu pendingin ruangan itu.
Setelah menunggu cleaning service menyelesaikan tugasnya, Kayra segera mulai beraktivitas. Dia membaca doa agar hari ini segala sesuatunya dipermudah dan tidak mempersulit pekerjaannya.
Selang beberapa jam ... saat ini sudah mendekati pukul sebelas siang dan Erlangga masih belum menampakkan diri di kantor itu. Kayra menduga jika Erlangga enggan ke kantor karena keberadaan Caroline yang menemani Erlangga di rumahnya. Erlangga juga tidak memberi kabar kepadanya tentang alasan pria itu tidak juga tiba di kantor sampai saat ini.
" Pak Erlangga masih belum datang, Kayra?" tanya Wira dari pintu ruangannya.
" Belum, Pak." sahut Kayra.
" Apa beliau memberitahumu akan datang lebih siang?"' tanya Wira kembali.
" Tidak, Pak. Pak Erlangga tidak menghubungi saya," jawab Kayra kembali.
" Saya akan ke kantornya Pak Krisna, tolong sampaikan kepada Pak Erlangga jika beliau mencari saya," ujar Wira kemudian.
Deg
Jantung Kayra berdetak kencang saat Wira mengatakan jika Wira akan menemui Papa dari Erlangga. Bahkan wajah Kayra sedikit memucat karena khawatir jika Wira akan memberi informasi kepada Krisna tentang status dirinya saat ini.
" Kamu tidak perlu khawatir, Kayra. Saya tidak akan membicarakan soal pernikahan kalian." Mengetahui wajah Kayra menegang mendengar ucapannya, Wira langsung menglarifikasi ucapannya itu.
__ADS_1
Kayra langsung tertunduk malu karena ketahuan Wira jika dia sedang mencurigainya.
" Maaf, Pak."
" Saya titip laporan ini, tolong diberikan ke Pak Erlangga jika beliau datang." Wira menyodorkan beberapa arsip kepada Kayra.
" Baik, Pak." Kayra menerima beberapa hard copy dokumen dari Wira.
" Ya sudah, saya pergi dulu ..." Wira lalu melangkah ke arah lift dan meninggalkan Kayra.
" Baik, Pak." Kayra sempat membalas sebelum Wira berlalu dari hadapannya.
Sekitar lima belas menit setelah kepergian Wira, Erlangga tiba di kantornya. Pria itu berjalan dengan langkah tegap memasuki gedung perkantorannya.
Ting
Kayra spontan melirik ke arah lift saat terdengar pintu lift terbuka hingga memperlihatkan sosok gagah perkasa CEO Mahadika Gautama.
" Selamat pagi, Bapak." Kayra berdiri seraya menyapa Erlangga namun dia menurunkan pandangan tak ingin menatap wajah pria yang merupakan suami sirinya itu.
" Pagi ... apa Pak Wira sudah pergi ke kantor Papa saya?" tanya Erlangga menoleh ke ruangan Wira.
" Oh ..." sahut Erlangga kemudian masuk ke dalam ruangannya.
Kayra melirik punggung Erlangga sampai menghilang di balik pintu ruang kerjanya. Kayra mende sah, lalu berjalan ikut masuk ke ruangan Erlangga dengan membawa salinan laporan yang tadi dititipkan Wira kepadanya.
" Ini data laporan marketing dari Pak Wira, Pak." Kayra menaruh hard copy itu di meja Erlangga tanpa menunggu perintah Erlangga menaruh di meja. " Permisi ..." Setelah menaruh salinan itu, Kayra lalu berjalan ingin ke luar ruangan Erlangga.
" Apa tidak ada yang harus saya tangan tangani hari ini?" tanya Erlangga saat melihat Kayra akan meninggalkan ruangannya.
Kayra menahan langkahnya lalu memutar tubuh ke arah Erlangga dan menjawab, " Tidak ada, Pak. Permisi ..." Kayra kembali melanjutkan langkahnya yang sudah hampir sampai di pintu ruangan.
" Kenapa kamu terlihat terburu-buru sekali meninggalkan ruangan saya?" tanya Erlangga heran.
Kayra menghentikan langkahnya kembali saat mendengar pertanyaan Erlangga. Dia pun mengulang tindakannya tadi dengan memutar tubuh menghadap Erlangga, karena berbicara membelakangi orang, apalagi orang itu memiliki jabatan yang tinggi atau dengan orang yang lebih tua menurutnya tidaklah sopan.
" Tidak ada yang harus saya kerjakan, Pak." sahut Kayra.
" Siapa bilang tidak ada yang harus kamu kerjakan?" Erlangga lalu bangkit dan berjalan menghampiri Kayra. Erlangga lalu menarik pinggang Kayra saat sudah dekat hingga tubuh Kayra merapat dengan tubuhnya membuat Kayra terperanjat.
" Pak, tolong lepaskan! Saya tidak ingin ada. orang lain yang memergoki seperti kemarin." Kayra berusaha melepaskan tangan Erlangga dari pinggangnya.
__ADS_1
" Memangnya siapa lagi yang akan masuk ke ruangan saya secara tiba-tiba? Pak Wira sedang berada di kantor Papa saya, tidak mungkin dia memergoki kita lagi." Erlangga semakin kencang memeluk Kayra, bahkan dia berusaha mencium Kayra dengan mendekatkan bibirnya ke bibir Kayra.
" Bagaimana jika Ibu Caroline yang datang ke sini? Apa Bapak bisa menjelaskan kenapa Bapak melakukan hal seperti ini kepada saya?" Sejujurnya Kayra takut jika Caroline akan datang lagi ke kantor itu dan memergoki kedekatan dirinya dengan Erlangga.
Erlangga merenggangkan belitan tangannya di pinggang Kayra namun tak melepaskan pelukannya.
" Pulang kerja nanti saya akan ke tempatmu," ucap Erlangga kemudian.
" Apa Bapak tidak takut kalau Ibu Caroline akan curiga Bapak karena pulang telat?" Sebenarnya Kayra hanya sedang mencari alasan agar Erlangga tidak pulang ke tempat yang diberikan Erlangga untuk dirinya tinggal.
" Apa kamu sedang menghindari saya?" tanya Erlangga, dia merasakan jika Kayra tidak seperti biasanya bahkan terkesan menghindar darinya. " Atau kamu merasa cemburu dengan kedatangan Caroline kemarin?" sindir Erlangga tersenyum tipis.
Bola mata Kayra terbelalak lebar mendengar tudingan Erlangga yang mengatakan jika dirinya merasa cemburu karena kehadiran Caroline kemarin di kantor itu. Tudingan yang menurutnya terlalu berlebihan. Kayra sangat tahu diri, dia menyadari siapa dirinya. Dia tidak mungkin merasa cemburu terhadap istri sah suaminya itu.
" Itu hanya perasaan Bapak saja. Ibu Caroline istri Bapak, tidak pantas saya cemburu dengan beliau," tepis Kayra menyangkal tebakan Erlangga.
" Kamu juga istri saya, Kayra." Punggung jari Erlangga membelai pipi mulus Kayra.
" Pak, tolong jangan begini! Saya tidak nyaman melakukan ini di kantor." Kayra berusaha meronta agar Erlangga melepasnya.
" Begitu?" Erlangga memicingkan matanya mendengar alasan Kayra menolaknya. " Baiklah, kita akan melakukannya di rumah nanti. Sekarang kamu kembalilah ke mejamu." Erlangga melepaskan tubuh Kayra dan menyuruh Kayra kembali ke tempatnya.
" Kenapa Bapak tidak melakukannya dengan Ibu Caroline saja!?" Tanpa sadar Kayra mengucapkan kalimat seperti orang yang benar-benar sedang cemburu.
Erlangga menarik satu sudut bibirnya ke atas hingga membuat lengkungan senyuman, dia pun menebak jika istri keduanya itu cemburu terhadap Caroline.
" Saya sudah biasa melakukan hal itu dengan Caroline, tapi saya belum pernah melakukannya denganmu," seringai tipis masih melengkung di bibir Erlangga.
Tentu saja ucapan Erlangga membuat Kayra mengeratkan giginya, begitu santainya Erlangga mengatakan hal tersebut. Seolah Erlangga memperistrinya hanya untuk merasakan pelayanan berbeda dari wanita lain selain istri sahnya.
Dengan mendengus kesal dan emosi yang berkobar di dadanya, akhirnya Kayra melangkahkan kaki meninggalkan ruangan Erlangga.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading❤️
__ADS_1