MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO

MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO
Sus Rina


__ADS_3

Beberapa menit kemudian, setelah Erlangga sampai di kantor Papanya, pria itu terlihat berbincang serius dengan Krisna. Erlangga sudah menceritakan kepada Papanya soal Mama Rivaldi yang sepertinya mengenal Krisna dan juga Helen. Termasuk soal anak yang disembunyikan Mama Rivaldi dari keluarga Krisna Mahadika Gautama.


Awalnya Krisna tidak terlalu menganggap serius cerita Erlangga, apalagi saat Erlangga mengatakan jika Mama Rivaldi takut saat melihat Helen.


" Memangnya siapa yang tidak takut dengan Mamamu itu, Lang?" Bahkan Krisna berseloroh menanggapinya dengan bercanda karena tahu bagaimana watak istrinya. Namun, saat Erlangga mengatakan soal anak yang tidak ingin diketahui oleh Krisna dan Helen, barulah Krisna mendengarkan serius apa yang dikatakan oleh Erlangga.


" Siapa nama Mama dari Rivaldi itu, Nak?" tanya Krisna setelah Erlangga menceritakan semuanya.


" Aku sudah meminta agar Grace mencari tahu soal itu, Pa." Erlangga menyampaikan jika dia sudah menyuruh Grace menyelidi siapa Mama Rivaldi itu.


" Kamu harus hati-hati melibatkan orang lain, Lang! Jangan sampai mereka menjadi korban karena rencanamu ini." Krisna menasehati Erlangga agar Erlangga bersikap hati-hati, apalagi putranya itu melibatkan pihak lain.


" Iya, Pa. Aku pun memilih orang yang cukup ahli untuk menjalankan misi ini." Erlangga meyakinkan Papanya jika dia tidak akan bertindak ceroboh.


" Papa panasaran soal Mama Rivaldi itu, Nak." Krisna kembali membahas soal Arina. " Kenapa dia bisa takut melihat kami?" tanyanya heran.


" Apa Mama Rivaldi adalah orang di masa lalu Papa?" tanya Erlangga tiba-tiba, membuat Krisna menolehkan pandangannya dengan tatapan heran.


" Apa maksudmu, Erlangga?! Kamu pikir Papa ini pria breng sek yang menghamili anak gadis orang, lalu menelantarkannya!?" Krisna menangkis anggapan Erlangga soal tuduhan wanita di masa lalunya.


Erlangga menyeringai mendengar bantahan Krisna, lalu berucap, " Maaf, Pa. Aku hanya bercanda."


Namun, tiba-tiba Krisna teringat akan Danny, adik sepupu istrinya, yang pernah menghamili baby sitter Erlangga saat putranya itu masih kecil. Dugaannya langsung mengarah ke arah sana. Jika Mama Rivaldi takut dirinya dan Helen menanyakan soal anak, apa mungkin Mama Rivaldi adalah Sus Rina, pengasuh Erlangga dulu? Karena seingatnya, dia tidak pernah mempermasalahkan soal anak, kecuali anak Sus Rina yang ingin dia angkat menjadi anaknya.


" Apa jangan-jangan ..." Krisna tidak melanjutkan ucapannya, dia kini menatap Erlangga dengan lekat.


" Jangan-jangan apa, Pa?" Mendapat tatapan Papanya yang sulit dimengerti membuat Erlangga bertanya-tanya.


" Kamu ingat Sus Rina pengasuhmu dulu, Lang?"


" Iya, aku ingat, Pa. Kenapa dengan Sus Rina, Pa?" tanya Erlangga semakin penasaran.


" Jika ada anak yang jadi permasalahan bagi Papa, itu adalah anak dari Sus Rina hasil perbuatan Om kamu. Saat itu Sus Rina pergi tanpa tahu ke mana jejaknya dan juga bayi yang dikandungnya saat itu." Krisna membuka kembali kenangan masa lalu keluarganya bersama pengasuh Erlangga kecil.


" Kalau Mama Rivaldi itu takut bertemu kami karena dia takut kami menanyakan soal anak, jangan-jangan Mama Rivaldi itu ...."


" Sus Rina maksud Papa? Mama Rivaldi itu adakah Sus Rina?" Erlangga langsung dapat menangkap maksud ucapan Papanya.


" Iya, kemungkinan itu mungkin saja bisa terjadi. Tapi Papa harus lihat langsung Mama Rivaldi itu, setidaknya tahu siapa nama Mamanya Rivaldi untuk meyakinkan benar atau tidak jika dia itu adalah Sus Rina. Tapi jika itu memang benar Sus Rina, bagaimana dia bisa menikah dengan suaminya saat ini?" Tentu saja menjadi kejutan bagi Krisna, jika pengasuh putranya dulu kini menjadi istri seorang bos. Mungkin Krisna lupa jika anaknya sendiri pun menikahi Kayra yang dia tahu bukan dari keluarga berada.


" Pa, kalau Mama Rivaldi itu benar Sus Rina. Apa artinya Rivaldi itu adik sepupuku?" Erlangga seakan menolak jika dirinya dan Rivaldi ternyata saudara sepupu, mengingat sikap Rivaldi yang berlaku curang kepadanya.


" Tidak, Nak! Bukan Rivaldi! Bayi yang dikandung Sus Rina saat itu berjenis kelamin perempuan bukan laki-laki." Krisna masih ingat jika bayi yang dikandung Sus Rina adalah perempuan, karena saat di USG, jenis kelaminnya sama dengan bayi yang dikandung istrinya saat itu.


" Jadi maksudnya, Sus Rina menikah dengan Papanya Rivaldi? Dan Sus Rina saat ini adalah Mama tiri Rivaldi?"


" Berapa umur Rivaldi saat ini?"


" Sepertinya tak beda jauh denganku, Pa."


" Kalau begitu kemungkinan Sus Rina menikah dengan Papanya Rivaldi saat Rivaldi masih kecil."


" Dan anak Sus Rina yang merupakan anak biologis Om Danny saat ini tinggal bersama mereka. Begitu 'kan, Pa?!" ujar Erlangga kemudian.


" Iya, benar."


" Kalau begitu, kita harus temui Sus Rina, Pa. Kita harus bertemu dengan adikku itu." Erlangga bersemangat ingin bertemu dengan anak yang tidak mau diakui oleh Om nya dulu.


" Kita harus cari kebenarannya dulu, Erlangga. Jangan terlalu gegabah. Belum tentu dugaan kita itu benar." Krisna menasehati putranya agar tidak bertindak buru-buru.


" Iya, Pa. Aku akan atur Bondan untuk mencari tahu soal Mama Rivaldi ini," ujar Erlangga kemudian.


***


Agnes memperhatikan arloji di tangannya. Sejak lima belas menit lalu dia menunggu kemunculan Vito, pria yang dia ajak bertemu dengannya di sebuah cafe yang terletak tak begitu jauh dengan apartemennya.


Pesona pria tampan yang dia jumpai di lift beberapa waktu lalu saat menuju fitness club nya, membuat wanita itu penasaran, hingga membuatnya 'mengejar' pria tersebut.

__ADS_1


" Hai, sorry saya telat."


Setelah hampir setengah jam menunggu dengan kegelisahan, akhirnya Vito muncul juga di hadapan Agnes.


" Kamu sudah menunggu lama, ya?" tanya Vito kembali sambil menarik kursi dan duduk di atas kursi itu.


" Sekitar lima belas menitan." Agnes tak jujur mengatakan jika dia sudah menunggu dari lima belas menit. Tak masalah waktu yang dihabiskan Agnes untuk menunggu kedatangan Vito, yang penting saat ini pria itu sudah muncul di hadapannya.


" Sorry, soalnya tadi di kantor sibuk sekali." Vito memberikan alasan kesibukan di kantor yang membuatnya telat datang menemui Agnes.


" Tidak apa-apa, yang penting kamu datang ke sini," jawab Agnes. " Oh ya, kamu mau pesan apa?" Agnes memanggil pelayan cafe dengan gerakan tangannya.


" Saya pesan latte macchiato saja." Vito hanya memesan satu minuman saat pelayan cafe itu datang.


" Hanya minum? Tidak pesan makanan?" tanya Agnes.


" Tidak, saya tidak terbiasa makan di atas jam tujuh malam," sahut Vito.


" Oh ..." Agnes menganggukkan kepalanya. " Oh ya, kamu kerja di mana, Vit?" tanya Agnes kemudian. Melihat penampilan Vito yang terlihat perlente, dia menduga jika Vito adalah pekerja kantoran atau mungkin seorang executive muda jika dilihat dari sikap dan penampilannya.


" Saya bekerja di perusahaan properti," jawab Vito. Sudah pasti Rizal sudah mengarahkan apa yang mesti dijawab Vito jika Agnes menanyakan pekerjaan Vito.


" Di perusahaan properti apa?" tanya Agnes penasaran.


" Angkasa Raya," sahut Vito.


" Angkasa Raya? Itu perusahaan bonafit. Kamu di devisi apa di sana?" Agnes semakin tertarik saat Vito menyebutkan nama berusahaan terkenal di negeri ini.


" Hanya SPV Accounting," jawab Vito lancar, tentu saja dia sudah di briefing terlebih dahulu oleh Rizal dalam menghadapi Agnes.


" Come on, jadi supervisor di perusahaan sekelas Angkasa Raya? Aku rasa karir kamu masih akan panjang dan bisa lebih meningkat di sana, apalagi kamu masih muda." Agnes seakan menyemangati Vito yang dia anggap merendah.


" Ya, semoga saja."


" Oh ya, kau mau mampir ke tempatku?" Tiba-tiba Agnes menawarkan Vito untuk berkunjung ke apartemennya.


" Iya, itu aku tinggal di sana!" Agnes menunjuk gedung apartemen di seberang cafe mereka saat ini.


" Kamu mengijinkan saya berkunjung ke tempatmu?" tanya Vito terlihat ragu.


" Tentu saja, Setelah dari sini, kita ke tempatku, ya!?" Agnes berharap Vito mau menerima tawarannya.


" Hmmm, apa tidak mengganggu jika kamu, kalau saya ke tempatmu?"


" Kalau mengganggu, tidak mungkin aku menawarkan kamu untuk ke sana, kan?" Agnes senang karena Vito terlihat berminat menerima tawarannya, hanya terlihat sedikit gengsi saja.


" Okelah, kalau kamu tidak keberatan saya mampir ke sana." Vito pun menyetujui permintaan Agnes yang mengajak dirinya ke apartemen milik wanita itu. Sudah pasti hal itu disambut dengan senang hati oleh Agnes.


***


Vito memperhatikan ruangan apartemen milik Agnes. Semuanya merupakan barang-barang berharga mahal dengan interior yang terlihat mewah dan modern.


" Kamu tinggal dengan siapa di sini?" tanya Vito karena melihat apartemen Agnes yang nampak sepi.


" Aku tinggal sendiri."


" Kamu belum menikah?" tanya Vito menoleh ke Agnes.


" Apa belum menikah." Agnes terlihat kecewa mendengar pertanyaan Vito, lalu bertanya, " Apa aku terlihat seperti seorang wanita yang sudah menikah?"


" Tidak, bukan seperti itu maksud saya. Saya lihat kamu wanita cantik, mempunyai bisnis sendiri, tidak mungkin tidak ada pria yang tidak mendekatimu, kan?" Vito menjelaskan maksud pertanyaannya.


Agnes mende sah seraya menghempaskan tubuhnya di sofa tamu.


" Aku sempat mau dijodohkan dengan anak teman orang tuaku. Aku sudah menunggu dia lama, sampai aku tidak membuka hatiku untuk pria lain. Ternyata, pria yang ingin dijodohkan denganku itu malah menikah dengan wanita lain." Agnes memasang muka sedih seolah dia benar-benar merasa dikhianati.


" Oh, maaf. Saya tidak bermaksud membuka luka lama kamu." Vito menyampaikan penyesalannya.

__ADS_1


" Tidak apa-apa."


" Saya yakin kamu pasti akan mendapatkan pria yang lebih baik dari pria yang ingin dijkodhkan denganmu itu suatu hari nanti."


" Thank's, Vit. Semoga saja aku bisa dipertemukan secepatnya dengan pria itu." Agnes menatap Vito dengan penuh rasa kagum. Sosok Vito membuat Agnes seakan melupakan keinginannya memiliki Erlangga.


" Apa kamu sudah punya kekasih, Vito?" Agnes memberanikan diri bertanya.


Vito tersenyum dengan menggelengkan kepalanya. " Belum ..." sahutnya kemudian.


" Oh ..." Senyuman langsung mengembang di sudut bibir Agnes mengetahui jika Vito ternyata masih belum memiliki pendamping.


***


Kayra memperhatikan suaminya yang sedang berbicara melalui telepon di balkon kamar. Dia tidak tahu siapa yang menghubunginya. Namun, dia menduga jika orang yang sedang berbincang dengan suaminya itu adalah Bondan.


" Saya ingin Anda secepatnya mencari tahu siapa nama Mama dari Rivaldi, Pak Bondan. Jika wanita itu bernama Arina, atur agar Grace bisa mendekat dengan Mamanya Rivaldi. Saya ingin tahu di mana anak perempuan Mamanya Rivaldi saat ini."


Kayra mempertajam pendengarannya. Ternyata benar dugaannya, jika suaminya itu sedang berbicara dengan Bondan. Dan saat suaminya itu menyebut nama Mama Rivaldi, hal itu membuatnya bertanya-tanya. Ada hubungan apa Mamanya Rivaldi dengan penyelidikan yang dilakukan oleh Bondan atas perintah suaminya itu? Lalu siapa anak perempuan yang dimaksud Erlangga tadi? Pertanyaan itulah yang terus bergelayut di benaknya.


" Mas ..." Setelah Erlangga mengakhiri percakapannya di telepon dengan Bondan. Kayra segera mendekat ke arah sang suami karena merasa penasaran dengan hal yang dibicarakan oleh suaminya itu.


" Sayang ..." Erlangga langsung merentangkan tangannya dan merengkuh tubuh sang istri tercintanya.


" Mas, ada apa sebenarnya?" tanya Kayra, ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dan kenapa sampai membawa nama Mama Rivaldi segala.


" Tidak ada apa-apa, Sayang." Erlangga mengusap kepala Kayra dan membenamkan kecupan di kening sang istri.


" Mas, jangan bohong sama aku. Tadi aku dengar Mas menyebut Mama nya Pak Aldi. Memangnya kenapa dengan Mamanya Pak Aldi itu, Mas?" Kayra mendesak agar suaminya itu terbuka kepadanya.


Erlangga menatap Kayra dengan lekat. Dia sebenarnya tidak ingin Kayra terpikirkan dengan apa yang terjadi. Namun, dia tidak bisa berbohong jika istrinya sudah menatapnya seperti sekarang ini.


" Kita bicara di dalam saja. Di sini terkena angin malam, tidak baik untuk kesehatanmu." Erlangga membawa istrinya masuk ke dalam kamar.


" Ada apa, Mas?" tanya Kayra kembali saat mereka sudah duduk di sofa kamar.


" Aku menduga jika Mama dari Rivaldi itu adalah Sus Rina, pengasuhku dulu." Akhirnya Erlangga mengatakan yang sebenarnya kepada Kayra soal masalah yang terjadi sebenarnya.


Kayra terkesiap mengetahui jika Sus Rina yang pernah diceritakan oleh Erlangga beberapa hari lalu adalah Mama dari Rivaldi. Pria yang belakangan ini sedang bersitegang dengan suaminya.


" Sus Rina itu Namanya Pak Aldi? Serius, Mas? Berarti Mas sama Pak Aldi itu saudara sepupu?"


" Baru kemungkinan, Sayang. Belum pasti juga mereka adalah orang yang sama. Ini baru dugaanku saja." Erlangga tidak ingin buru-buru mengambil kesimpulan. " Dan jika Sus Rina adalah benar Mama Rivaldi, bukan berarti Rivaldi itu sepupuku, karena anak Sus Rina itu perempuan bukan laki-laki." Erlangga menyangkal jika Rivaldi adalah sepupunya.


" Tapi, dari mana Mas punya anggapan seperti itu?" tanya Kayra heran. Bagaimana suaminya bisa menganggap mantan pengasuhnya dulu adalah Ibu dari Rivaldi.


" Grace melaporkan jika Mama Rivaldi ketakutan saat melihat keluargaku di pesta malam Minggu kemarin. Mamanya Rivaldi itu takut jika Papa dan Mama menanyakan soal anaknya. Aku tadi siang sudah berbincang dengan Papa, hingga memunculkan kemungkinan jika Mamanya Rivaldi itu adalah mantan pengasuh waktu aku kecil dulu." Erlangga menjelaskan yang sesungguhnya kepada Kayra kenapa dia beranggapan seperti itu.


" Grace? Grace itu siapa, Mas?" tanya Kayra bernada curiga.


" Grace orang yang sedang diumpan untuk mendekati Rivaldi."


" Untuk apa Mas menyuruh orang untuk mendekati Pak Aldi?" Kayra terkejut ketika mengetahui ternyata suaminya itu mengirim orang untuk memata-matai Rivaldi dengan mengirim seseorang bernama Grace.


" Aku tidak ingin dia terus mengusik rumah tangga kita dan juga relasi bisnisku, Kayra!" tegas Erlangga.


" Tapi, apa harus dengan mengirim orang untuk memata-matai Pak Aldi? Mas, aku tidak ingin Mas bersitegang dengan Pak Aldi lagi. Aku tidak ingin Mas terlibat dalam situasi yang berbahaya." Kayra langsung melingkarkan tangannya memeluk suaminya dengan erat. Tentu saja dia takut jika suaminya itu terlibat perselisihan kembali dengan Rivaldi.


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading❤️

__ADS_1


__ADS_2