MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO

MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO
Undangan Makan Malam


__ADS_3

Sangat mengetahui Jimmy sudah selesai berbincang di telepon dengan seseorang yang tidak dia ketahui, Bobby masuk ke dalam ruangan Jimmy.


" Sorry, Jim. Lagi sibuk?" tanya Bobby.


" Eh, Bob. Ada apa?" Jimmy terkesiap karena Bobby tiba-tiba saja masuk dari pintu ruangannya.


" Sorry kalau tadi aku lancang sedikit mendengar kamu bicara di telepon. Tapi aku tertarik karena orang yang sedang kamu bicarakan tadi, ada hubungannya dengan tugas yang sedang aku jalani." Merasa penasaran dengan hubungan antara Jimmy dengan Kayra, orang yang sedang 'diincar' sehubungan dengan tugas yang dia terima dari Agnes, Bobby akhirnya menyampaikan kepada Jimmy jika mereka sedang bersinggungan dengan orang yang sama.


" Tugas? Tugas apa, Bob?" Mata Jimmy menyipit mendegar perkataan Bobby.


" Kau ingat jika ada orang yang membutuhkan bantuanku beberapa waktu lalu?" Bobby mencoba mengingatkan Jimny ketika dia menerima telepon dari seseorang yang meminta bantuannya.


" Iya, memangnya siapa dia?" Jimmy penasaran dengan orang yang meminta bantuan Bobby, apalagi bantuan yang diminta orang itu berhubungan dengan Kayra dan Erlangga.


" Entahlah, aku juga tidak tahu siapa dia sebenarnya, tapi dia menginginkan aku menyingkirkan Kayra dari pria bernama Erlangga pemilik perusahaan Mahadika Gautama yang kau sebut tadi di telepon," ujar Bobby.


" Kau diminta menyingkirkan Nona Kayra?" Jimmy terperanjat mendengar Bobby menerima order untuk menyingkirkan Kayra. " Sebaiknya kau hentikan misimu itu, Bob!" lanjut Jimmy meminta Bobby tidak meneruskan misi Bobby untuk menyingkirkan Kayra.


" Sebenarnya ada hubungan apa antara kau dengan mereka?" tanya Bobby penasaran.


" Nona Kayra adalah wanita yang disukai teman aku, Bob." sahut Jimmy. " Apa yang sudah kau lakukan pada Kayra? Apa kau menyakitinya?" Jimmy cemas, dia takut jika Bobby sampai mencelakai Kayra.


" Tidak, aku tidak mencelakainya! Aku hanya menyuruh orang untuk menyebarkan berita hoax jika Kayra itu sudah menikah dan punya anak dari pria lain, agar suaminya itu meninggalkan Kayra." Bobby menjelaskan apa yang sudah dilakukannya sejauh ini


" Sudahi aksimu itu, Bob. Temanku pasti tidak akan senang jika ada orang yang menyakiti Nona Kayra, apalagi dilakukan secara sengaja." Jimmy berharap Bobby tidak meneruskan rencananya untuk menyingkirkan Kayra, karena dia tahu Rivaldi tidak ingin ada orang yang menyentuh apalagi menyakiti wanita yang disukainya itu.


" Temanku itu banyak membantuku mendanai pembangunan club ini, dia juga yang akan mensponsori event nanti. Jadi jangan sampai dia menjadi murka karena kau mengusik Nona Kayra." Jimmy menjelaskan alasannya meminta Bobby berhenti 'mengincar' Kayra.


" Sorry, aku tidak tahu soal itu, Jim." Bobby merasa menyesal karena sudah mengusik wanita yang mempunyai hubungan spesial dengan orang yang sangat penting dengan club' boxing, tempatnya mengais rezeki.


" Berapa fee yang dijanjikan orang yang menyuruhmu itu?" tanya Jimmy.


" Seratus juta, tapi dia baru kasih DP dua puluh lima, sisanya setelah beres, sampai Kayra berpisah dengan Erlangga," sahut Bobby menyebut berapa uang yang akan dia terima jika berhasil menjalankan rencana Agnes.


" Hmmm, orang suruhanmu ingin supaya Nona Kayra dan Pak Erlangga berpisah, intinya kita mempunyai misi yang sama ..." Jimmy mengusap rahangnya.


" Gini saja, Bob. Kita kerjasama untuk memisahkan Pak Erlangga dengan Nona Kayra, Kita sama-sama melakukan itu, tapi jangan sampai menyakiti Nona Kayra. Yang penting misi kita sama-sama berhasil tanpa mengusik Nona Kayra," Jimmy mengajak Bobby kerjasama karena dia yakin Bobby pasti akan setuju membantunya memisahkan Kayra untuk Rivaldi.


" Oke, Jim. Aku pasti akan membatu." Bobby menepuk pundak Jimmy, menyetujui apa yang ditawarkan oleh Jimmy.


***


" Jadi Agnes menyuruh orang untuk membuat Anda dan Kayra berpisah dengan menyebarkan isu murahan seperti itu?" Wira merespon cerita Erlangga soal orang yang disuruh Agnes.


" Anda benar, Pak Wira. Dia itu wanita gi la! Kemarin dia datang ke kantin kantor ini dan berkata buruk soal Kayra, sekarang menyuruh orang melakukan hal yang sama. Konyol sekali!" Erlangga tersenyum mencibir apa yang dilakukan oleh Agnes adalah tindakan bo doh.


" Berapa gaji yang Anda berikan kepada Pak Bondan hingga dia dapat bekerja maksimal seperti ini, Pak?" Wira mengulum senyuman menyindir bosnya, karena dia tahu, Erlangga tidak mengeluarkan jumlah yang sedikit untuk membayar Bondan dan anak buahnya itu.


" Yang pasti cukup membuat Pak Bondan dan anak buahnya setia kepada saya, Pak Wira." Erlangga menarik sudut bibirnya mendengar sindiran Wira.


" Anda harus mempertimbangkan jika Agnes dan Rivaldi bekerja sama, Pak Erlangga. Mereka mempunyai tujuan sama, Rivaldi menginginkan Kayra, sedangkan Agnes sangat menginginkan Anda. Musuh Anda semakin kuat sekarang ini." Wira memperingatkan Erlangga agar lebih berhati-hati.


" Karena itu saya tidak ingin jauh dari Kayra, Pak Wira. Saya merasa Kayra akan lebih aman jika berada di dekat saya." Erlangga merasa lebih tenang jika Kayra bersama dengannya.


" Apa ada orang lain selain Koko yang mengawasi Anda dan Kayra? Sebaiknya tambah personil untuk melindungi kalian, karena Jimmy itu mempunyai club boxing. Saya takut Rivaldi akan semakin nekat jika tahu ternyata Anda dan Kayra sudah menikah, Pak Erlangga." Wira kembali menyarankan agar bosnya menambah pengawalan agar lebih aman.


" Ya, saya rasa juga begitu, Pak Wira. Saya harus meminta Pak Bondan untuk menambah anak buahnya mengawasi kami." Erlangga sependapat dengan Wira untuk menambah bodyguard yang akan mengawal dirinya dan istrinya.

__ADS_1


Ddrrtt ddrrtt


Erlangga merogoh saku blazernya saat terdengar ponselnya berbunyi. Dia melihat nama Papanya yang menghubungi saat ini.


" Assalamualaikum, ada apa, Pa?" sapa Erlangga saat mengangkat panggilan masuk dari Papanya itu.


Krisna sempat tertegun mendengar salam yang diucapkan Erlangga, suatu hal yang jarang anaknya itu lakukan saat berbincang di telepon. Dan Krisna tahu, pengaruh Kayra lah yang membuat Erlangga menjadi seperti sekarang ini.


" Waalaikumsalam, Nak."


" Ada apa, Pa?" Erlangga mengulang pertanyaannya.


" Lang, nanti malam dataglah makan malam ke rumah, bawa Kayra sekalian." Rupanya Krisna ingin mengundang anak dan menantunya untuk menikmati makan malam bersama di rumahnya.


" Makan malam? Memangnya ada acara, Pa?" tanya Erlangga mendengar ajakan Papanya, karena dia mengingat tidak ada moment spesial hari ini.


" Papa hanya ingin makan malam bersama anak dan menantu Papa. Selama kamu menikah dengan Kayra, kamu belum pernah membawa Kayra ke rumah, kan?"


" Lalu Mama bagaimana, Pa?" Tahu bagaimana sikap Mamanya, Erlangga mengkhawatirkan jika Mamanya nanti akan menolak kehadiran Kayra di rumah orang tuanya itu.


" Bukankah biasanya juga kamu tidak memperdulikan bagaimana sikap Mamamu? Lagipula, Papa juga tidak akan membiarkan Mamamu itu mengintimidasi menantu Papa." Krisna meyakinkan jika dia pun akan pasang badan untuk Kayra.


" Baiklah, Pa. Nanti aku akan bilang pada Kayra." Erlangga akhirnya menyetujui permintaan Papanya yang meminta dia dan Kayra datang makan bersama malam nanti.


" Ya sudah, Papa hanya ingin menyampaikan hal itu saja, Lang. Papa sudahi dulu teleponnya, ya!? Papa harus bertemu rekan bisnis Papa sekarang. Assalamualaikum ...."


" Waalaikumsalam ..." Erlangga mengakhiri percakapan telepon dengan Papanya. Dia pun langsung bangkit dari sofa di ruangan kerja Wira dan memasukan ponselnya kembali ke saku bagian dalam blazernya.


" Oh ya, Pak Wira, tolong siapkan kontrak kerjasama Mahadika dengan perusahan. Pak Sammy. Mereka menginginkan kerjasama kita diperpanjang dengan perusahaannya." Sebelum meninggalkan ruangan Wira, Erlangga masih sempat memberikan perintah kerja kepada asistennya itu.


***


Kayra menghentikan kunyahannya mendengar ucapan Erlangga soal undangan Krisna untuk makan malam bersama di rumah mertuanya itu.


" Papa mengundang kita makan malam, Mas? Lalu Mamanya Mas bagaimana?" Tentu saja sikap Helen yang dikhawatirkan oleh Kayra jika dia datang ke acara makan malam itu.


" Kamu tidak usah mengkhawatirkan sikap Mama nanti, ada aku dan Papa yang akan menjagamu."


Kayra mende sah, walaupun suami sudah meyakinkannya, namun dia tidak yakin jika makan malam nanti akan berjalan aman-aman saja.


" Hei, jangan terlalu dipikirkan. Kamu ini adalah istri Erlangga Mahadika Gautama, kamu harus kuat menghadapi segala macam rintangan, termasuk dari musuh-musuh suamimu ini." Erlangga meminta istrinya itu lebih kuat menghadapi segala macam tantangan sebagai istri seorang CEO dan pengusaha kaya raya.


" Mas punya musuh? Untuk apa mencari musuh, Mas? Itu tidak akan membuat hidup kita menjadi tenang." Kayra tentu tidak senang mendengar suaminya itu mempunyai banyak musuh.


" Bukan musuh dalam arti yang sesungguhnya, Sayang. Lebih tepatnya pesaing bisnis. Terkecuali Rivaldi, dia itu benar-benar musuh yang sangat licik." geram Erlangga, dia memang selalu tersulut emosi jika menyinggung nama Rivaldi, terutama setelah dia tahu siapa Rivaldi yang sebenarnya itu.


" Semoga Pak Aldi tidak mengganggu kita lagi ya, Mas?" harap Kayra.


Erlangga menatap wajah Kayra, dia memang merahasiakan tentang aksi Agnes dan kemungkinan jika Agnes dan Rivaldi akan bekerjasama setelah mengetahui status Kayra saat ini. Erlangga tidak ingin membuat Kayra khawatir, karena dia menjaga kesehatan dan keselamatan sang istri dan calon anak mereka. Erlangga tidak ingin apa yang dilakukan dengan dua orang yang akan menjadi pengganggu rumah tangganya itu akan membuat pikiran Kayra tidak tenang.


" Kamu tenang saja, Kayra. Aku akan tidak akan membiarkan orang lain mengganggu ketenangan rumah tangga, siapapun orangnya!" Dengan kalimat tegas Erlangga meyakinkan jika dia akan menjaga Kayra dan juga rumah tangga mereka dari berbagai macam gangguan.


Kayra tersenyum mendengar ucapan Erlangga, betapa bahagianya dia mempunyai suami yang akan melindunginya, dan dia tahu jika suaminya itu pasti tidak main-main dengan janjinya itu.


***


Helen memutar langkahnya ke arah dapur saat dia mendengar suara gaduh dari arah dapur di rumahnya itu.

__ADS_1


Helen mengerutkan keningnya saat melihat kedua ART nya yang biasa bertugas memasak dan menyiapkan makanan terlihat sedang sibuk. Bukan karena sedang sibuk memasaknya yang membuat dirinya heran, karena biasanya ART nya itu juga menyiapkan menu makan malam untuk dirinya dan juga suaminya. Namun, yang membuatnya heran adalah menu yang disiapkan oleh ART nya itu sangat banyak.


" Kenapa kalian memasak banyak menu malam ini?" tanya Helen kepada ART nya tersebut.


" Tuan yang menyuruh, Nyonya. Tuan bilang nanti Den Erlangga dan istri Den Erlangga akan datang kemari untuk makan malam, Nyonya." ucap Idah menjawab pertanyaan Helen.


Mata Helen terbelalak mendengar penjelasan dari ART nya soal rencana kedatangan Erlangga dengan istri Erlangga yang tidak lain adalah Kayra.


" Kalian tidak usah memasak banyak-banyak menu! Jangan buang-buang makanan percuma! Tidak akan ada banyak orang yang akan ikut makan malam nanti!" Helen melarang ART nya memasak banyak menu, karena tentu saja dia tidak menginginkan kehadiran Kayra di rumahmya itu.


" Tapi, Nyonya ...."


" Jangan membantah perintah saya, atau kalian sudah tidak ingin bekerja di sini lagi?!" Gertakan yang diucapkan Helen tentu membuat para ART nya ketakutan.


Setelah memberikan ancaman kepada ART nya, Helen lalu meninggalkan dapur untuk menemui suaminya untuk mempertanyakan kenapa Erlangga membawa Kayra ke rumah mereka.


" Pa, apa Papa yang menyuruh Erlangga datang kemari untuk makan malam?" Setelah sampai di kamarnya, Helen bertanya kepada suaminya yang sedang duduk melihat acara berita seputar ekonomi di televisi.


" Iya, Papa memang mengundang Erlangga dan Kayra untuk makan malam di sini. Sejak mereka menikah, mereka 'kan tidak pernah datang kemari bersama," sahut Krisna menurunkan volume televisi


" Papa ini apa-apaan, sih?! Kalau mau mengundang Erlangga tidak usah bawa-bawa wanita kampung itu!" ketus Helen melipat tangan di dadanya.


" Wanita kampung itu menantu Mama juga lho, Ma."


" Cih, Mama tidak sudi mempunyai menantu dia!" tolak Helen yang memang menentang pernikahan Erlangga dan Kayra.


" Faktanya Kayra itu menantu Mama dan sedang mengandung calon cucu kita. Mama harus bisa menerima itu." Krisna mencoba menasehati istrinya agar bisa berubah sikap terhadap Kayra.


" Papa ini kenapa, sih? Kok menyetujui pernikahan Erlangga dengan perempuan itu?! Wanita yang lebih cocok dan selevel dengan Erlangga itu banyak, Pa!" Helen merasa kesal karena suaminya bertentangan sikap dengannya terhadap Kayra.


" Yang dicari Erlangga itu bukan yang selevel, Ma. Tapi wanita baik yang bisa menjadi istri yang baik dan membawa perubahan positif terhadap Erlangga. Dan Kayra adalah sosok yang tepat untuk itu." Krisna berusaha membela Kayra.


" Papa kenapa membela perempuan itu, sih?! Pernikahan Erlangga dengan perempuan itu hanya akan membuat malu nama baik keluarga kita, Pa." Masih bersikeras Helen menolak Kayra.


" Yang bisa membuat malu keluarga itu, sikap Mama yang seperti ini, tidak dapat menilai orang secara objektif. Menilai orang hanya berdasarkan status sosialnya saja." Krisna tidak mengerti kenapa istrinya itu kini berubah sikap, tidak seperti saat dia kenal dulu.


" Pokoknya Mama tidak suka ada perempuan itu makan malam di sini! Kalau Papa tetap memaksakan kedatangan perempuan itu kemari, Mama tidak ingin bergabung di meja makan!" ancam Helen mengertak suaminya.


" Ya sudah, kalau Mama tidak ingin ikut makan malam, ya tidak masalah, biar Papa sendiri saja nanti yang menemani Erlangga dan Kayra makan malam nanti." Ucapan Krisna yang terdengar dengan nada tenang dan santai membuat Helen semakin semakin emosi.


" Mama akan mengundang Agnes malam ini agar dia datang kemari." Helen berniat mengundang Agnes untuk ikut makan malam bersama, setidaknya akan ada sekutunya yang akan membantunya menyerang Kayra.


" Papa tidak ingin ada orang lain yang ikut bergabung dalam acara makan malam keluarga kita, Ma!" tegas Krisna menentang rencana istrinya.


" Agnes bukan orang lain, Pa!"


" Dia bukan anggota keluarga kita, jadi dia tidak berhak hadir dalam acara makan malam nanti!" tegas Krisna kembali, karena dia tidak ingin kehadiran Agnes akan membawa acara makan malam tidak nyaman.


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading ❤️

__ADS_1


__ADS_2