MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO

MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO
Mengurus Anak Sendiri


__ADS_3

Helen menghentikan kunyahannya. Makanan yang ada di dalam mulutnya memang terasa nikmat. Sebenarnya aroma kenikmatan menu masakan Kayra sudah tercium di hidungnya saat dia mengawasi menantunya itu memasak.


Helen lalu melirik ke arah putranya yang terlihat lahap menyantap menu makanan yang sama dengannya. Terlihat olehnya, bahkan Erlangga melanggar etika makan sesuai table manner yang seharusnya Erlangga lakukan sebagai seorang bos dari perusahaan ternama.


Helen tidak menyadari jika saat ini Kayra sedang memperhatikannya. Karena menantunya itu sedang menunggu ulasannya soal makanan yang dimasak oleh Kayra tadi.


* Apa masakannya kurang enak, Ma?" tanya Kayra mencoba memberanikan diri bertanya.


" Lumayan ..." sahut Helen singkat, masih enggan mengakui jika makanan yang sedang disantapnya memang mempunyai citra rasa nikmat dan benar-benar menggugah selera makannya.


Walau hanya kata 'lumayan', kata itu sudah membuat Kayra cukup puas jika terucap dari mulut Mama mertuanya itu.


" Lumayan? Ini enak sekali lho, Ma." Erlangga berkata dengan mulut penuh dengan makanan.


" Kalau mulut sedang terisi penuh jangan bicara! Kamu ini bos, memalukan sekali jika relasi bisnismu tahu! Ini tidak sopan!" Helen memprotes sikap Erlangga yang dianggapnya tidak pantas dan melanggar etika makan.


" Maaf, Ma. Karena pendapat Mama tadi memancingku untuk berkomentar. Masakan istriku ini sangat enak kok, Ma. Bahkan ini makanan terlezat yang pernah aku makan." Erlangga terus memuji keahlian istrinya dalam mengolah makanan.


" Selera orang 'kan berbeda. Kamu bilang enak karena dia itu istri kamu. Kalau bukan istri kamu, belum tentu juga kamu akan menuji makanannya," jawab Helen, seakan tidak suka komentarnya tadi ditentang oleh putranya. Walaupun jika harus berkata jujur, selain masakan restoran kelas atas, masakan menantunya itu adalah makanan lezat yang pernah dia coba.


" Sebelum Kayra menjadi istriku, menu makanan buatan Kayra ini memang enak rasanya, Ma. Dan dari masakan ini aku jadi terpikat dengan menantu Mama ini," ujar Erlangga mengatakan jika penilaiannya objektif, walaupun dengan candaan.


" Kamu tidak bisa memaksa Mama untuk suka dengan seleramu, Lang. Dan menurut Mama masakan istrimu ini cenderung biasa saja malah." Helen tetap pada pendiriannya. Namun, tangannya tidak bisa berdusta, kini mengambil kembali potongan daging ikan acar itu untuk dia taruh di atas piringnya.


" Mas, sudahlah ..." Kayra meminta Erlangga untuk tidak berdebat dengan Mamanya.


" Lihatlah, menantu Mama ini benar-benar luar biasa, kan?" Erlangga kembali membanggakan istrinya. " Kayra selalu menegur jika aku menentang Mama. Kayra ingin hubungan aku dan Mama berjalan harmonis layaknya orang tua dan anaknya, tanpa ada pertentangan dan perdebatan. Sungguh mulia sekali 'kan menantu Mama ini?" Tanpa ragu Erlangga meletakkan garpu di tangan kirinya kemudian membelai wajah Kayra di hadapan Mama dan Ibu mertuanya.


" Aku yakin nanti Kayra juga akan mendidik anak-anak kami agar selalu patuh dan hormat kepada orang tuanya." Erlangga tersenyum menatap penuh cinta istrinya itu.

__ADS_1


" Aamiin ..." Ibu Sari yang sejak tadi hanya sebagai pendengar menimpali harapan yang diucapkan menantunya itu.


" Mama ingin anak kamu nantinya dirawat dan dididik yang benar, Erlangga. Mama tidak mau anak kamu itu diurus dengan sembarangan. Nanti Mama akan carikan baby sitter yang berpengalaman." Helen langsung menanggapi ucapan Erlangga.


" Kayra tidak ingin memakai baby sitter, Ma. Dia ingin mengasuh anak kami sendiri." Sebenarnya Erlangga ingin memakai tenaga pengasuh untuk bayinya nanti. Tapi, Kayra menolak, karena dia ingin menjadi seorang ibu yang seutuhnya untuk anak-anaknya. Kayra ingin tangannyalah yang nanti merawat bayinya.


" Istri kamu itu belum berpengalaman punya anak. Memangnya dia bisa mengurus bayi sendiri?" Helen ragu pada kemampuan Kayra mengurus balita.


" Mama tidak usah khawatir, aku yakin Kayra akan sanggup merawat anak kami dengan baik." Erlangga sangat percaya jika istrinya akan mampu mengurus bayi mereka jika sudah lahir nanti.


" Biar nanti saya yang akan membantu Kayra, Bu. Kebetulan saya dulu bekerja di Bidan dan biasa menanggani bayi yang baru lahir." Ibu Sari menegaskan jika dia pasti akan membantu Kayra mengurus cucu pertama keluarga Mahadika Gautama itu.


" Mama dengar sendiri, kan? Mama tidak perlu khawatir lagi." Erlangga berusaha meyakinkan Mamanya agar Mamanya tidak mencemaskan keputusan Kayra yang ingin mengurus anak mereka tanpa bantuan pengasuh bayi.


***


Grace memperhatikan Arina yang sedang memotong daun dari tanaman hias yang kering di pekarangan belakang rumah milik orang tua Rivaldi itu.


" Tante ..." Grace berjalan mendekati Arina yang tengah serius dengan tanaman hiasnya.


" Ada apa, Rena?" tanya Arina menghentikan aktivitasnya.


" Tan, aku mau ijin keluar siang nanti, ya?" Grace mulai menjalankan misinya. Hanya mengenal sepintas, Grace tahu jika Mama tiri Rivaldi itu termasuk wanita yang sederhana dan polos. Bukan tipe istri bos yang arogan dan licik seperti Mamanya. Sehingga dia merasa tidak akan sulit untuknya mempengaruhi Arina.


" Kamu mau ke mana, Rena?" tanya Arina kemudian.


" Aku mau cari baju, Tan. Kemarin aku hanya beli satu pasang, dan juga kebutuhan lainnya. Soalnya aku kemungkinan akan beberapa hari di rumah teman aku nanti." Grace menjelaskan alasan ke mana dia akan pergi.


" Kamu akan pergi dengan siapa?"

__ADS_1


" Sendiri saja, Tante. Nanti aku pesan ojek online saja." sahut Grace.


" Kok pakai ojek online? Diantar supir di sini saja nanti, Rena." Sudah dapat ditebak jika Arina akan keberatan jika Grace mengunakan angkutan umum.


" Tidak apa-apa, Tante. Saya tidak enak merepotkan keluarga Tante terus." Grace menolak tawaran Arina.


" Kamu kenapa selalu menolak tawaran Tante? Kamu di sini 'kan baru, jadi Tante khawatir kalau kamu pergi sendirian saja." Arina tetap tidak mengijinkan Grace pergi sendiri. " Memangnya kamu ingin membeli kebutuhan kamu di mana?" tanya Arina.


" Di mall terdekat dari sini saja kok, Tan." Grace menyebutkan mall mana yang akan dia kunjungi.


" Begini saja, bagaimana kalau Tante ikut menemani kamu mencari keperluanmu?" Arina bahkan menawarkan diri menemani Grace berbelanja.


" Ya ampun, Tante. Apa itu tidak semakin merepotkan Tante? Saya tidak enak lho, Tan." Grace seperti biasa memerankan aktingnya dengan sangat baik.


" Tante justru senang menemani kamu belanja, Rena. Atau, mungkin Rena sendiri yang keberatan Tante temani?" Arina curiga jika Grace lah yang tidak senang ditemani dirinya.


" Mana mungkin aku seperti itu, Tante. Keluarga Tante sudah baik sama aku, masa aku seperti itu?" Grace langsung menepis tuduhan Arina.


" Ya sudah, kalau begitu biar Tante yang menemani kamu keluar. Kamu mau pergi kapan?" Arina melepas glove yang melekat di tangannya untuk menyudahi aktivitasnya memotong beberapa daun kering di tanaman hiasnya.


" Nanti siang saja, sekalian kita makan di luar, Tan." Grace menyetujui tawaran Arina. Karena memang tugasnya membawa Arina keluar dari rumahnya.


*


*


*


Bersambung ...

__ADS_1


Mohon maaf agak pendek bab nya. Othornya sedang merasakan nikmatnya sakit gigi 🙏


Happy Reading❤️


__ADS_2