MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO

MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO
Saat Melamar


__ADS_3

Erlangga melihat senyuman di bibir sang istri yang saat ini sedang berbaring dengan memeluk tubuhnya. Rasanya sangat nyaman berdekatan seperti ini dengan wanita yang dicintainya itu.


" Kenapa kamu senyum-senyum seperti itu?" Dengan membelai rambut sang istri, Erlangga bertanya, karena sejak tadi istrinya itu tidak berhenti tersenyum.


" Aku seperti sedang bermimpi dengan sikap Mama sekarang ini, Mas. Mama sekarang ini perhatian sekali sama aku." Wajah berbinar Kayra tak dapat berbohong seakan mengatakan jika dia memang terlalu bahagia dengan sikap Mama mertuanya sekarang ini.


" Itu karena Mama baru menyadari jika sekarang ini aku memilih istri yang tepat," sahut Erlangga memberikan alasan.


" Memangnya yang dulu gimana, Mas?" Dengan senyum meledek Kayra mendongakkan kepala menatap wajah suaminya.


" Hmmm, jangan mulai, deh!" Menyadari jika Kayra sedang meledeknya, Erlangga segera memprotes.


Kayra menyeringai, menampakkan deretan gigi putihnya yang rapih. Karena suaminya menyadari jika saat ini dirinya sedang meledek Erlangga


" Aku suka Mas yang sekarang ..." tangan Kayra mengusap rahang sang suami. " Mas jauh lebih bijak dan lebih tenang pembawaannya."


Erlangga meraih tangan Kayra yang menyentuh wajahnya lalu mengecupnya dengan penuh kelembutan.


" Semua ini kamu lah penyebabnya, Sayang. Kamu yang membuat aku menjadi pribadi yang lebih baik. Seperti aku bilang tadi, aku tidak salah memilihmu menjadi istriku." Erlangga terus saja mengecup tangan Kayra.


" Walaupun menikahinya dengan cara paksaan?" sindir Kayra, mengingat kala itu Erlangga dinilainya terlalu arogan, karena mementingkan diri sendiri, tanpa memperdulikan perasaan dirinya.


" Salah sendiri tidak menuruti perkataanku." Erlangga terkekeh tak ingin disalahkan.


" Dasar egois!" sindir Kayra kembali.


" Jika aku tidak egois, bisa-bisa pria lain yang akan menjadikan kamu istrinya lebih dulu," sergah Erlangga melakukan pembelaan.


" Hmmm, waktu dulu menikah dengan Ibu Caroline, apa Mas memaksa Bu Caroline juga?" Entah kenapa tiba-tiba Kayra merasa penasaran bagaimana saat Erlangga mengajak Caroline menikah dulu.


" Aku yakin kamu pasti tidak akan senang mendengarnya." Erlangga terlihat enggan menjawab apa yang ditanyakan oleh Kayra


" Tapi aku ingin tahu, Mas. Apa Mas juga memaksa Bu Caroline waktu ingin menikahi Bu Caroline?" Kayra memaksa suaminya untuk tetap bercerita.

__ADS_1


" Sudahlah ... jangan mengungkit masa laluku." Erlangga tetap menolak.


" Mas tidak mau terbuka kepadaku?" Kayra mencebikkan bibirnya.


" Bukan seperti itu, Sayang. Aku hanya merasa, apa yang kamu tanyakan itu tidak penting," sanggah Erlangga karena istrinya menjadi salah paham.


" Jadi aku ini tidak penting?!" Kayra langsung menrenggangkan pelukannya dari tubuh Erlangga.


" Tidak, Sayang. Siapa yang menganggapmu tidak penting!?" Erlangga segera mengklarifikasi saat istrinya tiba-tiba merajuk.


" Kalau begitu, kenapa tidak mau menjawab pertanyaanku?" ketus Kayra masih dengan memberengut.


" Iya, iya, nanti aku jawab. Kamu ingin tahu bagaimana dulu aku mengajak nikah Caroline, ya?" Erlangga terpaksa mengalah jika istrinya itu sudah dalam mode merajuk.


" Iya." Kayra menganggukkan kepalanya dengan cepat.


" Hmmm, waktu aku mengajak dia menikah. Dulu aku menyusul dia ke luar negeri, karena saat itu dia sedang ada pemotretan di sana."


" Iya, dia memang sudah lama menginginkan menjadi model terkenal," sahut Erlangga.


" Lalu? Mas menyusul sampai ke sana waktu melamar Ibu Caroline?" Kayra semakin penasaran dengan cerita saat Erlangga melamar Caroline.


" Aku memberi kejutan saat ulang tahunnya. Aku menjemput dia dari hotel tempat dia menginap. Lalu aku membawa ke restoran di hotel itu. Aku juga sengaja membawa orang tua dan adiknya datang tanpa sepengetahuannya ke Perancis."


" Aku menyiapkan makan malam romantis untuknya. Setelah itu aku mengajak dia berdansa diiringi alunan musik dari gesekan biola." Erlangga menceritakan apa yang pernah dia perbuat saat melamar Caroline. Saat ini dia sudah bahagia dengan Kayra, sehingga dia sudah tidak merasa menyesal dengan kejadian masa lalunya bersama Caroline.


Kening Kayra seketika mengerut mendengar kisah romantis yang diceritakan Erlangga. Hatinya seakan tercubit saat mengetahui, ternyata suaminya itu bersikap sangat romantis saat melamar Caroline. Tidak seperti ketika ingin menikahinya yang diwarnai paksaan, ancaman dan intimidasi.


" Lalu aku berlutut di hadapan Caroline seraya menyodorkan sebuah cincin kepadanya." Erlangga melanjutkan ceritanya. " Kemudian aku bertanya dengan suatu permohonan. " Apakah kamu mau menikah denganku?"


Kayra tiba-tiba saja menutup kedua telinga dengan kedua telapak tangannya. Hatinya seakan tidak tahan mengetahui begitu beruntungnya Caroline diperlakukan seperti seorang putri saat dilamar Erlangga, sementara dirinya seperti tahanan yang ingin dieksekusi saat dinikahi Erlangga.


" Sudah jangan diteruskan!!" hardik Kayra melarang Erlangga melanjutkan ceritanya.

__ADS_1


Erlangga sempat terkaget melihat aksi sang istri. Namun tak lama dia tersenyum mendapati sikap istrinya yang mentutup kedua telinganya. Dia tahu jika Kayra sedang merasa cemburu.


" Lho, kenapa? Bukankah kamu sendiri yang ingin mengetahui bagaimana saat aku melamar Caroline dulu? Kamu bahkan memaksa aku untuk bercerita, padahal aku tadi sudah menolak." Erlangga terkekeh sengaja meledek istrinya.


" Aku tidak mau mendengar! Mas sungguh menyebalkan!" Kayra menjauhkan tubuhnya dari tubuh Erlangga. Dia bergelung selimut dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut hingga sebatas kepalanya. Mungkin rasa iri sedang hinggap di hatinya saat ini.


" Lho, kok malah aku yang menyebalkan? Kamu 'kan tanya ke aku dan aku menjawabnya, Sayang. Apa yang aku katakan itu sebenarnya, aku tidak berbohong." Tahu istrinya sedang diterjang rasa cemburu, Erlangga makin bersemangat menggoda sang istrinya.


" Mau Mas berbohong atau tidak, aku tidak perduli! Mas menyebalkan!! Hiks ..." Justru kini Kayra terisak.


Mendapati istrinya menangis, Erlangga menjadi bingung. " Sayang, kamu ini kenapa, sih?" Erlangga menyibak selimut yang menutupi wajah Kayra. " Kenapa malah menangis? Aku salah apa, Sayang?" Erlangga memeluk dan menciumi wajah Kayra.


" Kenapa Mas tidak berbuat seperti kepada Ibu Caroline saat ingin menikahiku? Kenapa Mas justru memperlakukan aku seperti tawanan?" Kayra semakin tersedu. Sepertinya pengaruh kehamilannya begitu kuat menggoyahkan hatinya yang selama ini jauh dari rasa iri dan dengki.


" Ya ampun, Sayang. Kamu jangan berpikir seperti itu. Kamu lihat saja bagaimana akhirnya. Aku melewati awal yang indah bersama Caroline, tapi kamu lihat sendiri, kan? Pernikahan aku dan dia hancur. Bersamamu, walupun awalnya tidak berjalan mulus, akan tetapi saat ini kita sedang diselimuti kebahagiaan, kan?"


" Meski pernikahan kita memang tidak pernah direncanakan dan terpikirkan sebelumnya. Tapi, aku sangat bahagia memiliki istri sepertimu, Kayra." Erlangga terus mendekap tubuh Kayra meminta istrinya itu tidak berkecil hati hanya karena tidak dilamar seromantis ketika dia melamar Caroline.


" Maaf, Mas. Aku seperti anak kecil, ya?" Semua penjelasan yang diberikan Erlangga, sepertinya terserap di otak dan hati Kayra, sehingga dia menyadari jika sikapnya yang seperti kanak-kanak tadi.


" Tidak apa-apa, Sayang. Aku senang kamu menunjukkan rasa cemburumu itu. Artinya, kamu mencintaiku, kan?"


Kayra langsung memutar posisi tidurnya kembali dan langsung memeluk sang suami yang semakin hari semakin dicintainya. Kadang Kayra sendiri tidak habis berpikir, bagaimana mungkin secepat itu perasaannya terhadap Erlangga berubah. Dari rasa hormat dan respek dia terhadap Erlangga saat dia belum mengetahui perasaan Erlangga kepadanya. Lalu rasa kesal dan benci saat Erlangga menjebaknya dalam pernikahan yang tidak dia inginkan. Hingga akhirnya rasa sayang dan cinta yang mulai tumbuh melihat bagaimana Erlangga begitu perhatian dan melindunginya dari orang-orang yang ingin berbuat jahat kepadanya.


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading ❤️

__ADS_1


__ADS_2