MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO

MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO
Pelampiasan Emosi


__ADS_3

Satu jam kemudian, waktu sudah mendekati pukul sembilan malam. Kayra sungguh merasa kesepian karena tidak ada suami yang menemaninya sekarang ini.


" Kenapa lama sekali, sih?" Kayra menatap ponselnya. Dia ingin sekali menanyakan kapan suaminya itu akan pulang, namun dia ragu melakukannya.


" Tapi ini 'kan sudah malam, tidak ada kabar sama sekali, padahal aku sudah bilang kasih kabar agar aku tidak cemas." Kayra menggigit kuku-kuku jari tangannya seraya berjalan bolak-balik di kamar hotel.


Ddrrtt ddrrtt


Bunyi telpon yang tiba-tiba terdengar membuat Kayra segera melihat layar ponselnya. Ternyata orang yang sedang ditunggunya lah yang menghubunginya saat ini.


" Apa kamu belum tidur?" Suara Erlangga terdengar di telinga Kayra.


" Bapak kapan pulang?" Sepertinya Kayra memang merindukan kehadiran suaminya saat ini. Walaupun dia mengatakan jika dia akan baik-baik saja namun ternyata ketiadaan Erlangga terasa membuat hatinya terasa kosong.


" Kenapa? Apa kamu merindukan suami kamu ini?" Terdengar suara kekehan di akhir kalimat yang diucapkan oleh Erlangga.


" Apa Bapak masih lama?" Kayra tidak menanggapi Erlangga yang meledeknya. Dia pun enggan mengakui jika dia memang merindukan kehadiran Erlangga di sisinya.


" Sebentar lagi saya pulang. Apa kamu sudah terima paper bag yang saya titipkan ke pegawai hotel?"


Teringat akan isi box di dalam paper bag, wajah Kayra seketika bersemu walaupun saat ini Erlangga tidak ada di dekatnya.


" Apa sudah kamu pakai?"


" S-saya malu harus pakai baju seperti itu, Pak." Kayra menyatakan keberatan harus memakai gaun yang menurutnya tidak pantas digunakan oleh dirinya.


" Malu dengan siapa? Bukankah saya juga sudah sering melihat kamu tanpa busana?" Erlangga kembali meledek istrinya.


" Tapi ...."


" Jika kamu tidak mau memakai lingerie itu saya tidak akan kembali ke hotel!" Erlangga justru memberikan ancaman kepada Kayra agar dia mau mematuhi apa yang diperintahkan olehnya.


Sontak Kayra langsung terperanjat mendengar ancaman yang diucapkan oleh suaminya. Apalagi saat Erlangga menutup ponselnya secara tiba-tiba.


Kayra memberengut karena ancaman Erlangga. Dia menatap box yang dia taruh di tepi tempat tidur. Dia mengambil baju tidur itu, bahkan untuk memegang saja Kayra merasa geli sendiri sampai mengedikkan bahunya.


Kayra berkaca di cermin seraya mendekatkan baju itu ke tubuhnya.


" Ya Allah, menyeramkan sekali melihatnya." Kayra terus mengedikkan bahu karena merasa baju itu benar-benar tidak pantas dipakai olehnya.


Setelah berpikir cukup lama akhirnya Kayra sudah melepas pakaian yang dia kenakan sebelumnya dan mengganti dengan lingerie yang dibeli oleh Erlangga untuknya.


Kayra kembali berdiri di depan cermin, dengan mata terpejam. Rasanya malu dia harus melihat tubuhnya dibalut pakaian serba minim seperti itu. Namun lama-lama dia merasa penasaran juga, akhirnya dia membuka matanya perlahan hingga kini terbelalak karena bagian-bagian sensitifnya terlihat jelas. Dia bahkan spontan menutupi area sensitifnya dengan kedua tangannya.


" Memalukan sekali!" Kayra menjauh dari cermin. Dia benar-benar merasa tidak sanggup harus memakai pakaian itu di depan Erlangga. Dia nampak seperti wanita penggoda yang siap memangsa pria hidung belang yang kurang puas dengan pelayanan istri di rumah.


Kayra ingin melepas kembali pakaian itu namun dia teringat akan ancaman Erlangga yang mengatakan tidak akan pulang ke hotel jika dia menolak mengenakan pakaian itu. Dia lalu berpikir untuk mengenakan bathrobe untuk menutupi pakaian tidur dari Erlangga.


Seperempat jam kemudian Kayra mendengar suara pintu kamar hotel dibuka, dia menduga suaminya itu sudah tiba. Kayra duduk menunggu di tepi tempat tidur tidak berani untuk mendekat.


Erlangga yang muncul langsung memicingkan matanya melihat Kayra yang mengenakan jubah mandi. Dia lalu berjalan mendekat ke arah Kayra yang menundukkan kepala karena saat ini wajahnya sudah merona.


Erlangga membelai rambut Kayra yang terurai lalu mengulung dan mengikatnya dengan rambut wanita itu. Dia menaikkan dagu Kayra dengan telunjuknya hingga wajah Kayra tegak ke arah wajahnya. Tangannya kemudian mengangkat lengan Kayra agar bangkit dari duduk.

__ADS_1


Senyuman tipis terkulum di bibir pria tampan itu. Jari telunjuknya kini mengusap bibir ranum Kayra hingga perlahan turun ke bawah melintasi leher dan dadanya yang tertutup bathrobe, lalu saat berada di perut, Erlangga membuka tali pengikat jubah mandi itu dan meloloskan pakaian yang sejak tadi menutupi lingerie yang membalut tubuh indah Kayra.


Kayra menggigit bibirnya saat Erlangga berhasil melepas bathrobe yang sejak tadi dia pakai untuk menutupi pakaian tidur yang memperlihatkan bentuk tubuhnya dengan jelas yang dia kenakan secara terpaksa.


Erlangga sendiri sampai menelan salivanya melihat pemandangan menggiurkan di hadapannya. Pria itu segera melepas Coat yang dia pakai juga melonggarkan kancing bajunya.


Seperti kucing yang disuguhi ikan, Erlangga langsung mencium bibir Kayra dan melu matnya dengan sangat rakus. Tangannya yang super aktif sudah menggerayangi tubuh Kayra yang mengenakan pakaian tipis berwarna biru muda.


Erlangga menjatuhkan tubuh Kayra ke atas tempat tidur, sedangkan dia sendiri menarik pakaian dan menyingkirkan kemeja dari tubuhnya. Ikat pinggang pun segera dia lepas juga membuka celana panjangnya, hingga hanya menyisakan kain yang menutupi senjatanya.


Erlangga lalu menindih tubuh sang istri, dan kembali melanjutkan aksinya membakar ga irah yang selalu membara jika menyentuh bagian tubuh istrinya.


Setelah berbagai cara Erlangga lakukan untuk membangkitkan libi donya juga sang istri akhirnya dia mulai melakukan penyatuan tubuh mereka dan memberikan kenikmatan surga dunia kepada Kayra yang terlihat sangat menikmati sentuhan dari suaminya itu.


***


Kayra mengerjapkan matanya saat merasakan bibir Erlangga menciumi pipinya.


" Selamat pagi, Nyonya Erlangga ..." bisik Erlangga menyapa istrinya.


" Jam berapa sekarang, Pak?" tanya Kayra dengan suara parau.


" Jam enam lebih sepuluh menit," jawab Erlangga melirik ke arah jam dinding.


" Ya Allah, saya belum sholat Shubuh ..." Kayra langsung bangkit dan berlari ke arah kamar mandi dengan tubuh tanpa mengenakan sehelai benang pun yang menutupi tubuh indahnya, karena dia takut tidak kebagian waktu sholat Shubuh.


Melihat Kayra yang berlari tanpa busana membuat Erlangga terkekeh. Dia pun segera bangkit dari tempat tidur dan mengambil boxer untuk dia pakai lalu mengambil jubah mandi milik Kayra yang sejak semalam tergelak di lantai hotel yang dialasi permadani.


Erlangga berjalan ke arah kamar mandi untuk memberikan jubah mandi kepada Kayra, Dia menduga jika istrinya itu akan kebingungan tidak ada handuk atau jubah mandi di dalam kamar mandi.


" Kayra ...!" Walaupun udah berkali-kali Erlangga berteriak dan mengetuk pintu namun Kayra tidak juga membuka pintu kamar mandi.


Sepuluh menit kemudian Kayra sudah selesai membersihkan tubuhnya dan dia tersadar jika handuk dan jubah mandinya dia taruh di luar kamar mandi.


Kayra berjalan mendekati pintu kamar mandi untuk melihat situasi di luar karena dia ingin mengambil handuk. Dia membuka perlahan dan berharap Erlangga tidak melihatnya. Dan saat pintuk kamar mandi terbuka lebih lebar, sebuah tangan tiba-tiba menyodorkan bathrobe tepat di hadapannya.


Kayra terkesiap melihat Erlangga yang menyodorkan bathrobe kepadanya Namun dengan cepat dia mengambil barang itu dan menutup kembali pintu kamar mandi lalu memakai jubah mandi itu. Setelah mengikat tali jubah mandi, Kayra pun keluar dari kamar mandi.


Kayra mendapati suaminya yang tersenyum saat melihatnya keluar dari kamar mandi.


" Tadi saya panggil-panggil, kamu tidak juga membuka pintunya, padahal saya ingin memberikan bathrobe itu," ujar Erlangga terkekeh.


Kayra berjalan melewati suaminya dan mengambil handuk untuk mengeringkan rambutnya, setelah itu dia mengambil pakaian karena dia ingin melaksanakan sholat Shubuh.


Sementara Erlangga sendiri langsung masuk ke dalam kamar mandi karena dia sendiri pun ingin membersihkan tubuhnya dan melaksanakan sholat Shubuh sebelum waktu sholat shubuh berakhir.


***


" Kamu mau sarapan apa?" tanya Erlangga saat mereka telah menyelesaikan ibadah Shubuh mereka.


" Saya ingin makan makanan Indonesia saja, Pak. Saya lihat di internet di sini ada restoran Indonesia." Selama menunggu Erlangga semalam, Kayra sempat mencari makanan halal dan menemukan restoran khas masakan dari tanah airnya di goo gle, hingga dia meminta Erlangga untuk mengajaknya makan di restoran Indonesia.


" Tapi mungkin bukanya agak siang restoran itu. Sebaiknya kita sarapan saja di sini, nanti siang setelah kita berjalan-jalan baru kita pergi ke sana." Erlangga pun segera membuka ponselnya dan mencari restoran yang Kayra sebutkan tadi, hingga dia menemukan beberapa restoran Indonesia yang ada di kota Turin.

__ADS_1


Selepas sarapan, Erlangga mengajak Kayra berjalan menikmati keindahan kota Turin, kota yang sangat terkenal dengan klub bola raksasa di Italia,


" Apa kamu menyukai perjalanan ini?" tanya Erlangga saat mereka berjalan di sekitar Mole Antonelliana yang merupakan landmark utama di kota Turin.


Kayra menganggukkan kepalanya, dia tidak bisa menampik, jika dia memang menyukai berjalan-jalan seperti ini, apalagi Erlangga begitu memperlakukannya dengan penuh perhatian. Bahkan sejak keluar dari kamar hotel, tangan Erlangga tidak pernah lepas merengkuh pinggangnya seolah ingin menunjukkan kepada semua orang jika dirinya adalah milik pria itu seorang. Namun mungkin dia akan lebih bahagia jika pernikahannya itu berjalan normal.


" Jika kamu suka, kita akan rutin melakukan liburan seperti ini," ucap Erlangga mengecup pucuk kepala Kayra. " Kita istirahat sebentar sambil minum kopi di sini." Erlangga lalu mengajak Kayra berhenti di sebuah cafe yang ada di tepi jalan. Dia lalu memesan kopi untuk dirinya dan juga Kayra.


Erlangga mengedar panggangan hingga dia melihat sebuah toko bunga tak jauh dari tempat dia dan Kayra duduk.


" Kamu tunggu di sini sebentar." Erlangga bangkit karena dia berniat memberi buket bunga untuk Kayra.


" Bapak mau ke mana?" tanya Kayra bingung


" Nanti kamu akan tahu. Tunggu saja di sini, jangan ke mana-mana!" Erlangga menyuruh Kayra tetap menunggu di cafe, sementara Erlangga berlari ke arah toko florist yang berjarak lima puluh meter dari tempatnya.


Beberapa menit sebelumnya ...


Sebelum bertemu dengan Mr. Schiffer. Wisnu mengajak Caroline menikmati kopi di dekat hotel tempat mereka menginap.


" Sembunyikan wajah sedihmu itu, Caroline! Kita akan menemui Mr. Schiffer, orang penting pemilik perusahaan itu. Jika kau murung seperti ini, bagaimana mungkin Mr. Schiffer mau memakaimu?" Wisnu mengeluhkan sikap Caroline yang masih saja memberengut marah kepadanya.


Caroline mendengus kasar menatap tajam Wisnu dengan penuh kebencian. Rasa kesal, kecewa dan benci terhadap pria itu semakin lama semakin berkobar di hatinya. Dia sendiri tidak menduga jika dia akan terjebak dengan permainan pria itu yang akhirnya membuat rumah tangganya bersama Erlangga hancur berantakan.


" Aku benar-benar membencimu, Wisnu!" sembur Caroline penuh emosi.


Wisnu menyeringai sembari menyesap kopinya secara perlahan.


" Tidak masalah kau akan membenciku, tapi jika aku bisa membawamu mencapai keinginanmu, aku pastikan kamu akan berterima kasih kepadaku, Caroline." ucap pria itu dengan percaya diri.


Melihat seringai di sudut bibir Wisnu, Caroline langsung memalingkan wajahnya ke arah jalan. Dan tatapan matanya terarah kepada sepasang insan yang berjalan dengan mesranya di seberang jalan tempat dia duduk. Kedua insan itu akhirnya duduk di cafe di seberangnya. Caroline tersentak saat melihat dua orang itu adalah orang yang sangat dia kenal. Hatinya serasa ditikam sembilu saat dia menyaksikan asang pria merangkul erat sang wanita bahkan mencium wanita itu.


Bara emosi seketika berkibar di hati Caroline, dia kemudian bangkit dan berjalan cepat mendekat ke arah wanita yang tidak lain adalah Kayra yang ketika itu sedang duduk menunggu Erlangga.


" Kamu mau ke mana, Caroline?" Wisnu yang melihat Caroline pergi kaget dan segera menyusul Caroline.


" Kayra ...!!"


Kayra yang sedang menunggu Erlangga terkejut saat seseorang memanggil namanya. Dia lalu menoleh ke arah suara yang memanggilnya tadi. Dan seketika dia tersentak saat melihat siapa yang memanggilnya tadi. Dia sontak bangkit dari duduknya dengan wajah memucat melihat keberadaan Caroline di hadapannya.


" I-ibu?"


" Breng sek, kamu! Dasar wanita ja lang!!"


Plaaakkk


Sebuah tamparan keras mendarat di pipi mulus Kayra disertai cacian terlontar dari mulut Caroline sebagai pelampiasan emosinya. Dan apa yang dilakukan Caroline membuat Kayra langsung syok karena dia tidak menyangka jika dia akan bertemu dengan istri sah suaminya itu di Turin.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung ...


Happy Reading❤️


__ADS_2