MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO

MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO
Mas Erlangga


__ADS_3

Sepasang suami istri sedang duduk berangkulan di sebuah perahu gondola dengan seorang gondolier yang mendayung perahu dayung khas kota Venezia melintasi kanal-kanal kecil yang ada di kita air tersebut. Malam ini Erlangga dan Kayra seolah ingin menikmati hari terakhir mereka di Italia sebelum kembali ke Jakarta esok hari


Suasana romantis yang mereka rasakan saat itu, apalagi tak jarang Erlangga membenamkan kecupan-kecupan di wajah Kayra seakan menunjukkan jika pria itu sangat mencintai istrinya.


" Sei in luna di miele?" ( Apakah kalian sedang berbulan madu ) Melihat bagaimana keromantisan penumpangnya, pemilik gondola bertanya kepada Erlangga dan Kayra.


" Si hai ragione." ( Iya, Anda benar ) sahut Erlangga.


" Da dove vieni?" ( Anda berasal dari mana ) tanya pemilik Gondola.


" Siamo dall'Indonesia." ( Kami dari Indonesia ) sahut Erlangga, sementara Kayra hanya mendengarkan karena tidak mengerti apa yang mereka bicarakan.


" Ricevo spesso passeggeri indonesiani." ( Saya sering mendapat penumpang dari Indonesia ) " Ha ragione a scegliere questa città per la sua luna di miele, signore. Buona luna di miele." ( Anda benar memilih kota ini untuk bulan madu Anda, Tuan. Semoga bulan madu kalian menyenangkan)


" Grazie mille." sahut Erlangga.


" Orang itu bicara apa, Mas?" Setelah Erlangga selesai berbincang dengan pemilik gondola, Kayra bertanya karena ingin tahu apa yang tadi dibicarakan suaminya.


" Orang itu bilang jika istriku ini sangat cantik, beruntung aku memiliki istri seperti kamu." Walaupun tidak tahu apa yang dikatakan Erlangga itu benar atau tidak, namun apa yang diucapkan suaminya itu sanggup membuat rona merah di wajah Kayra membias.


" Aku tanya serius, Mas." Kayra mencubit lengan suaminya karena suaminya itu justru tertawa melihat wajah dia yang bersemu.


" Signore, pensi che mia moglie sia bella?" .( Pak, apa menurut Anda istri saya ini cantik ) Erlangga iseng bertanya kepada pemilik gondola.


" Certo, tua moglie è bella come un angelo." .( Tentu, istri Anda secantik bidadari ) jawab pemilik gondola seraya tersenyum dan mengangkat ibu jarinya. " Sei bravo a scegliere una moglie, Signore." ( Anda pandai memilih istri, Tuan )


" Dia bilang aku hebat memilih istri karena kamu secantik bidadari ..." Erlangga lalu membenamkan sebuah ciuman lembut di bibir Kayra.


" Mas, malu dilihat orang itu." Kayra menolak Erlangga yang ingin terus melu mat bibirnya karena dia malu saat ini ada orang lain di antara mereka, padahal gondolier itu yang sudah terbiasa menemukan aktivitas pasangan berciuman di atas gondolanya langsung mengalihkan pandangan dan lebih fokus dengan kayuhannya. mendayung perahu dayung itu.


" Orang itu tidak akan .perdulikan dengan apa yang kita lakukan, Kayra." Erlangga kembali merasakan manisnya bibir ranum sang istri, seakan menjadikan pelampiasan karena dia tidak berani melakukan sentuhan lebih dalam kepada istrinya yang tengah hamil muda itu.


Sejujurnya walau merasa malu namun Kayra sangat bahagia saat ini, bagaikan mimpi dia bisa merasakan bulan madu di kota yang tidak dia duga sebelumnya. Dia bagaikan seorang wanita biasa yang bertemu dengan sang pangeran yang jatuh cinta kepadanya layaknya kisah Cinderela.


***


Koko mengedarai mobil dengan kecepatan sedang melintasi beberapa jalan di kota Jakarta. Dia baru saja menjemput Erlangga dan Kayra dari Cengkareng karena pesawat yang membawa majikannya mendarat setelah melakukan perjalanan lebih dari delapan belas jam dari kota Venezia ke Jakarta sekitar pukul 15.45 WIB.


Dari kaca spion Koko sempat mencuri pandang dan dapat melihat aktivitas di belakangnya di mana kedua majikannya itu duduk. Dia merasakan hal yang berbeda dari sikap Kayra dan Erlangga saat ini. Bahkan Kayra tidak terlihat canggung saat menyandarkan kepalanya ke bahu Erlangga, Erlangga pun walau banyak bicara namun tidak terdengar nada-nada tegas bersikap paksaan yang biasanya terlontar dari mulut Erlangga.


" Apa kepalamu masih pusing? Nanti kita periksa ke dokter kandungan lagi biar bisa diberi obat, tidak boleh minum sembarang obat saat sedang hamil."


Koko terbelalak mendengar ucapan Erlangga yang menyebut soal kandungan dan hamil, dia kembali melirik ke arah spion lalu bertanya, " Apa Nyonya saat ini sedang hamil, Tuan?" Karena selama ini dia ditugaskan untuk mengantar jemput Kayra dan juga menjaga Kayra, membuatnya memberanikan diri untuk bertanya. Tentu dia akan lebih protektif jika istri majikannya itu hamil.


" Benar, Pak Koko. Kayra saat ini sedang mengandung anak saya, baru empat Minggu usia kandungannya." Dengan rasa bangga Erlangga mengatakan jika istrinya saat ini sedang mengandung anaknya.


" Selamat atas kehamilan Anda, Nyonya. Saya turun gembira mendegar Tuan akan mempunyai anak." Lalu ucapan selamat pun diucapkan Koko kepada Erlangga dan Kayra.


" Terima kasih, Pak Koko." Baik Erlangga dan Kayra sama-sama menjawab ucapan Koko secara serentak.


" Apa Nyonya masih akan bekerja di kantor?" tanya Koko kemudian.


" Tentu saja, Pak Koko."


" Tidak."


Walau diucapkan secara bersamaan namun kali ini jawaban sepasang suami istri itu saling bertentangan, dan itu membuat Erlangga langsung menolehkan pandangannya ke arah sang istri.


" Aku tidak ijinkan kamu bekerja, Kayra!" tegas Erlangga dengan sorot mata tajam menatap istrinya.


" Lalu bagaimana dengan pekerjaan di kantor kalau aku tidak bekerja, Mas? Sedangkan Mbak Gita sendiri belum terlalu paham dengan tugas-tugas yang harus dia jalani." Memberikan alasan jika dia perlu mengajari bagaimana Gita harus menghandle pekerjaannya, Kayra mencoba membujuk suaminya agar diijinkan bekerja.


" Tapi aku tidak ingin kamu menjadi kecapean, Kayra." Masih terasa berat memberi ijin istrinya bekerja, Erlangga tetap menolak permintaan Kayra.


" Aku tidak bekerja berat, Mas. Hanya duduk saja ..." Terus mencoba mengubah keputusan sang suami, Kayra mencoba meyakinkan jika dia tidak akan kelelahan di kantor nanti.


" Aku tetap tidak memberi ijin kamu bekerja! Jadilah istri yang baik dan menurut pada perintah suami!" Dengan tegas, kembali penolakan itu diucapkan oleh Erlangga membuat Kayra terdiam dengan wajah memberengut, bahkan dia langsung menjauhkan kepala bahunya.

__ADS_1


" Jangan marah, Sayang. Aku melarangmu berkerja itu karena aku mengkhawatirkan kesehatanmu dan kondisi bayi kita." Melihat istrinya cemberut, Erlangga kembali merengkuh tubuh sang istri.


" Tapi aku ingin ke kantor, Mas. Kasihan Mbak Gita kalau harus ditinggal sendirian. Aku tidak akan bekerja apa-apa di kantor, hanya memberi pengarahan kepada Mbak Gita biar dia tidak kebingungan dan kaget harus bekerja sendiri jika aku resign nanti." Kayra masih berusaha meluluhkan hati sang suami.


" Gita itu asisten pribadimu, Kayra. Bukan calon sekretarisku. Seandainya kamu resign, bukan dia yang akan menjadi sekretarisku." Erlangga menegaskan agar Kayra tidak salah paham tentang posisi yang ditempati Gita.


" Tapi tetap tidak ada salahnya aku memberi pengarahan kepada Mbak Gita 'kan, Mas?" Kayra sendiri masih bersikukuh dengan keinginannya bekerja.


Erlangga menghela nafas sejenak, walaupun dia tidak tega melihat istrinya yang terus memohon, namun dia lebih mementingkan kesehatan Kayra dan calon bayinya.


* Please, Mas. Aku tidak akan mengerjakan apa-apa, hanya mengawasi Mbak Gita saja, kok." rayuan mulai dilancarkan Kayra, apalagi saat ini tangan Kayra mengusap rahang Erlangga, suatu hal yang jarang sekali Kayra lakukan sebelumnya.


" Baiklah, tapi kamu tidak boleh mengerjakan apapun di kantor!" Akhirnya Kayra mendapatkan ijin suaminya untuk bekerja.


" Terima kasih, Mas. Iya, aku tidak akan mengerjakan apapun di kantor." Yang penting suaminya mengijinkan dirinya ke kantor, entah di kantor dia akan melakukan aktivitas atau tidak namun Kayra cukup senang bisa kembali ke kantor tempatnya bekerja.


Beberapa menit kemudian mobil yang dikendarai sampai di rumah kediaman Kayra, beberapa ART sudah menyongsong kedatangan mereka di teras rumah, bahkan Atik langsung membukakan pintu mobil untuk Kayra.


" Selamat datang kembali, Nyonya." sapa Atik saat Kayra turun dari mobil.


" Terima kasih, Mbak Atik." sahut Kayra tak lupa mengucapkan rasa terima kasihnya kepada ART nya itu.


Setelah Kayra turun, Erlangga pun berlari kecil menghampiri sang istri lalu merangkulkan tangannya ke pundak Kayra dan berjalan masuk ke dalam rumah.


" Assalamualaikum ..." Kayra dan Erlangga masuk ke dalam rumah, sementara di ruang tamu Ibu Sari sudah menunggu kedatangan putri dan juga menantunya yang baru menghabiskan masa bulan madu mereka.


" Waalaikumsalam ..." Ibu Sari langsung menghampiri Kayra.


" Ibu ..." Kayra memeluk tubuh Ibunya, rasa rindu dan juga bahagia karena kehamilannya membuatnya ingin memeluk orang yang sangat penting dalam hidupnya itu.


" Selamat atas kehamilanmu, Nak." Tangan Ibu Sari mengusap perut Kayra yang masih datar.


" Ibu, tolong bantu Kayra agar dia bisa menjaga kehamilannya dengan baik, karena Kayra ini sering membandel dan tidak mau dilarang-larang." Dari arah belakang Erlangga berucap meminta Ibu mertuanya agar menasehati Kayra untuk melakukan apa yang seharusnya dan tidak harus dilakukan oleh wanita hamil.


" Iya, Nak. Nanti Ibu akan awasi Kayra." Dengan tersenyum Ibu Sari mengatakan jika dia akan mengawasi putrinya agar tidak melakukan hal yang berbahaya untuk kandungan Kayra.


" Iya, Bu."


" Kamu sudah minum vitamin?" tanya Ibu Sari kembali.


" Besok pagi Kayra akan periksa ke dokter, Bu. Biar diberi vitamin dari dokter di sini," sahut Kayra.


" Lalu apa Kayra akan terus bekerja, Nak?" Kini Ibu Sari bertanya kepada menantunya.


" Saya sudah melarang anak Ibu untuk bekerja, tapi seperti yang saya katakan tadi, jika anak Ibu ini membandel kalau dilarang-larang." Seolah mengadu kepada Ibu mertuanya, Erlangga mengatakan jika Kayra memaksa ingin tetap bekerja. " Menurut Ibu bagaimana?" Kini dia meminta pendapat Ibu Sari.


" Tidak apa-apa jika Kayra memang ingin bekerja asal jangan kelelahan," sahut Ibu Sari menoleh Kayra. " Kamu jangan melakukan aktivitas yang berat-berat, Kayra." Tangannya kini menggenggam tangan Kayra.


" Iya, Bu. Kayra hanya ingin membantu Mbak Gita agar dia bisa mengerjakan tugasnya jika Kayra sudah tidak bekerja lagi," ungkap Kayra beralasan.


" Ya sudah, sekarang kamu istirahat dulu, pasti melelahkan melakukan perjalanan jauh." Mengerti jika Kayra dan Erlangga telah melakukan perjalanan jarak jauh, Ibu Sari menyuruh mereka beristirahat di kamarnya. Dan akhirnya Kayra dan suaminya pun mengikuti saran yang diberikan Ibu Sari untuk mengistirahatkan tubuhnya.


Erlangga mengangkat tubuh Kayra dengan lengannya karena mereka harus menaiki anak tangga untuk sampai di kamar mereka. Kayra yang biasanya menolak, kali ini membiarkan apa yang dilakukan oleh suaminya itu.


" Apa kamu ingin mandi sekarang?" tanya Erlangga saat menurunkan tubuh Kayra ketika sudah sampai di kamar mereka.


" Nanti dulu, Mas. Aku mau duduk selonjor dulu." Kayra berjalan ke arah sofa dan menaikkan kakinya selonjor di sofa kamar.


" Mas, tolong jangan cerita soal pertemuan kita dengan Ibu Caroline kepada Ibu, aku takut Ibu akan sedih mendengar hal itu." Kayra meminta suaminya untuk tidak menceritakan apa yang terjadi di Italia saat mereka bertemu Caroline.


Erlangga menatap wajah istrinya penuh penyesalan, sementara tangannya membelai kepala Kayra penuh kasih sayang.


" Aku benar-benar minta maaf atas peristiwa kemarin, Kayra." ucapnya kemudian.


" Aku tahu cepat atau lambat peristiwa itu akan terjadi juga, tapi aku tidak menyangka secepat ini kajadiannya," lirih Kayra.


" Aku pastikan hal itu tidak akan terjadi lagi, aku akan melindungimu dari siapapun yang akan menyakitimu ..." Erlangga merengkuh tubuh sang istri mencoba memberikan rasa nyaman dan memastikan peristiwa buruk seperti saat mereka di Turin tidak akan terulang kembali.

__ADS_1


***


" Pagi Mbak Gita." saat keluar dari pintu lift dan mendapati Gita sudah ada di mejanya, Kayra langsung menyapa orang yang ditunjuk suaminya untuk menjadi asisten pribadinya.


" Mbak Kayra? Mbak Kayra sudah pulang honeymoon nya?" Gita terlihat terkejut dengan kehadiran Kayra.


" Sssttt ...!!" Kayra mendekatkan ibu jari ke dekat bibirnya.


" Ups, maaf, Mbak ..." Gita terkekeh sambil menutup mulutnya. " Maaf, saya terlalu happy melihat Mbak Kayra datang, soalnya saya agak stress menanggani pekerjaan ini sendirian, Mbak." keluh Gita yang merasa dia masih belum sanggup menyelesaikan tugas-tugas Kayra.


" Ya sudah, jangan terlalu dibawa stres menghadapi pekerjaan, Mbak. Dibikin enjoy saja." Kayra tersenyum, meletakkan tasnya di atas meja lalu menarik kursi kerja dan mendudukinya.


" Hmmm, bagaimana acara bulan madu kemarin, Mbak?" tanya Gita penasaran.


" Ya seperti itulah, Mbak." Kayra malu harus menceritakan acara bulan madunya kepada Gita.


" Pasti senang banget ya, Mbak!? Bulan madu ke luar negeri, ke Eropa lagi. Mbak Kayra beruntung sekali bisa mendapatkan hati Pak bos." Gita menilai jika Kayra memang sangat beruntung bisa mendapatkan suami seperti Erlangga yang seorang CEO dari perusahaan ternama.


" Lebih tertekan sih iya, Mbak." Kayra merasa dia belum sepenuhnya beruntung karena mendapatkan Erlangga di saat posisi pria itu masih menjadi suami wanita lain.


" Setidaknya Pak bos sayang banget sama Mbak Kayra, dan Mbak Kayra mendapatkan Pak bos bukan karena niat Mbak Kayra merebut Pak bos dari istrinya itu." Gita yang memaklumi kondisi Kayra karena dia sudah mendapatkan cerita dari Kayra merasa mengerti apa yang dirasakan Kayra saat ini.


" Tetap saja orang awam akan menyalahkan saya, Mbak."


" Jangan terus memikirkan hal itu, Mbak. Mbak Kayra harus berpikiran positif dan jangan stres. Jangan selalu mendegarkan omongan orang karena bukan mereka yang merasakan apa yang Mbak Kayra alami sekarang ini." Gita mencoba memberikan semangat kepada Kayra agar Kayra tidak selalu merasa kecil hati dan merasa bersalah.


Kayra tersenyum mendengar ucapan Gita, dia tidak menyangka selama bekerja di kantor Erlangga, akhirnya dia bisa dekat dengan karyawan lain di kantor ini.


" Seandainya saya bisa dekat dengan Mbak Gita sejak lama, mungkin kita sudah bisa menjadi sahabat dari dulu ya, Mbak."


" Saya justru tidak pede dekat dan menjadi sahabat sekretaris Pak bos, Mbak. Saya malah berpikir kalau Mbak itu sombong dan tidak mau bergaul dengan karyawan lain soalnya jarang sekali ikut turun makan ke kantin." Gita menceritakan bagaimana anggapan dia sebelumnya terhadap Kayra.


" Saya memang selalu membawa bekal jadi jarang turun makan ke kantin, Mbak. Lagipula saya takut kalau Mas Erlangga mencari saya kalau saya tidak ada di tempat, Mbak."


" Cieee, sekarang sudah rubah panggilannya nih, Mbak?" Gita terkekeh meledek Kayra karena kini Kayra sudah tidak memanggil nama Pak atau Bapak, dan hal itu sontak membuat wajah Kayra bersemu merah.


" Oh ya, Mbak Gita. Nanti waktu istirahat antar saya ke dokter, ya!?" Kayra sengaja mengalihkan pembicaraan, sebelumnya dia sudah meminta ijin kepada Erlangga untuk mengecek kandungan siang ini ditemani oleh Gita. Dia tidak ingin terlihat terlalu mencolok jika Erlangga yang mengantarnya ke dokter kandungan karena takut ada yang mengenali Erlangga.


" Mbak Kayra sakit?" tanya Gita menatap serius ke arah Kayra.


" Bukan sakit, Mbak. Tapi saya mau minta vitamin," sahut Kayra.


" Mau suntik vitamin ya, Mbak? Pantas Mbak Kayra cantik putih bersih wajah sama kulitnya ..." celetuk Gita.


" Daripada buat suntik vitamin itu mending uangnya ditabung, Mbak. Saya bukan mau suntik vitamin tapi mau vitamin untuk kandungan saya, Mbak." Kayra malu-malu menceritakan kehamilannya.


" Kandungan? Mbak Kayra hamil?" Gita terperanjat mendengar kabar yang didengarnya tadi.


" Iya, Mbak." Kayra tersipu.


" Alhamdulillah, selamat ya, Mbak. Saya senang dengar Mbak Kayra hamil, pasti Pak bos senang sekali tahu kalau Mbak Kayra hamil." Gita sudah dapat membayangkan bosnya itu akan bahagia dengan kehamilan Kayra.


" Iya, Mbak. Mas Erlangga memang sudah lama menginginkan punya keturunan."


" Pasti akan makin sayang Pak bos sama Mbak Kayra."


Kayra tersenyum seraya menganggukkan kepalanya, dia memang merasakan apa yang dikatakan Gita itu benar adanya. Erlangga memang kini semakin sayang dan tentunya semakin posesif terhadapnya.


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading❤️

__ADS_1


"


__ADS_2