
Setelah mempertimbangkan berbagai hal, akhirnya Erlangga membiarkan Kayra tinggal di rumah bersama Helen. Walau masih ada rasa ragu di hatinya. Namun, Erlangga harus memberi kepercayaan terhadap Mamanya, agar tercipta hubungan harmonis antara istrinya dan juga Mamanya itu. Untunglah dia mempunyai istri penyabar seperti Kayra, yang selalu menasehatinya agar selalu hormat kepada kedua orang tuanya.
Sebelum ke kantor, Erlangga menyempatkan diri datang ke kantor Krisna. Dia merasa perlu berdiskusi dengan Papanya secara langsung mengenai Arina dan keberadaan bayi perempuan yang dulu dikandung oleh mantan pengasuh Erlangga kecil dulu.
Kebetulan Kayra tidak ikut ke kantor, jadi Erlangga bisa leluasa bicara dengan Papanya. Terutama mengatakan sesuatu yang janggal yang dirasakan oleh istrinya terhadap rumah lama orang tuanya dan juga dengan Arina.
" Erlangga? Ada apa pagi-pagi kamu kemari, Nak? Apa Mamamu membuat masalah?" Menanggapi kehadiran sang putra di kantornya, Krisna langsung menganggap hal itu karena kedatangan istrinya yang memaksa ingin mengungsi di tempat kediaman Erlangga saat ini.
" Tidak, Pa. Bukan itu!" tepis Erlangga menyanggah dugaan Papanya. " Aku kemari karena ingin membicarakan soal Sus. Rina, Pa." sambungnya.
" Sus Rina? Apa kamu sudah mendapatkan kabar soal dia?" Krisna bertanya dengan rasa penasaran.
" Iya, Pa. Aku sudah mendapatkan informasi jika Mama dari Rivaldi itu benar bernama Arina dan Rivaldi adalah anak tiri dari Arina. Tapi, yang jadi permasalahan sekarang, di rumah tempat tinggal orang tua Rivaldi, tidak ada anak perempuan yang diduga sebagai anak Sus Rina dan Om Danny, Pa." tutur Erlangga menerangkan kepada Papanya.
" Tidak ada anak perempuan?" Kening Krisna seketika mengerut karena merasa heran.
" Iya, Pa. Sus Rina mengaku jika dari pernikahan dengan Papanya Rivaldi, dia mempunyai dua anak laki-laki. Pa, apa Papa yakin bayi yang dulu dikandung oleh Sus Rina itu perempuan?" tanya Erlangga ragu.
" Jika dilihat dari hasil USG kala itu, dokter mengatakan jenis kela min bayi itu adalah perempuan. Tapi, kadang prediksi manusia bisa salah. Coba kamu cari tahu, berapa usia anak tertua Sus Rina dari pernikahan dengan Papanya Rivaldi? Jika usianya tak jauh beda, dengan adikmu, mungkin hasil USG itu salah. Tapi kalau usianya selisih hampir satu tahun, berarti bayi perempuan Sus Rina ini ada, dan yang harus dicari di mana keberadaannya sekarang." Krisna menyampaikan analisanya, tentang kemungkinan yang terjadi dengan bayi yang pernah dikandung Arina.
" Aku ingin bertemu langsung dengan Sus Rina, Pa." Erlangga menyampaikan keinginannya menemui mantan pengasuh saat dirinya kecil,
Menatap anaknya dengan lekat, Krisna pun lalu bertanya, " Kamu ingin menemuinya di mana, Nak?"
" Aku harus ke Bandung. Aku akan menyuruh Rizal untuk mengatur Grace, supaya aku bisa bertemu secara tidak sengaja dengan Sus Rina. Sus Rina sudah tahu aku sekarang, karena menurut Grace, Sus Rina pernah melihatku ketika di toilet. Aku ingin mencari tahu di mana adik sepupuku itu berada, Pa!?" tegas Erlangga.
" Kapan kamu akan ke Bandung?" tanya Krisna.
" Kemungkinan besok, Pa. Aku harus menyelesaikan pekerjaan hari ini, agar besok aku bisa pergi ke Bandung," sahut Erlangga.
" Ya sudah, kamu hati-hati jika ingin ke sana. Jangan sampai membuat Sus Rina ketakutan saat melihatmu." Krisna menasehati putranya.
" Iya, Pa." jawab Erlangga. " Oh ya, Pa. Ada satu hal lagi yang ingin aku sampaikan. Soal Kayra
...."
" Kayra? Ada apa dengan istrimu? Apa dia tidak nyaman dengan kedatangan Mamamu?" Krisna langsung berpikiran soal istrinya.
" Bukan, Pa. Bukan itu." Erlangga menampik.
" Lalu soal apa?" tanya Krisna penasaran.
" Aku merasakan kejanggalan dengan perasaan Kayra terhadap rumah yang kamu tempati saat ini, Pa."
" Maksud kamu apa, Nak?" Krisna tidak memahami apa yang dikatakan oleh putranya itu.
" Begini, Pa ..." Erlangga akhirnya menceritakan bagaimana sikap Kayra saat pertama datang ke rumah lama milik Krisna. Perasaan aneh yang tiba-tiba datang, merasa nyaman dan familiar saat menginjak kaki di rumah tersebut. Seakan Kayra pernah berada di tempat itu sebelumnya.
" Papa membangun rumah ini saat tanah ini tanah kosong. Tidak mungkin jika Kayra pernah tinggal di sini sebelumnya. Atau, apa mungkin orang tua Kayra pernah bekerja di rumah ini dan Kayra pernah main kemar?" tanya Krisna menduga-duga.
" Tidak, Pa. Menurut Kayra. Dia tidak pernah ke Jakarta sebelumnya. Orang tuanya juga," bantah Erlangga.
__ADS_1
" Lantas, kenapa Kayra bisa berpikiran seperti itu?"
" Entahlah, Pa. Apalagi Kayra pun merasakan hal yang sama saat dia bertemu dengan Sus Rina, Pa."
" Kayra pernah bertemu dengan Sus Rina? Di mana?" Krisna terperanjat mengetahui jika menantunya itu pernah bertemu dengan mantan pengasuh putranya.
" Di toilet, di acara resepsi pernikahan anak Pak Ronald kemarin, Pa. Kayra sempat bertatap muka dan berbincang langsung dengan Sus Rina. Istriku seakan merasa kenal dengan Sus Rina, tapi tidak tahu di mana? Bahkan Kayra bilang, jika Sus Rina pun sempat tertegun melihat istriku. Seperti ada sesuatu yang di antara mereka berdua." Kepada Papanya, Erlangga menceritakan semua kejanggalan dalam pertemuan pertama Kayra dan Arina.
" Pa, jika bayi Sus Rina itu memang perempuan dan terlahir masih hidup, tapi Sus Rina tidak mau mengurusnya. Kemungkinan ada orang lain yang mengurus anak perempuan Sus Rina 'kan, Pa?" Erlangga begitu emosional menceritakan anak perempuan mantan pengasuhnya dulu.
" Iya, kemungkinan itu bisa terjadi, Erlangga," sahut Krisna dengan hati-hati. Dia merasakan ada hal serius yang sedang mengganggu pikiran putranya.
Erlangga mengusap kasar wajahnya, lalu berucap, " Pa, aku takut jika apa yang aku pikirkan ini benar-benar terjadi, Pa." ungkap Erlangga dengan gelisah.
Krisna menghela nafas cukup panjang. Dia memahami apa yang dimaksud oleh putranya itu.
" Kita harus mencari kepastiannya dari Sus Rina dulu, Lang. Jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan." Walaupun hatinya memikirkan hal yang sama dengan Erlangga. Namun, Krisna ingin segala sesuatu terbukti secara nyata. " Kita harus mencari buktinya. Saat ini kuncinya ada di Sus Rina. Jika Sus Rina mengatakan kalau bayi perempuannya itu diserahkan kepada orang lain, kita harus mencari tahu kepada siapa dia menyerahkan bayi itu?" ujar Krisna. Karena dia selalu bertindak dengan hati-hati dan perhitungan yang matang.
" Ibu Sari ...."
Krisna mengeryitkan keningnya saat Erlangga menyebut nama Ibu mertuanya.
" Ibu Sari? Kenapa dengan Ibu mertuamu, Nak?" tanya nya kemudian.
" Aku ingat, Pa. Ketika aku menceritakan soal perusahaan milik keluarga Rivaldi, Ibu mertuaku itu sempat kaget saat mendengar nama perusahaan Jaya Raya Garment, Pa." Seketika ingatan Erlangga tertuju pada sikap Ibu Sari ketika Erlangga menceritakan soal perusahan milik orang tua Rivaldi kepada ibu dari istrinya itu.
" Ya Allah, petunjuk-petunjuknya itu benar-benar menuju ke satu arah, Pa. Dan ... aku takut jika ini benar terjadi, Pa." Entah mengapa ada kecemasan di hati Erlangga, jika apa yang dia pikirkan benar-benar menjadi kenyataan.
" Jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan. Apalagi jika menyangkut Ibu mertuamu. Jika apa yang kamu pikirkan itu salah, itu bukan hanya akan melukai perasaan Ibu mertuamu tapi juga istrimu." Krisna pun menasehati Erlangga agar lebih bersikap sabar.
" Papa ikut ke Bandung?" Erlangga terlihat kaget saat mengetahui Papanya berniat ikut bersamanya ke Bandung.
" Iya, Papa rasa Papa harus ikut mendampingi ke sana." Krisna merasa perlu mendampingi putranya untuk bertemu dengan mantan pengasuh Erlangga.
***
Helen lebih banyak berada di dalam kamarnya. Dia masih rikuh untuk bergabung dengan menantu dan besannya yang sedang berbincang soal kehamilan Kayra.
" Apa yang harus aku lakukan di sini? Aku merasa asing di rumahku sendiri. Harusnya aku tidak usah mengikuti saran istri Erlangga itu untuk tinggal di sini." Helen menyesali keputusannya bertandang di tempat tinggal putranya. Padahal belum sehari dia berada di sana.
Helen lalu keluar dari kamarnya, dia ingin melihat beberapa ruangan yang sepertinya sudah dirombak oleh putranya itu.
" Kamu harus tetap bersikap hormat kepada Mama mertuamu, Kayra. Bagaimanapun sikap beliau terhadap kamu, kamu tidak boleh bersikap buruk ya, Nak."
Helen menghentikan langkahnya saat dia mendengar suara besannya dari arah ruangan keluarga.
" Iya, Bu. Kayra juga tidak pernah membenci Mama mertuaku. Mungkin Mama cuma butuh waktu untuk bisa menerima aku sebagai istri Mas Erlangga," balas Kayra.
Helen merapatkan tubuhnya ke dinding, untuk mendengar lebih lanjut perbincangan antara Kayra dan Ibunya.
" Ibu yakin, jika Ibu Helen tahu bagaimana kamu sebenarnya, beliau pasti akan menyayangimu, Nak. Kamu wanita yang baik, menurut dan patuh terhadap suamimu. Kamu pantas mendampingi Nak Erlangga yang mengikuti sangat menyayangimu," ucap Ibu Sari kembali.
__ADS_1
" Iya, Bu. Kayra merasa beruntung Mas Erlangga begitu sayang sama aku. Apalagi dengan kehamilanku ini, Bu. Mas Erlangga begitu mendambakan anak. Aku berharap kehadiran anak kami semakin menambah kebahagiaan, bukan hanya untuk aku dan suamiku. Tapi, untuk ibu juga kedua orang tua suamiku, Bu."
Helen bisa melihat kebahagiaan terpancar di wajah Kayra saat mengusap perutnya.
" Iya, Kayra. Ibu berharap semoga kehadiran anak kalian berdua bisa semakin meluluhkan hati Mama mertuamu."
" Aamiin, Bu. Kayra pun selalu berdoa seperti itu. Karena Kayra tidak ingin melihat Mas Erlangga dan Mamanya terus bertentangan. Kayra ingin suamiku dan Mama Helen bisa akur, agar kehidupan kami lebih berkah ke depannya." harap Kayra.
Helen menghela nafas mendengar harapan Kayra yang ingin melihat Erlangga dan dirinya hidup rukun. Tidak ada sama sekali kebencian yang terlihat pada menantunya terhadap sikap buruknya selama ini kepada Kayra.
" Insya Allah semua itu akan terwujud, Nak. Kamu hanya butuh kesabaran agar semua itu dapat terwujud."
" Kayra mau menyiapkan makanan dulu ya, Bu. Soalnya tadi suamiku bilang ingin makan siang di rumah. Jadi aku ingin memasak makanan kesukaan Mas Erlangga," Kayra berpamitan kepada Ibunya untuk memasak.
" Ibu bantu kalau begitu, Kayra." Ibu Sari ingin bergabung membantu Kayra di dapur.
" Tidak usah, Bu. Biar Kayra saja. Ibu tidak usah capek-capek." Kayra melarang Ibunya yang ingin membatu dia di dapur.
" Kamu yang semestinya tidak usah banyak beraktivitas. Kamu itu 'kan sedang hamil. Kalau terjadi sesuatu dengan bayi di perut kamu gara-gara kamu terlalu capek, memangnya kamu mau?" Helen yang sejak tadi bersembunyi di balik dinding akhirnya keluar saat mengetahui Kayra ingin menyibukkan diri di dapur.
" M-mama?" Kayra terlihat kaget melihat kemunculan Helen di hadapannya.
" Kamu mau memasak? Memangnya ART di sini tidak ada yang bisa memasak!?" tanya ketus Helen.
" Tidak, Ma. Bukan seperti itu. Tapi, Mas Erlangga senang jika makan masakan buatan aku, Ma." tepis Kayra.
" Memangnya kamu bisa memasak?" Helen tidak mempercayai jika menantunya pandai untuk urusan di dapur.
" Kayra sejak kecil senang membantu saya di dapur, Bu." Ibu Sari mencoba menyakinkan besannya jika putrinya memang pandai memasak.
" Tentu saja seorang Ibu akan membela anaknya, walaupun belum tentu anaknya itu pandai memasak." Helen menanggapi ucapan Ibu Sari dengan sinis.
" Mas Erlangga senang masakan yang aku buat, Ma. Mungkin aku tidak terlalu pandai memasak. Namun, Mas Erlangga menyukai semua masakan buatanku." Kayra menjelaskan jika suaminya memang menyukai semua masakannya.
" Memangnya kamu tahu makanan kesukaan Erlangga? Kamu bisa membuat makanan kesukaan Erlangga itu?" Helen masih tidak yakin dengan kemampuan menantunya.
" Mas Erlangga suka aku buatkan acar ikan, Ma." Sejak mencoba acar ikan yang dia bawa, Erlangga jadi menyukai menu itu. Walaupun semua masakan yang dia buat selalu dimakan lahap suaminya.
" Acar ikan? Sejak kapan Erlangga suka makan acar ikan?"
" Sejak ... sejak mencoba makan makanan yang aku bawa, Ma." aku Kayra jujur seraya tersipu.
" Aneh, Erlangga itu paling suka makan steak. Tidak pernah Mama lihat dia makan acar-acar apa itu?"
" Mama belum pernah coba makan acar ikan? Nanti Mama coba saja, siapa tahu Mama juga suka dengan makanan yang aku buat." Kayra tetap dengan senyuman menanggapi sindiran Mamanya yang meremehkan kemampuannya.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung ...
Happy Reading❤️